1477864837489

TITLE : BACK IN TIME VII || CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN | OH SEHUN AS NATHAN REVALDI | SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN | KWON YURI AS GLADISA PRATIWI || OC     : FIND BY YOUR SELF || GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY || DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

“Hi, Gi,” sapa seseorang dari belakang tubuhku. Aku berbalik dan disana berdiri seorang cewek memakai seragam putih biru dengan jilbab berwarna sama dengan rok seragam sekolah.

“Hi,G.” Aku tersenyum pada G. Ya. Cewek yang barusan menyapaku adalah G. Cewek tukang bully yang selalu memancing rasa ingin tahu dariku. Aku yakin tanda tanya besar sekarang muncul di kepala kalian.

Hm. Aku bingung bagaimana memberi tahu kalian tentang keanehan seorang G yang menyapaku. Aku akan menyingkat kejadian yang bisa membuat aku dan dia bertegur sapa. Uhm. Kalimat yang sangat aneh jika harus di satukan dengan sosok G, bukan? Bertegur sapa.

 

Delapan Bulan yang Lalu

 

Libur akhir semester baru saja berakhir yang menandakan aku dan teman-temanku kini duduk di kelas 2 SMP. Waktu berlalu dengan cepat ya. Aku masih merasa menjadi seorang siswa baru di sekolah menengah pertama. Selama enam bulan duduk di kelas 1A, aku mendapat pengalaman yang beragam. Awalnya aku merasa risih sekelas dengan kelompok eksis which is G termasuk di dalamnya. Aku mengira aku akan berada dalam neraka ketakutan karena aura intimidasi kuat darinya. Aku selalu was-was apa aku atau ketiga temanku akan menjadi salah satu korban bully darinya. Nyatanya aku salah. Pernah dengar kalimat waktu berubah begitu juga dengan manusia?  Itu  terjadi pada G.

Aku tidak tahu apa yang membuatnya tidak membully orang lain lagi. Aku hanya tahu selama enam bulan sekelas dengannya aku tidak pernah melihat G  melakukannya. G, berbeda dari yang di ceritakan oleh Juan. Ia memang hanya dekat dengan teman di lingkarannya, namun ia juga kadang memberikan  senyum tipis  pada kami dan teman sekelas yang lain jika berpapasan dengannya. Ia juga tidak dingin dan pendiam. Ia malah sangat talk active yang membuat aku dan ketiga temanku terkejut saat ia selalu membuka mulutnya untuk mengajak temannya berbicara.

Jadi, aku dan ketiga temanku memutuskan G adalah cewek yang cukup baik. Tidak mengerikan seperti kesan pertama yang ia tampilkan pada kami. Karena itulah aku melewati hari-hariku selama enam bulan dengan sangat baik. Terlebih kami juga cukup akrab dengan kelompok eksis. Dika dan Juan yang selalu menjadi pendengar baik tentang apa yang terjadi selama sekelas dengan G, cukup terkejut. Namun, mereka tidak bisa menampik jika mereka ikut senang karena itu berarti mereka berdua tidak perlu mencemaskan kami. Owhh, have i told you that i love both of them so much. 

Karena kami sekarang duduk di kelas dua. Aku sadar bahwa ketertarikanku pada pelajaran bahasa inggris sangat kuat. Karena itulah aku ikut mendaftar pada kursus yang di buka ibu Hasnalia yang memegang pelajaran bahasa inggris di kelasku. Aku menyukai cara ibu Lia mengajar. Aku dapat dengan mudah memahami apa yang di ajarkan olehnya.

Ada beberapa teman sekelas yang ikut kursus bersamaku. ibu Lia menempatkan aku dan teman sekelasku dalam kelas berbeda dengan siswa kelas lain yang juga kursus padanya. Aku tidak tahu jika salah satu teman sekelas yang kursus pada ibu Lia adalah G.

Aku mengira ia tidak tertarik sama seperti teman-temannya di kelompok eksis. Aku harus memberitahumu, aku rasa G tidak memerlukan kursus. Fod God Sake, dia itu sudah seperti kamus berjalan. Karenanya aku sangat terkejut saat melihatnya masuk ke kelas kursus khusus untuk siswa kelas 2A sore itu.

Hal yang tidak pernah terlintas di pikiranku adalah aku dan G akan menjadi teman dekat. “close” dan “G” adalah kata asing untukku. Aku salah. Aku dan G benar-benar dekat karena kursus bahasa inggris.

Ketiga temanku bahkan hampir membuat rahang mereka jatuh juga bola mata yang terancam menggelinding keluar karena melihat G yang menyapaku saat pagi hari dua minggu setelah kursus. Pada waktu pulang sekolah ia meminta nomor ponselku dan mengajakku untuk duduk bersama saat di kelas kursus nanti.

Di banding ketiganya, aku bahkan ingin menampar diriku berulang kali untuk membuatku sadar jika  semua itu hanya mimpi. Namun, tidak. Semua itu nyata. Aku di integorasi ketiga cewek berisik  juga dua cowok yang melihatku seakan aku baru saja menumbuhkan satu kepala lagi.

G memang dekat denganku karena kursus itu berarti ia juga dekat teman sekelasku yang lain dalam kelas kursus. Yah, meski tidak sedekat aku. Aku tidak tahu apa yang membuat aku menjadi berbeda dengan yang lain. Sejujurnya aku sedikit risih berdekatan dengannya dalam konteks teman dekat. Namun, semua itu hilang setelah satu bulan kursus. Aku merasa nyaman dan senang dengan G. Dia benar-benar orang yang berbeda.

Di banding Lisa yang aku kenal sejak sekolah dasar. Entah mengapa aku seperti mendapati diriku lebih bisa berekspresi bebas pada G. Aku bisa menjadi seorang drama queen saat bersama G. Dua bulan kursus, aku seakan sudah mengenal G sejak lama. Aku dan G menjadi duo berisik di kelas. Kadang kami menerapkan hasil kursus kami dengan membuat talk show palsu di kelas saat waktu istrahat tiba. Dimana teman sekelas akan menonton kami yang sedang berbicara menggunakan bahasa inggris. Bulan ketiga, G memintaku untuk duduk bersamanya di kelas. Kali ini membuat teman sekelas kami terkejut. Pasalnya pengaturan kursi kelas di khususkan untuk satu orang. Yah, sepertinya itu tidak berlaku jika kelompok eksis sudah mengubahnya. G dan teman-temannya membuat peraturan itu berubah. Kebetulan meja G dan aku bersebelahan. Kami berada di baris depan. Aku lupa memberitahu kalian bahwa Lisa, Hana, dan Widya sekarang dekat dan bahkan sudah termasuk dalam kelompok eksis begitu juga aku, karena aku berteman dekat dengan G saat ini.

Perubahan yang cukup besar bukan?

Baiklah. Flashback berakhir, sekarang kita bisa kembali di saat aku dan G berbicara. Aku sudah memberitahumu alasan seorang G menyapaku.

 

<<<< 

 

Aku memperhatikan G yang menaruh tasnya di bangku miliknya. kemudian menghadapkan badannya ke arahku yang duduk di sebelahnya. Aku menaikkan salah satu alisku melihat ekspresi wajahnya.

“Kau sudah mengerjakan tugas matematika?”

“Belum, aku sedikit kesulitan di beberapa nomor. Kau?”

“Aku juga. Ugh. Aku kira kau sudah menyelesaikannya.” Ia menghela napas dengan gaya dramatis yang membuatku memutar bola mataku. G terkekeh melihatku.

Ia tiba-tiba memutar badannya ke meja Melly yang duduk di belakang kami. Aku khawatir pinggangnya akan patah. Melly yang melihat G juga sama terkejutnya denganku melihat manuver G. Melly juga salah satu teman sekelas kami yang ikut kursus pada bu Lia. Ia juga menjadi salah satu siswi yang cukup dengan G saat ini. Di hadapan Melly, G  bertingkah seperti seorang anak kecil karena pembawaan Melly yang cukup dewasa dari teman sekelas kami. G seperti seorang adik kecil bagi Melly.

“Ada apa, G? Kau sebaiknya memeriksa pinggangmu. Aku takut pinggang kecilmu patah,” ejek Melly.

“Kau meledekku, cih. Aku melepasmu kali ini, Mel. Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?”

“Matematika? Sudah. Kau mau melihatnya?”

“Tentu saja.”

“Ini. kembalikan padaku jika kau selesai.”

“Siap.”

G mengambil buku yang di berikan Melly kemudian mulai menyalin tugas. Aku hanya memperhatikannya yang terlihat serius.

“Sebaiknya kau juga ikut menyalinnya, Gi.”

Dengan itu aku langsung mengambil polpen dan bukuku dan ikut menyalin tugas yang harus kami kumpulkan di jam pertama.

 

<<<

 

Waktu berjalan begitu cepat. Banyak kejadian yang aku alami bersama kelima temanku. Ah, aku seharusnya menambahkan satu orang lagi. Kalian masih ingat pada cewek yang menjadi orang  yang aku khawatirkan akan menjadikanku salah satu objek bully baginya? Cewek misterius yang malah menawarkan pertemanan padaku. Cewek yang menjadi teman dekatku lebih dari Lisa yang telah aku kenal sejak sekolah dasar. Aneh? Mungkin saja.

Sekarang kami tengah berada di lapangan sekolah. Kami sedang mengikuti pelajaran olahraga. Hari ini kami akan praktek lari estafet atau lari sambung. Kami di bagi dalam enam kelompok yang terdiri dari empat orang tiap kelompok.

Jujur saja aku cukup nervous. Olahraga bukanlah salah satu hal yang aku sukai. Terlebih karena sekarang kami sedang berada di lapangan sekolah. Hal itu membuat kami pasti akan di perhatikan siswa kelas lain yang sedang tidak dalam proses belajar mengajar. Oh God.

Kelompokku mendapat giliran pertama bersama dua kelompok lainnya. Aku, Widya, Hana berada dalam satu kelompok bersama Reza. Dua kelompok lainnya adalah kelompok Shinta juga kelompok G. Aku , G, dan Shinta adalah pelari pertama dari kelompok kami. Aku berdiri di samping G.

“Gugup, eh?” G mellirik ke arahku dengan seringai mengejek. Baru saja aku ingin membalas perkataannya ia sudah berbicara kembali.

“Tenang saja. Kau hanya perlu berlari menuju Hana dan menyerahkan tongkat yang kau pegang. Setelahnya kau bisa bergabung dengan teman-teman yang lain. Aku juga gugup, kau  tahu aku tidak terlalu suka lari.” G tersenyum lebar padaku setelahnya.

Yah, inilah G yang aku kenal selama beberapa bulan aku dekat dengannya. Ia akan mengeluarkan kalimat sarkas dan mengejek kemudian di ikuti kalimat menenangkan. Unik. Dia cewek dengan kepribadian yang unik.

Guru kami, pak Hendra dalam pakaian olahraganya kini berdiri di samping Shinta. Memberikan kami arahan apa yang harus kami lakukan. Setalahnya ia meniup peluit yang menandakan kami harus mulai berlari. Aku berlari secepat yang aku bisa. Aku tidak perduli dengan sekelilingku yang aku perdulikan aku harus berlari cepat kemudian menyerahkan tongkat pada Hana. Aku mendengar suara berisik, awalnya tidak terlalu jelas olehku. Baru setelah aku memberi perhatian lebih pada suara yang rupanya adalah teriakan orang-orang yang memanggil namaku.

Ah, mereka pasti sedang menjadi pendukungku. Huh. Ternyata aku cukup terkenal dalam kelasku. Tapi, tunggu. Ada yang salah disini, kenapa aku melihat  Widya berlari ke arah Reza yang merupakan pelari terakhir kami? Juga aku baru menyadari jarak yang aku tempuh menuju pelari kedua lebih jauh dari yang aku perhatikan sebelum kami mulai.

Aku memelankan lariku, saat itulah aku mendengar teriakan G yang menyuruhku untuk kembali. Suara melengking Lisa juga Naya yang sedang tertawa. Juga suara teman-teman sekelasku yang lain. Otakku berpikir cepat memproses apa yang sedang terjadi. Sayangnya aku tidak cukup cepat dalam berpikir. Saat sebuah kesadaran menamparku, aku sudah bertemu Reza dan dua orang dari kelompok lain yang merupakan pelari terakhir. Mereka berlari ke arah garis finis. Karena malu aku memutar badanku dan berlari lebih cepat dari yang sebelumnya meninggalkan ketiganya menuju garis finish.

 

<<<<< 

 

Sial, sial, sial. Aku benar-benar malu saat ini. Oh Tuhan, mau taruh dimana mukaku? Apa yang aku pikirkan hingga berlari berlawanan arah dari yang sudah di tetapkan? Bukannya menuju pelari kedua aku malah berlari menuju ke arah pelari terakhir.  The hell.

Hana bahkan harus di bawakan tongkat lain yang di beri pak Hendra karena ulahku. Parahnya hampir semua kelas melihatku karena suasana heboh yang berasal dari teriakan teman-teman sekelasku. Aku bahkan dicap gila oleh pak Hendra. Hurt. Meski aku tahu itu karena pak Hendra kesal, karena setelahnya aku bisa melihat senyum yang tidak bisa lagi di tahan oleh pak Hendra.

 

—–

 

“Hahahaha… astaga, aku tidak bisa lupa ekspresi wajah Gi saat berlari. Penuh dengan konsentrasi tinggi. Nyatanya ia salah tempat. Oh gosh.” G tertawa dengan suara yang membuat telingaku sakit. Ia dan Lisa sejak tadi tidak berhenti tertawa.

Aku juga bisa melihat Widya, Hana, Juan, dan Dika tertawa meski tidak berlebihan seperti dua cewek kejam di sampingku. Kami sedang berada di kantin di jam istrahat pertama.

“Aku bahkan ingin tertawa jika saja tidak mengingat aku harus memberikan tongkat pada Reza.” Widya terkekeh melihatku dengan gelengan kepala.

“Apa kau tidak melihat wajah Reza saat melihat Gi yang berlari lebih cepat melewati mereka?”

“Hana benar. Poor boy, Reza benar-benar syok karena kecepatan lari Gi. Ia bahkan menghentikan larinya. Ahahahha…”

Begitulah, mereka menjadikanku bahan lelucon sehari penuh. Bahkan G menjadikanku bahan tertawaan untuknya selama seminggu penuh. Juga bulan-bulan berikutnya saat ia tidak sengaja mengingat kejadian memalukan yang menjadikanku tokoh utama. Tenggelamkan adek di rawa-rawa bang.

 

A/N hai, aku bawa ff ini dengan dua bab aku jadiin satu, chapter ini gabungan dari bab 7 dan 8 ya, tapi aku mutusin buat gabungin. aku sengaja gabungin, cause bab 8 nanti aku usahain munculin momen Gina dan Nathan lebih banyak lagi.  hari ini aku juga bakal publish chapter 7 kecil. Di chapter itu aku gambarin bagaimana Gladis dan Gina bisa akrab. bonus picu suami ketjeh nae .. lol

10-sehun-hd

Save

Advertisements