1477864837489

TITLE : BACK IN TIME III

CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN || OH SEHUN AS NATHAN REVALDI || SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN || KWON YURI AS GLADISA PRATIWI

OC     : FIND BY YOUR SELF

GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY 

DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

Senin hari pertama kami sekolah. Hari dimana kami mengikuti pelajaran di sekolah menengah pertama. Aku berjalan menuju gerbang sekolah yang kini berjarak lima langkah dariku. Dari belakang seseorang memanggil namaku.

 

“Gi, tunggu!” Aku menoleh dan mendapati Lisa berlari menuju ke arahku.

 

“Pagi,” sapa Lisa saat berada di depanku.

 

“Pagi,” balasku dengan seulas senyum di bibirku.

 

Kami kembali berjalan menuju gerbang. Di sekolah kami berdua menuju papan pengumuman untuk melihat di kelas mana kami di tempatkan. Saat kami tiba, disana sudah banyak siswa seperti kami melihat nama mereka. Dari kerumunan siswa di depan papan pengumuman keluar tiga orang anak yang kami kenal. Mereka Widya,Hana, dan  Juan. Terakhir seorang lagi menyusul ketiganya, Dika.

Lisa dan aku berjalan ke arah mereka, Hana lebih dulu menyadari kehadiran kami. Ia melambai dan di ikuti dengan senyuman ala Hana, menyadarkan tiga orang lainnya menatap kearah kami berdua.

 

“Pagi.” sapa kami berdua pada mereka.

 

“Pagi.” balas mereka berempat.

 

“Kalian ingin melihat nama kalian berada di kelas mana?”

 

“Ya.”

 

“Tidak perlu. Kami sudah melihatnya. Lisa,Gi, Hana, dan aku sekelas. Kita di tempatkan di kelas B” ucap Widya girang.”

 

“Tapi,kita tidak sekelas dengan Dika dan Juan” sambung Hana,

 

“Yah. Hana benar.”

“Dika dan Juan di kelas D.”

 

Kami berempat memasang wajah sedih dan menjadi tertawaan kedua orang yang menjadi alasan kenapa wajah kami seperti itu. Menyebalkan.

 

“Hei, kita hanya beda kelas bukannya beda negara,” Dika terkekeh di ikuti Juan,

 

“Dika benar. Kita masih  bisa berkumpul saat jam istrahat. Kita juga tetap bisa berkumpul di luar jam sekolah.” ucap Juan geli.

 

Dasar para lelaki. Tidak peka. Ucapan mereka hanya kami sambut dengan dengusan. Menyadari kami tidak menanggapi ucapan mereka berdua. Keduanya berdehem.

 

“Ayolah, jangan seperti itu, girls.” bujuk Dika.

 

Bunyi suara bel sekolah di ikuti suara seorang  guru piket menyuruh kami berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Kami berenam menuju ke lapangan dan berpisah menuju barisan kelas masing-masing.

 

Selesai upacara bendera kami menuju kelas masing-masing. Aku, Lisa, Hana, dan Widya menuju ke kelas B. Sedangkan Juan dan Dika yang menuju ke kelas D.

 

 <<<

 

Di kelas aku duduk sebangku dengan Lisa sedang Widya bersama Hana. Bangku kami berada di barisan kedua dari depan  di ikuti Widya dan Hana di belakag kami. Dari 35 siswa ada beberapa wajah yang tidak aku kenal di kelas kami sekitar  12 sampai 15 orang selebihnya adalah teman yang berada satu ruangan denganku saat MOS.

 

Beberapa menit sesudahnya bel tanda pelajaran pertama di mulai. Seorang guru laki-laki berumur sekitar 25th masuk. Ia meletakkan tas yang di bawanya kemudian berdiri di depan  kelas dengan senyum yang aku akui sangat manis. Guru lelaki itu mempunyai tubuh ramping dengan tinggi sekitar 180 keatas, kemeja hitam di padukan dengan celana kain berwarna hitam, struktur wajahnya tegas, ia memiliki mata cokelat madu, di naungi sepasang alis yang cukup tebal, juga rambut hitamnya di sisir rapi yang semua itu sukses  membuatnya lebih cocok terlihat sebagai seorang model bukannya guru,

 

“Selamat pagi adik-adik.,” sapa guru dengan senyuman manis itu.

 

“Pagi Pak,” jawab kami serempak.

 

“Saya sebenarnya kurang suka dengan sapaan formal, terlebih jika saya di panggil bapak. Saya bahkan belum menikah…”

 

“KYAAA.” perkataan guru anonim dengan senyum manis itu terputus oleh jeritan siswi perempuan sekelas. Termasuk aku dan ketiga temanku. Tentu saja senang, guru itu masih lajang. Aye.. sepertinya hormon pubertas kami bekerja dengan sangat baik.

Jeritan kami di balas dengan cemoohan siswa laki-laki di kelas.

 

“HUUUU”

 

Guru di depan kami tertawa kecil yang memunculkan dua dimple di masing-masing pipinya. Kontan saja hal itu memicu kami kembali histeris. Oh God, betapa indah ciptaanmu dan terimakasih sudah membuat guru ini menjadi salah satu guru kami.

 

“Baiklah, tolong kembalikan fokus kalian oke. Saya tidak melarang kalian memanggil saya dengan sebutan bapak, tapi saya lebih memilih kalian memanggil saya kakak.”

 

“Sepertinya saya harus memperkenalkan diri.”

 

Guru muda itu mengambil spidol dari dalam tas yang di letakkan  di kursi guru. Menulis namanya di papan tulis dengan huruf kapital seakan kami adalah kumpulan orang-orang minus. Oke, maafkan kesinisanku.

 

YUDI AL RASYID.

 

“Kalian bisa memanggil saya Kak Yudi. Ada yang ingin kalian tanyakan?”

 

Lisa mengangkat tangan  dengan kecepatam supernya. Aku sukses di buat melongo dengan antusias berlebih Lisa. Aku mengira hanya Lisa yang bertingkah bodoh, tapi sepertinya aku salah. Seluruh siswi di kelas ku mengacungkan tangan, minus aku. Aku cukup waras untuk melakukan hal bodoh itu.

 

Sekali lagi tingkah teman-temanku menimbulkan dua reaksi berbeda. Cemoohan dari siswa laki-laki dan tawa geli kak Yudi. Mungkin karena reaksi Lisa yang kelewat bersemangat di banding lainnya, Kak Yudi menunjuk Lisa untuk mengucapkan pertanyaannya yang tentu saja di sambut Lisa dengan senang hati.

 

“Emm..usia Kak Yudi berapa? Kak Yudi kan belum menikah apa karena belum punya calon? Hobi Kak Yudi apa?” tanya Lisa. Pertanyaan yang aku yakin sudah mewakili hampir sebagian besar dari apa yang akan di tanyakan dari teman cewek sekelasku.

 

Pertanyaan Lisa kontan menambah keriuahan dalam kelas. Jeritan serta cemoohan kenbali terdengar. Melihat dari wajah kelewat geli Kak Yudi yang gagal di sembunyikannya. Membuat aku malu duduk sebangku dengan cewek ceplas ceplos di sebelahku. Aku beringsut sedikit menjauh dari Lisa. Aku menolak di katakan teman dari anak ini. Uh, memalukan.

 

“Usia saya 26 tahun ini, saya belum menikah alasannya seperti yang kamu tadi katakan dan juga hobi saya bela diri lebih spesifiknya kendo,” jawab kak Yudi.

 

“Saya adalah wali kelas kalian sekaligus guru bahasa di kelas kalian. Hari ini kita belum akan memulai pelajaran, tapi kita akan isi dengan perkenalan  diri kalian masing-masing,” sambungnya.

 

Dan sepanjang  jam pelajaran pertama dan kedua di isi dengan perkenalan diri dari kami. Bel istrahat berbunyi,  ibu Ayu yang mengisi jam pelajaran kedua meninggalkan kelas. Tidak berapa  lama selang waktu ibu Ayu keluar, Dika dan Juan datang ke kelas kami mengajak kami ke kantin.  Aku senang apa yang di katakan keduanya benar. Kami tidak benar-benar terpisah, hanya berbeda kelas.

 

<<<

 

Seperti biasa kami menempati meja kedua di pojok kantin, dengan makanan yang kami pesan. Aku menceritakan tingkah memalukan Lisa dan mendapat tawa dan juga cemoohan dari dua manusia berjenis kelamin  laki-laki di meja kami. Keduanya,lebih tepatnya Dika yang menceritakan kejadian di kelas mereka dan Juan sesekali menimpali cerita Dika.

 

Yang mengejutkan Nathan, cowok yang berkenalan denganku di Aula sekelas dengan mereka berdua. Saat cowok itu berjalan masuk ke kantin seorang diri, Dika memanggilnya untuk bergabung bersama kami. Jadilah kami bertujuh menghabiskan waktu istrahat bersama.

 

“Gina?” Nathan terlihat terkejut dengan kehadiranku di antara teman-temanku

 

“Hai, Nathan?”

 

“Kamu juga teman Dika dan Juan? Jadi, Gina yang mereka berdua maksud itu kamu. Aku kira Gina lainnya. Senang bertemu kamu lagi,” ucap Nathan dengan senyuman yang membuat tiga cewek di meja kami menahan nafas dengan cara yang terlihat memalukan. For God Sake. Senyuman Nathan memang membuatnya terlihat lebih ganteng, aku sendiri menahan nafas tapi tidak melakukannya terang-terangan seperti tiga lainnya. Ck.

 

“Yah. Senang bertemu kamu juga, Nathan. Maafkan sikap ketiga temanku” ujarku membalas dengan mengulas senyum yang aku harap cukup membuatku terlihat menarik.

 Selanjutnya Dika mengenalkan Widya, Lisa, dan Hana pada Nathan. Dari cerita Nathan, ternyata Dika dan Juan memberitahu Nathan tentang kami yang merupakan teman keduanya.

 

“Wah, kalian berdua saling mengenal? Curang kau  Gi, tidak mengatakan pada kami,” kata Dika.

 

“Hey, Aku bukannya tidak mau memberi tahu. Aku kan tidak tahu kalau kalian akan sekelas.”

 

“Kalian kenal dimana?”

 

“Di Aula,” jawabku dengan Nathan bersamaan  yang membuatku salah tingkah begitu juga Nathan.

 

 

 

“Ohhh,,, “ koor ke lima orang di meja kami. Sialan aku malu. Wajahku memerah, dan dengan kurang ajarnya Dika dan Lisa terus mengejek kami berdua. Sial.

 

 <<<

 

Pulang sekolah aku langsung bergegas pulang, menolak ajakan Lisa dan lainnya untuk  kerumah Widya.

 

“Assalamualaikum,” memberi salam pada orang rumah dan membuka pintu, aku berjalan masuk setelah melepas sepatu dan kaos kaki ku.

 

“Waalaikumsalam,” jawab ayah dan dan adikku yang berada di ruang tengah  juga suara ibu yang berada di dapur sedang menyiapkan makan siang. Aku masuk ke kamar mengganti seragamku, kemudian menyusul ibu ke dapur. Setelah makanan untuk makan siang kami jadi, aku memanggil ayah dan Lana untuk bergabung di ruang makan.

 

Selepas makan siang kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah. Ayah dan ibu duduk di atas sofa , aku dan Lana duduk di karpet.

 

“Bagaimana harimu di sekolahmu, Gi?” ayah bertanya dengan tatapan lenbut yang aku sukai dari ayah.

 

“Baik, Yah,” jawabku.

 

Ayah mengangguk dan ganti bertanya pada Lana, “ Kamu, Lana?”

 

“Baik juga, Yah.”

 

“Baguslah. Ayah senang kalian menjalani hari di sekolah kalian dengan baik.”

 

“Jangan terlalu lama nonton, Gi, Lana. Kalian harus istrahat.” Ibu mengingatkan kami yang memang tidak berniat untuk tidur siang.

 

“Ya, ibu,” balas kami berdua.


 

<<<

 

 Malamnya pesan dari Lisa masuk ke ponselku. aku heran, setiap hari Lisa selalu mengirim pesan padaku. Apa anak itu tidak pernah kehabisan pulsa?

 

To : Gi

From : Lisa

 

Gi, apa Cuma aku yang berpikir kalau sekolah kita di penuhi dengan cowok ganteng?

 

God, apa-apaan pesan Lisa. Huh, anak itu selalu memikirkan hal-hal aneh.

 

To : Lisa

From : Gi

 

Hey..hey.. otakmu itu apa hanya di isi dengan cowok?

 

To : Gi

From : Lisa

 

Ish, tentu saja tidak, hanya saja sejak kita mengikuti MOS sampai saat ini, kita banyak melihat cowok ganteng.  Contohnya, Kak Ikbal dkk, teman kita Juan dan Dika meski aku tidak ingin mengakuinya ehehe, Nathan, terakhir Kak Yudi. Aku bersyukur memilih bersekolah di sekolah kita.

 

To : Lisa

From : Gi

 

Ya… kau benar, tapi apa kau harus menjadikan ini sebagai topik pembicaraan -_- ,  dan bisa tidak kau kurangi sikap memalukan setiap melihat cowok ganteng?

 

 

 

To : Gi

From : Lisa

 

Memangnya kenapa? Ini wajib di bicarakan sebagai referensi kita nantinya untuk memilih cowok yang di jadikan sebagai gandengan, ahahaha…

 

Yak, apanya yang memalukan? Aku hanya bersikap seperti cewek normal lainnya kalau melihat laki-laki bening ahahah. Lol

 

To : Lisa

From : Gi

 

Dasar, kita bahkan belum sebulan sebagai siswa SMP, dan otakmu sudah memikirkan gandengan? Kita belum cukup umur, bodoh.

 

Normal? Aku pikir otakmu perlu di periksa, Lis. Mana ada cewek normal yang melihat cowok seakan mereka itu mangsa untuk di buru? Kau seperti ingin menerkam mereka.

 

To : Gi

From : Lisa

 

Ck, biar saja, dan aku tidak ingin menerkam mereka .

 

Beberapa  jam  sesudahnya aku habiskan dengan berkirim pesan dengan Lisa. Aku juga membalas pesan dari Widya, Hana, Dika, dan Juan.

 

Advertisements