hatred-cover1

Title : Hatred (Curious)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

“Apa kau sudah mengerjakan tugas, Mr. Barclay? Ugh, aku tidak sempat mengerjakannya semalam,” keluh Seohyun pada Yoona yang hanya menunjukkan wajah datar miliknya.

Keduanya berjalan menyusuri lorong  menuju kelas mereka pada periode  pertama. Yoona melirik gadis yang bersikeras menjadikan dirinya sebagai teman. Bahkan dalam dua bulan awal perkuliahan tingkat pertama, ia sudah berusaha mendorong gadis itu menjauh.

Seohyun, memiliki tingkat kekeraskepalaan yang seimbang dengan Yoona, hasilnya Yoona membiarkan gadis itu memasuki dunianya. Tentu saja hanya dalam batas-batas yang ia izinkan, Yoona tidak mengizinkan Seohyun masuk lebih dalam.

“Hey, kau seharusnya menjawab pertanyaanku, bukannya beprilaku seperti patung hidup, Yoona.” Seohyun mengirimkan pandangan jengkel pada gadis yang selalu memiliki masalah dengan ekspresi wajah.

Seberapa seringpun Seohyun merajuk, ia hanya akan mendapat dengusan sebagai balasan dari Yoona. Kadang Seohyun penasaran apa yang membuat Yoona seperti hanya memiliki satu ekspresi dalam hidupnya.

“Percepat langkahmu, Mrs. Walcott tidak akan mentolerir keterlambatan kita.” Yoona melirik Seohyun yang masih memasang wajah merenggut.

“Ck,  jika itu kau. Kita berdua akan tetap mengikuti kelas. Bukan rahasia lagi jika kau, Yoona C,  adalah mahasiswi favorit dari semua dosen.”

“Aku masih penasaran dengan arti C dari namamu dan alasan mengapa wajahmu hanya menampilkan satu ekspresi. Selama lima bulan ini aku tidak pernah melihatmu tertawa ataupun tersenyum, kau tetap tidak ingin memberitahuku?”

“Tidak, dan hentikan rasa ingin tahumu pada hal itu, Seohyun. Kadang ada kebenaran yang tidak ingin diketahui. Jadi, berhentilah bersikap naif dan memainkan peran detektif,” tandas Yoona sebelum mempercepat langkahnya meninggalkan Seohyun berdiri terpaku ditempatnya.

“Ah, meskipun ini bukan pertama kalinya ia mengatakan hal menyakitkan, tetap saja aku masih belum terbiasa dengan rasa sakit akan kebenaran kata-kata Yoona,” bisik Seohyun sebelum menepuk kedua pipinya. “Kau harus bisa memahaminya Seohyun, Yoona berbeda dengan gadis-gadis lain. Kau sudah memutuskan untuk menjadi sahabatnya lima bulan lalu.”

Seohyun berlari menyusul Yoona yang berada beberapa langkah darinya, “Yak, kau gadis menyebalkan. Tunggu aku,” teriaknya memancing tatapan heran beberapa mahasiswa lain disepanjang lorong.

 

Sooyoung memaku tatapannya pada pemandangan pohon yang berada di lingkungan taman fakultas. Menghiraukan suara berisik kedua temannya yang sedang menggosipkan Minho kakak tirinya.

Pikirannya kembali pada hari dimana ia pertama kali bertemu dengan pria yang bahkan sampai lima bulan ini berhasil menyita perhatiannya. Sehun. Lelaki pendiam bahkan terkesan dingin, namun memiliki senyum yang menggetarkan hatinya dan pastinya gadis-gadis lain jika melihatnya. Senyum yang hanya diberikan pada keluarga lelaki itu.

Sore itu Sooyoung berkunjung ke rumah depan yang sekarang memiliki penghuni. Rumah besar dengan kesan mewah. Ia melintasi halaman rumah yang memiliki taman dengan ayunan kayu dibawah pohon yang tumbuh di depan rumah.

Ia mengetuk pintu dan pada ketukan ketiga seorang lelaki dengan mata hitam menatapnya. Menghipnotis dirinya dan membuatnya terpaku di hadapan lelaki tersebut.

Sedang lelaki di depannya mengerutkan kening melihat tingkah aneh dari gadis yang sedang menatapnya, dengan pandangan yang selalu didapatnya dari makhluk berjenis kelamin yang sama dengan gadis itu.

“Kau siapa?”

Suara bariton yang berasal dari lelaki dengan mata hitam menghipnotis di depannya, menyadarkan Sooyoung dari keterpakuannya. Berusaha mengumpulkan kesadaran dan ingatan tentang apa yang menjadi tujuannya kemari.

“A-aku yang tinggal di rumah yang berada di depan. Keluargaku mengundang keluargamu untuk makan malam bersama kami,” kata Sooyoung dengan pandangan ke arah lantai.

“Baiklah. Aku akan memberitahukan pada keluargaku. Terima kasih atas undangannya…”

Sadar lelaki di depannya menunggunya memberitahukan namanya, Sooyoung segera mengangkat kepalanya dan kembali memaku matanya pada mata lelaki itu, “Sooyoung, namaku Sooyoung.”

“Yah, terima kasih Sooyoung. Sampai jumpa pada makan malam nanti.” Pintu di depannya menutup. Menyembunyikan sosok yang berhasil menarik perhatian Sooyoung.

Sooyoung masih berdiri ditempatnya selama beberapa menit sebelum tersadar akan tingkah memalukannya. Ia mengambil langkah seribu menuju rumahnya dengan wajah merah padam.

“Memalukan, bisa-bisanya aku mempermalukan diriku dipertemuan pertama dengannya.”

 

Ketukan pintu terdengar di rumah keluarga Choi Siwon, empat orang yang berada di ruang tamu serentak memusatkan perhatian mereka pada pasangan paruh baya disusul seorang lelaki dengan gadis kecil berambut hitam dalam gendongannya, muncul dari pintu depan bersama dengan pembantu rumah tangga mereka.

Ke empat orang sebagai pemilik rumah berdiri dan menyunggingkan senyum ramah, tepat lima langkah jarak mereka, senyum lebar menghiasi bibir pasangan paruh baya ketika melihat siapa yang menjadi tuan rumah yang mereka datangi.

“Siwon, lama tidak bertemu,” sapa pria paruh baya berambut cokelat.

“Taejon, tidak menyangka kau yang menjadi tetangga baru kami.”

Kedua pria paruh baya itu memeluk satu sama lain sebelum melepasnya dan keduanya beralih memandang keluarga masing-masing. Dua keluarga mengambil tempat duduk di sofa dengan posisi berhadapan.

“Yojin, kau masih ingat pada Choi Siwon? Teman kuliahku yang pernah menjadi tetangga kita dulu?” ucap Taejon pada istrinya.

“Siwon? God, maafkan aku yang tidak mengenalimu,” sesal Yojin pada Siwon yang hanya dibalas senyum oleh pria itu.

“Oh Taejon adalah orang yang menjadi investor satu-satunya pada awal aku membangun perusahaan. Dia teman kuliahku dulu.” Siwon menatap Tiffany masih dengan senyum diwajahnya.

“Kita mulai tidak pernah bertemu secara langsung sejak enam tahun lalu, dan sekarang kedua anakmu sudah besar,” kata Taejon

Perkataan Taejon menggoyahkan senyum diwajah Siwon, “Dia anak gadisku yang lain, Taejon. Mungkin kau tidak tahu karena saat itu kalian sekeluarga tidak bisa datang dipesta pernikahan keduaku dengan Tiffany.”

“Oh Tuhan, maafkan aku Siwon, aku juga mendengar kabar pernikahanmu. Aku ingin menemuimu, namun cabang perusahaanku di New York memilki masalah, dan saat kami kembali, kau dan keluargamu sudah pindah ke Washington.”

Its okay. Taejon, Yojin, kenalkan Tiffany istriku.”

Taejon dan Yojin memberikan senyum sopan pada Tiffany. Menyembunyikan perasaan bersalah akan kelupaan mereka pada istri kedua Siwon.

“Dan yang duduk di samping Tiffany, adalah putriku Sooyoung.”

“Dimana, putri kecilmu yang manis? Aku masih ingat ia sering bermain bersama Sehun.” Yojin melempar senyum pada Sooyoung sebelum bertanya pada Siwon.

Siwon tersenyum mendengar pertanyaan Yojin, berhasil menyembunyikan keterjutannya. Membicarakan tentang putrinya yang satu selalu membuatnya tidak nyaman. Entah sejak kapan Siwon tidak pernah suka membicarakan Yoona.

“Dia sekarang sedang berada di Liverpool, ia melajutkan kuliahnya di sana. Yoona berada ditahun pertama sebagai mahasiswa, sedang Sooyoung ditahun kedua dan Minho ditahun ketiga. Kalian masih mengingat putraku?”

“Ya, bocah yang selalu mengajak Sehun menjahili Yoona. Benar, Yoona. Aku baru mengingat nama putrimu,” ujar Yojin antusias menghiraukan wajah tidak nyaman dari keluarga yang duduk di hadapannya.

Taejon menyadari suasana berubah tidak nyaman saat mereka membicarakan Yoona, putri Siwon. Ia lalu mengubah topik pembicaraan. “Kau masih mengingat Sehun, bukan? Sekarang ia baru saja menyelesaikan kuliahnya. Gadis kecil dipangkuan Sehun adalah putri bungsuku, Hayoung. Ia baru berusia 5th.”

Setelah berbincang beberapa saat, Siwon mengajak mereka ke ruang makan untuk makan malam. Makan malam itu berjalan baik, ditambah tingkah menggemaskan Hayoung membuat suasana kaku di ruang tamu terlupakan.

Taejon adalah teman lama Siwon yang membantu membangun perusahaannya. Ia menjadi salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan Siwon. Keduanya pernah menjadi tetangga di Seoul, Korea Selatan sebelum, Siwon pindah ke Washington.

Disaat orang tua mereka berbicara satu sama lain, Minho juga mengajak Sehun untuk mencoba mengakrabkan diri kembali. Sedang Sooyoung berusaha keras untuk tidak terus-menerus menatap Sehun. Mengajak Hayoung untuk bermain bersamanya yang tentu saja disambut dengan antusias oleh gadis kecil menggemaskan tersebut.

“Sooyoung, kau mendengar apa yang kami katakan?”

Suara Jessica menarik Sooyoung kembali dari lamunannya, ia menatap Jessica dan Abel tengah menatap balik dirinya.

“Apa yang kalian katakan?”

For  God Sake, ada apa denganmu? Kau sedang memikirkan seseorang?”

“Tidak usah sok tahu, apa yang kalian katakan.”

“Woah, tenang babe, kita berdua bertanya apa kau benar-benar tidak tahu siapa pacar Minho?”

Mendengar ucapan Abel membuat Sooyoung memutar bola matanya, kesal karena keduanya selalu menanyakan tentang Minho padanya.

 

Advertisements