BACK IN TIME

1477864837489

TITLE : BACK IN TIME IX || CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN | OH SEHUN AS NATHAN REVALDI | SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN | KWON YURI AS GLADISA PRATIWI || OC     : FIND BY YOUR SELF || GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY || DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

Tahun ke tiga sebagai siswa sekolah menengah pertama membuatku semakin fokus pada pelajaran. Aku tentu saja terkena penyakit panik yang di alami setiap siswa di tahun akhir yang akan mengikuti ujian nasional. Waktu benar-benar berputar dengan cepat.

Akhir-akhir ini ada sesuatu  yang menggangguku, sesuatu itu berwujud seseorang, tepatnya seorang cowok bernama Nathan.

Nathan, entah kenapa mulai bersikap aneh. Dia mulai sering terlihat bersama Juan dan Dika. Bukan berarti itu menjadi hal yang patut di sebut aneh, hanya saja ia kini lebih sering menghabiskan waktu bersama kami. Dulu, ia tidak seperti itu.

Awalnya aku menganggap itu adalah sesuatu yang biasa sebelum aku melihat senyum aneh yang di lemparkan temanku setiap Nathan mengajakku berbicara.

Deheman dari salah satu di antara mereka berenam di waktu Nathan menawarkan untuk memesankan makanan ketika kami berkumpul di salah satu cafe saat kami menghabiskan waktu bersama.

Juga pesan dan panggilan yang di lakukan Nathan di hampir setiap waktu, perhatian Nathan, sorakan teman-teman sekelas dan teman Nathan, bisikan yang di tujukan pada kami setiap melihat Nathan menghabiskan waktu istrahat di kantin bersamaku dan ke enam temanku yang lain.

Itu semua berubah menjadi hal yang mengganggu untukku. Hey! Ayolah, jangan mengataiku berlebihan. Aku hanya tidak suka di perlakukan seperti itu.

Puncaknya adalah saat aku sedang duduk di kelas saat waktu istrahat. Aku memutuskan untuk tidak ke kantin. Aku ingin menjauh dari beberapa hal yang selalu aku alami akhir-akhir ini. Lisa, Widya, Hana, dan G, ikut menemaniku.

Aku sedang menertawai tingkah konyol Lisa ketika Nathan terlihat dalam pandanganku sedang berdiri di depan pintu kelas. Matanya bertemu dengan milikku, aku melihat senyumnya yang selalu membuat aku gugup.

Sadar akan kediamanku ketiga temanku mengikuti arah pandangku. Kemudian mereka mulai tersenyum menyebalkan seperti yang biasa mereka lakukan saat Nathan ada bersama kami.

Nathan mulai berjalan ke arah kami dan berhenti tepat di depan mejaku. Aku mendongak untuk menatapnya dan memberikan padangan bertanya. Ia hanya tersenyum kembali sebagai respon atas pertanyaan non verbalku.

Meski tersenyum aku sadar ada hal lain yang terlihat dalam pandangan Nathan, seperti ada yang menganggunya. Aku tidak tahu apa yang menganggunya hingga membuat senyumnya tidak sempurna seperti biasanya.

“Gi,  ada yang ingin aku katakan. Bisa ikut denganku sebentar?” Nathan mengucapkannya masih dengan senyuman tidak sempurna miliknya. Matanya melihat ke arah lain saat mengatakan ingin berbicara denganku.

“Ada apa? Apa hal itu tidak bisa kamu katakan disini?”

“Disini?! Um, well, maaf. Tidak bisa Gi.” Aku tersentak dengan Nathan yang menaikkan satu oktaf nada suaranya.

What the hell. Nathan benar-benar bertingkah aneh. Aku masih memikirkan tingkah aneh Nathan saat aku merasakan tepukan di bahu kananku. Aku menoleh dan mendapati Lisa yang sedang menatapku balik.

“Pergi saja, Gi. Aku yakin Nathan ingin  mengatakan sesuatu yang penting. Itu tidak akan menyita banyak waktumu,” ucap Lisa yang di angguki ketiga temanku.

Aku menghela nafas dan kembali menatap Nathan yang masih berdiri di depan mejaku. “Baiklah.” Aku bangun dari posisi dudukku dan mengikuti Nathan yang berjalan di depanku.

Kami menuju ke arah taman belakang yang sangat jarang di datangi siswa di sekolah kami. Aku mengernyit saat menyadari tempat yang kami datangi. Hal seperti apa yang membuat Nathan mengajakku kemari?

Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanku barusan. Nathan menjawabnya dengan ia yang tiba-tiba berbalik dari posisi awalnya berdiri memunggungiku menjadi berhadapan denganku. Hal itu sukses membuatku terkejut.

Ia mengikis jarak denganku hingga hanya menyisakan dua langkah dariku. Tingkahnya membuat jangtungku berdetak tidak normal.

Jangan berpikir ini adalah detakan seperti yang di alami sang tokoh wanita di dalam novel roman ketika tokoh pria melakukan hal yang di lakukan Nathan padaku, yang aku rasakan adalah rasa takut.

Pikiran buruk menerjang masuk ke dalam otakku. Tanpa sadar aku memundurkan tubuhku menjauhi Nathan. Sialnya saat aku melakukannya Nathan juga ikut memajukan tubuhnya hal itu membuat ketakutanku kini mulai tersisihkan di ganti dengan rasa jengkel.

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan, Nathan?” Aku memandangannya dengan tajam.

“Bisa kau berhenti untuk terus memundurkan tubuhmu? Aku tidak akan melakukan sesuatu yang jahat padamu, Gi.” Nathan menatapku dengan lembut yang membuatku mengikuti perkataannya.

“Bagaimana aku tidak berpikir buruk. Sikapmu yang tiba-tiba berbalik dan berada terlalu dekat denganku membuatku takut, bodoh.” Aku mendengus ke arahnya.

Ia menatapku dengan pandangan terkejut sepeti baru di sadarkan dari lamunannya. “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Ia tersenyum kecut dan mengusap tengkuknya. Hal yang selalu di lakukan Nathan jika sedang malu.

Eh? Malu? Hm… sepertinya aku baru saja membuatnya malu. Huh, salah sendiri tiba-tiba bertingkah aneh. Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai tanda aku mengerti.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Ah itu…”

Nathan terdiam cukup lama sembari menatapku dengan lembut dan senyum sempurna miliknya di tambah dengan lesung pipinya membuatku bersemu.

Perasaan aneh merayap kedalam tubuhku. Aku merasakan hal aneh setiap melihat senyum Nathan. Perasaan yang masih membuatku bingung dengan arti keberadaannya.

Aku mengalihkan pandanganku dari senyum Nathan ke mata miliknya. Salah besar. Aku justru mendapati diriku terseret ke dalam pusaran netra cokelat muda yang menghipnotisku untuk tetap menetap disana. Pengaruh hipnotis Nathan padaku buyar dengan kalimat yang di ucapkan Nathan padaku.

Would you be mine, Gina Larasati Hadrian?”

Aku di buat terkejut untuk ke dua kalinya. Aku menatap kosong ke arahnya sebelum rasa jengkel menggantikan perasaan asing yang tadi aku rasakan.

Entah kenapa aku di buat jengkel atas apa yang di katakan Nathan. Aku bukannya tidak mengerti apa maksud yang baru saja di ucapkan olehnya. Aku hanya tidak nyaman dan itu sukses membuatku jengkel.

“Kau? Kau serius mengatakan itu padaku?”

“Ya. Aku serius. Jadi?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Nathan, aku malah berbalik dan bersiap meninggalkan taman ketika aku mendapati beberapa pasang mata sedang memperhatikan kami berdua.

Ketika mereka menyadari aku melihat mereka. Sosok-sosok itu mulai memunculkan diri dari balik tembok gedung yang membelakangi taman ini.

Aku mengenali beberapa diantaranya, tentu saja. Mereka adalah teman-temanku dan lainnya aku yakini adalah teman Nathan. Damn!

Rasa jengkelku berubah menjadi amarah saat mereka mulai tersenyum kemudian berubah menjadi tawa tertahan.

Apa mereka pikir aku lelucon? Aku melangkah cepat menuju ke arah mereka dan berhenti untuk melayangkan pandangan membunuh, kemudian meninggalkan taman dan orang-orang idiot di belakangku.

 

 

cut

 

a/n

Halo.. aku kambek lagi dengan lanjutan Gina-Nathan.. maaf kalau udah lama baru bisa update lagi.. nae nampyeon sehun as nathan ^^

8

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s