BACK IN TIME V

1477864837489

TITLE : BACK IN TIME V

CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN || OH SEHUN AS NATHAN REVALDI || SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN || KWON YURI AS GLADISA PRATIWI

OC     : FIND BY YOUR SELF

GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY 

DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

Hari ini  jam pertama di isi oleh pelajaran bahasa indonesia yang di pegang oleh ibu Ana. Ibu  Ana adalah guru perempuan dengan tubuh mungil, ia berkulit putih dan memiliki dimple yang akan muncul saat ia tersenyum. Ia adalah salah satu guru yang aku sukai karena sifatnya yang ramah.

Dalam dua mata pelajaran yang kami ikuti sebelum jam istrahat. Aku berhasil mengetahui nama satu-satunya siswa laki-laki di kelasku.  Reza Rivaldi. Selain itu aku juga mendapati bahwa G, cewek itu salah satu siswa yang cukup aktif di kelas. Meski aku masih melihat ekspresi wajahnya yang dua kali lebih datar saat ia sedang serius memperhatikan pelajaran.

Bel istrahat berbunyi beberapa menit yang lalu. Aku masih di kelas menunggu Lisa dan Hana menyelesaikan catatan yang di tugaskan ibu Ana. Hanya beberapa siswa yang masih berada dalam kelas. G sudah keluar sejak tadi, aku tidak tahu ia kemana bersama anak-anak dalam kelompoknya. Reza, bahkan sudah keluar bertepatan saat bel istrahat berbunyi. Ia keluar bersamaan dengan ibu Ana yang menatapnya dengan heran, sama seperti kami. Aku bahkan bisa melihat Lisa yang menampilkan ekspresi menggelikan di wajahnya. Ia membelalakkan kedua matanya yang awalnya memang berukuran cukup besar di ikuti dengan mulutnya yang terbuka. Aku berani bertaruh jika aku tidak menegurnya serangga kecil dapat masuk kedalam mulutnya.

Aku menyimpulkan Reza merasa tidak nyaman dengan keadaannya yang merupakan satu-satunya  siswa laki-laki di kelas. Aku ingin menyapanya, tapi mungkin nanti saja.

“Apa kalian berdua sudah selesai?,” tanyaku pada  dua manusia yan masih berkutat dengan buku catatan milikku.

“Sedikit lagi, Gi”

“Apa kau sudah sangat kelaparan?”

Aku mendelik pada Lisa karena pertanyaannya barusan. Aku memang lapar, tadi pagi aku tidak sempat untuk sarapan karena bangun terlambat. Aku mengutuk jam wekerku yang ternyata baterainya tidak bisa di gunakan lagi. Untung saja ayah mau mengantarku ke sekolah.

“Yup. Selesai” Lisa berdiri dengan tangan terangkat seakan baru saja mendapat sesuatu yang berharga. Aku menanggapinya dengan memutar bola mataku. Widya dan Hana yang juga sudah selesai hanya terkikik geli karena tingkah Lisa. Lisa dan tingkah absurd miliknya.

“Ayo, Juan dan Dika pasti sudah menunggu kita.”

“Apa Nathan juga akan ikut makan siang bersama kita?”

“Entahlah.”

“Aku berharap iya.”

 

Kami berempat melangkah masuk ke dalam area kantin yang sudah di penuhi oleh siswa-siswa yang kelaparan seperti kami. Di tempat biasa aku melihat Dika dan Juan duduk dengan mangkuk makanan dan minuman di hadapan mereka. Aku bergegas melangkah kearah keduanya yang di ikuti ketiga cewek di belakangku. Saat kami berada di depan meja yang duduki keduanya, aku tidak hanya melihat dua mangkuk makanan dan minuman melainkan enam. Aku menaikkan salah satu alisku karenanya. Melihat reaksiku Dika terkekeh di ikuti dengan Juan yang tersenyum tipis.

“Tidak usah berekpresi seperti itu, Gi”

“Kita berdua tahu kalian pasti kelaparan. Aku tidak tahu apa yang menahan kalian bergitu lama datang ke kantin. Karena tidak biasanya kalian terlambat, jadi aku dan Dika berinisiatif memesankan makanan untuk kalian berempat.”

“Uwaaahh… aku sangat terharu, tysm ma hero,” jerit Lisa pada keduanya.

Aku dan keempat temanku hanya saling melempar senyum geli.

“Well, makasih Juan, Dik. Tadi aku pikir harus memesan dulu. Ehehe.”

“Thanks,”

“Thanks, kita terlambat karena menunggu dua makhluk ini menyelesaikan catatan mereka.”

“Its okay.”

Kami berenam langsung melahap makanan yang ada di depan kami masing-masing. Kami tidak mengeluarkan suara lain selain kunyahan terhadap makanan kami. Sepertinya kami sangat kelaparan. Baru setelah kami menandaskan makanan dan meminum minuman kami,kemudian baru mengobrol seperti biasa.

Lisa yang pertama kali membuka suara, cewek ini benar-benar tidak bisa jika tidak menutup mulutnya lebih lama dari lima belas menit.

“Nathan, tidak ikut bersama kalian berdua?”

Dika mendengus mendengar pertanyaan Lisa.”Tidak, ada apa? Kau kecewa?”

“Yak! Aku kan hanya bertanya, kenapa kau sensi sekali.”

“Mungkin Dika cemburu kau lebih peduli pada Nathan di banding dia, Lis,” celetuk Hana di ikuti kikikan geli darinya.

“Jangan sembarangan kau, Hana.”

“Sudahlah, kalian selalu saja seperti anjing dan kucing. Nathan tidak ikut bersama kami karena ia berkumpul dengan teman-temannya, Lis,” jelas Juan.

Juan memang selalu menjadi penengah di antara kami berenam. Jadi itu alasan Nathan tidak terlihat bersama mereka berdua tadi. Yah, tidak heran sih. Sebelum mengenal Juan dan Dika ia pasti memiliki teman lain. Aku melihat Wdya yang sejak tadi hanya diam. Aneh, tidak biasanya ia diam seperti saat ini. Widya selalu membantu Hana menggoda Lisa dan Dika. Ternyata, Ia menatap ke satu arah pada bagian meja lain. Aku mengikuti pandangan Widya yang ternyata mengarah pada kumpulan kakak kelas populer di sekolah kami. Kumpulan berisi kakak kelas tampan yang menjadi idola hampair semua angkatan. Kalian masih ingat kan pada kelompok kak Ikbal yang menjadi salah satu panitia MOS. Yah, Widya kini tengah menatap kearah mereka.

Tepatnya pada salah satu dari mereka. Pada cowok berambut hitam yang ditata spike, mata serta alis yang berwarna sama dengan rambutnya, dan kini tengah menertawai sesuatu lebih tepatnya salah satu temannya di meja mereka. Apa ini? Apa Widya menyukai kak Ikbal? Woah. Aku tidak bisa menyalahkan dia. Kak ikbal memang tampan di tambah dengan sifatnya yang friendly meski dia playboy.

“Wid?,” tegurku pada Widya yang berhasil mengalihkan fokusnya  padaku. Aku menatapnya dengan pandangan meminta penjelasan.

Widya sadar aku sudah sejak tadi memperhatikannya. “A-ada apa, Gi?,” jawab Widya. Jelas sekali ia sedang gugup.

Aku kasihan melihatnya seperti itu. Sepertinya ia belum ingin menceritakan perasaannya pada kami. Aku memutuskan untuk membiarkannya.

“Katanya kita mau membahas tentang, G?”

“Ah, kau benar. Hey, kalian bertiga hentikan ocehan tidak jelas kalian.”

Aku tidak bisa menahan tawaku karena melihat ekspresi kaget ketiganya. Sedang Juan hanya mengangkat salah satu alisnya sebagai respon.

“Ada apa?”

“Apa kalian tahu jika mantan teman Juan, sekelas dengan kami bertiga?”

“Apa?!”

“Benarkah?”

“Ah, kau benar, Wid. Aku sampai lupa dengan pembicaraan kita di kelas. Yup. G, sekelas dengan kami. Dia benar-benar menakutkan.” Lisa bergidik saat membicarakan G. Aku ingin mengatainya berlebihan jika aku tidak merasakan perasaan tidak nyaman pagi tadi saat G menatapku. Cewek itu memang menyeramkan.

“Lisa benar. Terlebih sewaktu cewek itu menatap, Gi. Hii.. aku yang tidak di tatapnya sudah merasakan auranya yang mengintimidasi,” timpal Hana.

“Menatap? Kenapa ia bisa menatapmu, Gi?,” tanya Juan.

“Ehm, itu karena aku yang memperhatikannya terlalu lama, sepertinya ia sadar jika sedang di perhatikan.”

“Begitu. Tenang saja dia memang seperti itu. Sebaiknya kau tidak sering-sering menatapnya, Gi. Dia kurang suka jika di perhatikan orang lain.”

“Wah.. sombong sekali. Kita kan tidak bermaksud buruk. Ck, berlebihan.”

“Anehnya, dia sekarang berjilbab.” Widya mengerutkan dahinya.

“Baguslah. Aku lebih suka dia memakai jilbab.”

Aku, Lisa, Widya, Hana, dan Dika yang mendengar perkataan Juan hanya bisa terbelalak.

“Ada apa dengan kalian?”

“Jujur saja, Juan. Kau menyukai cewek itu bukan?” Dika memajukan wajahnya ke arah Juan yag berada di samping kanannya. Mengamati reaksi yang di berikan Juan atas pertanyaannya. Aku dan tiga temanku ikut meneliti ekspresi Juan. Entah kami yang bodoh atau Juan yang terlalu pintar mengatur ekspresi wajahnya. Datar. Tidak terbaca.

“Tidak.”

“Benarkah?”

“Hmm.”

“Kami tidak percaya.”

“Terserah kalian”

Sadar kalau kami tidak akan bisa memaksa Juan. Kami hanya bisa menghela napas pasrah.

“Bukannya itu, G?,” ucap Hana yang melihat pada satu titik di belakang kami. Tepatnya pada pintu masuk kantin. Aku menoleh dan melihat G masuk ke dalam kantin dengan teman-temannya. Aku mengenal cewek-cewek yang berjalan bersamanya. Mereka kelompok eksis di angkatan kami yang sekelas denganku.

Di sisi kanan G, cewek dengan tubuh yang lebih pendek beberapa centi dari G adalah Naya. Cewek itu yang tadi pagi memanggil G, di sampingnya seorang cewek yang tingginya sama dengan Widya, ia berambut hitam panjang sepinggang adalah Shinta, di sisi kanan G, cewek dengan tubuh yang cukup berisi dengan kulit putih cerah, Well, jujur saja ia bukan lagi cukup berisi, tapi kelebihan isi. Ia gemuk. Fix, apa aku terlalu kasar? Maafkan aku. Cewek itu Nina. Untungnya meski Nina bertubuh gemuk wajahnya cantik dengan mata bulat beriris cokelat, di samping Nina dua orang cewek yang tingginya lebih beberapa centi dari Shinta adalah Eka dan Irma. Eka memiliki perawakan seperti Shinta namun sedikit lebih kurus, sedang Irma hampir sama seperti Nina hanya saja lebih beruntung karena tinggi badannya sesuai dengan lemak di tubuhnya. Sepertinya ia lebih cocok di katakan berisi.

Mereka berjalan kearah salah satu meja kantin yang berada di tengah ruangan. Aku bisa melihat mereka yang tidak perduli dengan keadaan sekitar karena terlalu asik menertawakan sesuatu. G, juga tertawa namun ia terlihat tidak terlalu menyukai apa yang mereka tertawakan.

“Jangan melihat mereka terlalu lama, guys,” tegur Juan.

Perhatian kami kini kembali padanya. Bukan hanya aku dan teman-temanku yang memperhatikan mereka. Sebagian siswa di kantin ini juga seperti kami. Aku juga sekilas melihat kelompok kak Ikbal menatap ke arah mereka.

Meski Juan melarangku untuk tidak terlalu sering menatap G. Tapi, aku tdak bisa menghentikan rasa penasaranku pada cewek itu. Kenapa dia  terlihat sangat angkuh? Bersikap jahat pada orang yang tidak berada dalam lingkaran pertemanannya? Ia juga seperti membangun tembok dari orang baru. Cewek itu berhasil menarik rasa penasaranku.

Beberapa menit yang lalu bel tanda istrahat selesai berbunyi. Aku dan teman-temanku berjalan ke arah kelas kami masing-masing. Mengikuti dua mata pelajaran di jam terakhir untuk hari senin ini.

Aku melangkah ke arah pintu rumahku. Mengetuk sekali di ikuti dengan ucapan salam yang aku ucapkan sebelum masuk ke dalam rumah. Aku bisa mendengar balasan salam dari arah ruang tengah. Aku menaruh sepatuku di rak sepatu dan melangkah ke ruang tengah. Ayah, ibu, dan adikku Lana tampak sedang menonton.

Ayah yang pertama kali melihatku. “Sudah pulang, Gi?.” Ayah melambaikan tangannya ke arahku untuk mendekat ke arahnya.

Aku mendekat ke arah ayah dan mengambil tempat di sampingnya. Ayah mengelus puncak kepalaku dengan sayang.

“Ganti baju, setelah itu makan ya, Gi. Kalau capek langsung istrahat sesudah makan. Belajarnya malam saja.” Ibu tersenyum ke arahku dengan Lana yang kini mendekap erat ibu.

“Ya, bu. Gi, gantian dulu.”

Aku bangkit dari dudukku dan melangkah menuju kamarku. Melakukan apa yang di ucapkan ibuku, setelahnya aku berbaring untuk mengistrahatkan tubuhku.

Advertisements

2 thoughts on “BACK IN TIME V

  1. mana cerita gina sama nathan nya kok masih blum berhubungan sih…
    Kayaknya bakalan panjang nie ceritanya…
    Tpi gpp d yach klnjutan nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s