Title : Hatred (Recall)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

“Kau yakin tidak ingin ikut bersamaku ke Korea?” Yoona menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengepak pakaian Seohyun. Ia menggelengkan kepalanya sebelum melanjutkan apa yang dilakukannya.

Seohyun menghela nafas frustasi menghadapi sikap keras kepala Yoona. Besok ia akan pulang ke negaranya, menghabiskan libur musim panas bersama keluarganya. Ia mengajak Yoona untuk ikut bersamanya.

Ia tidak ingin meninggalkan Yoona sendiri, setelah mengetahui jika Yoona memiliki hal yang selalu mengikatnya. Luka dan misteri lainnya yang belum diberitahukan Yoona padanya. Seohyun, tidak akan tenang mengetahui Yoona akan menghabiskan sepanjang libur musim panas sendiri.

Jika saja Yoona memiliki teman selain dirinya disini, atau setidaknya gadis itu tidak terlalu keras kepala untuk berlibur ke tempat keluarganya, Washington. Lebih baik lagi kalau Yoona ikut bersamanya.

Seohyun memiliki segudang rencana untuk dilakukan bersama Yoona di tempatnya. Ia juga ingin mengenalkan Yoona secara langsung pada keluarganya. Ibunya sangat antusias ingin mengenal Yoona. Setiap ia menceritakan betapa berbedanya Yoona dari teman-temannya yang dulu, ibunya akan merespon dengan antusias berlebih.

“Tidak usah berpikir berlebihan, Seo. Aku akan baik-baik saja di sini.” Suara Yoona menyadarkan Seohyun dari pikirannya.

Seohyun mendelik, “Dasar gadis kejam, aku mengkhawatirkanmu dan kau malah menuduhku berlebihan, ck.”

“Karena kau memang berlebihan. Kau tidak berencana mengajak Ethan ikut bersamamu?”

“Jangan bercanda, Ibuku akan menggantungku jika aku membawa pulang seorang lelaki. Terlebih kakak laki-lakiku, Jisung. Aku tidak bisa membayangkannya. Kau tahu sendiri, kedua orang itu menganggapku seperti anak kecil. Berbeda dengan Ayahku.” Seohyun bergidik membayangkan apa yang akan terjadi jika ia nekat membawa Ethan ikut bersamanya.

“Kasihan sekali.”

“Yak!” Sebuah bantal melayang ke arah Yoona, ia bergeser ke samping menyelamatkan wajahnya dari bantal yang sekarang terjatuh di sampingnya.

Kelopak mata Yoona terbuka, gerakan di sampingnya membuatnya terjaga. Ia dapat merasakan kegelisahan seseorang yang membangunkannya.

“Berhentilah menggerak-gerakkan badanmu, Seo.”

“Aku membangunkanmu? Maaf.”

“Ada apa?”

“Ikut bersamaku ya. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendiri.”

Yoona menghela nafas lelah, ia bangkit dari posisi berbaringnya dan bersandar dikepala ranjang. Menatap Seohyun yang juga ikut duduk, “Aku tidak suka jika kau seperti ini, Seo. Aku bukan anak kecil. Sikapmu mengangguku.”

Seohyun tertunduk mendengar apa yang diucapkan Yoona dengan nada tajam. Sadar bahwa ia sudah melewati batasnya, ia hanya terlalu mengkhawatirkan sahabatnya. Melupakan jika gadis di hadapannya yang Seohyun yakin tengah menatap tajam dirinya berbeda.

Seohyun, baru pertama kali mendapat seorang sahabat yang benar-benar tulus. Selama ini ia dikelilingi oleh orang-orang yang selalu memakai topeng baik padanya. Jadi, ketika ia menemukan yang tulus, ia sangat bahagia dan melupakan batas yang diberikan oleh Yoona secara tersirat.

Yoona, bukan seseorang yang mudah mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ia  juga memiliki luka atas sesuatu yang pernah terjadi padanya dimasa lalu. Gadis dengan raut datar dan kata-kata pedas.

“Maaf,” bisik Seohyun.

“Ck, hentikan suasana mengerikan ini. kau membuatku seperti seorang pria yang tengah memarahi kekasihnya. Dasar drama queen,” gerutu Yoona dengan wajah jengah.

“Ahaha.., kau menyebalkan. Baiklah, aku percaya kau akan baik-baik saja.”

“Hmmm.”

“Kau janji akan langsung menelponku saat tiba, okey,” ujar Ethan pada Seohyun yang berdiri di depannya.

“Ay ay, Captain. Aku akan sangat merindukanmu selama liburan ini.”

“Aku juga, jaga dirimu.”

Disaat kedua orang di sampingnya melakoni salah satu adegan drama di bandara, Yoona memilih mengunyah permen karetnya dan membuat suara berisik.

Mengganggu momen kedua orang tersebut, Seohyun mendelik dan Ethan meringis, menyadari bahwa mereka tidak hanya berdua, melainkan bertiga bersama sahabat Seohyun yang terkenal dengan wajah tanpa ekspresi di kampus mereka.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Seohyun pada gadis yang dengan cueknya membentuk balon kecil dari permen karet yang dikunyahnya.

“Sebaiknya kau masuk, pengumuman keberangkatan pesawat yang kau tumpangi, sudah terdengar sejak beberapa menit lalu.”

“Aku bingung, kenapa aku mau bersahabat dengan gadis tidak berperasaan sepertimu.”

“Karena kau bodoh.”

“Terimakasih sudah mengingatkanku,” ketus Seohyun dan mendapati Ethan terkekeh melihat interaksi mereka berdua.

“Aku titip sahabat kejamku, Babe,” katanya pada Ethan yang dibalas dengan senyuman serta anggukan dari lelaki itu.

Seohyun berbalik dan melangkah meninggalkan kedua orang tersebut, setelah sosoknya menghilang dari pandangan. Yoona membalikkan badannya, melangkah keluar bandara diikuti Ethan.

“Kau sangat menyayangi, gadis manja itu, bukan?”  kata Ethan melirik Yoona yang sekarang berjalan di sampingnya.

“Hmm..”

“Aku akan sering mengajakmu keluar.”

Please, abaikan ocehan Seohyun, dan cukup kirim pesan padaku,” erang Yoona dengan muka yang menunjukkan kengerian.

Membuat Ethan terkekeh geli karenanya, “Gadis yang unik,” batin Ethan.

 

Bulan nampak menggantung di langit cerah malam hari. Yoona duduk di balkon kamarnya, kedua kakinya dinaikkan di atas kursi yang didudukinya, lengannya memeluk lututnya, dan netra cokelat mudanya memaku tatapannya pada bulan yang muncul dengan bentuk tidak sempurna.

Dini hari, dan ia masih belum tertarik untuk mengistrahatkan tubuhnya. Perasaan yang selama ini ia simpan rapat dalam sudut jiwanya kembali muncul. Tatapannya menunjukkan sebuah tekad tanpa keraguan. Tekad yang ia bangun untuk mengobati egonya yang terluka.

Ia tidak ingin bersikap pengecut seperti kakak lelakinya, agar ia bisa menghadapi masa depan dengan dagu terangkat. Ia membiarkan naluri gelapnya mengambil alih kendali akan dirinya. Melakukan sesuatu untuk semua yang telah dialaminya. Ia yakin, bisa mencapai apa yang menjadi tujuannya. Sejak takdir merubah dirinya tujuh tahun lalu, ia juga memilih untuk mengubah tujuannya.

Mencoba menghiraukan keadaan dirinya yang selama ini berada dalam kegelapan tanpa cahaya. Hatinya ditutupi dengan jutaan titik hitam kegelapan.

Tangan kanannya terjulur ke depan, ingin menggapai bintang yang jaraknya berjuta kilometer darinya. Ia dulu mengagumi dan menyukai benda langit tersebut, karena orang yang menjadi penyebab lukanya juga menyukai bintang. Ia tersenyum dengan kepedihan terbayang dalam iris cokelatnya. Bintang yang entah kenapa sekarang membuatnya merasakan sakit hanya karena memandangnya.

“Sebentar lagi, bersabarlah. Kau akan bisa melepaskan semuanya, Yoona.”

“Yoona, gadis yang dulu selalu menempeliku?”

Sehun duduk di balkon kamarnya, memikirkan keanehan keluarga yang pernah menjadi tetangganya dulu.

Ia ingat dengan gadis berusia 10th yang selalu menghabiskan hampir setiap harinya di rumah Sehun. Gadis yang memanggilnya “Kakak” seakan ia benar-benar kakak gadis itu.

Sehun, juga mengingat Minho yang selalu memiliki ide untuk menjahili adiknya sendiri. Ibu Yoona yang memilki wajah cantik dengan sikap lembut, dan ayah kedua anak itu, yang selalu berada disekitar wanita yang merupakan istrinya.

Terkejut, dengan kenyataan bahwa sekarang ia kembali bertetangga dengan mereka. Namun, dengan dua sosok berbeda hadir menggantikan Yoona dan ibunya.

Pertemuan pertama, ia tidak berhenti mengernyitkan dahi. Melihat perbedaan besar yang ditemukannya dalam keluarga Choi. Minho yang dulunya adalah remaja laki-laki dengan cengiran jahil selalu terlihat diwajahnya kini menjadi seseorang dengan sikap cuek, Choi Siwon paman yang dikenalnya sangat menyayangi putri bungsunya, sekarang menampilkan ekspresi terganggu setiap nama Yoona muncul.

Dua sosok lainnya, benar-benar berbeda dengan perempuan Choi yang dulu. Istri Siwon yang ini memang selalu menampilkan sikap hangat, hanya saja ia tetap tidak terlalu menyukai berdekatan dengan wanita paruh baya tersebut, sedang gadis bernama Sooyoung, sama seperti dengan gadis lain yang sering dijumpainya, manja dan selalu menatapnya dengan tatapan yang membuatnya kurang nyaman.

Berbeda dengan Yoona yang menatapnya seakan ia adalah kakak yang selalu diinginkannya. Perbedaan yang sangat mencolok. Juga, terasa aneh.

 

Advertisements