BACK IN TIME VIII

1477864837489

TITLE : BACK IN TIME VIII || CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN | OH SEHUN AS NATHAN REVALDI | SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN | KWON YURI AS GLADISA PRATIWI || OC     : FIND BY YOUR SELF || GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY || DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

Aku mematut diriku didepan cermin yang berada didalam kamarku. Hari ini aku mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana denim hitam, rambut sepunggung milikku kubiarkan tergerai dipunggung. Aku menatap puas pantulan diriku yang ditampilkan cermin dihadapanku.

yoonacrop

Jujur saja aku gugup juga dihinggapi rasa bingung yang sedari tadi menggantung dibenakku. Aku tidak tahu alasan Nathan mengajakku keluar dihari sabtu malam. Ia hanya menanyakan apa aku sibuk diwaktu itu, saat aku membalas pesannya dengan mengatakan aku tidak sibuk, ia tidak memberiku balasan lagi. Setelah lewat 20 menit satu pesan masuk yang ternyata adalah pesan yang dikirim Nathan. Ia mengajakku untuk keluar, bingung? Tentu saja. Ia tidak mengatakan padaku maksud ajakannya.

 

Tok tok

Ketukan dipintu kamarku yang kemudian disusul dengan kepala ibuku yang muncul diantara celah bukaan pintu.

“Gi, temanmu bernama Nathan datang. Ia menunggumu dibawah, kau ada janji dengannya?” tanya ibuku.

“Ehm, iya bu. Nathan memintaku menemaninya kesuatu tempat, tidak mengapa?” aku terpaksa berbohong tentang alasan Nathan mengajakku keluar.  Bahkan aku tidak tahu alasan ia mengajakku.

“Baiklah. Kau boleh pergi, tapi jangan kelamaan. Kalian sudah harus pulang jam 9, ya.” Aku mengangguk  sebagai jawaban untuk ibu.

Aku melihat diriku sekali lagi sebelum aku keluar kamar menyusul ibu yang telah berjalan terlebih dahulu. Diruang tamu ada ayah yang duduk dikursi yang berhadapan dengan Nathan. Aku bisa melihat ayah yang menatap Nathan dengan pandangan menyelidik dan Nathan yang hanya membalas tatapan yang ditujukan padanya dengan senyum ramah miliknya. For God Sake.

Ayah benar-benar bertingkah berlebihan. Aku mempercepat langkah kakiku mendahului ibu dan tiba didekat kursi yang sedang ayah duduki. Ibuku yang tiba setelahku mengambil tempat disebelah ayah.

“Ayah, dia Nathan, teman sekolah Gina.” Aku memperkenalkan Nathan pada ayah.

“Ayah sudah tahu, kalian jangan pulang malam. Jam 9 kalian sudah harus pulang.” ayah mengulang perkataan ibu.

Wah ayah mengizinkan? Apa yang sudah dikatakan Nathan hingga ayah memberiku izin? Kedua orang tuaku adalah tipe yang sangat susah untuk membiarkan kami keluar malam, jika bukan untuk hal yang penting. Karena itulah aku dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan ayah barusan.

Aku menaikkan alisku sembari menatap Nathan. Ia kembali menjawab pertanyaan tidak terucapku dengan senyumnya. Lelaki ini sepertinya sangat suka tersenyum. Untung saja wajahnya yang tampan membuat senyumnya membuat ia terlihat lebih tampan. Eh? Apa aku baru saja memuji Nathan. Lagi-lagi aku terkena sindrom Nathan.

“Baiklah. Kalau begitu, aku dan Nathan jalan dulu, ayah, ibu. Assalamualaikum.” Aku mencium tangan ayah dan ibu. Kemudian berjalan menuju pintu depan. Aku tidak merasakan keberadaan Nathan dibelakangku. Jadi, aku berbalik dan mencari Nathan.

Gotcha, disana beberapa langkah dibelakangku. Nathan sedang mencium punggung tangan ibu dan ayah seraya berpamitan pada keduanya. My gosh, he must be kidding me right?. Aku speechless.

Untuk ukuran anak laki-laki sekarang Nathan adalah spesies langka. Aku yakin sangat sedikit dari teman sebaya kami yang berjenis sama dengannya masih melakukan hal yang dilakukan Nathan.

Untuk hal itu aku merasa ada perasaan aneh saat melihatnya. Hingga saat Nathan berada dihadapanku, aku masih belum bisa terlepas dari efek terkejut. Nathan menatapku dengan ekspresi bingung.

“Ada apa?”

“Oh um. Tidak mengapa. Ayo.”

Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku dibuat terpesona atas kesopanan yang dimilikinya bukan. Wait, apa aku baru saja terpesona olehnya? Wth, Gina!

Kami berada didepan motor milik Nathan. Ia berada didepanku berdiri membelakangiku. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya kearahku, aku yang tidak menyangka akan manuver yang dilakukan Nathan dibuat kaget hingga tubuhku mundur beberapa langkah. Shit, apa-apaan Nathan.

“Gi, kau baik-baik saja? Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.” Ia bergerak kearahku yang aku hentikan dengan mengangkat telapak tanganku kearahnya.

Yah, kau tidak bermaksud mengagetkanku. Tetap saja kau melakukannya. Ck. “Aku baik-baik saja. Jadi, ada apa dengan gerakan tiba-tibamu tadi?”

“Ah, itu. Aku baru sadar kau tidak menggunakan jaket. Aku ingin menanyakan apa kau tidak ingin memakai jaketku?” ia mengatakannya dengan kepala tertunduk dan matanya sesekali melirik kearahku.

Eh???? Ada apa dengan sikap malu-malu kucing yang dilakukan Nathan?

“Hmm.. tidak usah. Kau saja yang pakai.”

“Tapi baju yang kau kenakan tidak cukup tebal, Gi. Tolong pakai saja jaket milikku. Baju yang aku kenakan cukup tebal. Kau tenang saja jaketku tidak berbau, terakhir aku cek, aku tidak memiliki bau badan”

“AHAHAHAHA” God. Nathan benar-benar spesies langka diantara sekian banyak laki-laki. Aku bukannya takut jika dia memilki bau badan. Hanya saja aku tidak nyaman memakai baju lelaki yang bukan keluargaku. Ah, tidak. Bahkan baju sepupu laki-lakiku saja tidak pernah aku pakai.

Karena tidak ingin membuatnya semakin malu, aku memilih menengadahkan telapak tanganku kearahnya. Sesaat ia melihatku dengan tatapan tidak mengerti sebelum sedetik kemudian pemahaman muncul dibenaknya.

Ia membuka jaket yang dipakainya kemudian memberikannya padaku. Harum parfum yang digunakan Nathan menyeruak mengisi rongga hidungku. Wangi mint yang menenangkan menyambutku. Membuatku nyaman memakai jaket miliknya. aku penasaran dengan merek parfum yang digunakannya.

Nathan naik kemotornya dan menstater kendaraan roda dua miliknya dan menyuruhku naik. Sebelumnya ia menyuruhku mendekat kearahnya, ia mengambil helm lain yang dibawanya kemudian memasangkannya padaku. Jantungku. Organ malangku itu berdegup dengan kecepatan yang tidak biasa. Ia menggila didalam sana, memukul-mukul dadaku seakan ingin keluar. Sial. Nathan dan aroma tubuhnya juga kedekatan kami saat ini adalah hal yang mematikan dan terlarang untukku.

Nathan tersenyum selesai memakaikan helm padaku. Aku yang masih belum sepenuhnya bisa mengendalikan kesadaranku bergerak untuk naik keboncengan motor. Motor Nathan melaju membelah malam dengan keheningan yang mengisi diantara kami berdua.

 

30 menit kami berkendara dan aku masih belum tahu kemana Nathan akan membawaku. Aku sudah mendapatkan kembali kesadaranku beberapa menit yang lalu. Aku berjanji tidak akan terjebak situasi seperti tadi. Aku tidak ingin merasakan perasaan aneh yang menyelinap masuk dalam hatiku. Aku merasa asing dengan perasaan itu, dan semua yang berbau asing untukku adalah hal yang tidak aku sukai.

Nathan baru menghentikan motornya didepan salah satu tempat makan yang berada didaerah kami. Kami berdua turun dari motor, melepas helm masing-masing dan berjalan masuk kedalam.

Ia memilih tempat duduk yang berada dipojok ruangan. Aku dan dia duduk berhadapan. Seorang pelayan wanita mendatangi meja kami, menanyakan pesanan kami dan kemudian meninggalkan kami.

“Jadi, kau mengajakku keluar malam ini untuk makan?” aku langsung mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi berada dalam benakku.

“Ya dan tidak.”  Jawab Nathan

“Maksudmu?”

“Ya aku mengajakmu makan, tapi bukan cuma untuk itu. Aku ingin berbicara berdua denganmu, Gi. Biasanya kau selalu bersama Juan dan yang lainnya. Aku hanya ingin lebih akrab denganmu.”

Wah, alasan yang cukup aneh. Namun aku tidak ingin menggali lebih jauh. Tidak. Aku tidak ingin mengetahuinya dan menemukan diriku kembali berhadapan dengan perasaan asing yang aku rasakan tadi.

“Well, kalau itu maumu. Uhm.. aku masih penasaran dengan alasan yang kamu berikan pada ayah. Ayahku adalah orang yang cukup protektif.”

“Aku hanya mengatakan ingin mengajakmu makan. Itu saja.”

“Tidak mungkin. Aku tidak percaya hanya karena alasan seperti itu bisa melunakkan ayahku.”

“Aku tidak bohong, Gi. Awalnya ayahmu memang tidak percaya, tapi aku mengatakan dengan jujur aku tidak punya niat lain. Ia menatapku beberapa lama, kemudian baru menganggukkan kepalanya.”

Aku dibuat tidak percaya olehnya. Nathan benar-benar membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Setelah proses integorasi yang aku lakukan padanya, kami berdua bercerita hal lain sambil menunggu makanan pesanan kami.

Aku baru mengetahui bahwa Nathan menyukai anime One Piece. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Nathan lebih menyukai pelajaran olahraga dibanding pelajaran lainnya. Terakhir ia adalah orang yang sangat suka tersenyum. Hm..

Malam itu Nathan banyak membuatku tertawa dengan cerita konyol teman sekelasnya, terutama kedua teman sablengku yaitu Dika dan Juan. Ia juga bercerita tentang kesehariannya dilingkungan rumahnya.

Aku yang entah bagaimana terbawa suasana yang dibuat Nathan. Aku ikut menceritakan tentang teman-temanku. Kejadian saat olahraga dimana aku menjadi objek bulli G dan lainnya karena kecerobohanku. Adikku Lana yang sangat manja dan kedua orang tuaku yang memiliki sifat bertolak belakang namun terlihat romantis bagiku.

Aku kembali kerumah tepat pada pukul 21:00 WITA. Malam itu aku tertidur dengan senyum yang tidak aku sadari terukir dibibirku.

 

 

.

.

.

.

 

Save

Save

Advertisements

3 thoughts on “BACK IN TIME VIII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s