1477864837489

TITLE : BACK IN TIME X || CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN | OH SEHUN AS NATHAN REVALDI | SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN | KWON YURI AS GLADISA PRATIWI || OC     : FIND BY YOUR SELF || GENRE : ROMANCE || SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY || DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

Aku kembali ke kelas dengan perasaan marah yang sangat besar pada teman-temanku. Apa mereka pikir aku adalah bahan lelucon? Aku yakin mereka sudah berada di taman cukup lama untuk mendengar apa yang ingin dikatakan Nathan padaku.

Tunggu!

Aku tersentak dengan pemikiran yang baru saja muncul di kepalaku, mereka semua sudah tahu apa yang ingin dikatakan Nathan. Mereka tahu Nathan akan mengatakan perasaannya padaku, dan hanya aku yang tidak mengetahuinya sama sekali.

Damn!

 

Sial! Aku duduk di bangku milikku dengan emosi yang semakin besar. Dari tempat dudukku  aku bisa melihat Lisa, Widya, Hana, dan G yang berjalan masuk ke kelas. Mereka melihatku dengan pandangan geli juga ada rasa bingung didalamnya. Lisa yang pertama kali tiba didepan mejaku. Aku membuang muka ke arah lain, menolak untuk menatapnya.

Helaan nafas Lisa terdengar sebelum ia berpindah duduk dibangku sampingku diikuti tiga cewek lainnya yang membentuk posisi duduk mengelilingiku.

“Kamu kenapa, Gi?” tanya Gi dengan wajah bingung. Hal itu membuatku mendengus jengkel karenanya. Mereka masih bertanya? What the hell!

“Aku tidak suka,” jawabku dingin.

“Iya, tapi kenapa? Kamu tiba-tiba pergi tanpa memberi jawaban pada, Nathan,” sambung Hana.

Perkataan Hana menjadi pemicu untuk melepas amarah yang sejak tadi aku tahan. “Karena aku memang tidak punya jawaban dengan apa yang baru dia minta! Juga kalian yang dengan keterlaluan mengintip bahkan tertawa seakan aku adalah lelucon!” Aku mengeluarkan semua yang ada dalam pikiranku dengan tubuh menegang.

Ketiganya menatapku seakan aku adala iblis yang baru saja terjatuh dari neraka di hadapan mereka. Aku masih berusaha mengatur pernafasanku, ketika aku melihat Widya yang pertama kali sadar dari syok yang mereka alami.

“Umh… kita tidak bermaksud seperti itu, Gi. Kami hanya kaget karena kedapatan olehmu, jadinya kami hanya tertawa seperti orang bodoh. Sedang anak-anak lain tertawa karena melihat ekspresi wajah Nathan, itu saja,” jelas Widya padaku.

Aku dibungkam dengan paksa karena penjelasan Widya. Jadi, karena itu? Tapi, tetap saja itu menggangguku.

“Tetap saja. Aku belum bisa memaafkan kalian.”

“Gi, sebenarnya kamu marah bukan karena hal itu, kan? Kamu marah dengan hal lain.” Kalimat yang G lontarkan tepat sasaran dan sebelum aku berhasil menata pikiranku ia kembali melepaskan panah tajam padaku.

“Kamu terganggu dengan pernyataan, Nathan?” Telak. Aku bisa tidak mengelak dengan apa yang G katakan. Aku benci dengan kemampuan G yang bisa membaca situasi dengan sangat baik.

“Jangan membahas ini lagi. Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan hal ini.” putusku.

 

 

<<<< 

 

Sebulan berlalu, sejak hari itu sahabat-sahabatku tidak lagi mengungkit hal yang sampai sekarang masih mengganjal di pikiranku. Mereka bersikap biasa saat menghabiskan waktu bersamaku, baik ketika di sekolah maupun diluar sekolah.

Nathan, juga tidak menagih jawaban atas apa yang ia lontarkan padaku. Ia tetap menghubungiku, kumpul bersama ketika jam pulang sekolah atau menghabiskan waktu weekend dengan kami. Tapi hanya sebatas itu, ia tidak lagi berusaha mengajakku jalan berdua dengannya lagi dan juga tidak tidak menatapku dengan tatapan yang sering ia berikan padaku sebelum aku meninggalkannya di taman. Anehnya aku merasakan perasaan kosong yang menyempil diantara besarnya rasa lega yang aku rasakan.

Beberapa bulan berlalu. Kami sekarang sibuk mengatur waktu pelajaran tambahan yang diberikan guru-guru di sekolah untuk persiapan UAS. Aku bersama teman sekelasku juga membentuk kelompok belajar yang setiap malamnya dilakukan di rumahku dan teman-temanku.

Meski Dika dan Juan berbeda kelas dengan kami berlima, mereka tetap ikut dalam kelompok belajar kami dan tidak lupa mengajak Nathan dan teman lelaki mereka yang lain. Seperti yang sedang kami lakukan sekarang.

<< 

Aku berdiri dihadapan Dika dengan pandangan membunuh. Aku kesal dengan penentuan boncengan yang diatur setan licik berbentuk manusia bernama Dika. Malam ini jadwal kami belajar kelompok di rumah Kinan. Mereka menjemputku dan dengan seenaknya menyuruh aku untuk ikut pada Nathan. Alasannya karena hanya Nathan yang belum memiliki boncengan. 

Aku bisa menebak dengan mudah bahwa ini sudah direncanakan sebelumnya oleh Dika. Jika saja disini cuma ada aku dan Dika, aku tidak akan segan-segan mencengkik lehernya. Dang it.

Aku ingin menolak, tapi saat aku tidak sengaja melihat Nathan yang sedang berdiri di samping motor miliknya dengan wajah tidak nyaman, membuatku mengurungkan niatku. Aku tahu ini bukan keinginannya dan dia pasti akan tersinggung ketika aku menolak.

Aku hanya bisa menghelas nafas kesal dan menganggukkan kepalaku ke arah Dika sebagai jawaban. Aku bisa melihat cengiran Dika dan siulan beberapa teman Nathan. Menyebalkan!

Aku berjalan ke arah Nathan yang sekarang berbalik untuk naik ke atas motornya diikuti olehku. Detik ketika Nathan menjalankan motornya meninggalkan pekarangan rumahku. Aku merasakan perasaan asing yang pernah muncul diwaktu Nathan memandangku dengan pandangan yang berbeda pada hari ia pengakuan cintanya padaku.

Tanganku berkeringat dan dengan bodohnya jantungku berdetak dengan kecepatan tidak biasa. Aku bisa merasakan tubuhku yang mendadak kaku, juga mataku yang terus menatap punggung Nathan.

Ada apa denganku? Apa yang membuatku merasakan perasaan aneh ini? Aku tidak mengerti dengan semua hal yang datang menyerbuku secara tiba-tiba seperti sekarang.

Akibat dari semua itu, aku mendadak berubah menjadi seorang bisu. Aku hanya mengangguk dan menggeleng terhadap apa yang ditanyakan teman-temanku. Aku juga tidak bisa memahami apa yang dijelaskan Kinan tentang soal-soal latihan yang ada di depanku, dan saat aku mengalihkan pandanganku ke samping, aku melihat G yang memperhatikanku dengan satu alis terangkat. Damn!

 

<<< 

Helaan napas kasar terdengar dari seseorang yang kini duduk disampingku. Aku tidak berani melihat ke arahnya. Aku malu, tentu saja. Setelah aksi protesku pada Dika yang menyuruhku untuk ikut bersama Nathan. Sekarang aku malah menjadi seorang yang lupa cara untuk berbicara.

 

“Ada apa, Gi?” tanya G padaku. Ia mengajakku keluar ke teras rumah Kinan setelah melihatku tadi.

“Entah… aku juga bingung ada apa denganku.”

“A aku tiba-tiba gugup, dan aku seperti akan terkena serangan jantung karena detakannya yang terlampau cepat dari biasanya.”

“Well, dan semua itu kamu rasakan saat bersama Nathan?”

“Uumm,, ya. Damn! Whats wrong with me, G. I never feel like this before,” ucapku frustasi.

“Woah… jelas-jelas kau suka padanya, girl,” jawab Gi sembari terkekeh.

Aku menatap G dengan pandangan datar. Aku menyukai Nathan? The hell! Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak memiliki perasaan itu padanya. Bisa saja itu semua karena rasa canggung sudah menolaknya. Yah, semua ini karena rasa perasaan canggungku padanya.

“Lupakan apa yang aku katakan tadi. Belum menyerah menjodohkanku dengan Nathan, G?”

“Hey! Sudah jelas kau menyukai Nathan, Gi. Berhenti menolak perasaanmu sendiri dan akui perasaanmu pada cowok malang itu. Dia masih menyukaimu.”

“Sudahlah. Aku mau masuk.” Aku mengakhiri pembicaraan kami dan beranjak dari tempat dudukku kemudian masuk ke dalam rumah.

Advertisements