hatred-cover1

Title : Hatred (Sehun)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Pagi menjelang. Matanya terbuka menyambut sinar matahari pagi. Bangkit dari ranjangnya dan melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaannya sejak enam tahun lalu.

Berdiri di depan jendela kamar apartemen miliknya, menyibak horden, lalu matanya memandang pada matahari pagi di Kota Liverpool. Sinar keemasan bersatu dengan birunya langit ditambah dengan berbagai bentuk bangunan pencakar langit.

Lima menit menghabiskan waktunya untuk melahap semua pemandangan tidak familiar baginya. Setelah dirasa cukup, ia beranjak dari posisi awalnya dan bergerak ke kamar mandi.

Yoona melangkah memasuki dapur minimalis apartemen miliknya dan baru teringat bahwa ia belum berbelanja kebutuhan dapurnya.

Berbalik kembali ke kamarnya, membuka lemari dan mengambil hodie berwarna putih kebesaran lalu memakainya.

Menutup tanktop yang dipakainya, short denim hitamnya ikut tenggelam karena hodie yang panjangnya sampai pada pertengahan pahanya, menyisakan pemandangan tungkai mungilnya yang putih pucat.

Ia mengikat rambutnya membentuk ikatan cepol, memakai sepasang sepatu converse pada kakinya, kemudian mengambil dompet miliknya. Ia siap untuk berbelanja.

Yoona menghabiskan satu minggu untuk menikmati beberapa objek wisata dekat dari Jhon Moore Liverpool University. Salah satunya adalah Katerdal Anglikan Liverpool yang memiliki bangunan arsitektur unik.

Satu hal yang disukai Yoona adalah letak apartemennya yang tidak jauh dari kampus karena tidak perlu takut untuk terlambat masuk kelas.

Hari pertama memulai aktivitas kuliah setelah kemarin mengurus semua keperluan kuliahnya dari berkas-berkas yang dibutuhkan sebagai syarat pendaftaran dan membeli buku-buku yang dipakainya selama satu semester.

Kampus Jhon Moores University memiliki 3 kampus, Kampus Mount Pleasant di LJMU menaungi Fakultas Seni, Profesional dan Ilmu Sosial, International Student Centre dan Perpustakaan Aldham Robarts dan terletak di pusat kota Liverpool. Di kampus inilah Yoona melangkahkan kakinya menuju ruangan untuk kelas pagi yang ia ikuti.

Dua kampus lainnya adalah Kampus Kota LJMU,  juga terletak di pusat kota, menaungi Fakultas Sains, Fakultas Teknik dan Teknologi, terakhir Kampus IM Marsh terletak beberapa mil di luar pusat kota dan merupakan tempat dimana mahasiswa-mahasiswa mengambil program-program yang berhubungan dengan pendidikan.

Melihat memo ponselnya yang menunjukkan bahwa kelas paginya berada di lantai 3. Ia memasuki ruang kelasnya dan melihat mahasiswa lainnya sudah mengambil tempat duduk masing-masing, dan ada yang sedang bercerita dengan teman sebangkunya.

Ia memilih kursi paling belakang pojok kiri. Mengganti lagu dari playlist ponselnya dan masuk ke dalam dunianya sendiri dengan earphone menyumpal kedua telingannya, memblokir suara lain darinya.

Tepukan pelan dibahu kanannya menyadarkannya. Ia menoleh dan melihat gadis yang ditebaknya berasal dari Benua Asia sedang tersenyum kepadanya.

Melihat gerakan bibir gadis di sampingnya yang menandakan ia akan mengatakan sesuatu pada dirinya, membuat Yoona melepas earphonenya dan memberikan atensi penuh pada gadis asia itu.

“Hai, Aku Seo Joo Hyun, kau bisa memanggilku Seohyun,” ucapnya dengan tangan terjulur pada Yoona.

“Yoona.” Ia membalas uluran tangan Seohyun. Setelahnya berniat melanjutkan kegiatannya.

” Aku dari Asia, tepatnya Seoul, Korea Selatan.” Seohyun kembali bersuara. Tampaknya berniat melanjutkan percakapan dengannya.

Yoona menghela nafas, “Aku tahu kau berasal dari Asia,” kembali menghela nafas, “semua bagian tubuhmu meneriakkan kata Asia,” tandasnya dengan nada datar.

Seohyun tertegun, melihat sikap yang diberikan padanya. Apa dia melakukan kesalahan pada gadis di sampingnya? Ia memutuskan bertanya langsung dibanding harus menduga-duga.

“Apa aku berbuat salah padamu?” tanyanya yang hanya mendapat jawaban berupa satu alis terangkat dari gadis bernama Yoona.

“Yah, kau seperti bersikap sinis padaku.”

“Apa kau harus selalu mendapatkan sikap ramah dari orang lain?”

“Bukan seperti itu juga. Hanya saja..”

“Cara berbicaraku memang seperti ini, aku tidak sedang mensinisi dirimu.”

Tertegun, Seohyun kembali dibuat kembali kehilangan kata-kata sebelum bisa merespon balik ucapan Yoona, “Ah begitu. Baguslah. Aku menyukai orang jujur sepertimu. Aku harap kau mau berteman denganku.” Seohyun tersenyum tulus sampai kedua mata sipitnya tenggelam oleh pipi berisinya.

Yoona tidak merespon perkataan Seohyun. Ia hanya menatapnya sejenak sebelum menumpukan pandangannya ke depan tepatnya di meja dosen. Dosen mata kuliahnya pagi ini adalah seorang pria berumur 30th dengan tubuh tinggi dan lengan berotot yang tidak mampu disembunyikan kain lengan kemejanya. Yang paling menonjol dari dosen tersebut adalah matanya yang berwarna biru cerah.

“Dosen yang cukup tampan,” pikir Yoona. Hanya itu respon yang diberikan dirinya setelah memperhatikan dosennya. Tidak seperti dengan mahasiswi lain dalam kelasnya yang ribut bahkan terkikik dengan cara cukup aneh bagi Yoona.

“Bukankah Dosen mata kuliah ini, sangat tampan?” ucap seseorang di sampingnya.

Yoona menolehkan kepalanya dan mendapati gadis bernama Seohyun sedang melihatnya dengan mata berbinar khas seorang gadis muda. Yoona tidak merespon ucapan Seohyun. Ia lebih memilih kembali memusatkan perhatiannya ke depan.

“Ada apa dengan para gadis-gadis ini? Bahkan seorang pria yang mempunyai umur cukup jauh dari mereka, tetap membuat mereka bertingkah menggelikan,” batin Yoona.

Di negara lain, tepatnya di Kota Washington, D.C., yang merupakan ibu kota Amerika Serikat. Seorang pria dengan rambut berwarna coklat tua dan mata hitam tengah berdiri di depan sebuah rumah yang terlihat mewah.

Rumah yang berada di salah satu kawasan elit Kota Washington, tetap saja tidak membuatnya tertarik. Ia lebih menyukai Mansion keluarga mereka yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota.

Bahunya ditepuk oleh seseorang membuatnya harus menolehkan kepalanya ke belakang, seorang pria paruh baya dengan warna rambut yang sama dengannya, namun ia memiliki mata berwarna coklat.

“Ada apa, Ayah?” tanya lelaki tersebut.

“Mungkin, kau bisa membantu Ayah, mengambil barang yang berada di mobil, Sehun?” balas pria yang merupakan ayah dari lelaki bernama Sehun.

“Dan barang apa yang Ayah maksud? Semua barang di letakkan di mobil pengangkut barang.”

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan boneka mungil dengan rambut hitam dan mata coklat?”

“Ayah! Yang kau maksud boneka tadi adalah putrimu sendiri, berumur 5th. Please,  berhentilah bertingkah aneh,” erang Sehun dengan raut wajah frustasi sebelum melangkah meninggalkan ayahnya.

Menuju ke arah mobil dimana ibu dan adiknya tengah melihatnya dengan cekikan geli. Di belakang tawa ayahnya terdengar yang membuatnya memutar bola matanya.

Membuka pintu mobil bagian samping pengemudi, ia mengambil alih adik perempuannya dari pangkuan wanita yang memiliki rambut yang sama dengan adiknya namun memiliki warna mata yang sama dengannya.

“Kemari, Princess. Ikut aku ke taman depan rumah baru kita.”

“Kau mau menganyunku ke udara, Sehun?”

With my pleassure, Princess.”  Sehun menghujani wajah mungil adiknya dengan kecupan-kecupan kecil membuat si gadis kecil tertawa dengan suara yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.

Ia melangkah ke arah taman yang di maksudnya, ibunya menyusul dan berhenti di samping ayahnya. Sedang Sehun berada meter di depan pasangan suami istri itu.

“Jangan terlalu banyak menganyunnya, Sehun,” tegur ibunya.

“Tenang saja, Mom. Princess Hayoung menyukainya,” jawabnya lalu kembali mengayun adiknya ke udara.

Tawa keduanya terdengar, menghiraukan kedua orang tuanya yang melangkah masuk ke dalam rumah. Mengarahkan petugas yang mengangkat barang mereka untuk meletakkannya sesuai keinginan pemilik rumah.

 

Rumah yang berada tepat di depan rumah baru Sehun, terlihat sama megah, namun sedikit lebih kecil dibanding milik keluarga Sehun. Satu keluarga tengah menyantap makan siang.

Gadis yang duduk di samping ibunya mengernyit, sebelum mengambil minumannya dan meneguknya dalam beberapa tegukan. Melihat tiga anggota keluarganya telah menghabiskan makanan dipiring masing-masing.

“Ayah, apa seseorang baru saja pindah ke rumah yang berada di depan?”

“Sepertinya begitu, Sooyoung. Kita harus mengundang mereka untuk makan malam bersama kita, Tiffany?” Siwon menoleh pada istrinya.

“Ya, kita harus mengundang mereka. Kau dan Minho, pergilah bertamu dan undang keluarga itu, Sooyoung.”

“Bisakah, sore nanti? Aku harus mengerjakan beberapa tugas kuliah,” ujar Minho seraya bangkit dari kursi.

“Baiklah, jika kau memang harus mengerjakan tugasmu. Sooyoung yang akan ke sana sendiri,” balas Tiffany dengan senyum berusaha menyembunyikan perasaan jengkel karena selalu mendapat penolakan dari Minho setiap ia menyuruhnya melakukan sesuatu.

“Aku selesai.” Minho beranjak keluar dari ruang makan meninggalkan tiga anggota keluarganya. Wajahnya mengeras, namun hanya sebatas itu ia bisa melakukan sesuatu yang mengekspresikan ketidaksukaannya.

 

 

Advertisements