19f47f9a-a287-4cc1-abd3-4ba26cbea381_169

 

TITLE : EXPLANATION

CAST : IM YOON AH  ||  OH SEHUN

GENRE : ROMANCE || MARRIAGE LIFE

LENGTH : ONE SHOT

DISCLAIMER : THE STORY BELONG TO ME AND ALL CAST BELONG TO GOD

HAPPY READING ^^

Hari itu adalah hari untuk pertama kalinya aku kembali bertemu dengannya. Dia masih terlihat sama seperti enam tahun yang lalu. Hanya garis wajahnya kini tampak dewasa di banding saat kami masih duduk di bangku SHS.

Aku sangat terkejut saat mendengar permintaan kedua orang tua ku yang berniat menjodohkan ku dengan anak salah satu sahabatnya. Awalnya aku menolak keras perjodohan konyol yang di rencanakan keduanya. Oh come on dude,  kita tidak hidup di jaman kerajaan dimana perjodohan adalah hal lumrah.

Sepertinya kedua orang tua ku sudah menebak reaksi ku, karena itulah mereka menggunakan cara licik untuk membuatku mengikuti permintaan keduanya. Dasar licik. Mereka mengancam akan mencoret diriku dari calon pewaris perusahaan keluargaku. The hell!

Karena itulah sekarang aku berada di salah satu restoran yang di kelola keluarga OH untuk bertemu dengan sahabat ayah dan ibu serta putri dari sahabat ayah. Yah, kau benar. Aku menerima perjodohan itu. Tapi, aku tidak berniat dengan sukarela  menerima semua ini. Aku akan mengajak wanita yang akan di jodohkan dengan ku untuk membuat perjanjian. Tentu saja tanpa di ketahui orang tuaku.

Aku sedang memandang pemandangan di luar jendela saat aku mendengar suara ibu ku yang antusias menyambut orang-orang yang ku yakini sebagai sahabat kedua orang tuaku. Aku mendengar suara wanita juga pria paruh baya membalas sapaan ibu dan ayah.

Aku memutuskan mengalihkan pandangan ku pada kedua orang tuaku dan pasangan paruh baya yang kini duduk berhadapan dengan ayah dan ibu. Kemana wanita yang akan di jodohkan dengan ku?

“Ah, ini pasti Sehun,bukan?” sapa pria paruh baya yang kini menatapku dengan senyuman ramah.

“Ya. Saya Oh Sehun. Senang bertemu dengan paman dan bibi” aku menjawab sapaan yang di berikan padaku dengan seulas senyum tipis ku berikan pada mereka berdua.

“Dan ini pasti Yoona. Kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kau lebih cantik dari ibu mu. Ahaha” ucap ibu menatap pada sesuatu atau tepatnya seseorang yang duduk di hadapanku.

“Ya. Bibi. Ku rasa ibu lebih cantik di bandingkan dengan ku. Bibi terlalu memuji ku”

Aku memberikan atensiku pada suara lembut yang terdengar dari seseorang yang di tatap ibu. Tepatnya gadis yang duduk berhadapan denganku. Aku dapat merasakan kulit di area sekitar dahiku berkerut. Aku heran, kenapa aku tidak menyadari kehadiran gadis itu? Hm. Sepertinya aku terlalu fokus pada pasangan suami istri yang berada di hadapan kedua orang tuaku.

Saat manik mataku bertemu dengan manik mata kecokelatan di hadapanku. Aku membeku. Pikiranku terlempar pada masa saat aku masih menggunakan seragam SHS. Tepatnya pada seorang gadis bermata cokelat bening dengan rambut dark brown sepunggung, gadis dengan tubuh ideal yang menjadi primadona tempat ku bersekolah. Aku dan dia tidak pernah saling berinteraksi. Tepatnya aku terlalu pengecut untuk mengajaknya berbicara. Jangan mengira karena hal itu kalian menganggap ku seorang nerd. Aku tidak termasuk dalam golongan anak-anak payah yang lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan berdebu.

Aku termasuk dalam golongan eksis saat itu. Aku seorang kapten basket dan meski aku tidak terlalu suka menghabiskan waktu melahap seluruh isi bacaan yang bisa membuat mu menjadi seorang jenius. Aku termasuk dalam siswa dengan prestasi terbaik. Huh. Gen yang di wariskan ayah dan ibu benar-benar berguna. Oke, sepetinya aku sudah melenceng dari topik.

Aku dan gadis itu memang sama-sama dalam golongan anak eksis. Tapi, aku dan dia tidak pernah berinteraksi. Kau sudah tahu alasannya bukan. Dan karena alasan bodoh diriku yang terlalu pengecut. Aku harus merasakan rasa sakit saat mendengar gadis itu berpacaran dengan lelaki lain. Shit. Setelah kejadian cinta pertama ku yang menyakitkan. Aku menarik diri dari lingkunganku, aku menjadi seseorang yang tidak perduli apa yang terjadi di sekelilingku. Bahkan semua yang bersangkutan dengan gadis itu.

Dan sekarang aku disini sebagai calon suami gadis itu. Duduk berhadapan dengan gadis yang menjadi cinta pertamaku. Setelah tidak bertemu dengannya selama enam tahun. Great. Takdir benar-benar sedang mempermainkan ku.

Aku masih bisa merasakan jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Tubuhku yang berubah kaku dan keringat yang kini muncul di kedua telapak tanganku. Damn. Pengaruh gadis ini masih sangat luar biasa untukku. Aku bisa melihat rasa terkejut pada manik matanya. Namun, rasa terkejutnya kemudian terganti dengan senyuman manis miliknya. Ia tampak senang.

Apa ia juga masih mengenaliku? Dan benarkah ia bahagia melihatku? Huh. Hentikan harapan bodohmu itu Oh Sehun. Bisa saja itu semua hanyalah topeng. Tidak mungkin gadis itu senang dengan perjodohan ini. Dia mungkin saja memiliki kekasih yang harus di tinggalkannya karena rencana bodoh orang tua kami.

Ya, aku tidak boleh membuka peluang untuk membiarkan wanita ini menyakitiku seperti dulu. Meski ia tidak  berperan langsung mematahkan hatiku saat itu. Tetap saja aku benci sesuatu atau pun seseorang yang memberikan ku rasa sakit. Karena aku membenci rasa sakit.

Aku tidak membalas senyuman yang di berikannya untukku. Hasilnya senyuman itu pudar digantikan ekspresi kecewa di wajahnya. Aku mengangkat salah satu alisku melihat perubahan raut wajahnya. Pasti wanita ini sedang menyumpahiku dalam hati. Aku berani bertaruh semua kutukan ia tujukan padaku. Hah!

“Sehun. Kenalkan ini Yoona calon istrimu.”  ibu melihatku dengan senyuman yang sangat mengerikan, senyuman penuh ancaman. Matanya seakan mengatakan bersikap-baiklah-Oh-Sehun-atau-kau-akan-menyesal. Ibu yang mengerikan, bukan?

Aku menghela napas sebelum menjawab perkataan ibu. “Ah, ya. Aku sudah mengenalnya. Yoona satu sekolah dengan ku saat SHS.” Aku kembali menatap Yoona.

Jawabanku langsung saja di sambut dengan heboh. Tepatnya oleh dua wanita paruh baya di meja kami. Sedang ayah dan paman hanya menanggapi dengan reaksi terkejut namun tidak berlebihan seperti ibu dan bibi. Tentu saja. Ck, wanita dengan segala reaksi berlebihan mereka.

Setelahnya, kedua orang tua ku dan orang tua Yoona sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tepatnya mengenang masa muda mereka. Meninggalkan kami berdua dalam suasana yang bisa di sebut awkward moment.

 

 

Seminggu setelah pertemuan dengan keluarga Yoona. Aku menjalani hari-hariku dengan bayangan Yoona yang selalu memunculkan eksistensinya dalam pikiranku. Dang it. Aku semakin tidak menyukai Im Yoon Ah. Untuk menghilangkan bayangan sialan itu. Aku memutuskan untuk bertemu dengan Yoona. Selain itu, karena aku ingin menjalankan rencana yang telah ku susun jauh hari terhadap perjodohan ini.

Disinilah aku dan Yoona berada di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari  perusahaan Im Corp. Kami berdua duduk berdampingan di salah satu kursi taman.

“Aku menerima perjodohan ini hanya karena agar aku dapat menjadi presdir menggantikan ayahku. Jadi, jangan mengharapkan gambaran pernikahan bahagia denganku. Kita berdua hanya orang asing yang terikat dengan status pernikahan. Jangan  mencampuri kehidupan pribadi ku.” ucapku seraya menatap Yoona yang berada di sampingku.

Aku menunggu Yoona yang akan mengeluarkan amarahnya padaku. Ia pasti tersinggung dengan perkataan ku. Tentu saja. Wanita mana yang tidak akan marah jika pernikahannya hanyalah formalitas. Karena itulah aku juga sudah menyiapkan pembelaan ku.

Setengah jam aku menunggu amarah itu muncul darinya.Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Saat ia menghela napas dan mulai menunjukkan tanda akan berbicara aku memusatkan perhatianku secara penuh padanya.

“Aku mengerti. Aku tidak akan mencampuri urusan pribadi mu. Tapi, aku membutuhkanmu untuk bersikap layaknya pasangan suami istri di depan kedua orang tua kita dan orang lain.” Ia kini membalas tatapanku padanya. Dengan ekspresi wajah dan suara yang sama. Datar .

Seharusnya saat ia mengatakan hal itu aku akan merasa senang. Aku tidak perlu bersusah payah untuk membuatnya setuju denganku. Tapi, bukan perasaan itu yang aku rasakan. Aku malah merasa kecewa karena penerimaannya terhadap rencana ku.

Shit! Tentu saja ia setuju. Itu semua sudah pasti menguntungkan baginya. Ia mungkin masih bisa berkencan dengan kekasihnya karena perjanjian yang kami buat. Oh God. Enyahlah perasaan aneh. Aku tampak seperti orang bodoh karena diam-diam mengharapkan Yoona akan menolak usulanku dan berusaha untuk membuat pernikahan kami sama seperti pernikahan pasangan normal lainnya.

 

 

“Apa kau mempunyai waktu malam nanti?” tanya Yoona saat memasangkan dasi padaku dengan pandangan yang selalu tertuju pada dasi yang di pasangnya. Ia tidak pernah menatapku selama ini. Apa aku begitu tidak menarik untuknya?

Hal itu selalu membuatku kesal. “Tidak. Aku sibuk”

“Ah. Baiklah. Aku kira kau punya waktu luang. Aku ingin mengajakmu dinner bersama sahabatku. Ia ingin bertemu denganmu. Ia tidak sempat menghadiri pernikahan kita.”

“Mm. Aku pergi.” memakai jas yang di siapkan Yoona. Kemudian berbalik memunggunginya. Berlalu dari hadapan Yoona tanpa menatapnya. Seperti biasa.

Di mobil, aku tidak berhenti mengutuk diriku karena sikap ku pada Yoona. Lima bulan pernikahan kami. Yoona selalu bersikap baik padaku. Bersikap layaknya istri yang mencintai suaminya. Karenanya aku luluh akan sikapnya yang selalu tersenyum padaku. Meski aku selalu bersikap dingin padanya.

Aku selalu berusaha bersikap lembut padanya. Namun, aku selalu berakhir dengan memperlakukannya dengan dingin. Ah, sepertinya kebiasaanku untuk berlaku dingin pada orang lain selain pada keluarga dan sahabatku sudah sangat melekat padaku.

 

*****

Di tengah kesibukanku memeriksa dokumen yang di berikan sekretarisku. Dering ponsel ku memutuskan untuk mengganggu konsentrasiku. For God sake, orang bodoh seperti apa yang berani menghubungiku di saat jam kerja? Orang itu pasti mempunyai nyali yang cukup besar.

Aku mengambil ponsel ku dan melihat sebuah nama muncul di layarnya.

Oh Hana calling

Sekarang aku tahu. Orang yang meneleponku bukan saja mempunyai nyali besar. Tapi, ia memang seseorang dengan tingkat kewarasan yang harus di pertanyakan. Ya. Karena Oh Hana adalah satu-satunya sepupu perempuanku yang sama sekali tidak merasa terintimidasi karena ku. Tepatnya. Ia adalah wanita gila.

“Ada apa kau meneleponku, Hana”

“……..”

“Aku sibuk. Aku bahkan menolak ajakan dinner istriku.”

“……..”

“Dasar wanita gila. Untuk apa aku melakukan hal itu. Aku benar-benar sibuk bodoh. Lagi pula. Kau pasti mempunyai alasan licik di balik ajakanmu ini, bukan?”

“……..”

“Yak!! Kau benar-benar tidak waras. Ajak saja teman lelakimu yang lain. Jangan melibatkanku dengan hal-hal konyol itu.”

“…….”

“Oh Hana. Kau mengancamku?’

“………”

Fine. Aku akan menemanimu. Aku akan menjemputmu.”

“………”

 

Dang!!! Wanita gila itu. Memintaku menemaninya hanya untuk membuat lelaki incarannya cemburu. Dia bahkan mengancam akan memberi tahu Yoona tentang perasaanku padanya. Dan dengan kurang ajarnya ia memutuskan sambungan telepon tanpa kata terima kasih.

Pukul 07: 50 KST. Aku dan Hana kini berada restoran yang di pilihnya. Saat lelaki incaran Hana muncul dan melihat ke arah kami, Hana meminta ku untuk menggenggam tangannya yang berada di atas meja. Dasar bodoh. Wanita ini pasti ingin membuat keributan di restoran ini. Jelas-jelas lelaki itu kini menatap kami dengan pandangan siap membunuh.

Lelaki itu menghampiri meja yang kami tempati dan menarik tangan Hana dari ku. aku tentu saja dengan senang hati melepaskannya. Aku bahkan menyuruh lelaki itu untuk bergabung bersama kami. Hana menatapku dengan sengit karenanya.

Oh, kau akan berterima kasih padaku nantinya sepupu ku tersayang. Aku membiarkan mereka berdua berbicara dan mengalihkan pandanganku ke arah lain. Pemandangan yang ku lihat benar-benar membuatku ingin meledak. Bagaimana tidak. Aku melihat Yoona bersama dengan seorang lelaki asing yang tidak pernah ku lihat bahkan saat di acara pernikahan kami.

Mereka tampak berbicara serius kemudian mereka meninggalkan restoran dengan  lengan lelaki itu melingkari pinggang Yoona dengan cara yang terlihat intim. Yoona tampak tidak keberatan akan hal itu. Mereka seperti sudah terbiasa dengan semua itu.

Apa lelaki itu yang membuat Yoona tampak mencari seseorang di  acara pernikahan kami lima bulan yang lalu? Yang membuat Yoona tidak perduli pada ku dan mengacuhkan ku bahkan saat kami telah berada di kamar kami? Yang membuatku tidak menyentuhnya karena takut akan di tolak olehnya?

Sial. Harusnya aku tahu Yoona tidak mungkin tidak memiliki kekasih saat itu. Seharusnya aku tidak tertipu dengan semua kelakuannya sebagai istri yang manis. Karena aku tidak akan merasakan rasa sakit yang sama seperti enam tahun lalu yang saat ini bertambah buruk karena perasaan terkhianati juga ikut muncul.

Come on, Oh Sehun. Siapa yang coba kau bodohi saat ini? Bukankah kau yang menginginkan semua ini? Kau yang mengusulkan perjanjian untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Sekarang kau bertingkah seolah kau di khianati oleh istrimu yang berselingkuh di belakangmu. Suck.

Aku masih menatap keduanya hingga mereka lenyap dari jangkauan penglihatanku.

Oppa, kau baik-baik saja?” teguran Hana membuatku sadar aku masih bersamanya.

“Hm.”

“Kalau begitu. Ada apa dengan kepalan tanganmu itu? Kau seakan siap meninju seseorang. Kau jelas tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.” Hana mengangkat salah satu alisnya dan menatapku dengan pandangan mengejek.

Aku mendengus karenanya. “Kau harus membantuku juga. Saat aku mengajakmu keluar kau harus selalu ada.” aku tidak menggubris perkataan Hana. Yang ada dalam pikiran ku saat ini adalah membalas perlakuan Yoona. Aku ingin menyakitinya seperti ia yang menyakitiku. Aku ingin melihat apa ia akan tersakiti karenanya. Dan aku sangat berharap dia akan tersakiti.

Hana dan lelakinya. Yah, aku memutuskan memanggil lelaki itu sebagai lelaki Hana. Keduanya melihatku dengan ekspresi bertanya. Terlebih Hana, ia pasti sangat penasaran terhadap alasan aku memintanya untuk selalu menemaniku. Pandangannya menuntutku untuk memberinya jawaban. Aku meyakinkannya lewat pandangan ku. Aku akan memberi tahunya. Tapi, tidak sekarang.

Seakan mengerti akan keputusanku. Hana akhirnya menganggukkan kepalanya. Malam itu aku tidak pulang ke rumah kami berdua. Aku tidur di apartemen milikku. Aku tidak ingin melihat wajah Yoona. Amarah masih menguasaiku. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang akan ku sesali nantinya.

 

 

Selama enam bulan aku masih dalam rencanaku untuk menyakiti Yoona. Aku selalu muncul berdua bersama Hana di tempat Yoona berada. Aku sangat senang saat melihat raut wajah terluka darinya. Ck, aku muak saat melihatnya seperti itu, yang pada kenyataannya ia masih tetap bersama dengan lelaki itu.

Aku masih memusatkan perhatianku pada Yoona yang kini memakan makan siangnya yang berada lima meja dari meja yang ku tempati di sebuah cafe dekat sungai Han. Siang ini ia tidak bersama lelaki itu. Hmm…

“Jadi, kapan kau akan mengakhiri semua ini, oppa?” ucap Hana dengan lengan yang di silangkan di bawah dadanya.

“Apa maksud mu?”

“Oh, come on. You know what i mean.”

“Aku tidak mengerti perkataanmu”

“Ck. Kapan kau akan mengakhiri tingkah kekanakan mu ini? Kau sengaja mengajakku keluar selama enam bulan ini untuk menyakiti Yoona unni, bukan?”

“Jangan membantah. Meski kau tidak mengatakannya padaku. Aku bisa menebaknya. Kau selalu mengajakku di tempat Yoona unni berada. Melihat ekspresi terluka yang di tampilkannya juga ekspresi senang darimu. Aku tahu kau sengaja. Yoona unni tentu saja tidak tahu aku sepupu mu  karena aku yang tidak sempat hadir di acara pernikahanmu.”

Aku terdiam mendengar tebakan  Hana yang sialnya benar. Aku mengutuk gen jenius yang di turunkan kakek kami pada keluarga Oh. Aku tidak bisa menemukan kata yang pas untuk membantah perkataan Hana.

“Kenapa? Tidak bisa membantah? Aku benar, bukan?” Hana menghelas napas sejenak, “Aku sarankan kau mengakhiri sandiwara konyol ini. Aku tidak tahu masalah kalian berdua. Tapi, aku menyarankan kau berbicara secara langsung dengannya, Oppa. Atau kau akan menyesalinya saat Yoona  unni pergi meninggalkanmu.” sambung Hana.

Aku tertegun. Seakan ada palu kasat mata yang menghantam tepat di dadaku. Sesak. Aku sadar tingkah ku memang kekanakan. Seharusnya aku langsung menanyakan pada Yoona. Bukan malah membalasnya seperti saat ini. Kesadaran menamparku, memunculkan perasaan takut yang berusaha ku singkirkan sejak malam di restoran enam bulan lalu. Aku takut kehilangan Yoona.

Perasaan takut itu ada karena aku masih memiliki perasaaan pada Yoona. Aku masih membawa perasaan yang tumbuh enam tahun lalu. Aku masih mencintainya. Aku masih mencintai Im Yoon Ah. Ah, bukan. Wanita itu kini bukan lagi seorang Im melainkan bagian dari keluarga Oh. Oh Yoon Ah. Istri dari Oh Sehun.

“Kau benar. Aku akan berbicara pada Yoona”

Glad to hear that. Good luck, oppa

 

 

Sekarang aku mengerti kata-kata itu, semua lelaki sama. Seorang pria seperti Oh Sehun. Aku tidak bisa memahamimu. Kau berada dekat dengan ku. Tapi, kau sangat jauh dariku. Aku berusaha bersabar. Berharap kau akan menyadari bahwa kau melukai ku dengan bersama dengan wanita itu. Aku berpikir aku bisa mengubah sikap mu pada ku. Namun, aku salah. Aku sangat bodoh. Karena itulah hari ini aku akan melepasmu.

Aku menunggu Sehun di kamar kami berdua. Aku telah mengambil keputusan. Keputusan yang akan menghancurkanku namun juga menjadi penyelamat kewarasanku yang semakin menipis selama enam bulan terakhir.

Aku bisa mendengar suara mesin mobil Sehun yang menandakan ia telah kembali dari kencan bersama wanitanya. Wanitanya. Aku tertawa miris karenanya. Seharusnya aku yang menyandang status itu. Aku yang berhak bukan wanita itu. Sialan kau. Oh fucking damn Sehun.

Langkah kaki Sehun semakin terdengar jelas. Tubuhku juga ikut menegang. Hingga saat pintu kamar terbuka dan memunculkan lelaki yang ku tunggu di ambang pintu. Netra kelamnya beradu dengan netra cokelat milikku. Tanpa sadar aku sudah menahan napasku. Terpesona dengan wajah yang selalu tampak tampan meski dengan raut wajah yang tetap datar tanpa ekspresi apapun.

Ia melangkah menuju kearah ku. Hingga kini ia telah berada sangat dekat denganku yang tengah duduk di ujung tempat tidur. Ia berdiri menjulang di hadapanku, lutut kami saling beradu mengirimkan gelenyar aneh padaku. Sial, sial, sial.

Kami masih bertatapan. Saling mencari sesuatu yang belum kami ketahui dari mata masing-masing.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Sehun berkata padaku  di saat yang bersamaan denganku

“Aku ingin memberitahu sesuatu padamu.”

Kami berdua tersentak. Ia mengangkat salah satu alisnya. Hal yang selalu di lakukannya saat ia meminta sebuah jawaban dari pertanyaan yang tidak di ketahuinya. Melihat hal itu aku langsung mengatakan apa yang ingin ku katakan padanya sebelum aku kehilangan kemampuanku berbicara karena terlalu lama bertatapan dengannya dengan jarak yang sangat dekat. Ugh. Aku bahkan bisa mencium bau tubuhnya yang beraroma musk dan mint.

“Aku ingin kita berpisah.” Aku mengatakannya dalam satu tarikan napas. Setelahnya aku tidak berani menatapnya. Aku menundukkan kepalaku dan menatap ke arah paha ku.

Aku tidak mendapat reaksi atas perkataanku. Apa ia sangat bahagia mendengar keputusanku hingga tidak bisa berkata apapun? Yah, itu pasti.

“Apa yang baru saja kau katakan Oh Yoona” ucapnya dengan ketenangan yang membuatku bergidik. Sehun marah. Aku bisa merasakan suasana ruangan kami terasa berat.

Aku tidak berani menjawab pertanyaan Sehun. Hingga tangan Sehun mengangkat daguku. Memaksaku menatapnya. Aku tidak berpikir aku akan mendapati tatapan penuh amarah darinya dengan rahang mengeras. Tidak. Seharusnya ia senang karena ia bisa dengan bebas berkencan dengan wanita itu. Kenapa ia malah terlihat marah?

“Jawab pertanyaan ku Yoona.”

“Aku ingin bercerai. Bukankah bagus? Kau bisa dengan bebas berkencan dengan wanitamu.” perkataan Sehun menyulut emosiku. Aku tidak terima dengan dia yang memperlakukan ku seperti seseorang yang bersalah. Huh.

“Lebih tepatnya agar kau bisa bebas berkencan dengan lelaki yang bersama mu enam bulan lalu di restoran Vatos Urban Tacos, bukan?”

“Lelaki? Kencan? Jangan mengarang Sehun. Aku bahkan tidak berkencan dengan siapa pun selama kita menikah!”

“Kau bohong!”

“Aku. Tidak. Berbohong.”

Bullshit!”

“Damn you!”

Kau menuduhku berselingkuh? Harusnya aku yang berkata seperti itu. Kau yang berselingkuh dengan wanita lain. Kau yang jelas-jelas menjalin hubungan dengan orang lain bukan aku!” aku tidak terima di tuduh selingkuh. Sialan. Kini posisi kami sangat dekat. Kami hanya di pisahkan dengan jari telunjuk ku yang kini berada di dada Sehun.

“Aku tidak akan melakukannya jika bukan karena aku melihatmu dinner bersama lelaki lain. Dimana paginya kau baru saja mengajakku makan malam bersama sahabatmu.” wajah Sehun semakin mengeras dengan netra kelamnya semakin menggelap. Kesadaran menamparku seketika. Sehun melihatku saat itu. Ia menyangka Kris adalah selingkuhanku.

Tuhan, aku mulai sakit kepala dengan semua ini.

“Lelaki yang kau sebut selingkuhan ku adalah sahabatku tuan Oh Sehun. Sahabat yang ku ceritakan padamu pagi itu. Tentu saja aku bersamanya karena aku sudah berjanji padanya.”

Aku bisa melihat tubuh Sehun yang menegang ada rasa terkejut di matanya saat ini. Namun, semua itu hanya terlihat beberapa detik sebelum kembali di penuhi sinar tidak percaya akan perkataanku.

“Tapi, ia melingkarkan lengannya di pinggangmu dan kau sama sekali tidak keberatan dengan semua itu. Kalian lebih terlihat sebagai pasangan. Sialan!”

“KARENA AKU SUDAH TERBIASA DENGAN SEMUA ITU BERSAMANYA OH SEHUN. DIA SAHABATKU.” aku tidak tahan lagi di tuduh seperti ini.

“Pelankan suaramu Yoona. Jangan memaksaku melakukan sesuatu yang akan kau sesali nantinya karena berteriak padaku.”

Sehun tampak sangat menakutkan saat ini. Aku ketakutan dan tanpa sadar melangkah mundur darinya. Aku lupa bahwa di belakang kami tidak ada lagi ruang untuk ku selain tempat tidur. Aku terjatuh di atas tempat tidur. Sebelum aku pulih dari rasa terkejutku, Sehun kini berada di atas ku.

Deg. Jantungku kini memukul dadaku dengan sangat keras. Aku yakin lelaki yang kini menindihku dapat mendengarnya. Lenyapkan saja aku dari bumi ini tuhan.

“Jadi, dia benar-benar sahabatmu. Hmm?”

Fix. Aku kehilangan kemampuan ku untuk berbicara saat ini.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

“A aku sudah mengatakannya pada mu pagi itu.”

“Hmm… kalian selalu melakukan hal itu? Bersikap mesra satu sama lain?”

“I itu bukan apa-apa. Lagi pula kami hanya sebatas berpelukan tidak pernah lebih dari itu”

“Ciuman?”

Blush. Wajahku memerah mendengar pertanyaan yang di lontarkan Sehun.

“Tidak. Kami tidak pernah sejauh itu. Aku tidak mungkin melakukannya. Mmm, kami hanya sebatas mencium pipi tidak dengan bibir”

“Jangan. Melakukannya.Lagi.Aku.Tidak.Menyukainya.” cetus Sehun.

Aku hampir mengeluarkan protesku sebelum Sehun mengucapkan tiga kata yang membuatku kembali membatu.

“Aku mencintaimu Oh Yoona” Sehun mengatakannya dengan  sorot mata yang ku kira tidak akan pernah di tunjukannya padaku.

 

 

Bahagia. Aku mungkin sudah berada di langit ketujuh. Huh, berlebihan ya. Persetan. Aku sangat bahagia saat ini. Perasaanku membuncah dengan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya menggelitik perutku. Namun, semua itu hancur saat bayangan Sehun bersama wanita lain muncul di pikiranku.

Aku mendengus setelahnya. Aku seharusnya tidak langsung menerima ucapan itu. Oh Sehun mencintaiku? Omong kosong.

“Jangan mengatakan sesuatu yang menggelikan Oh Sehun. Jelas-jelas kau mencintai wanita itu bukan diriku. Sekarang aku ingin kau kembali fokus pada perkataanku sebelumnya. Aku ingin kita bercerai. Bukankah bagus? Kau bisa bebas menemui wanitamu. Dan aku akan menjalani hidupku yang baru.”

“Jangan bercanda Yoona. Aku tidak akan menceraikanmu.”

“Kau egois! Kau ingin menyiksa ku?  Melihat dirimu bersama wanita lain di saat aku masih berstatus sebagai istrimu?”

“Dia bukan wanita ku.”

“Seperti aku akan percaya saja.”

Sehun bangkit dan kini berdiri di samping ranjang. Ia mengacak rambutnya dan melepas dasi yang di pakainya membuatnya seratus kali lebih seksi dari sebelumnya. Oh, singkirkan pikiran kotor mu itu Yoona. Sehun terlihat frustasi.

“Meski aku menyangkalnya hingga ribuan kali kau tetap tidak akan percaya padaku,bukan?”

“Tidak.”

Ia hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengambil ponselnya dari saku celana yang di pakainya. Ia menghubungi seseorang?

“Kau dimana?”

“….”

“Datang kerumahku sekarang.”

“….”

“Rumah yang ku tinggali bersama istri ku. Bodoh”

“….”

“Ku tunggu hingga lima belas menit. Kalau sampai kau tidak memunculkan dirimu disini. Aku akan menghancurkan hubunganmu bersama lelaki mu itu. Honey. Trust me

Sehun memutus sambungan telepon dan beranjak menuju kamar mandi tanpa menghiraukan ku. Siapa yang di hubunginya?

Aku tidak sadar masih berada dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Hingga bunyi pintu kamar mandi yang memunculkan Sehun dengan bagian tubuh atas dalam keadaan shirtless menampilkan six pack  yang setiap malam selalu muncul dalam mimpi liar ku tentang Sehun. Tubuh bagian bawah Sehun hanya di tutupi sehelai handuk. Air yang menetes dari rambut Sehun yang basah berhasil membuat wajahku memerah hingga leher, napas tercekat, dan jantungku yang ku yakini tinggal menunggu beberapa detik untuk meledak. Malangnya diriku.

Sehun menatapku sejenak sebelum melangkah ke dalam walk in closet kami. Setelah berpakaian ia berjalan ke arahku. Menarikku agar bangkit dari posisiku kemudian mengaitkan jemari ku dengan jemari miliknya dan menuntunku berjalan ke luar kamar menuju lantai satu. Kami memasuki ruang tamu dengan jemari yang masih saling terkait. Ia mendudukkan dirinya di salah satu sofa dan menarikku untuk duduk di sebelah dirinya.

Baru beberapa menit, aku kini mendengar suara mesin mobil dan decit ban dari luar rumah. Di susul bunyi ketukkan langkah kaki yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Aku baru ingin bertanya pada Sehun tentang identitas tamu yang datang berkunjung. Sebelum aku melihat sosok yang ku ketahui sebagai wanita Sehun.

Wanita itu tampak marah, terlihat dari wajahnya yang merah dengan dahi berkerut, postur tubuh kaku, dan kepalan tangannya. Hmm. Jadi, wanita ini yang di hubungi Sehun?

“Kau. Dasar idiot tidak tahu diri. Aku sudah membantumu menjalankan rencana konyolmu dan sekarang kau mengancamku akan merusak hubunganku dengan Kai? What the hell

“Oh. Kau terlambat beberapa menit”

“Sialan kau Oh Sehun. Ahh. Apa karena Yoona unni tidak percaya padamu? Dia meminta berpisah darimu? Aku sudah mengatakannya bukan?”

Aku menautkan kedua alisku dengan tatapan mata yang meminta penjelasan pada Sehun.

“Duduklah, Hana. Aku juga ingin mengenalkanmu pada Yoona”

“Cih.” wanita yang akhirnya namanya ku ketahui sebagai Hana kini melangkah mendekat kemudian mengambil tempat pada salah satu sofa.

“Aku ingin menjelaskan semuanya, Yoona”

 

 

Saat Sehun mengatakan akan menjelaskan semuanya. Yang ia maksud bahwa ia akan menjelaskan tentang perasaannya pada ku sejak enam tahun lalu. Perasaan kecewanya padaku saat aku berpacaran dengan lelaki lain saat itu. Hingga rasa tidak sukanya padaku saat kami pertama kali bertemu kembali pada makan malam perjodohan. Perasaan bersalahnya setiap kali ia gagal mengekspresikan perasaannya padaku yang berujung pada perlakuan dinginnya. Hingga kecemburuannya saat ia melihatku bersama Kris. Penjelasan tentang siapa Hana. Alasan ia menggenggam tangan Hana enam bulan lalu. Tindakan konyolnya yang ingin membalasku.

Aku seperti mendapat syok terapi  dari mereka berdua. Hana. Wanita yang ku cemburui adalah adik sepupu Sehun yang tidak sempat datang di hari pernikahan kami. Kris sahabatku yang di anggap Sehun kekasihku. Dan Sehun yang ternyata mencintaiku. Bahkan Sejak enam tahun lalu. Sama sepertiku. Aku tidak pernah bertepuk sebelah tangan.

Aku merasakan pipiku basah dan pandanganku buram karena air mata yang berkumpul di mataku.

“Hey, jangan menangis. Aku minta maaf. Okey? Aku tahu cara yang ku pakai kekanakan.” Sehun menghapus air mataku dan merangkum wajahku dengan kedua tangannya. Mengarahkan ku untuk menatapnya.

“Kau memang kekanakan, oppa” timpal Hana dengan seringai menyebalkan dan di balas delikan mata oleh Sehun.

“Kau jahat. Bagaimana bisa kau menyalahkanku terhadap semua ini? Kau yang pengecut tidak mengatakannya padaku sejak dulu. Kau membiarkanku menderita selama ini karena perasaan ku padamu. Dasar bodoh” aku memukul dada Sehun dengan brutal, tidak puas aku menampar wajah Sehun hingga meninggalkan bekas di pipinya. Biar saja.

 

Plak

 

“Kenapa kau menamparku?”

“Itu hukumanmu, karena menyiksaku selama ini.Aku mencintaimu Oh Sehun bodoh”

Sehun menatapku dengan mata melebar kemudian tersenyum yang membuat ku ingin menciumnya

“Kau tidak akan bercerai denganku?”

“Tentu  tidak bodoh. Atau kau ingin seperti itu?”

“Tidak!”

“Ahaha.. ceraikan saja, unni” tawa Hana pecah melihat wajah panik Sehun dan hatiku menghangat karenanya.

“Aku tidak akan melakukannya”

Semuanya terjadi begitu cepat. Yang aku sadari adalah saat ini bibir kami saling melumat, tubuh ku yang kini duduk di pangkuan Sehun, kedua lenganku yang merangkul leher Sehun juga kedua lengan Sehun yang memeluk pinggangku.

Kami tersadar saat mendenger deheman Hana.

“Ehem. Sepertinya aku tidak di butuhkan lagi. Aku pamit. Silahkan lanjutkan kegiatan kalian.”

Aku bisa merasakan wajahku yang memanas bahkan setelah kepergian Hana.

“Hey. Kita lanjutkan kegiatan kita di kamar saja. Oke? Aku ingin membuat Sehun Junior”

Dasar mesum!

 

 

FIN

 

HALLO..

INI SEQ DARI FF IM NOT THE ONLY ONE YAH.. ADAKAH YANG NUNGGU? AHAHA

MOGA AJA KALIAN SUKA. .JANGAN LUPA COMMENT PLUS LIKENYA NE…. ANNYEONG ^^

maxresdefault

Advertisements