IMMORTAL

image

Title : Immortal || Cast : Im Yoon Ah |   Oh Sehun || Genre : Sad

Dislaimer : the story belong to me and all cast belong to God ^^

Dunia ku hanya mengenal kata kelabu. Aku membenci warna itu. Warna yang  menunjukkan ketidakjelasan. Apakah aku hidup ataukah aku mati? Aku hidup namun aku merasakan aku tidaklah hidup. Aku ingin mengatakan aku telah mati namun paru-paru ku tetap melakukan pertukaran gas karbondioksida dan oksigen.

Aku lelah menjalani hidup. Aku tertekan dengan semua ketakutanku. Orang itu telah meninggalkanku dengan cara yang sangat kejam. Aku berharap saat ia pergi, ia juga membawa semua hal tentangnya tanpa meninggalkan apapun.

Kehadirannya masih dapat ku rasakan. Kenangan tentangnya terus berputar ulang dalam ingatanku. Luka ini tak mau sembuh. Luka ini nyata. Ada banyak hal yang tidak dapat terhapuskan oleh waktu.

Saat kamu menangis aku lah yang menghapus air matamu. Saat kamu ketakutan aku lah yang menghadapi ketakutanmu. Aku lah yang menggenggam tanganmu selama ini.

———–

Aku selalu membenci sesuatu yang berlabel baru. Seperti saat ini. Menjadi siswa baru di tahun ketiga sebagai siswa SHS benar-benar menyebalkan.

Aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, teman baru, dan juga mengejar ketertinggalan ku dalam seluruh mata pelajaran di sekolah baru ku.

Arghh!! Kenapa juga ayah dan ibu harus pindah di tahun akhir sekolah? Aku tidak pernah mengerti jalan pikiran keduanya. Saat aku bertanya mereka hanya berkata “kami ingin kembali ke tempat nenek dan kakekmu. Kota kelahiran kami.”

Oh Tuhan. Semudah itu? Mereka bahkan tidak memikirkan dampaknya padaku. Kota kelahiran? Persetan dengan kota kelahiran.

Sekarang disinilah aku. Berdiri di depan kelas baru ku di pandangi seluruh siswa yang seperti ingin menelanku bulat-bulat. Ahh. Bulu tengkuk ku meremang, aku bergidik dengan pemikiran yang baru saja terlintas.

“Perkenalkan. Aku Oh Sehun. Alasan kepindahanku karena kedua orang tua ku memutuskan untuk kembali ke tempat yang merupakan kota kelahiran mereka.”

Sigh. Apa-apan ini mereka masih saja melihatku dengan tatapan itu. Hey! Apa tidak ada yang pernah memberitahu mereka itu menyeramkan? Shit.

“Baiklah. Kamu bisa duduk di samping Yoona yang berada pojok belakang kelas.”

Pandanganku tertuju kearah siswi yang di tunjuk wali kelasku. Siswi dengan rambut coklat bergelombang. Wajah tirus dengan mata bulat yang bersinar? Astaga, apa yang baru ku pikirkan?

Aku beranjak ke tempat duduk dengan sedikit tergesa. Well, aku sudah menantikan saat aku tidak berada dalam posisi ku seperti berapa menit yang lalu. Mendudukan diriku di bangku samping Yoona.

“Hai. Oh Sehun, kenalkan aku Im Yoon Ah. Kau bisa memanggilku Yoona”

Aku terperanjat dengan bisikan di sampingku. Menolehkan kepalaku dan mendapati Yoona memandang ku dengan senyum yang ku yakini dapat membuat manusia dengan jenis kelamin sepertiku blushing. Tangannya terulur memintaku untuk menjabatnya.

Siapa yang akan menolak uluran tangan gadis cantik seperti Yoona? Hanya orang tidak waras yang melakukannya dan karena aku bukanlah salah satu dari golongan itu tentu saja aku membalasnya.

“Aku Oh Sehun, kau bisa memanggilku Sehun.”

Setelah ku perhatikan, Yoona memiliki hidung mancung dengan bibir tipis berwarna merah alami tanpa di polesi lipstik. Pipi tirusnya berwarna merah tanpa polesan pemerah pipi. Eh? Apa Yoona baru saja blushing? God. Gadis di depanku ini menggemaskan.

Mungkin aku harus mengubah pandanganku yang membenci hal-hal baru. Karena tidak semua berdampak buruk bagiku.

Yah, tentu saja itu semua karena aku mendapatkan teman yang menggemaskan, Im Yoon Ah. Aku… Sebenarnya menyukainya. Hanya saja aku terlalu pengecut untuk menghancurkan persahabatanku dengannya.

Keputusanku untuk menyimpan perasaanku tanpa memberitahu Yoona menjadi bumerang bagiku. Hari-hari bahagia yang ku lewati bersama Yoona terusik karena lelaki itu.

Lelaki yang mempunyai keberanian untuk mengikat Yoona dalam suatu hubungan bukan seperti ku yang lebih memilih terjebak dalam friendzone.

Bohong jika aku mengatakan aku baik-baik saja. Saat melihat Yoona dengan wajah penuh senyum bahagia mengatakan lelaki sialan itu adalah kekasihnya.

Hari-hariku berubah kelam tanpa cahaya. Katakan aku berlebihan tapi itulah kenyataanya. Hari tanpa Yoona di sampingku adalah hari suram untuk ku lewati. Yoona lebih banyak menghabiskan waktu dengan lelaki sialan itu. Merebut posisi ku sebagai orang terdekat Yoona.

Jika saja aku tahu lelaki itu akan membuat Yoona terenggut dari ku. Jika saja aku tahu Yoona akan berubah menjadi orang yang tak kukenali. Jika saja aku tahu Yoona akan meninggalkanku selamanya tanpa bisa ku sentuh bahkan untuk ku lihat. Aku tidak akan membiarkan Yoona bersama dengan lelaki brengsek itu.

Hari itu aku menghabiskan waktuku dengan berbaring. Hingga malam menyapa aku tetap dalam posisiku. Berbaring layaknya orang penyakitan.

Perasaanku sejak pagi gelisah. Pikiranku selalu tertuju pada Yoona. Entah kenapa aku mencemaskan nya. Dering handphone ku seperti pembawa tanda kematian. Ah , aku berlebihan bukan? Yah ,tapi itulah kenyataannya mataku menatap horor handpone yang berada tidak jauh dariku.

“Halo?”

“…..”

“Yoona? Ada apa dengan Yoona, Bibi?”

“….”

Deg. Perkataan Ibu Yoona membuatku terpaku. Otakku kehilangan fungsi untuk memproses informasi. Tubuhku membeku dengan handphone yang sudah terlepas dari genggamanku.

Entah berapa lama aku diam bagai patung hingga otakku berfungsi kembali. Kesadaran menyentakku untuk segera bangkit bergegas menuju tempat satu-satunya yang muncul di otakku. Rumah Sakit.

Membawa mobil dengan kecepatan yang ku yakini dapat mengalahkan Vin Diesel. Dalam 30 menit aku sampai di tempat tujuanku. Memarkir mobil dan berlari kesetanan kedalam rumah sakit mencari ruangan yang di tempati Yoona.

Jantungku berdetak dengan kecepatan abnormal. Aku takut orang-orang dapat mendengarnya. Mendapati Ibu Yoona yang tengah menangis dalam pelukan ayah Yoona.

Semakin dekat dengan keduanya. Aku semakin ketakutan. Entahlah, aku tidak mengerti dengan ketakutanku. Saat mata ku beradu dengan keduanya. Aku tahu sesuatu yang buruk telah terjadi dan saat aku mendengar jeritan dalam ruangan yang pintunya berada di hadapanku. Aku tahu semuanya tidak akan sama lagi. Kehidupan ku akan berubah.

Ku putar pegangan pintu untuk menemuinya. Ia disana dengan pakaian putih khas pasien rumah sakit yang di tempatinya. Tiga tahun ia masih menikmati waktu dalam dunianya. Menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.

Ya, gadis yang tengah duduk dengan pandangan kosong itu adalah Yoona. Yoona kehilangan kewarasannya. Lelaki itu tidak hanya merenggut harta berharga Yoona namun ia juga merenggut kewarasan Yoona.

Tiga tahun lalu, mengetahui Yoona mengalami kejadian keji itu. Yang ada dalam otakku adalah melenyapkan eksistensi lelaki brengsek itu dari dunia.

Aku bersyukur karena aku dan yoona berasal dari keluarga dengan perusahaan terbesar di kota ini. Lelaki itu di jatuhi hukuman penjara seumur hidup. Tapi, tetap saja aku belum puas. Jadi, aku memutuskan untuk menyiksa mentalnya. Meneror setiap hari yang di lewatinya dengan teriakan ketakutan Yoona yang ku rekam. Menghukumnya dengan menghilangkan kewarasannya sama seperti yang di lakukannya pada Yoona. Usahaku berhasil dan mendapat bonus kematiannya, mengiris pergelangan tangannya dengan pisau yang entah di daptkannya darimana. Aku tidak peduli.

Saat aku berada dua langkah di belakang Yoona, ia mengejutkanku dengan teriakan ketakutan. Berbalik netra coklatnya beradu dengan netra hitam milikku dan teriakan disertai tubuh Yoona yang berlari ke sudut ruangan. Meringkuk ketakutan.

“Pergi. Jangan mendekatiku bajingan. Tidak jangan menyentuhku!!.” teriak Yoona dengan tubuh bergetar, air mata tumpah dari netra coklat nya.

Hatiku sakit. Dadaku sesak seakan ada palu kasat mata yang di hantam kan ke dadaku. Tubuhku bergerak menghampiri Yoona.

Memeluknya semakin erat saat ku rasakan tubuhnya berontak. “Hey.hey tenanglah, Yoongie. Ini aku Sehun. Sahabatmu. Aku bukan dia”
Membelai rambut kecokelatan Yoona yang semakin panjang.

“S Sehun?” mengangkat kepalanya. Yoona menatapku dengan linlung.

“Ya. Aku  Sehun. Tenanglah aku akan menjagamu” menghapus air mata Yoona dan menyunggingkan senyum pedihku.

Aku menjaga Yoona selama lima tahun. Berharap hari dimana Yoona kembali dari dunia yang di ciptakan nya. Aku terlalu berharap. Nyatanya Yoona tidak akan kembali. Ia bahkan meninggalkan dunianya. Mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya menggunakan seprei ranjangnya sebagai tali pemutus kehidupan nya.

Duniaku saat itu berubah kelabu untuk selamanya.

———–

Aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa ia telah pergi. Tapi, pikiranku mengatakan ia masih ada.

Bayangan Yoona selalu memunculkan dirinya. Suara Yoona berbisik menghalangi kewarasanku. Kenangan yang kami lewati mengikatku. Bahkan saat eksistensi Yoona dari dunia ini lenyap, ia tetap memilikiku.
Membuat ku sendiri. Kesepian. Selamanya..
.
.
.
.

.
.
.
.
.
.
.

Fin.

Advertisements

12 thoughts on “IMMORTAL

  1. Ffnya keren . Penuh kejutan pas aku bacanya . Sehun sayang banget ya sama yoong eonnie? . Sama aku juga kan oppa? *kedipmanja . Awalnya aku kira ceritanya cem ditinggal gitu , trus ketemu yoona itu flashbacknya . Eh salah . Pas sehun ke rumah sakit aku kira yoonanya mati eh ternyata kga waras . Salah egen . Aku kira sehun bakal jadi obat buat yoona eh salah maneh . Sipa sih cowo itu pen aku tonjok deh . Yoona juga ngapain liat ke cowo itu orang jelas2 sehun ganteng . Aku komen panjang banget ya . Yasudah lanjutkan bakatmu author . Aku suka karyamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s