hatred-cover1

Title : Hatred (I Dont Need You)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

Seorang gadis dengan gaun hitam satin sepanjang lutut, bergerak menuruni tangga menuju ruang makan di lantai satu.

Saat memasuki ruang makan semua mata orang-orang yang lebih dulu mengisi ruangan itu tertuju padanya. Ia menghiraukan tatapan yang dilayangkan pada dirinya, bergerak dengan langkah tegas dan dominasi yang kental keluar dari dirinya. Menarik kursi yang berada diujung kiri meja makan jauh dari kursi yang diduduki seorang pria paruh baya berumur 40-an.

Di sampingnya duduk seorang laki-laki yang memiliki wajah sangat mirip dari pria yang merupakan kepala keluarga di rumah itu, ia bisa dikatakan sebagai versi muda darinya. Laki-laki itu menunjukkan raut wajah terganggu karena munculnya gadis di sampingnya. Laki-laki yang berada diumur 22th yang merupakan anak tertua dalam keluarga tersebut melirik sekilas padanya kemudian melanjutkan makannya.

Di  samping kanan dekat dengan si pria paruh baya, duduk seorang wanita dengan umur yang sama dengannya, disusul seorang gadis lainnya yang setahun lebih tua dari gadis bergaun hitam, keduanya melemparkan pandangan jengkel padanya.

Sedang sang kepala keluarga memandangnya dengan pandangan datar, mengamati setiap gerakan yang dilakukannya dari mengambil roti untuk dimakannya hingga ia menandaskan minumannya.

Pria paruh baya itu tampaknya tidak berniat lagi melanjutkan sarapannya. Segera setelah ia melihat gadis yang duduk di ujung kiri meja menyelesaikan sarapannya, ia mulai mengeluarkan suaranya.

“Kau berniat berniat menerima beasiswa dari Liverpool John Moores University?” tanya pria paruh bayah yang entah sejak kapan tidak diakui ayah lagi oleh gadis yang menjadi subjek pembicaraan. “Kau juga  memilih jurusan Business and Public Relations?”

Pertanyaan itu menjadi tanda yang menghentikan segala aktivitas di meja makan. Kini semua pandangan kembali tertuju pada gadis bergaun hitam yang tidak segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya, melainkan menatap langsung tepat dikedua mata ayahnya dengan pandangan sama datarnya, kemudian menjawab, “Ya.”

“Kenapa kau tidak melanjutkan kuliahmu di sini saja, di kampus yang sama dengan Minho dan Sooyoung.”

“Aku tidak tertarik, kampus itu tidak setara dengan kapasitas otakku.”

 

BRAK

 

Gebrakan dimeja makan dilakukan oleh gadis satunya yang kini menatapnya dengan amarah. “Apa kau baru saja mengatakan aku bodoh?!” teriaknya dengan wajah merah padam.

Yang menjadi penyebab amarah hanya memandangnya sekilas kemudian kembali menatap pada ayahnya. “Aku tidak menerima pertanyaan omong kosong lagi darimu. Aku selesai.”

“Kau!! Jangan mengacuhkanku, sialan kau!”

“Sooyoung,” ucap ayahnya dengan tekanan disetiap suku kata namanya. Hal itu berhasil membungkam mulut Sooyoung yang tampak masih ingin mengeluarkan kemarahannya.

“Kalau begitu bersiaplah, kami akan mengantarmu ke bandara,” ujar ayahnya pada gadis yang sejak tadi hanya memandang jauh ke jendela yang berada tiga meter di belakang Sooyoung.

Gadis itu mengangkat salah satu alis hitam tebalnya, “Aku tidak butuh kalian,” katanya masih dengan nada datar miliknya, kalimat yang menunjukkan makna lebih dalam dari arti yang seharusnya.

Ia memundurkan kursinya ke belakang, lalu berbalik kemudian melangkah keluar ruang makan, menaiki  tangga menuju lantai dua dan hanya memberikan punggungnya pada empat orang yang ia tinggalkan.

Ayahnya memandang datar punggung gadis yang hilang di balik dinding yang memisahkan ruang makan dengan ruang tengah, kakak tertuanya hanya memandang piring di hadapannya dengan tangan mengepal erat, menggenggam kuat garpu dan sendok yang digenggamnya, sedang wanita dan gadis lainnya memandang ke arah gadis itu dengan ekspresi benci.

 

Prang

Suara benda jatuh yang baru saja dilempar oleh seorang gadis dalam ruangan kamar miliknya. Kaca yang pecah menjadi kepingan-kepingan tidak lagi utuh sama seperti dirinya.

“Sialan!!!”

Teriakan frustasi dibalut kebencian darinya keluar. Dia tak takut teriakannya terdengar oleh orang lain. Kamar miliknya dipasangi alat kedap suara, hal yang membuatnya leluasa melampiaskan semua amarahnya.

Bayangan kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit lalu di ruang makan membuatnya dipenuhi amarah. Kebenciannya semakin pekat setiap memutar ulang apa yang dikatakan orang yang dibencinya.

Kalau begitu bersiaplah, kami akan mengantarmu ke bandara.”

“Hahahahaha..” Ia menertawai apa yang diucapkan orang itu. Berpikir betapa ucapan orang itu terdengar menggelikan untuknya.

“Lucu sekali Choi Siwon. Masih tetap betah memainkan peran sebagai keluarga? Menggelikan.” Ia tersenyum sinis. “Menjijikkan.”

Ia terkekeh dengan suara yang bisa membuat seseorang mendengarnya merinding. Suara kekehannya menggema di seluruh ruang kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya pada kekacauan yang dibuat olehnya.

Menghiraukan kekacauan dalam kamarnya, ia melangkah ke dalam walk in closet miliknya. Mengambil koper berisi pakaian dan barang yang dibutuhkannya, menariknya keluar, kemudian menuju telepon yang berada di atas meja nakas samping ranjangnya.

“Naik ke kamarku, sekarang.” Setelahnya, ia kembali menarik kopernya keluar dari kamarnya.

Seorang lelaki paruh baya yang umurnya sedikit lebih tua dari ayahnya datang dengan tergopoh-gopoh kearahnya. Gadis yang berdiri di depan pintu kamarnya menatapnya dengan pandangan datar.

Tanpa kata ia menyodorkan koper miliknya pada pria paruh baya yang menjadi salah satu pengurus rumah tangganya, ia mengunci kamarnya lalu berjalan mendahului si lelaki paruh baya menuju lantai bawah rumahnya.

Tepat pada saat kakinya menapak di lantai bawah sebuah suara memanggilnya dari arah ruang tengah.

“Kau yakin tidak ingin kami antar?” tanya ayahnya yang duduk di single sofa.

Beberapa detik ia hanya diam tanpa ada niatan menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya. Ia menoleh ke arah sumber suara, menatap lurus tepat pada retina ayahnya.

“Ya.” Ia menggeser pandangannya kearah salah satu sofa dekat dengan sofa yang diduduki ayahnya tepatnya pada seorang laki-laki dengan usia 3th diatasnya. Ia melakukan hal yang sama pada laki-laki yang ditatapnya. Mengunci pandangannya,  ia dapat melihat rasa gelisah dan terganggu dari mata laki-laki yang ditatapnya. Ia tersenyum sinis melihatnya.

“Jangan berani memasuki kamarku. Jangan berani mengusik apapun yang menjadi milikku. Aku akan membuat kalian menyesal jika berani melakukannya,” ujarnya sembari menyeringai sinis, mengirimkan ancaman pada dua manusia berjenis kelamin yang sama dengannya.

Ia memastikan gadis yang ditatapnya mengerti apa yang dikatakannya. Membuat Sooyoung yang duduk di samping ibunya yang menjadi istri ke dua ayahnya, kembali pada ingatan dimana Sooyoung harus mengalami patah tulang tangan kanan karena didorong oleh gadis bergaun hitam itu dari tangga rumahnya, alasannya sebab Sooyoung berani memakai mobil miliknya.

Sooyoung menunjukkan raut wajah dipenuhi amarah yang tetap saja tidak bisa menyembunyikan perasaan takut dimatanya.

Setelah puas mengintimidasi orang-orang yang dibencinya, ia melanjutkan langkahnya. Samar-samar ia masih bisa  mendengar suara ayahnya. “Jaga dirimu, Yoona.”

Tubuhnya menegang, tangannya mengepal erat, kemarahan yang belum sepenuhnya reda kembali dirasakannya. Ia menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Langkahnya dipercepat keluar dari rumah yang semakin membuatnya muak.

Sampai di teras rumahnya, mobil yang akan membawanya ke bandara telah terparkir, supir keluarganya menunggu dengan pintu mobil penumpang terbuka lebar. Ia melangkah masuk ke dalam mobil dan memaku pandangannya ke arah depan.

Setelah kopernya dimasukkan ke dalam bagasi, supirnya bergegas masuk ke dalam mobil. Melajukan mobil ke luar dari pekarangan rumah dan pintu gerbang, membawanya menjauh dari tempat yang sejak umurnya menginjak 13th tidak lagi ia sebut sebagai rumah, melainkan medan perang.

Tempat yang memberikan banyak luka pada dirinya. Luka yang hingga saat ini telah menjadi nanah dan borok yang melekat padanya. Menghilangkan sosok gadis manis menjadi seorang gadis penuh kebencian. Seorang gadis yang telah jatuh pada pelukan sang kegelapan.

Save

Save

Save

Advertisements