HATRED : Liverpool

hatred-cover1

Title : Hatred (Liverpool)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Yoona keluar dari pintu kedatangan Bandara Jhon Lennon Liverpool (Liverpool, UK)

Di  depan bandara ia masuk ke dalam salah satu taksi yang selalu siap mengantar penumpang ke tempat tujuan. Yoona mengarahkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan bangunan-bangunan dan suasana disepanjang jalan yang dilewati taksi yang dinaikinya.

Belum semenit, ia kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Liverpool akan menjadi tempatnya dalam menghabiskan hari-harinnya selama 3 tahun ke depan.

Ia sudah mengharapkan hal ini sejak 6 tahun lalu, berada jauh dari penyebab luka dalam dirinya, agar ia dapat menghirup udara tanpa merasa sesak. Menjaganya tetap dalam kewarasan yang semakin hari kian menipis.

Mungkin lebih tepatnya, kewarasan semu yang dibuat olehnya. Karena kenyataannya ia mulai kesulitan untuk membedakan kenyataan dan ilusi. Dalam pikirannya hanya dipenuhi oleh rencana yang akan dilakukannya untuk membalas apa yang telah dilakukan orang-orang yang menghancurkan hidupnya.

Memasuki bangku Senior High School, ia mulai menentukan jurusan apa yang akan dipilihnya saat kuliah. Setelah memikirkannya dengan hati-hati, ia memilih jurusan Public Relation, jurusan yang dirasanya cocok untuknya yang sangat suka mempersuasi orang lain.

Juga jurusan yang tidak akan menimbulkan kecurigaan dari ayahnya dan tentu saja dua manusia tidak tahu malu yang tinggal di rumahnya, mereka tidak akan menyangka hal apa saja yang bisa dilakukannya lewat pekerjaan yang mereka anggap tidak akan menjadi ancaman.

Alasan ia memilih Liverpool, Britania Raya,  karena Inggris adalah negara yang  tidak masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi oleh orang itu. Seorang pengecut egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan jika apa yang orang itu lakukan telah membuatnya sempat hancur.

“Tunggulah, aku akan kembali. Puaskan diri kalian selama aku pergi, karena diwaktu aku kembali, aku pastikan kalian tidak akan bisa melihat matahari dalam waktu lebih lama,” batin Yoona, yang kini menutup kedua kelopak matanya, menyembunyikan matanya yang dipenuhi sinar kekejaman.

Ia melihat apartemen yang akan ditinggalinya, memeriksa setiap ruangan yang dalam apartemennya, setelahnya ia mengangguk puas. Yoona menuju kamar tidurnya dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.

Tidak butuh waktu lama untuk menarik seluruh kesadaran  Yoona menuju alam mimpi. Yoona terbangun dan kegelapan langsung menyambutnya. Memaksakan dirinya untuk bangkit dari posisinya semula, berjalan ke arah saklar lampu yang berada di dekat pintu kamarnya. Cahaya memenuhi pandangannya yang membuatnya harus mengerjapkan matanya beberapa kali.

Melirik ke arah kopernya yang terletak di bawah ranjang miliknya, membuatnya menghela napas sebelum mengambil langkah menuju kopernya untuk mengeluarkan barang-barang yang ada di dalamnya dan mengaturnya.

Butuh waktu setengah jam untuk selesai berbenah dan suara gemuruh dari perutnya membuatnya menyadari bahwa ia harus mengisi perutnya jika tidak ingin terbaring lemas karena maagnya kambuh.

Menyadari bahwa ia belum berbelanja persediaan makanan, ia terpaksa mencari nomor telepon restoran terdekat dari apartemen miliknya. Sambil menunggu makanan pesanannya tiba, Yoona memilih berdiri di depan jendela apartemennya yang menampilkan pemandangan malam Kota Liverpool.

Lagi, benaknya kembali berkelana, namun kali ini ia kembali diwaktu Yoona harus melihat hal yang seharusnya tidak pantas untuk dilihat anak berumur 13th. Ia hanya mengingat warna merah yang mendominasi seluruh ruang lingkup pandangannya. Juga satu-satunya manusia berada tidak jauh dari dirinya mengukir senyum pedih untuknya.

Sebelum benaknya melangkah lebih jauh, bunyi bel apartemennya kembali menariknya pada dunia nyata. Ia menghembuskan nafas lega, berterimakasih pada petugas delivery yang berbaik hati menyadarkannya.

Berbalik, Yoona melangkah menuju pintu apartemen, membukanya dan melihat seorang laki-laki berseragam khusus restoran menyerahkan pesanannya, sebagai gantinya Yoona menyerahkan sejumlah uang pada laki-laki itu.

 

Sementara itu di rumah yang ditinggalkannya, Sooyoung sedang merengek pada ayahnya, mungkin lebih tepat memaksa.

Sooyoung bergelanyut di salah satu lengan ayahnya, ibunya yang juga duduk di sampingnya hanya tersenyum geli melihat tingkah manja anaknya, mereka bertiga duduk di sofa panjang ruang keluarga. Minho hanya melihat mereka sekilas sebelum mengarahkan matanya kembali ke televisi di depannya. Ia sendiri duduk di single sofa. Tersenyum miris melihat tampilan keluarga harmonis dan dia bukanlah bagian dari hal tersebut.

“Ayah, biarkan aku pindah ke kamar, Yoona,” kata Sooyoung dengan manja.

“Kenapa kau menginginkan kamar Yoona?” Choi Siwon mengelus sayang kepala Sooyoung dengan senyum yang menutupi raut wajah terkejut yang sempat muncul.

“Kamar Yoona lebih luas dari kamarku, Ayah.”

“Kamarmu yang sekarang juga luas, Sooyoung.”

“Tapi, aku menginginkan kamar Yoona.”

“Sooyoung,” Siwon menatap tajam Sooyoung lalu melanjutkan perkataannya, “kau tidak boleh menyentuh milik Yoona.”

Sooyoung berdiri dari duduknya dan memandang ayahnya dengan raut wajah tersinggung, “Kenapa? Apa karena aku bukan anak kandung Ayah?”

“Ini bukan karena itu, Sooyoung.”

“Kau akan mendapatkan masalah jika menyentuh milik Yoona. Ia anak yang keras, kau tentu tidak ingin kejadian tiga tahun lalu terulang. Kau mengalami patah tulang tangan, dan Ayah tidak bisa menjamin jika Yoona kembali ia tidak akan mengulangi apa yang pernah dilakukannya,” jelas Siwon dengan nada datar.

Diingatkan tentang hal itu membuat Sooyoung kehilangan kata-katanya. Kilasan memori saat ia harus dirawat di rumah sakit selama satu bulan membuatnya tanpa sadar bergidik.

Hari itu Sooyoung yang berada ditahun kedua sebagai siswa Senior High School, keluar dari kamar miliknya dan melangkah turun ke lantai satu rumahnya, langkahnya terburu-buru saat sadar bahwa ia akan terlambat untuk mengikuti jam pertama di sekolah.

Melewati ruang tengah matanya menangkap bayangan benda di atas meja kecil samping sofa. Mendekat, ia menyeringai melihat kunci mobil yang sangat dikenalinya. Kunci mobil Yoona, saudari tirinya yang berwajah datar.

Sejak satu tahun lalu, dimana Yoona resmi tercatat sebagai siswa Senior High School, gadis itu mendapat hadiah mobil yang sangat diinginkan Sooyoung. Ia mendengus ketika mengingat alasan Yoona mendapatkan mobil itu. Yoona berhasil lulus dengan nilai sempurna.

Sooyoung harus mengakui jika saudarinya itu memiliki otak jenius dan ia benar-benar semakin membenci Yoona. Tanpa Yoona memintanya, seri terbaru Lamborghini  Aventador  terparkir di depan rumah mereka, pagi hari sesudah pelulusan Yoona.

Sedang Sooyoung, harus puas dengan Audi miliknya, ia tidak secerdas Yoona. Sooyoung mendapatkan mobilnya pun karena ia harus merengek semalaman pada ayahnya.

Tanpa berpikir resiko yang akan ditanggungnya, Sooyoung mengambil kunci mobil Yoona dan berjalan ke garasi rumah. Tersenyum lebar melihat mobil Yoona berada di hadapannya.

Ia mengendarai mobil Yoona dengan seringai lebar menuju ke sekolahnya, untung baginya karena ia dan Yoona berbeda sekolah. Jadi tidak akan ada yang mengenali bahwa mobil yang dipakainya adalah milik Yoona.

Yoona yang keluar dari kamarnya melangkah tergesa-gesa menuruni tangga rumahnya, memegang buku yang berisi tugas salah satu pelajarannya hari ini. Bergegas ke arah meja kecil ruang tengah untuk mengambil kunci mobil yang ditaruhnya.

Saat tidak menemukan apa yang dicarinya, dahinya mengernyit, setelah dua detik raut wajahnya berubah. Menghela nafas kesal dan berteriak memanggil salah satu supir keluarganya dengan keras, teriakannya menggema di seluruh sudut rumah.

Orang yang dipanggilnya muncul dengan tangan gemetar, terbata-bata menanyakan maksud dirinya dipanggil oleh nona mudanya.

“Antarkan aku ke sekolah sekarang.” Yoona melihat supirnya yang hendak membuka mulutnya, “Jangan berani bertanya mengapa.”

Melangkah mendahului supirnya dan berjalan dengan langkah kaki menghentak keluar dari rumah. Otaknya memikirkan beberapa cara untuk menghukum orang yang menjadi tersangka.

Sooyoung memasukkan mobil Yoona ke dalam garasi rumah. Bersenandung kecil dan bibirnya juga sesekali memamerkan senyum puas. Menyukai bagaimana wajah teman-temannya mengagumi mobil yang dibawanya dan terus memberikannya pujian.

Ia memasuki rumah dan hendak menaiki tangga ketika dari atas melihat Minho sedang menuruni tangga. Minho saudara tirinya, memiliki wajah yang sama tampannya dengan ayah mereka. Sayangnya, Minho terlalu cuek. Hal baiknya adalah Minho tidak sesinis dan sedatar saudarinya. Gadis yang sangat dibenci Sooyoung.

Ketika Minho tepat di depannya, Minho menatapnya yang sekilas terlihat seperti pandangan kasihan. Sooyoung mengernyit, namun tidak memperdulikannya. Ia kembali meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya.

Malam menjelang dan Sooyoung harus turun untuk makan malam bersama. Selama satu hari ia tidak melihat sosok Yoona, membuat harinya semakin lebih baik.

Sooyoung keluar kamar dan berada di depan tangga diwaktu ia merasa seseorang mendorongnya. Badannya melayang sejenak sebelum jatuh terguling menuruni tangga rumah.

Teriakan Sooyoung menggema di seluruh penjuru rumah. Memancing kedatangan seluruh penghuni rumah, tepat ketika tubuhnya tergeletak di bawah tangga, tangan kanannya lebih dulu menyentuh lantai disusul tubuhnya dan terdengar bunyi mengerikan. Teriakan kesakitan disusul ibunya yang histeris melihat Sooyoung.

Ayahnya dan Minho berlari menghampiri tubuh Sooyoung, yang sudah mengeluarkan darah dari dahinya. Wajahnya pucat dengan darah yang mengalir turun ke pelipis hingga ke dagunya.

Rumahnya ramai dengan kepanikan, tubuhnya diangkat untuk dibawa ke rumah sakit, samar ia bisa melihat dari atas tangga Yoona menatapnya dengan pandangan datar. Mengikuti pandangan Sooyoung, semua orang ikut mengarahkan pandangan mereka ke arah yang ditatap Sooyoung.

Suara terkejut serentak terdengar, kemudian diganti dengan teriakan amarah dari ayahnya menyebut nama anak gadisnya yang lain.

“YOONA!!”

Esok paginya suara kulit bertemu kulit terdengar dari balik pintu ruang kerja Choi Siwon. Ia berdiri di depan salah satu anaknya dengan tubuh menegang dipenuhi amarah.

Tangannya gemetar, dengan matanya menatap tajam gadis di hadapannya.

“Katakan alasan kau mendorong saudaramu sendiri,” desisnya.

Gadis yang baru ditamparnya kembali mengarahkan kepalanya ke depan yang sempat tertoleh ke samping karena tamparan, menatap matanya dengan pandangan datar, tidak ada raut kesakitan yang ditampiLkannya.

Menyeka darah dari sudut bibirnya yang robek karena kerasnya tamparan yang diterimanya. Memaksa membuka mulutnya walau bibirnya berdenyut sakit.

“Dia bukan saudaraku, dan dia lancang memakai mobil milikku. Anda seharusnya mengajar anak anda dengan baik, memastikan untuk tidak menginginkan barang milik orang lain,” cetusnya.

Yoona kembali mendapat tamparan dipipi kanannya, sekarang kedua pipinya memerah dengan bekas telapak tangan tercetak jelas. Telinganya berdenging yang membuatnya harus mengerahkan semua kekuatannya agar tidak mengeluarkan suara kesakitan.

“Beraninya! Sudah berapa kali ku bilang, jangan memanggilku dengan Anda! Aku Ayahmu!”

Kepalanya semakin sakit mendengar teriakan pria yang menjadi ayahnya. Tangan Yoona mengepal, sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak roboh. Kepalanya mendongak melihat pria yang pernah di panggilnya Ayah.

Dalam penglihatannya saat ini, pria itu seperti monster dengan wajah merah padam, tubuh bergetar dan kaku, matanya melotot menatapnya. Semua itu berhasil memunculkan seringai mengejek dibibirnya.

“Saya permisi, Anda sudah mengetahui alasan mengapa saya mendorong anak Anda.  Selamat pagi, Ayah,” ucapnya dengan nada mengejek pada saat mengucapkan kata ayah.

Berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja ayahnya, memutuskan untuk tidak ke sekolah. Ia mengambil langkah mendekati tangga ketika Minho, muncul dari ruang makan. Mata mereka bertemu, ia dapat mendengar suara terkesiap Minho. Membuatnya mendengus sebelum menaiki tangga rumah menuju kamarnya.

Advertisements

12 thoughts on “HATRED : Liverpool

  1. Apa yg terjadi dgn Yoona??ia menjadi gadis yg keras kepala.Apa karena Siwon menikah lagi??Uuh..Soyoung meminta pada Siwon utk menempati kamar Yoona.Apa ia tidak mengingat peringatan Yoona agar tidak menyentuh apa yg menjadi miliknya sebelum Yoona pergi.Tapi baguslah jika Siwon mengingatkannya tentang kjadian 2 tahun lalu yg mmbuatnya patah tulang karena memakai mobil Yoona tanpa ijin pemiliknya.Ditunggu part slnjutnya…😊

  2. Entah kenapa.. sooyoung yang ku bayangkan bukan soo snsd tapi org lain. Macam gk dpt feel aja klo bayangin wajah soo jd org jahat di sini. Trus musuhnya harus yoona, yang ku tahu faktanya mereka bgtu dekat. #mianthor but, ini keren koq. Lanjut lanjut.. menanti moment yoonhun.

  3. kira2 alasan yoona berubah knp thor..? yg bikin heran knp minho sdra yoona diam ja pdhl yoona sngt benci ayahnya…
    next thor penasan bgt kljtn y jgn lma2… ak hrp tambah panjang lagi… kurang puas baca y

  4. Yoona eonni jadi orang dingin gitu yach,,??
    Sebenarnya minho itu saudara kandung atw saudara tiri nya yoona eonni sih,,??
    Sehun nya,mana,,?? Kok blum muncul ,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s