1477864837489

TITLE : BACK IN TIME VI

CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN || OH SEHUN AS NATHAN REVALDI || SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN || KWON YURI AS GLADISA PRATIWI

OC     : FIND BY YOUR SELF

GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY 

DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

Selama enam hari berkutat dengan pelajaran dan tugas dari sekolah. Hari minggu adalah hari yang sangat berharga bagiku, aku tidak perlu bangun pagi untuk ke sekolah. Karena itulah ibu tidak membangunkanku, ibu mengerti aku pasti akan mengamuk jika harus bangun di bawah pukul sepuluh pagi.

Aku melangkah ke ruang tengah tapi aku hanya melihat Lana yang sedaang asik menonton acara tv kesukaannya. Kuedarkan pandanganku mencari keberadaan ayah dan ibu. Nihil. Mereka berdua tidak berada di ruangan.

“Lan, ayah ibu kemana?” tanyaku sembari mengambil langkah mendekat ke arah lana.

Lana menoleh ke arahku sekilas kemudian kembali fokus ke arah tv. “Ibu lagi keluar, ayah kayaknya lagi di ruang tamu deh.”

Aku hampir saja melempar bantal sofa yang aku pegang ke Lana karena sikapnya barusan. Dasar adik menyebalkan. Aku dan Lana memang jarang akur, aku tidak terlalu menyukai sifat Lana yang suka seenaknya selain itu dia juga kelewat  manja. Sering aku yang kena marah oleh ibu saat kami berdua bertengkar padahal Lana yang lebih dulu memulai. Kalau sudah begitu ayah pasti akan langsung membelaku. Aku memang lebih dekat dengan ayah, bisa di bilang aku anak ayah sedang Lana anak ibu.

Memilih untuk mengabaikan sikap Lana, aku ke ruang tamu dan melihat ayah yang sedang serius membaca koran hari ini di salah satu kursi. Aku mengambil duduk di samping ayah dan ikut melihat koran yang di pegang olehnya.

“Lagi baca berita apa, yah? Serius sekali.”

Ayah melirikku yang langsung aku berikan cengiran karena berhasil menarik perhatian ayah. “Kamu ini kebiasaan, kalau lagi ingin di perhatikan pasti ganggu terus kerjaannya.” Ayah menggeleng kepalanya di ikuti tangannya yang melipat koran yang di pegangnya.

“Ayah tahu aja,ehehe,”

“Kamu baru bangun? Pasti tidak salat subuh kan?”

“Salat, yah. Cuma abis itu balik tidur lagi.”

“Hmm,, anak gadis tidak baik tidur pagi, Gi.”

“Hm… Ayah, Gi kangen ayah.” Aku menghiraukan perkataan ayah karena pasti aku akan mendapat ceramah pagi dari ayah. Aku memeluk ayah yang di balas erat oleh ayah.

“Alasan lagi, Gi. Selalu pintar alihin pembicaraan. Ahaha.”

“Gi, memang kangen ayah. Sejak masuk SMP udah jarang kan manja-manja sama ayah.”

“Ahahaha,,, iya. Ayah juga kangen, Gi. Tapi, kan kamu masih ketemu ayah tiap hari di rumah, Gi.”

“Hmm…hmm”

Aku dan ayah menghabiskan waktu dan tenggelam dalam dunia ayah-anak. Aku mendengar cerita ayah dan ibu saat muda, curhat tentang tugas sekolah yang membuatku pusing, teman-teman baru yang aku dapat di sekolah menengah pertama, ayah bahkan bercerita tentang politik yang tentu saja tidak satupun yang aku mengerti. Aku sangat merindukan kegiatan seperti ini bersama ayah. Sejak aku mulai memakai seragam putih biru waktuku dan ayah berkurang. Aku terlalu asik dengan dunia baru dalam hidupku. Aku lebih sering berkumpul bersama teman-temanku.

Ayah sosok yang sangat berbanding terbalik dengan ibu. Ayah memiliki mata yang teduh dengan bola mata berwarna coklat sedang ibu memiliki mata yang tajam dan sipit dengan bola mata berwarna hitam. Ayah orang yang cukup pendiam beda dengan ibu yang cerewetnya mengalahkan tante Oky yang rumahnya berada di depan rumahku, tante Oky cerewetnya sama seperti laju kereta bawah tanah di Jepang. Terlebih jika ibu sedang mengomel, aku dan ayah hanya bisa menarik napas sedalam mungkin. Adikku memiliki pikiran lain dengan kami berdua, ia juga akan ikut mengomel dan menantang perkataan ibu. Tentu saja hasilnya bisa di tebak. Keduanya akan saling mengomel hingga ayah turun tangan.

Lana memang lebih mirip ibu, aku tentu saja mirip ayah. Tapi, aku tetap sayang pada ibu meski ia lebih condong menyayangi Lana. Jangan membayangkan hal dramatis, aku tidak seperti tokoh dalam sinetron yang di sukai ibu. Dimana aku menjadi anak teraniaya dan membenci ibuku. Aku tidak segila itu. Ibu tetap menyayangiku, aku bisa merasakannya.

 

 

<<<< 

 

Hari senin adalah hari yang menyedihkan untukku. Kenapa? Karena aku harus menghabiskan waktu istrahat sendiri di kantin. Ketiga cewek gila yang mengklaim diri mereka sebagai sahabatku, sekarang memilih untuk tidak ke kantin karena tugas mereka yang belum selesai.  Sedang dua cowok dengan kepribadian bertolak belakang tidak datang ke sekolah. Menyebalkan.

Aku sedang asik melahap bakso pak Umar ketika Nathan menghampiriku. Aku menengadah dan langsung bertatapan dengan kedua netra coklat miliknya. Nathan tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menatapku dengan pandangan yang tidak ku mengerti kemudian mengambil tempat duduk di depanku.

Aneh, aku bukannya keberatan dengan keberadaan Nathan hanya saja cukup aneh mengingat kami yang tidak terlalu dekat harus semeja berdua tanpa kehadiran teman-temanku yang lain. Biasanya jika Nathan bergabung bersama kami, ia lebih banyak berbicara dengan yang lain di bandingkan aku. Bukannya aku merasa minder, of course no!

Aku hanya sedikit pemalu untuk ukuran seorang anak perempuan. Jadi, dapat di pastikan atmosfer di sekitar kami berdua saat ini di penuhi dengan kecanggungan. Aku berusaha menghiraukan perasaan tidak enak dan memutuskan untuk berbicara pada Nathan yang terlihat tidak akan memulai pembicaraan.

 

“Ada apa?” aku melihatnya dengan pandangan bertanya.

“Ah,, aku hanya tidak sengaja melihatmu sendiri saat aku masuk ke dalam kantin, biasanya kalian selalu berenam, bukan?” jawab Nathan dengan senyum tipis kemudian tangannya bergerak mengusap punggung lehernya.

“Wah,, aku pasti terlihat sangat menyedihkan, ya. Lima orang itu sudah di culik alien,”

“Ahaha.. aku tidak bisa membayangkan alien seperti apa yang mau menculik Dika dan Juan. Well, tidak menyedihkan hanya saja agak aneh.”

“Alien yang sudah kehilangan kewarasannya, tentu saja. Tidak mungkin alien waras mau menculik makhluk yang lebih aneh di banding mereka.”

“Ahaha.. kau pandai melucu.”

“Ha?? Kau pasti memiliki selera humor yang aneh, Nathan.”

“Aku serius. Bagiku kau memiliki bakat membuat orang tertawa”

“No comment.”

 

Aku menghiraukan perkataan Nathan dan melanjutkan acara makanku yang tertunda. Alasan lain aku menghiraukan Nathan adalah karena aku dengan susah payah menyembunyikan warna merah yang menjalar di pipiku saat ini. Sial. Aku benar-benar malu. Baru kali ini ada yang memujiku dengan pujian seperti itu. Tunggu apa  maksudnya aku ini sudah sekelas dengan badut yang bisa membuat orang tertawa? atau komedian? Dang it.

Beberapa menit selanjutnya kami habiskan dengan kebisuan. Aku tidak berani mengangkat wajahku. Namun seberapa besarpun aku berusaha untuk menghindar agar tidak mengangkat wajahku tetap saja aku harus. Aku tidak mau di katakan cewek tidak tahu sopan santun karena tidak menghiraukan seseorang yang semeja denganku.

Aku mengangkat wajahku untuk melihat Nathan yang sepertinya memang sudah menungguku untuk melakukan hal tersebut. Aku melihatnya membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun sedetik sesudahnya ia membatalkan niatnya. Bodohnya hal itu membuatku penasaran tentang apa yang ingin di katakan Nathan padaku.

Aku yang memang lebih memilih malu di banding di buat penasaran, memutuskan untuk bertanya langsung pada si pelaku yang berhasil memancing rasa penasaranku.

“Ada yang ingin kau katakan?” tanyaku dengan ekspresi yang aku atur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu menunjukkan rasa penasaran yang berlebih.

Nathan terlihat terkejut dengan pertanyaanku di lihat dari matanya yang membulat dengan ukuran lebih dari biasanya. “A a itu, aku hanya ingin meminta nomor ponselmu,”

Aku belum mengatakan apa-apa tapi langsung di sambung Nathan dengan ekspresi panik, “Bukan berarti aku punya niat yang lain. Aku hanya ingin berteman lebih akrab denganmu, sama seperti teman-temanmu yang lain.” Saat mengatakan hal itu aku bisa melihat wajah Nathan yang memerah sama sepertiku tadi.

Apa ia malu? Apa ia berpikir aku menuduhnya dengan pikiran negatif? Wah, apa aku terlihat seperti itu? Menyebalkan.

“Tenang saja, aku tidak berpikiran aneh terhadap permintaanmu.”

“Baguslah” Nathan menghela nafas lega sesudahnya menyodorkan ponselnya kearahku. Aku mengambilnya dan menulis nomor ponselku.

 

 

<<< 

 

Aku sedang berbaring di kasur milikku saat nada dering ponselku berbunyi menandakan pesan masuk. Di layar ponselku muncul satu pesan dari nomor baru.

 

To        : Gi

From   : +6285342635951

 

Hi..

Sedang apa?

 

-Nathan

 

Well, its from Nathan guys. Cowok yang membuatku malu karena pujian anehnya padaku.

 

 

a/n hai ini chapter ke enam ya.. info juga buat kalian. aku mutusin buat gg ngeprotect chap 3 ya.. jadi yang berniat baca tapi gg bisa karena di protect sekarng udah bisa baca y..

 

13385615_102635506836006_382705369_n

Save

Advertisements