BACK IN TIME VII A

 

1477864837489

TITLE : BACK IN TIME VII A || CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN | OH SEHUN AS NATHAN REVALDI | SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN | KWON YURI AS GLADISA PRATIWI || OC     : FIND BY YOUR SELF || GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY || DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

Kelas kursus sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Untuk pertemuan pertama bu Lia memberikan kami materi tentang pembagian tenses. Hari ini kami khusus di beri materi present tense. Di tengah pembelajaran materi, pintu di ketuk dari luar oleh seseorang. Aku menoleh ke arah pintu dan terkejut melihat sosok seorang cewek memakai blus putih lengan panjang bercorak  dengan jins hitam juga jilbab senada dengan jins yang di pakainya.

“Assalamualaikum, miss. May i come in?” ucap G.

“Waalaikumsalam,” balas kami serempak.

“Waalaikumsalam. Sure, G. Come in.” Bu Lia tersenyum dan menyuruh G untuk masuk.

G masuk dan menyisir seluruh ruangan mencari tempat duduk. G memilih duduk di bangku yang berbeda satu bangku dariku. Melihat  G sudah mendapat tempat duduk, bu Lia melanjutkan penjelasan yang sempat di interupsi oleh kedatangan G. Entah kenapa aku merasa gugup. Fokusku terbelah karena kehadiran G. God. bahkan orang yang bersangkutan tidak sadar jika sudah membuat seseorang menjadi gugup.

Di pertengahan materi, bu Lia memberi materi percakapan yang di lakukan dengan berpasangan. Pembagian kelompok di atur berdasarkan tempat duduk. Aku tentu saja berpasangan dengan G. Aku tidak tahu apa itu anugrah atau kutukan. Aku akui G adalah partner yang akan kau pilih karena kemampuannya berbahasa inggris yang lebih baik dari teman sekelasku. Tapi, aku masih berpikir ulang untuk itu. Ayolah aku masih belum terbiasa dengan aura yang di keluarkan olehnya. Meskipun ia memang tidak seburuk yang di gosipkan. Tetap saja kami tidak pernah terlibat interaksi lebih dari sekedar senyum yang di lemparkan setiap berpapasan. Huh.

“Hey, Gina, bukan?”

Aku terkejut dengan sebuah suara yang berasal dari seseorang yang sejak tadi aku pikirkan. Jangan menyalah artikan kalimatku. Aku masih seorang cewek yang menyukai cowok. Memutar badanku ke arah samping di mana G sudah berpindah tempat duduk persis di bangku samping aku duduk. Aku bisa melihat senyum tipis di wajahnya, namun matanya melihatku dengan penasaran atau bingung? Tentu saja. Aku bertingkah konyol dengan melamun dan di buat terkejut hanya karena sebuah sapaan.

“Oh eh ya. Itu aku.” Aku memaksakan sebuah senyum.

“Kau keberatan jika menjadi partner bercakapku?”

“Tidak. Tentu saja tidak, bukannya memang seharusnya begitu? Kita berpasangan dengan teman di samping tempat duduk kita.”

“Good. Jadi kau ingin menjadi siapa? Mr. Jack atau Ms. Marry?”

“Aku boleh memilih?” Aku terkejut untuk kedua kalinya. Dia memberikanku pilihan untuk memilih.

“Tentu saja. Kau tidak berpikir aku akan melarangmu, bukan?” Ia menatapku dengan pandangan tajam juga menaikkans salah satu alisnya.

Uh Oh, apa aku baru saja menekan tombol untuk bunuh diri? Stupid Gi.

“Hey, are u okay?”

“Em, yes. Im okay. Aku pilih Ms. Marry.”

“Kay.”

Setelahnya kami berdua bercakap dengan suasana canggung. Aku sedikit minder pada G saat ia membaca dialog Mr. Jack. She’s good.  Sedang aku masih kaku dalam membaca bagianku. Waktu berlalu dan bu Lia menjadikan percakapan kami sebagai tugas.

Aku memasukkan bukuku ke dalam tas dan bersiap pulang.  Seseorang menepuk bahuku dan suprise orang itu adalah G.

“Kita lanjutkan besok. Aku harap kau sudah bisa menghafal dialog Ms. Marry.”

“Oh um, oke.”

Setelahnya G mengangguk sebagai balasan dan melangkah keluar dari kelas.

 

 

<<<<< 

Dua minggu berlalu dengan cepat setelah percakapan kami berdua. Aku merasa G lebih bisa di jangkau. Maksudku ia kelihatan lebih ramah di banding sebelumnya. Saat aku memberitahu kelima temanku tentang G yang ikut kursus yang sama denganku, reaksi mereka semua sama. Mata membelalak dan mulut terbuka  seperti ikan. Terlebih saat aku menceritakan tentang aku dan G yang bercakap. Wah, mereka bertingkah seperti nyawa mereka telah meninggalkan tubuh kelimanya.

Sedang aku, aku masih belum percaya bahwa dua minggu yang lalu aku berbicara dengan G untuk pertama kalinya. Woah. Cewek yang mengintimidasiku hanya dengan kehadirannya berbicara denganku. Reaksiku membuatku terlihat menyedihkan ya. Aku tahu.

Pagi tadi aku dan ketiga temanku di kejutkan dengan G yang menyapaku saat ia masuk kedalam kelas dan melihatku yang sedang bercanda dengan ketiga temanku. Ekspresi yang kami tampilkan sama persis dengan ekspresi saat aku menceritakan bahwa G ikut kursus yang sama denganku. Aku bersyukur cepat tersadar dan membalas sapaan G.

Hal itu membuat Dika dan Juan yang mendengar cerita kami pada jam istrahat melongo. Huh. Akhir-akhir ini kami selalu menampilkan ekspresi serupa dan itu semua karena G. Kami seperti seorang fans yang mendapat sapaan dari idolanya. Berlebihan. Yah, aku tahu.

Bel pulang berbunyi beberapa menit yang lalu. Aku dan kelima temanku kini berjalan bergerombol menuju pintu gerbang dengan saling mengejek satu sama lain. Sejujurnya aku masih belum sepenuhnya pulih dari kejutan yang lagi-lagi di lakukan G.

Beberapa menit sebelumnya.

Aku merapikan buku-buku pelajaran yang berada di atas mejaku. Ketiga temanku juga melakukan hal yang sama denganku, sebagian besar teman sekelasku sudah meninggalkan kelas. Hanya tinggal beberapa siswa termasuk aku dan ketiga temanku di dalam kelas.

“Gina” 

Aku menoleh ke sumber suara yang memanggilku dan melihat G yang berdiri di samping bangkunya dengan tas yang berada di bahunya sambil tersenyum tipis padaku.

“Ya?”

“Kau mau duduk satu bangku denganku di kelas kursus?”

Otakku blank. Aku kesulitan memproses apa yang baru saja di katakan G.

“Kau mengajakku duduk sebangku?” Aku memastikan jika aku tidak salah dengar.

“Ya. Kau mau? Atau kau keberatan? Aku hanya merasa kau partner yang baik di kelas kursus. Terlebih dalam percakapan, jika kau tidak mau tidak masalah.”

“A a tidak. Aku mau. Tentu saja. Aku senang kau mengajakku sebangku.”

“Owh. Baguslah. Boleh aku minta nomor ponselmu? Aku senang bisa berteman dan berbicara denganmu”

Aku terpaku di tempatku mendengar kalimat G. Apa G baru saja mengatakan aku adalah temannya? WOW.

Aku memberikan nomor ponselku pada G. Sesudahnya G keluar lebih dulu dari kelas setelah melempar senyum padaku dan ketiga temanku.

Aku berbalik dan melihat ketiga temanku di bangku mereka, aku juga sadar kehadiran Dika dan Juan di pintu kelas melihatku dengan ekspresi yang lebih menyedihkan di banding pagi tadi. Disana mereka menampilkan ekspresi yang membuat mereka hampir menjatuhkan rahang mereka juga bola mata yang terancam menggelinding keluar. Setelahnya berganti dengan melihatku seperti aku barus saja menumbuhkan satu kepala lagi.

 

Advertisements

2 thoughts on “BACK IN TIME VII A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s