mMYczRjt8z1IJzQSdMlVy1ale4NEIP5KclGisPxXUyw58bHtvEak4Ghuuv75Eels

TITLE :  WHY

CAST :  OH SEHUN ||  IM YOON AH

OC      : FIND BY YOUR SELF ^^

GENRE : ROMANCE || FAMILY

DISCLAIMER : THE STORY BELONG TO ME AND ALL CAST BELONG TO GOD

 

Aku memarkirkan mobilku di parkiran sekolah. Seperti biasa sosokku selalu menjadi bahan pembicaraan dari siswa sekolahku. Aku bisa melihat beberapa perempuan kurang kerjaan berbisik satu sama lain sembari  melihat ke arahku yang baru saja keluar dari dalam mobil. Aku hanya memberikan tatapan mencemoh dan melanjutkan jalanku menuju ke kelas.

Aku tahu mereka menatapku dengan pandangan mencela. Aku tahu mereka  membicarakanku yang seorang anak dari wanita perusak rumah tangga wanita lain. Mereka tidak  tahu bahwa aku tidak peduli pada apa yang mereka pikirkan tentangku. Aku tidak mau membuang-buang waktu berhargaku hanya untuk meladeni ocehan kumpulan anak manja. Persetan dengan semua anggapan miring mereka terhadapku.

Pintu kelas  mulai terlihat dari posisiku, aku mempercepat langkahku menuju ke kelas. Dari pintu kelas aku bisa melihat kejutan yang selalu di berikan anak-anak kurang kerjaan pada meja dan bangkuku. Aku berjalan menuju ke mejaku yang berada pada pojok kelas. Mejaku di penuhi sampah makanan ringan juga minuman. Sisa dari sampah minuman bekas itu membasahi meja dan ikut mengenai bangkuku. Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan keras. Di hari biasa aku mungkin masih bisa menahan amarahku, namun tidak untuk saat ini. Pagiku sudah cukup buruk karena Luhan kakak tiriku yang mengajak perang urat saraf denganku. Anak-anak ini perlu di beri pelajaran, mereka mengira aku tidak pernah membalas perlakuan mereka karena aku lemah. Cih, jika saja bukan karena ibu yang melarangku membuat masalah aku tidak akan tinggal diam menerima apa yang mereka lakukan padaku.

“Bagaimana dengan hadiah pagi ini, Yoona. Apa kau suka?” ucap seseorang yang langsung aku kenali tanpa harus melihat wajah menyebalkannya.

Mendengar suara cempreng yang berasal dari belakangku membuatku tanpa sadar mengepalkan kedua tanganku. Aku memutar tubuhku menghadap pada lawan bicaraku. God, aku bisa muntah jika tiap hari selalu di suguhkan wajah cewek berisik yang berdiri lima langkah dari tempatku di ikuti lima orang pengikutnya. Wajah yang kini memasang senyuman sinis yang membuatku teringat pada salah satu penyihir jahat di film kartun Barbie.

“Hadiah? Kau sebut sampah-sampah itu sebagai hadiah?,” tanyaku dengan satu alis terangkat.

“Ya”

“Anak seorang pengusaha memberi sampah sebagai hadiah. Memalukan.”

Sepertinya perkataanku menyentil ego cewek ini. Lihat saja dari ekspresi wajahnya yang terkejut yang sedetik kemudian berubah menjadi amarah.

“Jangan bercanda. Orang sepertimu yang merupakan anak dari wanita yang menjadi perusak rumah tangga orang. Kau sangat pantas mendapatkan sampah-sampah itu!” Teriakan cewek ini mengundang perhatian siswa yang berada di luar kelas. Aku bisa melihat gerombolan siswa lain berdesakkan ingin melihat drama yang di buat oleh cewek sialan di depanku. Aku tidak perduli dengan tatapan ingin tahu dari mereka. Fokusku sepenuhnya tertuju pada orang yang menjadi salah satu manusia yang akan aku buat menyesal karena perkataannya barusan.

Perkataannya berhasil menjadi pemicu amarah yang sedari tadi aku tahan. Aku tidak perduli dengan semua cemohan orang padaku. Tapi, aku akan berhenti untuk tidak perduli jika mereka menghina ibuku. Aku tidak akan membiarkan mereka berbicara hal buruk tentang ibu dengan mulut hina mereka.

Aku tidak membalas perkataannya, aku hanya mengambil langkah lebar ke arahnya dan memberikannya tendangan berputar yang tepat mengenai sisi kanan kepalanya. Merasa tidak puas aku kembali memberinya satu pukulan kuat yang bersarang di perut datarnya.  Aku menatapnya yang terjatuh menimpa tiga orang pengikutnya dengan pandangan membunuh.

Suasana kelas seketika hening.  Aku yakin anak-anak itu menahan napas tanpa mereka sadari. Aku menatap dua orang yang tidak ikut tertimpa tubuh ketuanya. Keduanya berdiri dengan tubuh beku. Aku bisa merasakan aura menyerah dari keduanya. Sepertinya cewek yang baru saja aku hajar tidak sependapat dengan pengikutnya. Baguslah, berarti ia bukan seorang pengecut.

“Argghhh!”

Aku melihatnya bangkit dari posisi berbaringnya. Ia menatapku marah, aku bisa melihat api yang berkobar di kedua matanya. Tidak terima mendapat penghinaan dari orang yang biasa di tindasnya. Sayangnya, kemarahannya tidak sebanding dengan amarah yang saat ini kurasakan.

Saat ia maju untuk dengan tangan yang siap menamparku. Aku hanya memberinya seringai tidak berniat beranjak dari posisiku. Merasa akan berhasil dengan tamparannya, aku mematahkan fantasi indahnya untuk membalasku. Aku menangkap tangannya kemudian memutarnya hingga tubuhnya kini berbalik dan punggungnya kini berada di depanku. Aku mencengkram kuat tangannya hingga suara jeritan terdengar darinya.

Oh, aku menyukai suara yang di keluarkannya. Aku semakin bersemangat dengan apa yang ku lakukan. Memberikan tendangan pada bagian belakang kedua lututnya hingga membuatnya terjatuh, aku melepaskan tangan yang aku tahan kemudian mendorongnya dengan keras kedepan.

BUUKK

Bunyi debuman yang berasal dari tubuhnya yang kini berciuman dengan lantai kelas terdengar. Seringaiku semakin melebar melihatnya. Aku mengambil langkah kedepan wajahnya, mengangkat kepalanya dengan mencengkram rambut panjangnya. Hidungnya mengeluarkan darah, aku tertarik untuk membuat lebam pada sepasang mata yang selalu menatap hina padaku. Aku tidak melihat tatapan yang biasa ia berikan padaku. Matanya kini di isi dengan sinar ketakutan. Tidak peduli dengan tatapannya, aku mengayunkan tanganku dan meninju wajahnya. Meninjunya berulang kali, aku mungkin tidak akan berhenti jika tidak ada tangan yang menahan tanganku dan menarikku kasar.

Aku berontak dan mengangkat wajahku untuk melihat seseorang yang dengan kurang ajar berani menahanku. Aku melihatnya. Orang  itu adalah orang yang berbagi darah yang sama denganku. Orang yang selalu menatapku dengan pandangan benci. Orang yang menjadi buruknya pagiku hari ini.

Aku menyentak tangannya yang mengenggam tanganku, memberikannya pandangan sinis juga seringai mengejek kemudian melangkah keluar kelas. Aku tidak berniat mengikuti pelajaran hari ini.

 

 

<<<<<

 

Aku menghabiskan waktuku seharian di salah salah satu mall yang berada di kotaku. Malamnya, aku melajukan mobilku ke club yang sudah menjadi tempatku menghabiskan waktu selama setahun terakhir. Malam ini aku menggunakan mini black dress dengan model blackless yang menampilkan punggungku. Aku menyerahkan kartu pengenal palsu pada penjaga klub yang aku buat satu tahun lalu.

Seperti biasa aku melangkah ke meja bar dan memesan vodka pada bartender. Aku menyukai efek yang di berikan minuman ini padaku. Aku bisa melupakan semua masalah yang terus terjadi pada hidupku.

Aku sudah tidak menghitung gelas ke berapa yang  aku teguk saat ini. Aku membayar minumanku kemudian berdiri dari kursi yang kududuki. Kepalaku seperti berputar, pandanganku buram. Melangkah ke luar club menuju jalan raya. Aku memutuskan meninggalkan mobilku. Aku tidak ingin berakhir di peti mati karena alkohol.

Aku terlalu ceroboh saat menyebrang hingga tidak menyadari bahwa dari arah belakang sebuah mobil menuju ke arahku. Hal terakhir yang aku ingat adalah silaunya cahaya yang berasal dari lampu mobil.

 

<<<<<<<

 

Silau cahaya matahari pagi menganggu tidurku. Aku membuka mataku dan mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandanganku. Aku mengernyit melihat kamar yang aku tempati berbeda dengan kamarku. Apa yang terjadi? Rasa panik mendatangiku saat sadar aku benar-benar tidak berada di kamarku melainkan di kamar orang lain. Aku langsung memeriksa pakaianku. Aku terkejut melihat baju yang aku kenakan sekarang adalah baju kaos panjang yang ukurannya kebesaran dan aku tidak memakai celana selain dalamanku.  For God Sake. Apa yang telah aku lakukan?

Di tengah rasa panik dan bingung dalam diriku. Sebuah suara mengagetkanku dan menghentikan perdebatan yang aku lakukan dengan diriku sendiri.

“Kau sudah bangun. Baguslah,” ucap seorang pria yang menatapku di depan pintu kamar.

Mataku membelalak dengan sempurna karena kemunculan pria asing yang kini berjalan ke arahku. Jangan katakan bahwa aku tidur dengan pria ini? The hell. Pria itu melihatku dengan dahi berkerut sebelum ekspresinya berganti dengan ekspresi seperti ketika seseorang paham akan sesuatu  di sertai sebuah senyuman tipis. Sangat tipis, aku ragu ia benar-benar tersenyum.

“Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Aku hanya mengganti bajumu.”

“Hanya? Kau melihat tubuhku!”

Well, aku tidak bisa menggantinya dengan mata tertutup. Aku tidak memiliki niat lain. Aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal aneh yang terlintas di pikiranmu.”

Aku tidak  lagi mendebat perkataan pria asing yang saat ini berdiri beberapa langkah dari tempat tidur. Aku menatap kedua matanya lekat mencari kesungguhan dari apa yang di ucapkannya. Dia tidak berbohong.

Aku menghela napas lega sesudahnya. Memutuskan kontak mata dan memilih mengedarkan pandanganku ke seluruh area kamar yang aku yakini adalah kamar miliknya. Pandanganku terhenti pada jam weker yang berada di meja samping tempat tidur. Jamnya menunjukkan pukul 07:15 am. Hm, sudah pukul tujuh ya. Pukul tujuh lima belas menit.

DAMN!

Aku menyentak tubuhku dan langsung berdiri menghadap pria asing yang kini melihatku dengan pandangan bertanya.

“Tas, kau taruh dimana tas yang aku bawa?” Aku ingat membawa tas sekolah yang sempat aku ambil dari mobil tadi malam. Aku menyimpan seragamku di tas sekolahku.

Ia masih melihatku dengan pandangan yang sama, “Di atas sofa yang berada di pojok kamar. Kau tidak melihatnya?”

Menghiraukan pertanyaan pria itu. Aku melempar pandanganku ke arah sofa berwarna hitam di pojok kamar. Seperti yang di katakannya tasku berada di sofa itu. Aku beranjak menuju sofa dan mengambil tasku.

“Kau bisa keluar? Aku ingin mengganti pakaian.”

“Kau tidak ingin mandi? Setidaknya mencuci wajah dan sikat gigi?”

Jika aku bisa memilih aku ingin bumi menelanku saat ini juga. “Umm… dimana kamar mandimu? Aku boleh menggunakannya?”

“Pintu yang berada di samping lemari, kau juga bisa menggunakan sikat gigi yang berada di laci.”

Aku memberikannya anggukan sekali  kemudian masuk ke kamar mandi.

 

 

<<<<<<<

 

“Huh. Kenapa kita selalu bertemu dalam keadaan memalukan?”

“Memalukan yang kau maksud adalah saat kau memukul balik orang-orang yang menghinamu?”

“Ya, dan kau datang seperti seorang pahlawan kesiangan untukku. Ck”

“Apa kau juga membenci aku dan ibuku yang di anggap mereka sebagai perusak kebahagian wanita lain?”

“Benci? Aku tidak punya alasan kuat untuk merasakan hal mendalam seperti itu. Aku hanya tidak menyukainya.”

“Ah… tetap saja kau sama..”

“Tidak. Aku tidak sama dengan mereka. Itu urusan mereka. Aku terlalu sibuk dengan masalahku untuk mengurusi orang lain.”

Aku tertegun mendengar ucapan pria itu. Aku menatap kedua matanya dan disana menyiratkan kejujuran. Untuk pertama kalinya aku menemukan orang yang tidak memandang jijik padaku. Aku seharusnya tidak menatap netra hitam itu terlalu lama. Aku tidak bisa melepas tatapanku. Aku merasakan perasaan nyaman dan oh tidak! Aku terpesona olehnya.

 

<<<<<<<

 

Aku melangkah ke dalam rumah yang menjadi tempat terakhir tujuanku. Rumah bagiku bukanlah tempat nyaman untukku lagi. Hal itu sudah berlangsung sejak aku duduk di awal kelas sekolah menengah pertama. Aku yang akhirnya tahu arti dari tatapan Luhan padaku. Sejak kecil aku mengira ia hanya tidak suka dengan sifatku yang manja. Aku salah. Ia memang membenciku.

“Dari mana saja kau?” Saat aku berada di depan tangga menuju lantai dua sebuah suara membuat langkah ku terhenti.

Aku menoleh pada sumber suara yang berasal dari ruang keluarga. Di sana duduk seorang pria paruh baya dengan mata yang menatap tajam padaku. Pria itu ayahku. Ayah yang selalu aku puja saat kecil, tapi tidak untuk saat ini. Di samping ayah, ibu menatapku dengan pandangan memohon.

Ahh, aku tahu pandangan itu. Pandangan yang ibu berikan padaku dan Luhan untuk menutup mulutku jika aku hanya ingin memancing kemarahan ayah. Aku benci tatapan itu.

“Dari pantai.”

“Apa begitu cara mu menjawab pertanyaan orang yang lebih tua darimu! Ayah tidak pernah mengajarkan kau hal kurang sopan  seperti itu. Ke sini kau!” hardik ayah padaku. Ibu memegang lengan ayah berusaha menenangkannya.

Aku berusaha menahan amarahku yang siap meledak. Aku mengambil langkah menuju ruang keluarga. Aku berhenti dan menyisakan jarak beberapa langkah di depan kursi yang di duduki ayah dan ibu.

“Sekarang katakan alasanmu kenapa kau pergi ke pantai di jam seharusnya kau pulang ke rumah. Kau tidak sedang berbohong pada ayah kan?”

“Tidak. Aku hanya ingin ke pantai.”

“Jadi, darimana kau mendapat lebam di pipi kananmu?”

“Hanya kemarahan dari wanita paruh baya kurang kerjaan yang mengatakan ibu adalah penyebab ayah dan istri pertama ayah bercerai. Ayah tenang saja dia  mendapat pembalasan lebih dariku.”

“Im Yoon Ah!” seru ayah dan ibu bersamaan. Ekspresi keduanya sangat bertolak belakang. Ayah dengan ekspresi marah sedang ibu dengan ekspresi terluka juga terkejut. Aku memalingkan wajahku dari keduanya. Aku benci melihat melihat luka di mata ibu.

“Jaga bicaramu. Apa yang kau lakukan?  kau sudah keterlaluan!”

“Apa aku salah jika aku membela ibu? Apa aku salah jika memberi pelajaran pada orang yang menghina ibu? Meski orang itu lebih tua dariku aku tidak perduli. Siapapun mereka aku akan membungkam mulut yang menjelek-jelekkan ibu. Apa ayah takut posisi ayah sebagai politisi akan terancam karena ulahku? Soal wanita paruh baya yang aku hajar, ayah tidak perlu khawatir. Temanku sudah membungkam mulutnya.”

Lagi. Keduanya menatapku dengan ekspresi berbeda. Ayah dengan ekspresi terkejut sedang ibu menatapku dengan kengerian yang kentara. Tatapan itu menohokku. Apa aku baru saja membuat ibuku takut padaku?

Aku menghela napas panjang berusaha mengisi rongga dadaku yang sesak. “Aku ke kamar ayah, ibu.”

Aku bergegas menuju kamar meninggalkan ruang keluarga hanya untuk mendapati Luhan yang memandang tajam padaku. Ck. Bahkan pandangannya juga menyiratkan rasa jijik padaku. Aku melengos sembari menaiki tangga menuju kamarku. Like i care.

 

<<<<<

Aku mengganti pakaian yang aku kenakan dan membaringkan tubuhku ke ranjang. Aku menyentuh pipi kananku yang lebam. Sial. Wanita gila itu menamparku dengan keras. Dia harus bersyukur Sehun menghentikanku untuk menghajarnya lebih jauh. Jika tidak wanita itu sudah pasti berada di liang lahat.

Bicara tentang Sehun. Aku terkejut bertemu dengannya di mall. Apa yang di lakukannya? Cih, tidak penting bagiku. Tapi, akhir-akhir ini kenapa aku selalu bertemu dengannya? Dia juga selalu menjadi seseorang yang datang menghentikanku berkonfrontasi dengan orang lain. Ia selalu melihatku dalam situasi buruk.

Saat di pantai tadi aku bisa melihat kejujurannya padaku. Ia tidak menganggapku seseorang yang menjijikkan dan aku terpesona karenanya. Oh God. Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku pasti sudah gila. Sehun adalah orang yang tidak bisa aku sukai. Dia bahkan berbeda 10 tahun dariku. Aku pasti akan di anggap menggoda seorang om-om.

Lamunanku terganggu dengan dering ponselku, aku meraih ponsel yang aku letakkan di sampingku. Siapa yang mengirim pesan padaku?

 

To : Yoona

From : 0881220120034

 

Kau sudah sampai? Apa kau sudah mengompres lebam di pipimu? Kau harus istrahat setelah itu.

 

Sehun

 

Mataku membesar melihat pengirim pesan yang barus saja aku baca. Sehun ? Darimana ia mendapat nomor ponselku? Dan apa-apaan dengan isi pesannya itu? Ia seperti sedang mengirimkannya pada kekasihnya. Dasar gila. Ugh, siapa yang aku coba bodohi? Aku saat ini sedang tidak menginjak bumi karena pesan yang di kirim Sehun.

 

 

<<<<<<

 

Pria asing itu bernama Oh Sehun seorang dokter ahli bedah yang cukup terkenal karena umurnya yang masih muda. Yah, muda untuk ukuran seorang ahli bedah di salah satu rumah sakit  terkenal di kotaku. Bagiku ia tetap seorang pria yang lebih tua dariku dengan jarak 10 tahun.

Awalnya aku hanya menganggapnya seorang pria dengan wajah yang miskin ekspresi. Seorang pria yang menyebalkan karena kata-katanya yang seolah tidak memiliki filter. Aku mengira aku tidak akan berurusan dengannya setelah hari itu, namun aku salah. Aku kembali bertemu dengannya di beberapa waktu setelahnya.

 

Perasaan asing mulai menyusup dalam diriku saat menghabiskan waktu dengannya. Semakin mengenalnya aku semakin tidak ingin jauh dari Sehun. Aku tahu aku mungkin akan di cap sebagai gadis gila karena menyukai seseorang yang berbeda sepuluh tahun dariku. Aku tidak perduli dengan semua itu.

Apa yang salah dengan semua itu? Perasaan ini tidak bisa di atur. Aku tidak bisa mengatur perasaanku untuk jatuh cinta pada orang selain Sehun. Meski aku di katai sebagai pacar dari om-om seperti yang di katakan siswa di sekolahku saat melihat Sehun menjemputku. Biar saja, mereka hanya iri karena Sehun memilihku. Sehun memiliki wajah dan tubuh yang bisa membuat wanita tidak bisa mengalihkan pandangan mereka darinya. Sehun, di usianya yang ke 27 tahun masih terlihat seperti seorang lelaki yang duduk di bangku kuliah.

Dulu, aku tidak mengerti alasan ibu yang mencintai ayahku. Ayahku yang saat itu sudah berkeluarga. Bahkan perbedaan umur mereka cukup jauh. Dua puluh tahun. Aku juga pernah memiliki rasa benci karena pilihan ibu. Aku tidak mengerti kenapa dia tega menjadi pihak ketiga dalam hubungan ayah dan istri pertamanya. Apa ia tidak merasa bersalah?

Kini aku mengerti, semua itu karena satu alasan. CINTA. Yah, karena cinta ibu menerima ayah. Karena cinta ibu rela menjadi istri kedua dari ayah. Karena cinta ia rela menanggung hinaan dan pandangan sinis dari masyarakat.

 

Ibu tidak bisa memilih pada siapa ia akan jatuh cinta. Aku yakin ibu juga tidak ingin menjadi seseorang yang merusak hubungan orang lain. Ibu hanya tidak bisa mengendalikan perasaan itu. Sama seperti aku, aku juga tidak bisa mengatur dengan siapa aku akan jatuh cinta. Aku sama seperti manusia lain. Aku ingin di cintai dan mencintai. Aku juga ingin menunjukkan perasaanku pada seseorang yang aku cintai. Aku ingin mengatakan dengan lantang bahwa aku mencintai sehun. Bebas. Tanpa aturan yang mengharuskanku untuk mengubur perasaanku padanya.

 

fin

 

 

A/N

HI.. AKU COMEBACK DENGAN FF GAJE AKU YANG LAIN AHAHA 😅😅

SEBENARNYA INI CERPEN YANG AKU BUAT IKUT LOMBA DI SALAH SATU BLOG PENULIS FAV AKU. TAPI SAYANG BELUM REZKI BUAT MENANG 😂😂😂… JADI AKU PUTUSIN BUAT REVISI (BAHASANYA DALEM YA 😅😆) TRUS AKU POST DI SINI. ITUNG” BUAT JADI  PENGGANTI FF BROKEN ANGEL YANG BELUM BISA AKU LANJUT AHAHAHA… HAPPY READING YA.. GG USAH MINTA SEQ  AT LANJUTAN CERITA IN UDH END DISINI.. BATAS WORDNYA 2000 TPI AKU TAMBAHIN DIKIT GTU

Save

Advertisements