1477864837489

TITLE : BACK IN TIME IV

CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN || OH SEHUN AS NATHAN REVALDI || SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN || KWON YURI AS GLADISA PRATIWI

OC     : FIND BY YOUR SELF

GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY 

DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

Waktu berlalu dengan cepat. Aku dan kelima temanku telah melalui satu semester bersama-sama. Hari berlibur aku habiskan dengan keluargaku. Aku rindu dengan suasana dimana aku tidak harus di sibuk kan mengerjakan tugas bertumpuk. Ahh, meski aku senang mengunjungi nenek dan kakekku bersama ayah, ibu, juga adikku. Aku tetap saja merindukan Lisa, Hana, Widya, Juan, dan Dika.

Liburan semester berakhir. Bulan ini kami memasuki semester genap. Ternyata sekolahku memiliki sistem pengaturan kelas unggulan dan reguler. Dimana setiap semester siswa akan di rolling untuk di tempatkan di kelas menurut peringkat. Bagi siswa yang masuk kedalam peringkat sepuluh besar dari semua kelas akan ditempatkan dalam kelas unggulan, kelas A. Sedang siswa dengan peringkat sebelas ke bawah  akan di tempatkan dalam kelas reguler, B-G.

Aku, Lisa, Widya, dan Hana berhasil masuk dalam kelas unggulan. Sedang Dika dan Juan di kelas Reguler. Lagi-lagi terpisah. Aku sedikit gugup saat tahu bahwa aku berada dalam kelas dimana siswa-siswanya berotak pintar. Jumlah siswa dalam kelas kami yang aku lihat pada kertas yang di tempel di mading adalah 25 siswa. Dengan perbandingan 24 siswi dan 1 siswa. Wah, aku kasihan dengan siswa laki-laki yang berada dalam kelas kami. Ia  pasti canggung.

Pagi tadi, saat aku mencari namaku di mading. Aku tidak terlalu memperhatikan nama-nama teman sekelasku yang lain, aku hanya melihat namaku dan ketiga temanku. Itulah kenapa aku sangat terkejut saat melihat orang itu masuk ke dalam kelas. Aku baru tersadar saat Lisa menarik lenganku dari tempat duduknya yang berada di belakang bangkuku.

 

<<<

 

Aku berjalan ke arah gerbang sekolah dengan semangat menggebu. Aku tidak sabar bertemu dengan ke lima temanku. Aku merindukan mereka setelah hampir sebulan kami tidak bertemu.

“Gi!” teriak beberapa anak di belakangku.

Aku berbalik dan melihat lima orang yang aku rindukan berada beberapa langkah dari posisiku. Senyumku merekah dan aku melambaikan tangan ke arah mereka. Kelimanya berlari ke arahku dan langsung memelukku. Pertunjukan teletubies kami lakoni di depan gerbang sekolah. Ugh, memalukan.

Setelah aksi berpelukan masal, kami melepas pelukan dan nyengir pada satu sama lain. Sebelum tertawa dengan cukup keras mengingat tingkah memalukan kami. Kami melanjutkan langkah dan masuk ke dalam area sekolah.

 

“Ugh.. aku rindu sekali….” kata Lisa dengan gaya dramatis.

 

“Ya. Aku juga,” jawab kami berlima dengan serempak.

 

“Ayolah, hentikan adegan melepas rindu ini. Kita harus melihat nama kita berada di kelas mana, guys,” ucap Juan.

 

Well, Juan selalu menjadi seseorang yang dewasa di antara kami. Kami mengangguk dan berjalan menuju mading untuk melihat kertas berisi pembagian kelas. Kami beruntung di sana belum terlalu di padati siswa lain. Aku hanya  memperhatikan nama kami berenam dan setelahnya keluar dari barisan siswa yang berkepentingan sama dengan kami.

Kami menuju kelas masing-masing untuk mengambil tempat duduk dan meletakkan tas. Letak kelas 1A berada di samping kelas kami sebelumnya. Dika dan Juan berada di kelas sebelah. Kami berempat masuk dan langsung mengambil tempat duduk di bagian samping pintu. Bangkuku berada di baris depan samping pintu, Lisa berada di belakang bangkuku, sedang Widya dan Hana memilih tempat duduk di samping kami berdua. Widya di bangku kedua dariku di susul Hana yang berada di belakangnya persis di samping Lisa.

murid-murid lainnya masuk. Kami cukup terkejut melihat siswi-siswi yang masuk dalam kelompok eksis sekelas dengan kami. Awalnya kami berpikir mereka pasti bersikap sombong. Tapi, kami salah. Saat masuk mereka tersenyum melihat kami, setelah mengambil tempat duduk. Mereka mendatangi kami dan mengajak berkenalan. Tentu saja kami sambut dengan senang hati.

Kelas kami kini ramai dengan suara-suara siswa penghuni kelas. Hanya ada beberapa bangku yang masih kosong. Bel apel pagi berbunyi, kami bergegas menuju ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Di barisan kelas 1B kami melihat Dika dan Juan. Kami ingin mendatangi keduanya, namun guru pengawas menyuruh kami untuk mengatur barisan kelas masing-masing.

 

 

Upacara bendera selesai beberapa detik yang lalu. Lisa menarikku menuju ke tempat Dika dan Juan di ikuti Hana juga Widya. Aku melihat keduanya sedang berbicara dengan Nathan, sialnya orang yang pertama kali menyadari kedatangan kami berdua adalah Nathan. Matanya bertubrukan dengan mataku, kami bertatapan beberapa detik yang langsung aku putuskan setelahnya. Aku tidak sanggup bertatapan dengannya lebih lama lagi. Payah, bukan? Yah, tanda-tanda orang lemah.

Menyadari perhatian Nathan tidak lagi tertuju pada mereka berdua. Dika dan Juan berbalik dan tersenyum lebar sambil melambaikan tangan memanggil kami mendekat. Hal ini membuat Lisa dan dua temanku memacu langkah lebih cepat. Oh Tuhan, mereka memalukan.

“Hei.. kalian belum ingin ke kelas?” sapa Lisa saat kami berada di depan ke tiga cowok tersebut. Lisa selalu saja bersemangat jika sudah menyangkut cowok dalam kriteria ganteng.

“Kita bertiga memang berencana masuk. Hey, Nathan sekelas lagi dengan kami,” ucap Dika dengan wajah berseri yang sedikit berlebihan menurutku.

“Ekspresimu berlebihan, Dik.” Juan bergidik melihat Dika.

“Yah,,, aku juga merasa bergitu,” timpal Nathan yang bergeser dari posisinya semula berdiri di samping Dika. Sekarang ia berdiri dekat dengan Juan yang berada di samping kanannya.

“Hey! Kalian keterlaluan,” protes Dika pada keduanya. Kami bertiga yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini tertawa melihat Dika yang di bully oleh Nathan dan Juan.

“Sudahlah kasihan, Dika. Lebih baik kita ke kelas. Sepertinya jam pelajaran pertama sebentar lagi di mulai.” Widya menghentikan pembulian Dika dengan senyum tipis di wajahnya.

“Wid.” Dika menatap Widya seakan Widya adalah dewi penyelamatnya. Aku semakin tertawa keras karenanya. Dasar Dika.

 

<<<< 

 

Kami bertiga sedang asik berbincang di dalam kelas sembari menunggu guru yang mengajar di jam pertama masuk. Seorang siswa laki-laki masuk ke dalam kelas dengan ekspresi ragu. Sepertinya dia siswa yang menjadi satu-satunya cowok di kelas kami. Ia berperawakan pendek untuk ukuran anak laki-laki seusia kami. Pipinya temben dengan alis mata tebal, mata bulatnya tidak menampilkan kesan lembut namun tajam, rambut hitamnya di sisir rapi. Hmm… cowok ini meski pendek, tapi wajahnya lumayan. Sepertinya bukan aku saja yang berpendapat seperti itu. Lisa menarik tanganku dari tempat duduknya. Aku menatapnya dan menemukan matanya melihat cowok itu dengan pandangan yang sering ia tunjukan jika melihat cowok ganteng.

Cowok itu melangkah cepat menuju ke pojok ruangan. Ia  menaruh tasnya di bangkunya dan memandang ke arah samping tepatnya ke jendela. Ia memilih bangku yang berada paling belakang di sisi kiri yang berlawanan dengan deret bangkuku.

Aku bisa melihat ia yang merasa risih di pandangi hampir seluruh isi kelas. Tentu saja, aku saja akan risih di pandangi banyak orang yang kesemuanya berbeda jenis kelamin denganku. Masih memperhatikan cowok itu, aku tidak sengaja melihat bangku yang berada dalam barisan bangkunya, tepatnya kedua dari depan belum di isi. Aku penasaran siapa teman sekelasku yang belum masuk ya.

Saat itulah aku merasakan Lisa yang kali ini menarik-narik lenganku lebih kuat dari sebelumnya. Membuatku kesal karena tingkahnya. Aku baru ingin memarahi Lisa saat aku mendengar suara salah satu dari cewek eksis di kelas kami memanggil nama seseorang yang aku rasa berada di depan pintu kelas kami.

Aku memutar tubuhku kembali menghadap ke depan bersamaan dengan suara cewek itu menyebut nama cewek yang saat ini berada di depan pintu kelas beberapa langkah dari bangku yang aku duduki.

“G!”

Aku terkejut. Siswi terakhir yang menjadi teman sekelasku adalah cewek angkuh yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagiku. Cewek yang mengganggu pikiranku karena sifat buruknya. Cewek dengan pandangan angkuh namun terlihat seperti menutupi sesuatu. Dia adalah teman sekelasku mulai saat ini. Firasatku benar, aku akan berhubungan dengannya.

 

<<<

 

Ia membalas sapaan cewek yang memanggilnya dengan senyum tipis. Seperti menyadari ada yang memandangnya, ia menoleh ke arahku dengan ekspresi datar di wajahnya. Senyumnya lenyap dan kini malah di ganti dengan kerutan di dahinya. Apa yang sekarang ia pikirkan? Apa ia masih mengingatku? Mengingat cewek aneh yang menatapnya dulu?

Aku tidak tahan dengan caranya memandangku. Ia seakan mengintimidasiku hanya dengan pandangannya. Cewek ini menyeramkan. Aku gugup saat ia masih melihatku. Untung saja ia kini mengalihkan pandangannya ke arah cewek tadi. Ia melangkah menuju ke arah bangku kosong  yang aku perhatikan beberapa menit yang lalu. Menaruh tasnya dan bergabung dalam obrolan kelompok eksis dalam kelas kami. Yah, tentu saja ia termasuk ke dalam kelompok itu sejak semester 1. Aku baru menyadari ada yang berbeda darinya. Sekarang ia menggunakan jilbab. Apa aku tidak salah?

“Psst…, Gi,” bisik Lisa dari belakang bangkuku.

“Hmm.”

“Kau lihat? Cewek itu sekelas dengan kita. Bagaimana kita bisa tidak menyadari namanya saat melihat pengumuman tadi pagi, ya?”

“Kau benar. Aku sangat terkejut.”

“Kalian sedang membicarakan cewek itu, bukan?” Hana mencondongkan badannya ke arah kami berdua di ikuti Widya.

“Kalian tidak menyadari cewek itu menggunakan jilbab?” tanya Widya.

“Sadar,” jawab kami bertiga.

“Hmm. Kita lanjutkan saat istrahat nanti.” Putus Widya. Ia bertindak seperti pimpinan rapat yang kami adakan saat ini. Aku terkekeh melihat tingkah absurd temanku.

 

 

 

 

 

 

CUT

Advertisements