1477864837489

TITLE : BACK IN TIME II

CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN || OH SEHUN AS NATHAN REVALDI || SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN || KWON YURI AS GLADISA PRATIWI

OC     : FIND BY YOUR SELF

GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY 

DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

Hari ketiga MOS juga hari terakhir kami mengikuti kegiatan ini. Kegiatan kami sama seperti hari sebelumnya, menerima materi dan tentu saja kegiatan tambahan dari kakak panitia. Kegiatan  kami berakhir cepat di banding dua hari  lainnya, pukul 13:30 WIT, kami di kumpulkan di Aula sekolah untuk mengikuti acara penutupan MOS. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan melihat sosok asing lain yang menarik perhatianku setelah kemarin aku melihat adik dari kak Ikbal.

Aula di padati dengan kami siswa baru, kakak panitia MOS, dan juga guru-guru beserta kepala sekolah. Acara di mulai dengan sambutan kepala sekolah di tutup dengan ucapan selamat datang darinya. Kami bertepuk tangan meriah, aku juga teman-temanku merasa senang karena kami resmi melepas masa anak-anak menyambut masa remaja yang pastinya akan lebih berwarna. Setelah acara itu kami di minta untuk saling berkenalan.  Dari 300 siswa baru kami harus saling mengenal mengenal satu sama lainnya, bisa kau bayangkan rasa lelah yang aku rasakan bukan? Namun saat itu aku berkenalan dengan siswa laki-laki yang membuatku ingin tahu tentang dirinya.

Dia Nathan Revaldi. Alumni dari sekolah dasar Cendana. Nathan seorang cowok yang menurutku termasuk dalam kategori cowok tampan mesti tidak setampan kak Ikbal dkk. Dengan iris mata berwarna cokelat muda,alis mata hitam, hidungnya tidak terlalu mancung, bibirnya mmm… yah tipis kemerahan , di bingkai dengan rahang yang cukup tegas, dan rambut bermodel sama dengan kak Ikbal. Apa ia meniru kak Ikbal? Entahlah. Aku hanya mengetahui sebatas itu saja tentang Nathan. Karena aku harus berkenalan dengan siswa lainnya.

 

Perkenalanku dengan Nathan sukses membuat cowok itu muncul dalam pikiranku dan bertahan cukup lama. Aku tidak memperhatikan dengan siapa aku berkenalan. Hingga saat aku mendengar suara seorang siswi perempuan yang saat ini berkenalan denganku, suara itu seakan menarik kesadaranku hingga kembali ke tempat asalnya. Pikiran tentang Nathan hilang, aku melihat tangan cukup mungil dariku yang sedang bersalaman denganku. Kufokuskan mataku pada orang yang berada di hadapanku. Mataku bertubrukan dengan mata yang sempat membuatku tertegun hari kemarin. Mata dengan kesan angkuh yang menatap lurus padaku.

 

“Gladisa  Pratiwi” ucap siswi itu dengan satu alis terangkat juga dahi berkerut.

 

Aku kembali mendapatkan kesadaranku dan berkata dengan terbata-bata, “ G Gina Larasati Hadrian”

Gladis,aku memilih memanggilnya seperti itu, memutus kontak mata kami dan menarik tangannya kembali. Kemudian melanjutkan perkenalan dengan siswa lainnya. Aku hanya tertegun di tempatku dengan pikiran  tentangnya, siswi itu ternyata bernama Gladisa Pratiwi. Di lihat dari dekat iris matanya berwarna cokelat yang lebih gelap dari Nathan dengan tepi berwarna hitam. Dari perkenalanku dengannya aku merasa ia seorang yang sombong. Bayangkan saja ia hanya menyebut namanya kemudian pergi tanpa menyebut nama sekolah dasarnya ataupun apapun itu.

Ponselku bergetar, saat aku membukanya aku melihat satu pesan yang di kirim Lisa.

 

 

To : Gi

From : Lisa

 

Wru?

 

Ah, pasti mereka sedang mencariku saat ini, aku mengetik pesan balasan untuk Lisa

 

To: Lisa

From: Gi

Aula, kalian dimana?

 

Pesan balasan Lisa muncul, anak itu benar-benar mengerikan dalam mengetik pesan. Sangat cepat. Aku heran darimana ia mendapatkan keahlian mengetik secepat itu? Dan berapa banyak ponsel yang sudah di rusakya untuk keahliannya. Oh, aku mulai melantur.

 

To: Gi

From: Lisa

Kami berada di kantin , cepat seret pantat tidak cantikmu kesini. Kami kelaparan karena menunggumu. Hana si anak baik tidak ingin memesan makanan karena menunggumu dan ia melarang kami juga, ck.

 

Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku karena pesan Lisa. Aku melangkah keluar Aula menuju ke kantin. Disana, bangku kedua di pojok kantin. Lisa, Hana, Widaya, Juan,  dan Dika menungguku dengan muka di tekuk.. Lebih tepatnya empat orang lainnya selain Hana. Hana melihatku berjalan ke tempat mereka. Melambaikan tangan dengan senyuman yang memperlihatkan giginya yang untung saja terlihat putih. Aksinya menarik perhatian keempat temanku, juga siswa di sekitar mereka duduk.

Aku mempercepat langkahku dan mengambil tempat di sebelah Juan.

 

“Apa-apan itu? Kau ingin membuatku malu, Han?,” kesalku.

 

“Maaf, Gi. Aku hanya terlalu bersemangat melihatmu yang seperti angin segar dari muka masam empat orang ini,” balas Hana dengan cengirannya.

 

“Huh, itu karena kau melarang kami memesan makanan sebelum Gi datang.” rutuk Dika dan di iyakan Widya, Lisa, dan Juan.

Aku terkekeh melihat perdebatan mereka. Setelahnya kami memutuskan memesan makanan untuk memberi makan cacing-cacing di perut kami. Seperti biasa setelah menghabiskan makanan, kami bercerita tentang topik menarik hari ini. Tentang betapa kami sangat senang karena  berakhirmya kegiatan MOS, perasaan senang karena bisa berkenalan secara langsung dengan seluruh panitia MOS, siswa-siswi ruangan lain yang tentu saja tidak kalah cantik dan ganteng dari panitia, dan kemudian berujung pada siswi yang menjadi objek pembicaraan kami kemarin.

 

“Hey, kalian sempat berkenalan dengan cewek yang aku ceritakan kemarin?,” ujar Lisa dengan nada bertanya  berlebihan.

 

“Ya. Aku sempat”

 

“Ya. Aku juga”

 

“Ya.”

 

“Hm.”  Itu Juan. Dia memang lebih pendiam di banding Dika dan tiga temanku yang lain.

 

“Namanya Gladisa  Pratiwi. Siswi yang sombong karena hanya mengucapkan namanya pada orang yang berkenalan dengannya, “ sambung Widya.

 

“Tapi, dia cukup akrab dengan teman satu ruangan dengannya bukan?”

 

“Yah, buktinya kemarin ia berkumpul bersama mereka,”

 

“Jadi, dia hanya akan akrab dengan orang yang ada dalam satu lingkup ruangan dengannya, ya.”

 

“Aku kurang suka dengan cewek itu. Dari perkenalan tadi aku mendapat kesan  tidak baik tentangnya,” ujar Hana. Aku cukup kaget dengan perkataan Hana. Karena Hana yang aku kenal adalah orang yang mudah menyukai orang lain, maksudku bukan sebagai pasangan ya.

 

“Aku juga,”

 

“Sama. Dia benar-benar cocok dengan imej seorang pembully. Berada di dekatnya membuatku merinding, belum lagi tatapan matanya yang tajam seperti ingin mengatakan bahwa aku adalah calon korban bulliannya.” timpal Lisa.

 

“Aku heran, bagaimana bisa teman-temannya tidak merasa terintimidasi ya.”

 

“Pasti karena mereka bermental sama dengannya.”

 

“Tidak, mereka tidak terintimidasi karena cewek itu berlaku baik pada mereka, ia tidak pernah membully orang yang berteman dengannya.” ucap Dika,

 

Aku,Lisa,Hana, dan Widya terkejut dengan perkataan Dika  minus Juan karena sedari tadi ia tidak ikut dalam obrolan kami.

 

“Kau serius? Kau tidak sedang membelanya bukan? Jangan bilang kau suka cewek itu?” tuduh Lisa.

 

Dika mendelik pada Lisa sebelum menjawab pertanyaan cewek berambut sebahu itu, “Tentu tidak bodoh. Aku tahu karena temanku salah satu dari teman cewek itu sejak sekolah dasar. Cewek itu memang kurang bisa bersikap ramah pada orang baru. Ia cenderung dingin, tapi jika kau sering berinteraksi dengannya ia adalah anak yang menyenangkan.”

 

Lagi, perkataan Dika membuat kami terkejut.

 

“Benarkah?” ucapan Hana mewakili pertanyaan yang ada di pikiran kami.

 

“Dika,benar. Kalian bingung dengan perkataanku? Darimana aku bisa membenarkan perkataan Dika? Karena teman yang Dika maksud adalah aku. Aku satu sekolah dasar dengan G, ia anak cewek yang menyenangkan. Awalnya aku juga mengira ia cewek sombong. Ia hanya duduk dalam kelas tanpa menyapa teman lainnya seperti murid baru biasanya. Tidak berusaha mencari teman. G, itu murid pindahan di sekolahku. Ia  pindah pada awal semester genap kelas 3.”

 

Jika perkataan Dika membuatku kami terkejut, apa yang barusan dikatakan Juan dua kali lipat lebih membuat kami terkejut. Juan, mengatakan hal itu dengan tatapan tidak  fokus pada kami. Matanya menerawang seakan ia tidak sedang disini, namun kembali saat dimana ia pertama kali bertemu Gladis yang di panggil G oleh Juan. Sama seperti namaku, namun ia tidak memakai huruf “i” sepertiku.

 

 

Saat itu kelas Juan ramai dengan teman sekelasnya yang saling bertukar cerita tentang kegiatan yang mereka lakukan saat liburan semester satu. Juan juga ikut bercerita bersama teman-temannya. Kegiatan mereka di interupsi dengan guru yang masuk ke dalam kelasnya bersama seorang gadis kecil berambut hitam sepunggung. Juan juga teman sekelasnya kembali ke tempat duduk masing-masing. Pandangan ingin tahu di tujukan pada sosok yang berada di samping guru mereka juga kebingungan alasan gadis itu pindah saat semester akhir? Kenapa tidak saat awal semester kelas 4 saja? Bukankah tahun depan mereka akan duduk di kelas 4?

 

“Anak-anak. Hari ini kalian kedatangan teman baru. Gladis, karena kedua orang tuanya pindah tugas di sini. Nah, Gladis. Perkenalkan dirimu” ucap guru perempuan yang menjawab rasa ingin tahu murid yang di ajarnya.

 

Gadis kecil yang tadinya menundukkan kepalanya. Kini mengangkat kepalanya menatap teman-teman di kelas barunya. 

 

“Perkenalkan nama saya Gladisa Pratiwi.kalian bisa memanggil saya, Gladis” ucapnya singkat.

 

Guru perempuan dengan bordiran nama Yesi Sambrina  di atas saku bajunya, kemudian menyuruh murid baru di kelas yang diajarnya duduk di bangku  kosong yang berhadapan langsung dengan meja guru. Ia dan pastinya murid kelasnya heran dengan perkenalan yang sangat singkat itu.

 

Juan, menatap sosok baru yang duduk di bangku berjarak tiga bangku dari tempatnya. Hingga jam pelajaran berakhir ia masih memperhatikan Gladis. Gadis itu hanya duduk diam tanpa menyapa teman sebangkunya. Juan , berpikir ia pasti murid sombong. Sampai teman perempuan sekelasnya bernama Suci mengajaknya berkenalan. Awalnya Juan pikir Gladis tidak akan menyambut uluran tangan Suci, tapi ia salah. Gladis menyambut tangan yang terjulur di hadapannya dan membalas senyuman Suci. Setelahnya , teman-temannya ikut berkenalan dengan Gladis.

 

Juan, adalah orang terakhir  yang berkenalan dengan Gladis. Esoknya Gladis tidak  sekaku kemarin, ia mulai berinteraksi dengan teman sekelasnya. Mengiyakan ajakan makan Suci dan Tika yang merupakan teman sebangku Gladis. 2 bulan sejak kepindahan Gladis juga kakaknya yang duduk di kelas 4. Mereka berdua menjadi sosok yang banyak di jadikan pembicaraan siswa sekolah dasar tempat Juan bersekolah.  Bukan hanya karena wajah mereka yang cantik dan tampan, tapi juga karena sifat mereka yang cukup berbeda. Kakak Gladis dengan sifat friendly-nya hingga membuat ia mendapat banyak teman bahkan dari kakak kelas, sedang Gladis siswi yang kebalikan dari kakaknya.

 

Dari pengamatan Juan, Gladis adalah sosok  yang kurang bisa dekat dengan orang baru, tapi bukan berarti ia sombong seperti pemikirannya pertama kali melihat Gladis. Ia orang yang akan dekat dengan orang yang menjadi temannya, tapi Gladis juga orang  yang menganut prinsip hidup take and give. Ia akan tersenyum pada orang yang tersenyum padanya. Selain itu ia adalah teman yang membuatmu dapat tertawa karena candaannya, bisa di bilang ia adalah anak yang ceria. Walau begitu ada beberapa teman sekelasnya yang tidak bisa dekat dengan Gladis. Mereka siswi perempuan yang menurut Juan terintimidasi dengan Gladis yang berujung menjadi korban bully Gladis dan kedua sahabatnya.

 

Juan yang berada pada kelompok anak lak-laki kelasnya cukup dekat dengan Gladis dan dua sahabatnya. Hal yang membuat ia mengenal Gladis lebih dalam. Anak perempuan itu adalah malaikat bagi orang terdekatnya namun ia iblis bagi orang yang berada di luar lingkaran pertemanannya. Beberapa cewek  kelasnya yang tidak masuk sebagai teman Gladis di bully dengan cara yang tidak cukup pantas bagi anak seumuran mereka. Mereka di jadikan pesuruh,  jika membantah mereka akan diseret Gladis dan kedua temannya di belakang sekolah untuk di pukuli. Esoknya rok mereka akan sobek karena terkena lem yang di oleskan Gladis dkk di bangku mereka. Yang paling parah seorang siswi teman sekelasnya pindah sekolah karena tidak tahan dengan bullian yang di terimanya. Sedihnya anak itu hanya seorang anak penerima beasiswa tidak mampu. Juan memutuskan menjauh dari Gladis karena hal itu.

 

 

Cerita yang barusan di dongengkan Juan pada kami, membuat kami tidak bisa berkata-kata. Kami seperti kehilangan kemampuan berbicara. Meja kami di isi dengan keheningan hingga jam istrahat habis.

 

Di kamar, aku masih memikirkan perkataan Juan. Gladis memang bukan seorang mempunyai sifat sombong, tapi ia lebih parah di banding itu. Ia adalah Iblis seperti yang di katakan Juan. Bagaimana bisa di umur yang bahkan belum genap 10th bisa membuat hidup orang-orang yang tidak di sukainya menderita karena perlakuannya? Pindah sekolah karena bully? Memukuli orang? Itu hanya aku dapatkan pada sinetron yang di nonton ibuku, itupun di lakukan oleh remaja hingga orang dewasa bukannya anak-anak. Aku bukannya tidak pernah melihat teman sekolah dasarku membully, tapi tidak sampai separah itu.

 

Aku tidak mengerti dengan cewek itu. Apa yang membuatnya tidak merasa bersalah dengan perbuatannya dan melakukan hal buruk? Apa karena keluarganya? Tapi bagaimana dengan kak Ikbal? Ia ramah di luar dari sifat playboy-nya. Juga kedua orang tuanya masih tetap bersama. Jadi, apa alasannya? Ia memiliki tatapan mata yang membuatmu tidak nyaman, matanya seperti ular, ya itu yang baru kusadari. Aku berpikir selain dari yang di katakan Juan, Gladis masih menyimpan rahasia di balik sosoknya yang ceria dan seorang tukang bully. Gladis Pratiwi adalah remaja perempuan yang misterius.

Advertisements