BACK IN TIME

regret-facebook-cover

 

TITLE  : BACK IN TIME 

CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN || OH SEHUN AS NATHAN REVALDI || SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN || KWON YURI AS GLADISA PRATIWI

OC     : FIND BY YOUR SELF

GENRE : ROMANCE |SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY 

DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

 

Langit saat ini sedang mencumbu bumi melalui hujan.

Ia merindukan bumi yang terpisah jauh darinya. Rintik hujan yang membasahi jendela tempatku memperhatikan saat-saat langit melepaskan kerinduannya. Suara yang di timbulkan darinya sangat berisik untuk kudengar.

Tengah meresapi suasana di sekitarku. Hawa dingin perlahan mendekatiku. Membawaku terlempar pada kenangan masa lalu, kenangan dingin yang menangkap hatiku. Menolak untuk melepaskanku.

 

<<<<

Menjadi remaja adalah hal yang sudah aku tunggu sejak aku duduk di kelas 5 sekolah dasar. Aku ingin merasakan hal yang sering di katakan kakak sepupu perempuanku. Ketika kau menginjak usia remaja duniamu menjadi lebih berwarna. Aku tidak terlalu paham yang di maksud dengan kata “lebih berwarna” , tapi aku yakin pasti lebih menyenangkan di banding kehidupanku saat ini.

Karena itulah aku sangat menyambut antusias hari pertamaku MOS. Aku sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Selain untuk memakai atribut MOS. Alasan terbesar adalah karena aku tidak sabar menjalani hari pertamaku sebagai seorang remaja. Aye….

 

Aku melihat pantulan diriku di depan cermin kamarku. Aku melihat seorang anak perempuan menggunakan seragam merah putih. Dengan rambut di cacing kecil sesuai tanggal hari lahir, di hiasi pita warna warni. Papan nama yang aku buat dari kardus di tulisi dengan inisial nama yang di pilihkan kakak panitia. Kelinci. Inisial yang di berikan untukku. Tas dari kantung merah berukuran cukup besar di dalamnya berisi sebuah buku tulis dan pena. Terakhir sepatu hitam juga kaos kaki putih. Not bad.

 

“Gi… waktunya sarapan.” Terdengar suara ibu yang memanggilku dari ruang makan.

“Iya, Bu,”  sahutku. Melihat penampilanku sekali lagi, kemudian beranjak ke ruang makan.

 

 

 

Di ruang makan sudah ada ayah, ibu, dan  adik perempuanku yang masih duduk di kelas 5 sekolah dasar. Aku mengambil tempat di sebelah Lana, menyendok nasi goreng yang di buat ibu. Kemudian berdoa yang di pimpin ayah.

 

Sebelumnya aku lebih baik mengenalkan diri sebelum bercerita lebih lanjut. Aku Gina Larasati Hadrian. Aku anak pertama dari pasangan Bagas Hadrian dan Renata Hadrian. Adikku Lana Ayu Lestari Hadrian. Ayahku berkerja sebagai guru agama sekolah dasar dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Aku tinggal di kabupaten Bombana salah satu dari kabupaten yang berada di Sulawesi tenggara. Meski hanya sebuah kabupaten, tempat tinggalku masuk dalam salah satu kabupaten yang sudah cukup maju sama dengan Ibukota provinsi kami ,Kendari.  Hanya saja di tempatku belum ada Mall sebagai pusat perbelanjaan. Pergaulan di tempatku cukup bebas mungkin karena terletak cukup dekat dengan perkotaan. Terlebih masyarakat disini lebih sering menghabiskan waktu liburan mereka ke kota yang perjalanannya dapat di tempuh dengan transportasi motor maupun mobil dengan waktu 3 jam.

 

Setelah sarapan aku pamit kepada ayah dan ibuku menuju ke sekolah baruku. Butuh 20 menit untuk sampai di tempat tujuan. Kulirik jam tangan bergambar hello kitty milikku, jarum pendek sudah menunjuk angka 6 dan jarum panjang berada di angka 10. Aku bersyukur aku tidak harus mendapat hukuman karena terlambat. Jam masuk sekolahku adalah pukul 07:00 WITA yang artinya aku tiba kurang 10 menit sebelum aku benar-benar di katakan terlambat.

 

Aku bergegas menuju ruanganku pada saat MOS. Di sana sudah cukup banyak teman-teman yang datang. Mataku menyapu seluruh area kelas dan berhenti pada seorang anak perempuan di bangku ke dua dari depan. Aku berjalan ke arahnya dan menepuk pundaknya.

 

“ Pagi, Lisa,” sapaku dengan seulas senyum di bibir.

 

Anak perempuan yang kutegur menoleh, “ Pagi, Gi,” balasnya.

 

Aku meletakkan tas kantungku di bangku sebelah Lisa dan duduk di bangkuku.

 

“Wah,,, kepangan rambut kamu lebih banyak dariku,” ucap Lisa memperhatikan kepangan rambutku.

 

“Yah,, ini resiko bagi anak yang lahir pada tanggal 31,” keluhku.

“Ahaha.. rambutmu jadi lebih berwarna dengan hiasan pita warna warni,”ejek Lisa. Dasar teman tidak berperasaan. Meski begitu Lisa satu-satunya sahabatku sejak sekolah dasar. Ia dan aku satu sekolah. Lisa adalah teman yang akan kau sukai. Ia adalah remaja dengan kepribadian ceria dan supel.

 

Di tengah kami bercanda bel berbunyi menandakan kegiatan MOS kami di mulai. Suara seorang anak lelaki yang aku duga adalah salah satu  kakak panitia terdengar dari speaker menyuruh kami untuk berkumpul di lapangan sekolah.

 

Kami di kumpulkan di lapangan sekolah untuk apel pagi. Setelah apel pagi, kami di perintahkan untuk kembali ke kelas yang menjadi ruangan MOS kami masing-masing sembari menunggu guru pemberi materi setelah itu di ambil alih oleh kakak-kakak panitia MOS. Dalam kegiatan MOS siswa baru di tempatkan di 7 ruangan berbeda. Kami berada di ruang 2.

 

Di hari itu aku melihat banyak wajah asing dari siswa yang berbeda sekolah dasar denganku. Di kelas aku mendapat teman baru. Beberapa murid cewek dan cowok.  Hari pertama MOS cukup melelahkan sekaligus menyenangkan bagiku, lelah  harus duduk lebih lama dari biasanya karena waktu istrahat sebagian di ambil alih oleh kakak panitia yang memperkenalkan diri. Kemudian kami di beri waktu istrahat hanya beberapa menit dan harus kembali masuk ke kelas. Di kelas kami mengikuti beberapa permainan dimana hukuman bagi yang kalah harus maju bernyanyi di depan kelas. Untung saja aku tidak pernah mendapat kesempatan maju di depan kelas.

 

 <<<<<

 

Hari kedua aku mulai mengenal beberapa anak kelas lain. Aku senang karena hal itu. Mungkin ini yang di maksud oleh kak Prita, sepupu perempuanku. Bahwa hari-hariku akan lebih berwarna? Entahlah, tapi itulah yang aku pikirkan.

 

Aku, Lisa, Widya, Hana, Juan, dan Dika sedang duduk di salah satu bangku kantin. Membicarakan kegiatan MOS yang kami ikuti, kakak kelas yang galak, kakak kelas yang ganteng yang di sambut dengusan Juan dan Dika, kemudian berbalik kami para cewek memberikan dengusan saat keduanya membicarakan kakak kelas yang cantik. Hingga percakapan kami di interupsi Lisa.

 

“Hei, kalian mengenal cewek berambut pendek sebatas telinga? Aku dengar dia adik salah satu kakak panitia yang terkenal tampan.”  Lisa mengedarkan pandangan pada kami.

 

“Cewek berambut pendek? Sebatas telinga? Hmm.. sepertinya aku pernah melihatnya,”  balas Dika.

 

“Kakak panitia yang tampan? Ck, bicara yang jelas, Lis. Disini ada banyak kakak panitia yang cukup tampan,”  ucap Widya

 

“ Aku lupa nama kakak itu.”

 

“Ahh.. itu. Itu dia. Kakak panitia yang aku maksud,” sambung  Lisa sambil menunjuk pada arah dimana beberapa panitia MOS berjalan masuk ke kantin.

 

Ada empat orang kakak kelas yang masuk dan berjalan ke arah kami. Semuanya adalah cowok dengan wajah yang sangat tampan. Mereka adalah panitia yang langsung menjadi idola di angkatanku. Bukan hanya karena wajah mereka tapi juga karena sikap mereka yang friendly dan tidak sok senioritas.

 

Lisa mengarahkan kami pada salah satu dari mereka. Pada seorang cowok yang cukup tinggi di antara teman-temannya. Cowok dengan kulit kecoklatan yang bagiku terlihat lebih mmm..aku bingung menyebutnya. Ahh, terlihat lebih “manly” itu yang sering di katakan kak Prita tiap melihat cowok dengan tampilan seperti itu. Wajahnya di bingkai dengan rahang tegas yang aku yakini pasti akan membuatnya lebih terlihat tampan saat ia memasuki usia dewasa. Mata dengan bola mata berwarna hitam, menampilkan sorot tajam. Alis hitam senada dengan warna mata juga rambut yang di tata spike. Terakhir hidungnya yang mancung juga bibirnya yang Emm… tipis dan berwarna kemerahan. Bibir yang kini mengukir seringai yang membuatnya terlihat seperti anak lelaki jahil namun dapat menarik cewek-cewek di sekitarnya.

 

God. Apa yang baru saja aku pikirkan? Apa aku baru saja memikirkan hal-hal aneh?  Ada apa dengan otakku?

“Hey. Gi. Kau kenapa? Jangan memukul kepala cantikmu itu, apa kau ingin bertambah bodoh?.”  Lisa menahan tanganku yang memukul kepalaku sejak tadi.

 

Aku melotot pada Lisa. Apa-apaan perkataannya tadi? Bertambah bodoh? Itu berarti sebelumnya aku bodoh bukan? Dasar jahat.

 

“Enak saja. Tentu aku tidak akan seperti itu,” balasku sengit.

 

Juan, Dika, Hana, dan Widya menertawai perdebatan yang kulakukan dengan Lisa.

 

“Jadi. Kalian sudah tahu nama kakak kelas yang di tunjuk Lisa?,” ucapku mengalihkan perhatian mereka dari perdebatan kami berdua.

 

“Yup. Namanya Ikbal Dirgantara Saputra. Salah satu kakak kelas yang mempunyai banyak penggemar di setiap angkatan. Seorang badboy dengan kemampuan bermain gitar yang menjadi daya tariknya selain wajahnya. Itu yang aku dengar dari temanku yang kelasnya di pegang kak Ikbal.” Hana menjelaskan dengan semangat yang menggebu yang dapat aku simpulkan bahwa ia adalah salah satu penggemar si badboy.

 

“Wow. Luar biasa. Kau cocok sebagai sumber berita terupdate, Hana,” ejek Dika yang di sambut dengan Hana yang terlihat menaikkan bahu dan dagu terangkat. Sukses kembali meledakkan tawa di meja kami.

 

Pertanyaan Lisa tentang adik dari si badboy terlupakan dan tidak mendapat jawaban sampai ketika kami berjalan kembali ke kelas. Lisa secara tiba-tiba menarik tanganku dan menyuruhku melihat pada kelas di seberang kami.

 Dimana siswa ruang 3 berkumpul di depan kelas mereka. Mereka tertawa heboh dengan salah satu tawa mendominasi di antara semuanya. Tawa yang berasal dari seorang siswi berambut pendek sebatas telinga namun rambutnya sangat tipis hingga hampir  memperlihatkan kulit kepalanya,dengan tinggi tubuh yang aku perkirakan sama denganku. Tubuhnya bisa di bilang lebih kurus dari teman-temannya yang lain.

 

Aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia membelakangiku. Hingga ketika ia berbalik badan menghadap kearahku bersamaan dengan bisikan Lisa yang mengatakan bahwa siswi yang aku perhatikan sejak tadi adalah adik dari kakak kelas yang terkenal dengan sifat playboynya. Ketika siswi itu menatapku. Aku tertegun melihat mata yang terkesan angkuh miliknya. Matanya tidak menunjukkan keramahan sedikitpun. Berbeda dengan kakaknya yang meski tajam namun memiliki sorot ramah bagi yang melihatnya.

 

Kami bertatapan beberapa detik sebelum kesadaranku kembali karena tarikan tangan Lisa yang membawaku untuk memasuki kelas yang menjadi ruagan MOS kami, memutus kontak aku dengan siswi itu. Ketika aku menyempatkan menoleh, ia masih disana menatapku dengan alis terangkat juga dahinya yang mengerut. Menandakan ia sedang berpikir. Oh God. Aku pasti di sangka anak aneh karena ketahuan memperhatikannya.

 

 

Aku sedang berbaring di kamar dengan ponsel di tanganku. Saat ini aku sedang berkirim pesan dengan Lisa, aku penasaran dengan siswi yang aku perhatikan di sekolah tadi karena itulah aku memutuskan untuk bertanya pada Lisa. Karena aku tipe orang yang tidak suka di buat penasaran.

 

To: Lisa

From: Gi

 

Hey, kau belum menjelaskan maksudmu bertanya mengenai adik dari kak Ikbal.

 

Tidak menunggu lama balasan dari Lisa masuk, entah aku  kenapa merasa deg-degan dengan jawaban Lisa.

 

 

 

 

 

To: Gi

From: Lisa

 

Ahh. Itu karena aku mendengar gosip bahwa kakak panitia kita yang badboy itu mempunyai adik yang memiliki sifat yang berbeda. Meski begitu adiknya juga memiliki kesamaan dengannya. Ia juga badgirl, tapi cenderung pada hal-hal mengerjai dan membully saat ia masih sekolah dasar. Ia tidak playboy seperti kakaknya. Karena itulah aku penasaran dengannya. J

 

Pesan Lisa membuatku terperengah sekaligus bingung? Aku tidak menyangka bahwa perempuan itu mempunyai sifat benar-benar sesuai dengan tatapan matanya. Membully? Aku adalah orang yang tidak meyukai tindakan seperti itu. Aku jadi penasaran dengan alasan ia menjadi seorang tukang bully. Aku merasa selain tatapan tidak ramah darinya, ada tatapan lain yang aku sendiri ragu untuk menyimpulkan bahwa tatapan itu adalah tatapan seseorang yang kesepian.

Aku bingung darimana Lisa langsung dapat mengetahui bahwa adik kak Ikbal adalah dia?

 

To: Lisa

From: Gi

 

Benarkah? Wah, aku tidak tahu jika dia seorang yang suka membully. Tapi, aku masih bingung. Darimana kau langsung tahu bahwa orang yang kau maksud adalah dia? Jangan katakan kau adalah dukun. Demi tuhan… aku akan langsung percaya. Ahaha

 

To: Gi

From: Lisa

Sialan, tentu saja bukan. Aku tahu karena kata Rina, kau tahu Rina bukan? Anak yang di tempatkan di ruang 1 dengan mulut yang tidak bisa menyimpan rahasia juga pusat tempat kau bisa mencari informasi aka gosip. Kalo cewek itu berambut pendek sebatas telinga dengan rambut yang emm sedikit lebih tipis dari kata normal, bertubuh agak pendek, sedikit kurus, yang paling menonjol adalah tawa cempreng dan tatapan mata yang tidak ramah sama sekali, dia anak ruang 3. Jadi, saat kita mendengar tawa yang benar-benar cempreng dan ketika ia berbalik kearah kita. Aku langsung tahu orang yang di maksud adalah dia.

 

Kata rina, rambutnya seperti itu karena ia jatuh sakit yang cukup parah? Entahlah. Yang tidak aku percaya adalah bagaimana bisa tubuh sekecil itu menjadi seorang tukang bully? Walaupun tatapan matanya benar-benar cocok dengan seorang pembully.

 

.

Jadi… seperti itu? Dia cukup di kenal di sekolah karena statusnya sebagai adik dari idola sekolah dan seorang tukang bully saat sekolah dasar? Seorang badgirl? Entah mengapa aku jadi kepikiran akan cewek itu. Bukan berarti aku berubah menjadi penyuka sesama jenis. Tentu saja tidak. Hanya saja, tatapan matanya mengusikku dan aku punya firasat jika aku akan terhubung dengannya.

 

 

 

 

TBC

 

 

A/N     Annyeong readers-nim #bow .. aku kambekk dengan cerita baru ya.. ahaha #again

aku bukannya nggak mau lanjut BROKEN ANGEL , tapi emang belum dapat ide lagi, jadi sementara di on hold dulu ahaha… ini cerita tentang sahabat aku yang bakal berulang tahun besok. jadi, ini semacam kado ultah buat dia. 

ini berdasar kisah nyata sahaba aku.. jadi, kotanya aku sesuain dengan kota tempat aku dulu tinggal. bagi kalian yang gg tahu tempatnya. bisa cari di google ya .. ahahah… tapi kalo gg ada juga jadi maklumin aja, soalnya masih belum masuk ke google maps , wkkwkwk…

okeh deh. aku cuma post bagian pertama dulu. mau lihat respon pembaca. kalo banyak yang suka aku lanjut, kalo gg yah terpaksa sampe sini aja.. ohohoho  #ketawaepil.. ok deh segini aja cuap-cuapnya. c u #ketjupbasah #lambai”barengsehun

image_392a9f3

 

Save

Advertisements

3 thoughts on “BACK IN TIME

  1. Haii annyeong thoe….
    Wah baru kali ni aq baca ff rasa indonesia banget mulai dari nama karakter sampai tmpat tinggal,mungkin terinspirasi dari kisah nyata kali yach…
    Adenya ikbal itu siapa sih kok gx di sbutin namanya?,apa aq kurang fokus yach bacanya….hehe sorry..
    Sehun nya mna…???kok blum ada…
    Iih jdi pengen tau bagaimana pertemuan antara yoona(gina) n sehun…
    Penasaran thor ,lanjut oke….hwaiting…

    • Annyeong chingu😄😄

      Eheh ia nih. In memang khusus aku buat untuk ultah sahabt aku. Jd indonesia.a harus kerasa ahahha.. kan in crta nyata dr hidup sahabat aku ahahhaha…

      Ade.a ikbal belum jelas ya nama.a dsini. Nnt chapter brikut br thu. Sehun belum muncul dsni. Jd sabar ya. Ohoho

      Gomawo dh rc😙😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s