Title  :  RED

Cast   : Im Yoon Ah as Calista Im || Oh Sehun

OC     : Find by Your Self ^^

Genre  : Sad || Romance

Disclaimer  : All cast belong to God and the story belong to me

“Right now I’m not crying because you left me sad, but I’m crying because it’s hard for me to forget the love that once existed in our lives.” . —Anonymous—

Aku dan dia adalah teman masa kecil. Rumahnya berbeda satu blok dengan rumah milikku. Dia adalah orang yang telah mencuri perhatianku sejak kami berdua duduk di bangku sekolah dasar. Umur ku terpaut satu tahun darinya.

 

Dia anak lelaki yang tidak akan memotong pembicaraanmu di tengah jalan. Dia orang yang lebih suka menjadi pendengar di banding pembicara. Menjadi pengamat di banding pusat perhatian. Tepatnya ia lelaki pendiam.

 

Namun, saat kami beranjak remaja dan menggunakan seragam JHS. Aku mengetahui sifat lainnya, ia seseorang yang tidak suka di bantah dan terlihat cuek namun ternyata perhatian. Aku mengetahui keduanya saat aku dan dia menjalin hubungan lebih dari sekedar teman masa kecil.

 

Hubungan kami berlanjut hingga ke jenjang SHS. Dimana masa itu adalah momen yang menjadi hari-hari bahagia untukku. Pemikiran kami menjadi lebih dewasa di banding saat kami di bangku JHS dan tentu saja hal-hal yang kami lakukan selama berpacaran lebih menyenangkan.

 

Satu waktu aku memintanya mengantar ku ke tempat fotokopi. Malam itu aku harus memfotokopi buku paket yang di jadikan sebagai syarat agar dapat masuk ke kelas Kris songsaenim. Saat tiba, tempat tujuan kami penuh dengan orang yang berkepentingan sama denganku.

 

Selama menunggu kopianku selesai aku memutuskan bercerita kepadanya. Kesalahanku adalah tidak memperdulikan sikapnya yang agak berbeda dari biasanya, ia menjadi lebih pendiam. Aku yang tidak peka bercerita panjang lebar tentang apa yang ku alami hari ini. Aku terbahak saat menceritakan tingkah konyol teman sekelasku. Mungkin aku tertawa terlalu keras hingga ia membentakku. Aku terkejut dengan bentakan darinya, selama ini ia tidak pernah membentakku. Kalaupun ia kesal padaku ia hanya menyuruhku diam namun tidak dengan membentakku.

 

Aku terpaku selama beberapa saat sebelum tersadar bahwa ia kini menatapku dengan pandangan menyesal.

 

“Maaf” ia berkata dengan sorot mata penyesalan.

 

Perasaanku berkata mungkin ia sedang mengalami masalah, karena itulah aku memutuskan untuk memaafkannya dan memintanya bercerita tentang masalahnya. Namun, ego ku yang terluka karena tindakannya tidak ingin memaafkannya. Akhirnya ego ku mengalahkan perasaanku.

 

Aku tidak menjawab permintaan maafnya. Sebaliknya aku memilih berjalan pergi meninggalkan tempat tadi. Aku tidak berharap ia akan mengejarku karena aku tahu sejak dulu ia adalah tipe lelaki cuek. Namun, aku salah.

 

Aku mendengar suara motornya mendekat ke arahku dan ia berhenti tepat di sampingku.

 

“Cal, naiklah. Aku minta maaf. Oke.”  pintanya.

 

Saat tidak mendapat respon dariku, ia memegang lengan kiriku dan memutar tubuhku menghadap kearahnya.

 

“Hey, Aku benar-benar tidak bermaksud membentakmu. Hari ini cukup buruk buatku. Aku minta  maaf melampiaskan kemarahanku padamu. But, i swear. Aku tidak sengaja membentakmu.” ia memandangku dengan pandangan yang selalu bisa membuatku luluh dan terpesona olehnya.

 

Sebenarnya saat ia mengejarku. Aku sudah memaafkannya terlebih saat ia membujukku dengan kalimat yang aku rasa adalah kalimat terpanjang darinya selama ini. Tetapi, aku tidak ingin membuat ini mudah baginya. Aku ingin membalas tindakannya tadi.

 

Aku menyentak lenganku yang di pegangnya kemudian meneruskan langkah ku. Aku bisa melihat ia tersentak akan tindakanku dan aku berusaha keras menahan tawaku.

 

“Cal,tunggu”  panggilnya.

 

“Cal,”

 

“CALISTA IM” teriaknya bersamaan dengan bunyi motornya yang kembali terdengar.

 

Aku terkekeh mendengarnya berteriak memanggil namaku. Ketika ia akhirnya menghentikan motornya di sampingku lagi. Aku tidak tahu jika akan mendapati tatapan penuh amarah darinya. Aku terkejut kala menatapnya dan melihat rahangnya yang mengeras. Sehun hanya menatapku seperti itu jika ia benar-benar marah. Ia memberiku tatapan itu satu kali. Saat aku mematahkan mainan robotnya dulu.

 

“Naik.Sekarang. Calista.” Sehun mengatakannya dengan tegas.

 

Aku tidak ingin membuatnya lebih marah dari ini. Jadi, aku memilih mengikuti perkataannya.

 

 

Hari ini aku dan Sehun berencana akan nonton berdua setelah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya. Jujur aku ingin tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Sehun saat ini. Bukan karena Sehun tiba-tiba berubah menjadi jelek, tapi karena Sehun yang saat ini berdiri di hadapanku. Adalah Sehun dengan potongan rambut plontos ala David Becham. Aku tidak tahu angin apa yang membuat ia mencukur habis rambutnya. Karena aku orang yang tidak bisa di buat penasaran, aku memutuskan bertanya padanya.

 

“Hey, ada apa dengan rambut mu, hmm?”

 

“Ck, aku sudah menduga kau akan bertanya, dari wajahmu kau seakan siap berguling-guling di hadapanku karena menertawai ku. Aku terkejut kau tidak melakukannya.”

 

Well, kau salah tuan Oh Sehun. Jadi, cepat ceritakan padaku.”

 

As you Wish, Milady. Pagi tadi guru ku melakukan swiping rambut bagi kami siswa laki-laki. Karena merasa rambut ku melanggar aturan ia memotong rambut ku. Parahnya ia hanya memotong sebagian yang meninggalkan sebuah pitak di kepalaku. Dang it. Karena kesal aku memutuskan mencukur seluruh rambutku. Tapi, aku benar-benar menyesal saat ini.”

 

“Mmmppp”

 

“Ahahahahaha…”

Penjelasan Sehun sukses membuat tawa yang tadinya berusaha ku tahan keluar. Jadilah aku menghabiskan beberapa menit dengan menjadikan Sehun sebagai objek tertawaan ku. Aku bisa membayangkan ekspresi wajah Sehun saat rambutnya di sentuh sang guru. Sehun sangat menyukai gaya rambutnya wajar saja ia kesal. Kalian pasti heran kenapa aku menanyakan alasan Sehun mencukur rambutnya, bukan? Itu semua karena aku dan Sehun berbeda sekolah.

 

“Hey..hey.. berhentilah tertawa. Kau ingin menghabiskan waktumu seharian penuh untuk menertawai ku, huh? Baiklah silahkan. Kita tidak usah ke bioskop.” ancam Sehun.

 

“Woah….. calm down, Mr Oh. Aku minta maaf oke?” balasku cepat.

 

“Ambil tas mu dan naik ke motor.” ucapnya sembari berjalan ke luar dari teras rumahku menuju motornya yang di parkir depan rumah.

 

Aku segera mengambil tas yang ku letakkan di atas kursi teras dan berjalan di belakang Sehun. Tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu. Hmmm.. apa yang ku lupakan?

 

“Cepatlah, Cal”

 

“Im coming.”

 

Aku menepis pikiran ku tadi dan segera naik ke boncengan. Motor Sehun keluar dari pekarangan rumah menuju tempat kencan kami akhir minggu ini.

 

Well, jika aku tahu bahwa pemikiran tentang aku melupakan sesuatu itu akan membuat kami berada dalam suasana awkward aku pasti akan berusaha keras untuk mengingatnya. Shit.

Kami berempat berdiri dengan suasana canggung mengelilingi kami. Sesuatu yang kulupakan tadi adalah bahwa aku harusnya memberitahu Sehun. Yong Shik dan Nara akan ikut nonton bersama kami. Bahwa kami akan melakukan double date. Aku tidak tahu Sehun akan datang menjemputku dengan kepala plontosnya yang berimbas dengan kepercayaan diri Sehun menurun. Ah… menyebalkan.

 

Baiklah sebaiknya kita mundur sejenak agar kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum kami berada dalam posisi saat ini.

Aku dan Sehun sampai di parkiran gedung. Kami berjalan masuk dengan aku yang semangat menarik Sehun agar  mempercapat langkahnya. Saat kami tiba di depan bioskop sebuah suara memanggilku. Aku menoleh dan terkejut dengan kedatangan Nara dan Yong Shik. Aku lebih terkejut dengan perkataan Nara selanjutnya saat tiba di hadapan kami berdua.

 

“Akhirnya kalian datang. Aku dan Yong Shik sudah menunggumu sejak 1 jam yang lalu. Karenanya aku menarik Yong Shik ke timezone selagi menunggu kalian datang. Oh! Ada apa dengan rambut mu?” pekik Nara saat sadar bahwa Sehun mencukur rambutnya. Damn.

 

Itulah yang membuat kami dalam suasana saat ini. Aku melirik ke arah Sehun yang saat ini sudah memasang ekspresi masam terhadap perkataan Nara, mungkin karena merasa aku memperhatikannya ia menoleh dan ekspresi wajahnya berubah seolah ia siap memakanku hidup-hidup.

 

Aku dengan cepat mengembalikan atensiku pada Nara, “ Ehm. Sekolah Sehun mengadakan swiping rambut, karena itulah ia mencukur rambutnya. Nara-ya.” jelasku dengan melemparkan pandangan tutup-mulut-mu-sekarang-juga pada Nara. Sayangnya Nara yang ku kenal adalah cewek yang tidak peka akan arti pesan non verbal, bukannya menutup mulutnya ia malah menjawabku lagi.

 

“Benarkah? Woah,,, kau pass..” ucapan Nara terhenti karena Yong Shik memotong ucapannya.

 

“Ahh.. begitu. Jadi apa kita akan terus berdiri disini atau kita masuk kedalam dan memesan tiket?”

 

Aku bersyukur Yong Shik mengerti dengan pesan tak terucapku, ia menyelamatkan ku dari tatapan Sehun yang semakin terasa mengerikan padaku. Aku berencana menyetujui perkataan Yong Shik tapi Sehun punya pikiran lain.

 

“Bisa aku berbicara berdua dengan, Cal?” kata Sehun.

 

Kami bertiga terkejut dengan nada yang di keluarkan Sehun. Suaranya bernada datar yang entah kenapa membuatku merinding. Aku berpandangan dengan kedua temanku meminta persetujuan keduanya dan di jawab dengan anggukan kepala. Teman yang pengertian.

 

Lupakan, aku kesal dengan tanggapan mereka. harusnya keduanya tidak mengizinkanku. Apa mereka tidak melihat Sehun seperti sudah siap membolongi kepalaku dengan tatapannya saat ini? God.

 

Melihat reaksi kedua temanku. Sehun menarik lembut lenganku. Ya, meski marah Sehun tetap menjaga sikapnya. Ia tidak pernah berlaku kasar. Tapi, tetap saja itu tidak meredam ketakutanku. Kami berhenti di balik dinding toko buku yang berada di samping bioskop.

 

“Apa yang kau pikirkan, Cal?” desis Sehun padaku.

 

Oh, oh.. ini dia. Aku pasti akan berakhir dengan Sehun yang mendiamkanku selama seminggu.

 

“ A aku, mengajak mereka karena ku pikir pasti akan menyenangkan jika kita berempat. Double date, you know. Aku tidak tahu bahwa kau akan datang dengan tampilan sekarang. Aku tidak bermaksud membuatmu malu.” ucapku dengan kepala menunduk, aku tidak berani menatap Sehun.

 

Beberapa detik aku tidak mendapat respon Sehun. Hingga aku mendengar Sehun menghembuskan nafasnya dan mengangkat daguku, membuatku mendongak kearahnya. Kami bertatapan dan aku melihat pancaran mata Sehun melembut.

 

“Kau masih ingin menonton? Jika iya, aku tidak akan ikut denganmu. Kau bisa menonton bersama teman mu.”

 

You, what?!”

 

“Kau akan meninggalkanku? Sendiri? What the hell, Sehun!” teriakku hingga mengundang beberapa pasang mata pengunjung yang melewati kami melihat kearahku.

 

“Ya, aku akan meninggalkanmu sendiri. Itu jika kau tetap dengan rencanamu atau kau bisa membatalkan rencanamu dan ikut denganku.”

 

Aku menatap Sehun seakan ada tanduk yang muncul di kepalanya. Mulutku masih membuka sebelum tangan Sehun mengatupkan rahangku.

 

Karena tidak mendapat jawaban dariku, Sehun kembali bertanya. “Pilih aku atau mereka, Cal?”

 

Oh God,,, aku benar-benar ingin mengubur seseorang yang berada di hadapanku saat ini. Sebelum aku sempat menjawab ia hanya menatap mataku sejenak, menganggukkan kepalanya seakan telah mendapat jawabanku. Kemudian beranjak pergi dariku.

 

“Yak! Oh Sehun, kau mau kemana, hah? Kau bahkan belum mendengar jawabanku. Yak! Berhenti di tempatmu sekarang.” teriakku padanya.

 

Sehun menghentikan langkahnya namun tidak berbalik, Oh God, ada apa dengan pacarku.Ckck. Aku berlari menghampiri Sehun dan aku hampir saja terjatuh karena Sehun yang tiba-tiba saja berbalik padaku. Ia mendekat padaku dan langsung membungkusku dengan pelukannya. Aku tentu saja terkejut hingga tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

 

“Kenapa harus berlari, huh? Kau harusnya hanya berjalan beberapa langkah saja dan biar aku yang akan mengikis jarak antara kita, Cal. Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu kan?” ucapnya lembut.

 

Aku belum bisa mengatakan apa-apa, jadinya aku hanya menenggelamkan kepalaku di dada Sehun.

 

“Telepon temanmu bahwa kau tidak jadi nonton bersama mereka saat ini.”

 

“Kau bilang tidak akan meninggalkanku, tapi tadi kau jelas-jelas meninggalkanku.” balasku tidak menghiraukan perkataan Sehun.

 

“Aku hanya membantumu agar cepat mengambil keputusan, ehehe”

 

“Dasar. Lepaskan pelukanmu. Kau membuat kita menjadi tontonan.”

 

“Baik, tuan putri.”

 

“Cih” aku tersenyum melihat tingkah Sehun dan mengambil ponselku untuk memberi tahu Nara bahwa aku dan Sehun tidak jadi nonton bersama mereka. Aku beralasan Sehun harus pulang karena sakit perut. Huh, itu pembalasanku untuknya. Sehun menggerutu sepanjang jalan karenanya.

 

Aku dan Sehun menghabiskan akhir pekan dengan nonton di bioskop lain setelahnya kami mengisi perut dan berakhir di duduk di taman kota.

 

 

Aku tahu cerita cinta  tak selamanya akan berakhir indah. I know that.  Begitu juga cerita ku bersama Sehun, namun sekarang aku belum ingin menceritakan bagian sedihnya. Jadi aku akan membagi momen yang paling ku sukai dari sekian momen bahagia ku dan Sehun.

 

Malam ini aku seperti berada dalam dunia dongeng. Dimana sang pangeran menjemput sang putri dan mengajaknya pergi untuk menghabiskan waktu penuh romansa bahagia. Aku yang tadinya menghabiskan waktu ku dengan membaca buku di kamar di kejutkan dengan kedatangan Sehun.

Saat aku menanyakan alasan kedatangannya, ia meminta ku untuk menemaninya membeli obat di apotek untuk di bawanya nanti. Jadilah aku dan dia kini berada dalam perjalanan menuju apotek. Namun, bukannya berhenti di depan apotek ia malah terus melajukan motornya melewati tempat yang di jadikan alasan mengajakku keluar.

Sehun baru menghentikan motornya di depan sebuah toko jam tangan. Aku mengira ia akan membeli jam tangan baru untuknya, tapi aku salah. Jam tangan itu untuk ku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Sehun saat ini. Sebelum aku sempat mengeluarkan pertanyaan ku atas perilakunya yang berbeda dari biasanya. Sehun menarik lenganku dan keluar menuju restoran terdekat dari toko jam tangan tadi.

Ia menyuruhku memesan makanan yang di ikuti olehnya. Saat pelayan yang mencatat pesanan kami berdua pergi. Aku menggunakan kesempatan ini untuk mengeluarkan pertanyaan yang sejak beberapa jam lalu bersarang di kepalaku. Aku harus menanyakannya sekarang juga sebelum kepalaku meledak karena di penuhi pertanyaan.

 

“Jadi, what is going on, Mr. Oh. Katakan padaku alasan semua tingkah anehmu malam ini. Bukannya kau mengajakku untuk menemanimu membeli obat? Sejak kapan toko obat berubah menjadi toko jam tangan dan restoran, huh? Aku tidak akan makan sebelum kau memberitahuku. Sekarang. Juga.” tanyaku dengan tekanan pada akhir kalimatku.

Bukannya menjawab pertanyaanku Sehun hanya menatapku. Setelah beberapa menit menunggu jawaban Sehun dan melihat ia yang tidak memberikan tanda akan menjawab pertanyaanku. Aku kembali bertanya padanya.

 

“Sehun, tell me now. Stop seeing me like that, why u…” ucapanku di interupsi oleh makhluk berjenis kelamin laki-laki di hadapaku. Lelaki yang sejak tadi ku tunggu untuk menjawab pertanyaanku namun tak kunjung membuka mulutnya. Di saat aku sedang berbicara ia malah memotong ucapanku. Dasar tidak sopan. Dulu ia tidak seperti ini, memotong pembicaraan orang.

 

“Aku hanya ingin mengajakmu kencan.” Sehun mengatakannya dengan wajah datar,

 

“Hah???? Jadi ada apa dengan alasan membeli obat yang kau gunakan? Apa itu kode baru untukmu jika ingin mengajakku kencan?”

 

“Umm, tidak juga. Aku awalnya memang ingin mengajakmu menemaniku membeli obat. Tapi, saat di jalan aku baru mengingat bahwa saat di Paris nanti aku tidak akan memegang ponsel terlalu sering. Artinya aku dan kau akan sulit berkomunikasi. Itulah kenapa aku ingin mengajak mu kencan. Aku akan sangat merindukanmu di sana. Selama satu bulan akan menjadi hari tanpa dirimu.”

 

Aku ternganga dengan perkataan Sehun. Alasan yang membuatnya bertingkah aneh karena ia akan sangat merindukanku. Apa-apaan itu. Apa ia ingin membuatku mati karena serangan jantung? Apa ia tahu jantungku saat ini  memukul-mukul dadaku hingga aku rasa ia akan mematahkan tulang rusukku.

 

Di tengah kediamanku, Sehun menggenggam jemari ku dan membawanya ke arahnya untuk kemudian di kecup olehnya. Holy shit. Aku bahkan tidak bisa merasakan diriku lagi saat ini. Yang terlihat olehku hanyalah jutaan kembang api yang meletus juga kupu-kupu yang beterbangan di perutku.

Setelahnya kami memakan pesanan kami di lanjut dengan Sehun yang mengantar ku pulang.  Di perjalanan ia memberitahuku alasannya membelikanku jam tangan sebagai pengingat akan dirinya jika aku merindukannya. Karena esok harinya Sehun akan berangkat ke Paris untuk mengikuti study exchange dari sekolahnya selama satu bulan. Dasar raja narsis. Siapa juga yang akan merindukannya. Baiklah, aku berbohong. Aku pasti akan sangat merindukannya.

 

Sehun memarkir motornya di depan rumahku. Aku turun dan berjalan masuk ke rumah yang di ikuti Sehun di belakangku. Kami berdua berhenti tepat di teras rumahku. Aku membalikkan badanku menghadap ke arahnya. Sehun berdiri di hadapanku dan memandangku dengah tatapan hangatnya. Perlahan ia memajukan tubuhnya hingga mengikis jarak yang ada di antara kami.

 

Ia menunduk dengan wajahnya yang semakin dekat denganku, aku bahkan bisa merasaka napas hangatnya yang mengenai kulit wajahku. Hidung kami bersentuhan seiring dengan bibirnya yang mengecup lembut bibirku. Aku menutup kedua mataku saat kecupan itu berubah menjadi lumatan. Ia merengkuh pinggangku dan menarikku kearahnya hingga dadaku menabrak dadanya. Lenganku secara alami merangkul lehernya. Waktu seakan melambat saat ia berada sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan detak jantung kami berdua yang bertalu-talu. Ini adalah sihir. Ya, sihir yang di berikan Sehun untukku dan aku sangat menyukainya. I love this magic.

 

Well, dengan begitu berakhirlah momen yang menjadi favoritku. Dan sekarang kita melangkah di saat dimana aku menjalani hari-hari suram ku. Di cerita ini Sehun adalah seorang pria yang meninggalkanku dan menghancurkan hatiku.

 

Hubunganku dengan Sehun sudah berjalan 6 tahun. Dimana dalam rentang waktu itu aku dan dia mengecap manis dan pahit dalam berhubungan. Meski kami kadang bertengkar kami akan berbaikan dengan waktu yang cukup cepat. Aku menjalani waktu enam tahun dengannya seakan aku seorang putri. Aku berada dalam dunia dongeng. Hingga kenyataan datang untuk membangunkanku darinya.

 

Aku sekarang duduk di bangku kelas tiga SHS yang artinya aku akan segera menamatkan sekolahku dan menyusul Sehun di bangku kuliah. Well, Sehun sudah lulus tahun lalu. Karena itulah aku bersemangat untuk cepat-cepat menamatkan sekolahku dan menyandang status mahasiswa.

 

Aku selalu berpikir bahwa aku dan Sehun akan selalu bersama. Aku terlahir untuknya begitu juga dirinya. Namun, aku salah. Takdir memberitahuku melalui datangnya orang lain dalam hubungan kami.

 

Saat itu ponsel milikku rusak dan Sehun dengan baik hati meminjamkan ponsel lainnya untukku. ia memiliki dua ponsel, oke. Ini bukan pertama kalinya aku meminjam ponselnya. Aku yang sedang bosan memutuskan untuk mengecek inbox miliknya. Aku melakukan ini bukan karena aku tidak mempercayainya. Hanya saja aku penasaran. Di deretan atas pesan masuk Sehun di dominasi oleh teman-temannya. Hingga aku menemukan pesan berisi kata-kata yang cukup mesra dari salah satu nomor.

 

Pesan itu, bukan pesan yang wajar untuk di tujukan pada teman biasa. Isi pesan dan balasan dari Sehun untuk orang itu sama seperti jika aku berkirim pesan dengannya. Tapi, aku yakin itu bukanlah nomor ponselku. Perasaaan ku mulai gelisah. Aku berusaha menampik ketakutanku. Aku memutuskan mengirim pesan ke nomor itu menggunakan nomor ku.

 

To : +82 10 5805 2070

From : +82 12 4444 8800

 

Sehun, Kau dimana?

 

Tidak menunggu lama pesan balasan dari nomor itu masuk.

 

To : +82 12 4444 8800

From : +82 10 5805 2070

 

Maaf sepertinya kau salah nomor.

 

To : +82 10 5805 2070

From : +82 12 4444 8800

 

Benarkah? Ah, maaf.

 

To : +82 12 4444 8800

From : +82 10 5805 2070

 

Its ok. Tapi, yang kau maksud Sehun tadi adalah mahasiswa dari Seoul National University? Mm, lebih tepatnya mahasiswa jurusan Management?

 

Saat aku membaca pesan yang masuk beberapa menit lalu. Aku mulai merasa sesak. Aku langsung memutuskan untuk menelpon orang yang ku yakini seorang wanita.

 

“Halo?” ucap suara di sebrang telepon.

“Siapa kau?”

“Apa maksud anda?”

“Cukup beritahu aku siapa dan apa hubunganmu dengan Sehun?”

“….Aku pacar Sehun.”

“Kau bohong. Jangan mengarang cerita,  nona.  Aku pacar Sehun. Bagaimana bisa kau menjadi pacarnya?”

“Hei! Kau yang jangan mengarang cerita. Sehun adalah pacarku. Aku dan dia telah berpacaran selama 3 bulan. Dasar gila.”

“Apa katamu? Dengar nona tiga bulan. Aku dan Sehun sudah berpacaran selama 6 tahun. Jadi simpan cerita omong kosongmu dan berhenti mengirim pesan pada Sehun. Bitch!”

 

Aku memutus sambungan dan melempar ponsel Sehun ke ranjang. Napasku terengah dan dadaku sakit karena menghirup udara secara gila-gilaan. Jantungku mungkin saja akan meledak. Selang berapa menit air mata ku mengalir. Setetes yang kemudian menjadi beberapa tetes hingga menjadi banjir air mata. Tubuhku luruh ke lantai kamarku yang dingin. Perasaanku sakit hingga aku tidak mampu menahannya. Aku mengeluarkannya dengan teriakan yang mungkin menjadikanku seperti seorang pasien sakit jiwa.

 

Aku menghabiskan seharian waktu ku dengan menangis. Hingga aku jatuh tertidur karena kelelahan. Malamnya aku menghubungi Sehun dan memintanya datang  ke rumahku. Setengah jam kemudian aku dan dia kini duduk di teras rumah. Aku tidak berbicara padanya sejak ia datang hingga waktu berlalu mungkin selama lima belas menit. Aku hanya memandangnya dan berpikir bagaimana bisa dia melakukan hal ini padaku?

 

“Ada apa, Cal? Kau baik-baik saja? Matamu bengkak” tanya Sehun sembari mengelus bagian bawah mataku.

 

Aku membiarkannya merasakan sentuhan Sehun di kulitku. Hangat. Sentuhannya masih sama, namun anehnya hatiku tidak ikut menghangat. Dingin. Hatiku tetap dingin sejak siang tadi.

 

“Kau. Apa kau mencintaiku?”

 

Aku bisa melihat ekspresi terkejut dimatanya. Sebelum ia merangkum wajahku dengan dua tangannya.

 

“Aku mencintaimu, Cal. Kenapa kau harus menanyakannya?”

 

“Apa kau masih mencintaiku?”

 

Kali ini matanya memancarkan kebingungan akan pertanyaanku.

 

“Tentu saja.”

 

“Jadi, kenapa harus ada wanita lain?”

 

“Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya kau bicarakan,Cal?”

 

“Siapa dia? Wanita yang berkirim pesan mesra denganmu? Aku melihatnya di kotak pesanmu”

 

Dahinya mengerut seakan sedang mengingat sesuatu atau mungkin sedang berpikir untuk merangkai kata penuh kebohongan padaku?

 

“Dia, wanita yang di goda temanku tapi ia menggunakan namaku. Aku sudah melarangnya, hanya saja ia tetap melakukannya. Aku tidak tahu siapa dia, kata temanku ia berbeda kampus dengan kami. Aku membiarkannya karena temanku hanya bermain-main.” ucap Sehun dengan raut wajah tenang.

 

Ucapannya membuatku goyah. Sehun tampak jujur saat mengatakannya dan aku tahu saat dimana ia berkata jujur.

 

“Jadi karena ini kau bersikap aneh, hmm? Tenanglah. Aku hanya mencintaimu. Sejak dulu, sekarang, dan selamanya. Apa kau juga menangis dan membuat matamu bengkak karena salah paham dengan pesan itu? Maaf, telah membuatmu menangis.” kata Sehun yang kini meraihku dalam pelukannya dan mengelus punggunggku.

 

Meski hatiku belum sepenuhnya tenang karena penjelasan yang di berikan Sehun. Aku kini memaafkannya.

 

“Jangan membuatku khawatir dan salah paham lagi. Aku takut. Juga minta temanmu meminta maaf. Wanita itu tidak pantas untuk di permainkan, Oppa”

 

Aku bisa merasakan senyuman Sehun di atas kepalaku. Ia mengecup puncak kepalaku sebelum menjawab, “With my pleasure my Lady”

 

Semua kesalapahaman itu berakhir dengan kami berdua yang saling berpelukan. Namun, sejak itu perasaanku tidak sama seperti sebelumnya, ada yang kurang darinya. Meski sikap Sehun tetap sama seperti dulu.

 

Mungkin karena sikapku yang berbeda, Sehun dan aku kini memiliki jarak tak terlihat yang membentang di antara kami. Di tambah Sehun yang semakin aktif dalam kegiatannya sebagai mahasiswa juga di organisasi yang di ikutinya. Aku yang sibuk dengan persiapan menjelang ujian akhir. Kami jarang melewatkan waktu bersama seperti dulu.

 

Hubungan kami mendingin, kaku, dan terasa asing. Meski kami berada dalam satu tempat kami malah menghabiskan waktu dengan kegiataan masing-masing. Aku dengan ponsel ku sedang Sehun dengan laptopnya.

 

Bulan kelima dengan kondisi hubungan kami yang tetap sama sejak peristiwa salah pahamku. Aku kini tengah bersiap untuk berlibur bersama ketujuh sahabatku ke pulau Jeju. Bulan ini adalah hari pengumuman kelulusan dan aku berahasil lulus dengan nilai terbaik. Sehun dan keluargaku datang di acara kelulusanku. Ia memberikanku bunga mawar putih juga kalung berbandul dua pasang merpati dengan inisial nama kami berdua. Hal itu sukses menghancurkan dinding es yang selama lima bulan ini membungkus hatiku. 

Ketukan di pintu kamarku di susul suara ibuku yang memberitahu kedatangan Sehun, menarikku kembali dari lamunanku. Dengan perasaan bingung alasan kedatangan Sehun di jam yang menunjukkan pukul 22:30 KST.

 

Aku menuju teras rumah dan melihat Sehun yang duduk di salah satu kursi teras, “Hai” sapaku sembari menduduki kursi yang berada di hadapanya.

 

“Hai” balas Sehun di ikuti senyuman.

 

“Ada apa?”

 

“Ah, Aku hanya ingin memberikanmu ini” Sehun mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang di pakainya. Barang yang di ambilnya adalah sebuah hoodie berwarna biru.

 

“Ini, pakailah saat kau disana. Aku tidak ingin kau kedinginan. Aku tahu kau sudah mempunyai hoodie, tapi aku ingin kau memakai hoodie pemberianku”

 

“B baiklah.” balasku dengan gagap.

 

“Karena aku sudah memberikannya. Aku harus kembali sekarang. Nikmati liburanmu, Cal” Sehun berdiri di ikuti denganku. Ia kemudian berjalan mendekatiku dan memelukku. Pelukan ini terasa menyesakkan. Aku tidak tahu bahwa itu adalah pelukan  kami yang terakhir.

 

Aku menghabiskan waktu liburanku selama seminggu di pulau Jeju. Aku benar-benar menikmati liburanku dengan bersenang-senang bersama sahabatku. Hanya ada tawa dalam hari-hariku selama itu. Aku seharusnya sadar bahwa jika kau terlalu berbahagia kau juga akan merasakan sakit yang sebanding dengan tingkat kebahagiaanmu.

 

Saat kembali dari liburanku dan tiba di rumah. Hal yang pertama kali ku lakukan adalah tidur, karena aku sangat kelelahan. Malamnya aku menghubungi Sehun untuk memberikannya kabar. Aku dan dia tidak berkomunikasi karena ia ingin aku sepenuhnya menghabiskan waktu dengan sahabatku. Aku harus menunggu selama lima menit sebelum aku tersambung dengannya.

 

“Halo, Cal”

 

“Hai, aku hanya ingin memberitahumu aku sudah kembali dari liburanku”

 

“Mmm, baiklah, nanti ku hubungi aku sedang sibuk saat ini.”

 

Dan dengan begitu Sehun memutus sambungan telepon. Tanpa basa basi. Apa ia sangat sibuk? Hingga harus mengacuhkan keberadaanku? Apa sibuk yang di maksudnya adalah kegiatan organisasi yang di ikutinya? Aku tidak mengerti dengannya. Ia mungkin masih terlihat sama, namun ia bukanlah Sehun yang dulu ku kenal.

 

Sejak itu aku dan Sehun tidak berkomunikasi selama seminggu. Sehun tidak berusaha menghubungiku untuk memberikanku penjelasan. Dan aku sukses hampir gila karenanya.

 

Sabtu malam Sehun tidak datang. Aku tidak bisa menahan kesalku lebih lama lagi. Aku mengambil ponsel ku dan mengirim pesan padanya.

 

To : Ma Sun

From : Moon Princess

 

Kau dimana?

 

Butuh waktu lima menit hingga balasan Sehun masuk.

 

To : Moon Princess

From : Ma Sun

 

Aku dirumah

 

Aku tertegun dengan balasan Sehun. Ia dirumah dan sepertinya ia tidak berniat datang. Aku tidak tahu apa yang salah, tanpa sadar jariku mengetik pesan yang mewakili perasaan ku saat ini.

 

To : Ma Sun

From : Moon Princess

 

Apa maumu?

 

Kali ini balasannya lebih lama di banding yang pertama.

 

To : Moon Princess

From : Ma Sun

 

“Aku lelah, Cal”

 

Lagi, perasaan yang dulu kurasakan saat mengirim pesan pada wanita itu kembali ku rasakan. Aku takut dengan makna di balik kalimat dari pesan yang di kirimnya padaku. Aku ingin berpura-pura bodoh dan membalas pesannya dengan menyuruhnya beristrahat. Tapi, aku tahu. Sangat tahu dengan arti pesan itu.

 

Jari-jari ku gemetar saat mengetik pesan balasan untuknya, mataku mulai di penuhi genangan air mata yang membuatku semakin sulit untuk menulis pesan.

 

To : Ma Sun

From : Moon Princess

 

“Jadi, kau ingin putus?”

 

Dalam hati aku berharap bahwa ia akan membalas dengan kalimat penolakan. Namun, aku menerima pesan yang berlawanan dengan harapanku.

 

To : Moon Princess

From : Ma Sun

 

“Ya. Aku ingin kita putus. Maaf dan terimakasih untuk waktumu selama 6 tahun ini, Cal. Jaga dirimu. Calista Im.”

 

Air mata yang sejak tadi ku tahan kini tumpah dari pelupuk mataku. Aku tergugu dengan tangan mencengkram dadaku yang sakit. Ponselku  sejak tadi terlepas dari tanganku, tergeletak dengan naas di bawah kakiku. Aku ingin menelponnnya dan menyuruhnya mengatakan bahwa ia hanya ingin mengerjaiku. Tapi, aku tahu. Sehun serius dengan keinginannya. Ia bukan tipe lelaki yang menjadikan kata putus sebagai bahan candaan.

 

Itulah akhir cerita cintaku. Berawal manis dan berujung kesedihan. Aku tidak pernah tahu bahwa hari itu akan tiba. Aku masih mengingat bagaimana bahuku lemas juga kakiku yang seakan berubah menjadi jeli. Aku terduduk di lantai dan menangisi perpisahan kami. Sakit yang ku rasakan jauh lebih sakit di banding sebelumnya.

 

Dulu aku membenci warna merah dan menyukai warna biru. Namun, saat ini aku membenci warna biru dan menyukai warna merah. Karena biru menggambarkan kesedihan karena kehilangan hal yang paling ku cintai. Tepatnya seseorang. Aku tidak pernah merasakan kesedihan sedalam yang ku rasakan saat ini. Warna merah, aku menyukainya karena ternyata merah melambangkan cinta.  Seperti aku mencintai Sehun. Selain keduanya ada satu warna lagi yang kini melambangkan keadaanku, abu-abu. Sebagai lambang depresi dan perasaan sepi. Sama sepertiku yang sangat merindukannya dalam sepi ku hingga seakan rasa rindu itu bisa membunuhku kapan saja.

 

Setengah tahun aku menunggu Sehun akan datang kembali padaku. Kami akan memulai segalanya lagi. Aku dan dia akan menghabiskan waktu bersama-sama seperti dulu. Harapanku sia-sia. Sehun tidak pernah kembali padaku. Aku dan dia kini menjadi orang asing dan menjalani hidup masing-masing tanpa ada kata “Kita” sebagai penghubung.

 

 

 

 

 

 FIN

 

A.N. HOLA MAAF YA, BARU BISA UPDATE LAGI, AKU BUAT FF BARU YANG IDENYA DATANG DARI SALAH SATU SAHABATKU EHEHE… FF INI DI DEDIKASIKAN BUAT TEMAN AKU DENGAN INISIAL “Y” AKU GAK BISA SEBUTIN NAMANYA, TAKUT DI RAJAM AHAHAHA..

BUAT YANG NUNGGU FF BA BLOM BISA AKU LANJUT Y, SOALNYA ALAGI MISKIN IDE.

 

Advertisements