image

Title : So Far Away || Cast : Xi Luhan | Im Yoona || OC : Find By Your Self ||  Genre : Romance | Sad

Disclaimer : the story belong to me and the cast belong to God. ^O^

Kedua bocah berbeda jenis kelamin tampak berkejar-kejaran dengan bocah laki-laki mengejar si bocah perempuan yang seumurannya.

“Ahaha.. ayo kejal Yoongie,Oppa” teriak si kecil Yoona. Kedua kaki kecilnya tampak berlari dengan tawa di bibir mungilnya.

“Yoongie, jangan lali. Yoongie halus di hukum sudah nakal sama lulu” bocah laki-laki yang di panggil Oppa oleh Yoona berusaha mengejar bocah perempuan yang dengan jahilnya mengagetkan si kecil Luhan saat sedang minum.

Dua pasang suami istri tertawa melihat tingkah anak mereka masing-masing. Menonton adegan kejar-kejaran dua bocah kesayangan di taman tempat mereka piknik.

“Kena. Yoongie teltangkap!” pekik Luhan dengan dua tangan mungilnya memeluk tubuh Yoona. Mencoba menahan rontaan gadis kecil itu dalam dekapannya.

“Ahaha… lepas lulu, Yoongie geli!” pekikkan Yoona kecil menambah ramai suasana taman yang banyak di datangi orang-orang di hari weekend.

Melihat Luhan yang berhasil menangkap Yoona. Gadis kecil usil. Berhasil membuat tawa kedua orang tua bocah kecil itu bertambah keras .

Gundukan tanah merah yang masih basah di kompleks pemakaman kota Seoul tampak ramai. Isakkan tangis memilukan yang menyayat hati terdengar. Para pelayat berbaju hitam menundukkan kepala sembari berdoa mengantar kepergian seseorang yang terbaring di bawah gundukan tanah merah.

Mata sembab dengan hidung memerah menjadi pemandangan familiar di tempat itu. Dua pasang suami istri tampak saling menguatkan. Menghibur salah satu wanita paruh bayah yang histeris sejak 1 jam yang lalu.

Satu persatu manusia yang ada di tempat itu meninggalkan pemakaman. Menyisakan seorang gadis dengan tinggi semampai berambut cokelat gelap.

Perempuan itu masih disana. Sudah dua jam berlalu, namun perempuan itu belum menunjukkan tanda bahwa ia akan meninggalkan pemakaman yang mulai sepi dan gelap. Waktu menunjukkan pukul 05:30 PM. Sang raja pagi telah kembali keperaduaannya.

Diam layaknya patung. Tatapan matanya kosong bagaikan zombie dengan bibir merah yang tak lagi merah, pucat. Raganya terpaku dalam keheningan pemakaman. Kakinya tertancap kuat di depan pusara sang kekasih, namun pikirannya mengembara jauh ke memori masa lalu keduanya.

Seorang remaja berseragam Seoul High School terlihat menduduki bangku taman belakang sekolah. Taman yang menjadi tempat ia dan sahabat perempuannya menghabiskan waktu. Taman dengan permadani hijau dengan dipagari barisan pohon-pohon nan rindang.
Taman yang keberadaannya sedikit diketahui siswa di sekolah tersebut.

Ia menunggu sahabat kecilnya. Dengan jantung berdetak kencang dan keringat dingin mengalir di pelipis wajahnya.

“Kemana Yoona? Kenapa gadis itu lama sekali? Apa Yoona lupa? Huh, awas saja kalau ia berani.” batin Luhan.

“DOOORRR” teriak Yoona, gadis bermata rusa yang serupa dengan mata milik Luhan. Orang yang di kagetkannya.

Luhan tersentak kedepan hampir terjungkal jika saja keseimbangan tubuhnya buruk.  Luhan menggeram berbalik bersiap memarahi si pelaku.

“Im Yoona!”

Teriakan menggelegar di taman itu bersaing dengan tawa membahana Yoona. Gadis itu tertawa keras dengan air mata yang keluar. Tangannya memegangi perutnya yang terasa sakit akibat aksi tertawa kerasnya.

Berjalan perlahan kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi taman yang sama dengan Luhan.

“Mian, Lulu. Aku tidak tahu kalau reaksimu akan seperti tadi. Biasanya kau tidak sampai seperti itu. Apa yang kau pikirkan? Kau jelas-jelas melamun.”

“Huh. Kau benar-benar.” Luhan tak bisa berucap lagi. Sibuk menetralkan amarah dan keterkejutannya atas kejahilan Yoona.

“Miann. Ah matta. Apa yang ingin kau bicarakan? Kau mengajakku kemari ingin mengatakan apa, Lu?”

Seakan tersadar dari mimpi. Luhan teringat tujuan awalnya. Kegugupan kembali melanda remaja laki-laki berdarah China itu.Berusaha menenangkan debaran jantungnya.

“Umm.. kau tahu, Yoongie. Kita berdua sudah bersama sejak kecil. Kau sudah mengenalku begitu juga aku. Seiring itu pun rasa yang aku rasakan padamu berubah. Kau tahu rasa sebagai sahabat itu berubah menjadi rasa suka. Perasaan laki-laki terhadap perempuan yang di cintainya. Jadi, Will you be my girlfriend, Yoongie?”  ucap Luhan menatap lekat iris mata yang sama dengan miliknya.

Yoona terpaku. Terkejut dengan perkataan Luhan yang baru di dengarnya. Luhan, sahabat kecilnya. Luhan, laki-laki pertama yang menghadirkan perasaan lain dalam dirinya. Ia lelaki yang pertama yang membuat organ pemompa darahnya bertalu-talu dengan cepat. Lelaki yang di cintainya mengatakan bahwa ia memiliki rasa yang sama. Bisa kau bayangkan perasaan Yoona sekarang? Bahagia tidak cukup menggambarkan apa yang dirasakannya saat ini.

Kediaman gadis di depannya membuat Luhan takut , tangan Yoona yang ada dalam genggamannya di genggam erat.

“Yoongie?”

“Yes, I will” jawaban itu. Jawaban yang di harapkannya terucap oleh gadisnya? Ya gadisnya. Im Yoona sahabat kecilnya kini menjadi gadisnya.

Senyum keduanya merekah. Luhan menarik Yoona dalam dekapannya. Memeluknya erat dengan perasaan bahagia yang membuncah.

“I love u” ungkap Luhan.

“Love u too, Lu.”  balas Yoona. Dengan senyuman yang kian melebar.

Lututnya goyah. Badannya gemetar hebat. Cairan bening yang dianggapnya mengering kembali. Berkumpul di mata rusanya. Kenangan itu kembali menghantam memori otaknya. Menyiksanya dengan kebahagian yang menorehkan luka berdarah hatinya.

“…”

“Aku masih dikantor, waeyo?”

“…”

“Baiklah. Jam 7 ? Oke. Ahaha tenang saja tuan Xi aku pastikan kau akan pangling melihatku.”

“…”

“Ahaha.. love u more, Tuan Xi.”

Sambungan telepon itu di putus. Di susul dengan wanita penerima telpon itu menutup laptop dan membereskan barang-barang di meja kantornya.

Lamborgini hitam menyusuri jalan kota Seoul yang padat di malam hari. Si pengemudi menghentikan mobilnya di tempat parkir salah satu restoran bintang lima. Wanita pengemudi dengan gaun hitam yang memeluk tubuh semampainya keluar dari mobil yang diparkirnya. Penampilan memukau dengan polesan make up natural menambah kecantikannya.

Memasuki restoran Ia digiring menuju lantai teratas restoran menemui pria yang telah menunggunya dengan kejutan.

Di tempat itu terdapat dua kursi dengan sebuah meja yang sepanjang perjalanannya dihiasi lilin dengan taburan mawar  diseluruh tempat.

Alunan musik mengalun lembut. Lagu kesukaan wanita itu. Di sana tepat di depannya, prianya menunggu dengan tuksedo hitam senada dengan gaun yang dikenakannya. Tampan. Cocok dengan pria yang selalu mengisi hari-harinya dengan kebahagian.

Tangan prianya terulur menggenggam tanganya saat ia berdiri di hadapannya. Kemudian ditekuknya salah satu lututnya hingga posisi berlutut. Alisnya mengerut kaget sekaligus bingung akan tindakan prianya. Tangan prianya bergerak kedalam saku tuksedo yang dipakainya, mengeluarkan kotak beludru biru.

“Im Yoona. Wanitaku. Aku tahu, aku pria yang tidak pintar merangkai kata-kata indah. Aku pria yang tidak bisa membuat momen romantis untukmu. Aku pria yang banyak menorehkan luka di hatimu meski aku tidak pernah bermaksud untuk itu. Aku pria kaku yang ingin menjadikanmu istri yang menemani sepanjang hidupku dan ibu dari anak-anakku. So, Will u marry me, Im Yoona?” dibukanya kotak beludru di tangannya memunculkan cincin bertahtakan berlian dengan ukiran nama keduanya di bagian dalam  cincin.

Iris rusanya berkaca-kaca dengan cairan bening yang menghalangi pandangannya. Tangannya terangkat menutup bibir tipisnya. Tangisnya keluar. Bukan tangis sedih melainkan tangis bahagia.

“Yes, I will” kembali kata yang sama terucap. Rengkuhan di tubuhnya dan kehangatan yang sama dari prianya. Xi Luhan.

Tangisnya meledak dengan tubuhnya yang luruh di depan gundukan tanah merah di hadapannya. Hatinya berdarah. Hatinya terluka.  Hatinya patah yang mungkin tidak akan pernah utuh kembali. Orang yang harusnya menjadi keutuhan hatinya telah pergi meninggalkan kehidupan dunia.

Kenangan sejak mereka masih menjadi bocah. Impian indah semu yang di rencanakan. Kenyataan menamparnya. Semuanya tidaklah seindah impian, menyakitkan. Senyuman terakhir, pelukan terakhir, permintaan terakhir dari prianya. Begitu menyakitkan.

Begitu banyak kata yang ingin di ucapkannya. Namun pria itu begitu jauh. Tangisannya menjadi raungan memilukan menjadi lagu pengantar tidur abadi pria yang menjadi pusat kehidupannya.

“Tidurlah. Tidurlah yang nyenyak dalam tidur abadimu. Jangan takut, jangan khawatirkan aku. Aku akan menjaga paman dan bibi juga orang-orang yang kita berdua cintai. Setelah semua tugas ku selesai pada mereka. Aku akan pergi. Rasa sakit yang kuat dan menyesakkan, ketika aku di izinkan bertemu denganmu oleh waktu. Menuju kehidupan abadi, tunggu aku. Xi Luhan.”

Fin.

Hai hai.. how about ma ff ahaaha.. to bad eh ?? Ini terinspirasi dari lagu salah satu band barat favorit aku. Yep. Avenged sevenfold-so far away. Ff broken angel belum aku lanjut soal.a masih miskin ide ahahaha.. c u 😘😘

Advertisements