TITLE  : BACK IN TIME 

CAST  : IM YOON AH AS GINA LARASATI HADRIAN || OH SEHUN AS NATHAN REVALDI || SEO JOO HYUN AS LANA AYU LESTARI HADRIAN || KWON YURI AS GLADISA PRATIWI

OC     : FIND BY YOUR SELF

GENRE : ROMANCE |SAD || SCHOOL-LIFE || FAMILY 

DISCLAIMER : ALL CAST BELONG TO GOD AND THE STORY BELONG TO ME

HAPPY READING ^^

hari berganti menjadi bulan, perasaan asing yang aku rasakan pada Nathan bukannya menghilang malah berubah menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Hal yang  sukses membuatku menjadi tidak fokus pada apapun yang aku kerjakan.

Efeknya aku menjadi lebih sensitif lebih dari biasanya, aku mudah tersinggung jika ada yang berbicara tentang hal-hal menyangkut Nathan juga perasaan yang aku rasakan padanya. Aku juga khawatir jika tetap seperti ini, sudah dipastikan nilai UAS yang akan dilaksanakan 1 bulan lagi akan mendapat nilai rendah.

Sialan, aku benci perasaan yang menyeabkan diriku kehilangan kendali pada diriku. Untuk menghindari diriku semakin jatuh kedalam perasaaan yang aku rasakan, jalan terbaiknya adalah menjauhi sumber yang membuatku merasakan perasaan asing ini.

Sikapku membuat keenam sahabatku selalu menerorku dengan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku, sebab aku yang tidak lagi menggubris Nathan ketika bersama kami, memilih pergi jika Nathan terlihat akan bergabung bersama kami, juga mencari banyak alasan agar tidak dibonceng olehnya saat akan ke rumah teman kami untuk belajar bersama.

Intinya aku menjauhi Nathan dan menurut sahabat-sahabatku aku telah bersikap jahat pada cowok itu. Aku mendengus karena perkataan mereka, bukannya Nathan juga jahat padaku karena membuatku merasakan hal yang menggangguku saat ini?

Well, salah satu sahabatku rupanya masih tidak mau melepaskanku dari masalah ini. ia malah nekat mengunjungiku diwaktu akhir pekan hanya untuk menanyakan alasan semua perubahanku pada Nathan.

……………………..

 

Sosok  G terlihat dimataku saat ia membuka pintu kamarku dan bergerak  menuju ranjang dimana aku masih berbaring dengan kesadaran yang masih belum utuh. Bingung adalah apa yang saat ini aku rasakan.

“Kenapa?” tanyaku pada G yang sekarang duduk diatas kasur bagan sisi kanan ranjangku.

“Bangun dan bersihkan dulu badanmu.” Ia sekarang berbaring dan mengeluarkan ponselnya.

Aku memutar bola mataku karena tingkah G yang kadang sulit aku pahami. Mengikuti saran G, aku bangkit dari posisiku dan berjalan menuju kamar mandi kamarku.

Setelah selesai melakukan ritual mandi pagi yang sepertinya terlambat aku lakukan karena jam di kamarku menunjukkan pukul 11:20 WITA, berpakaian, dan mendudukkan diriku dikursi dari meja belajarku.

“Katakan hal yang membuat seorang G bangun pagi, yang tentu merupakan hal langka.” G mendengus mendengar perkataanku yang aku balas dengan kekehan.

“Aku benar-benar tidak bisa menahan keinginanku lagi, G.” G menghela nafas, “beritahu alasan sebenarnya, yang membuatmu mati-matian menolak apa yang kau rasakan pada Nathan?”

Aku tertegun, sangat tidak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan G.

“Ck, perasaan seperti apa yang kau maksud, G?”

Oh come on, Girly. Berhenti berpura-pura tidak tahu bahwa apa yang kau rasakan pada Nathan adalah perasaan suka,” ujarnya.

“Aku tidak menyukai Nathan,” bantahku.

“Huh, lalu apa yang menurutmu saat ini kau rasakan?”

“Kau selalu memikirkannya kan? Jantungmu berpacu gila-gilaan saat berada di dekatnya, kau selalu ingin melihatnya, kau juga menyesal tidak mengiakan diwaktu ia memintamu menjadi pacarnya. Sekarang kau merasa kehilangan ketika ia tidak lagi melakukan hal-hal yang dulu sering ia lakukakn padamu, karenanya kau menjadi terganggu dengan kehadirannya, alasannya kau tidak bisa mengatasi perasaan yang saat ini tengah kau rasakan.”

“A-aku.. aku.”

Kosong, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk membantah apa yang dikatakan G. Semuanya benar. Ia mengatakan apa yang memang aku rasakan dan karenanya aku merasakan perasaan frustasi menguasaiku.

Tanpa sadar air mataku keluar dan diwaktu bersamaan aku mendengar umpatan G sebelum melihatnya melompat dari kasurku dan berlari padaku.

Damn, Gi.” G memelukku dan aku membalasnya dengan mengeratkan pelukanku padanya.

Menumpahkan rasa frustasi, penyesalan, dan rinduku pada Nathan. G tidak berkata apa-apa, ia hanya memelukku dengan satu tangannya mengelus rambutku, aku seperti mendapat kakak perempuan.

Aku melepas pelukanku pada G, menghapus air mataku, dan menghela nafas perlahan. G  mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menungguku mengatakan apa yang ingin aku katakan.

Mulailah aku bercerita apa yang membuatku menyangkal apa yang aku rasakan pada Nathan.

 

 

FLASHBACK

Aku melangkah ke bangku G yang pemiliknya sedang asik mengetik diponsel miliknya. sepertinya G sedang berkirim pesan dengan seseorang.

“G,”

“Hm?”

“Kau sudah mengerjakan tugas dari Ibu Firda?”

G menghentikan kegiatannya kemudian memberikan atensi penuh padaku. Ia mengerutkan dahinya berusaha mengingat apa dia sudah mengerjakannya atau belum.

“Belum. Kau sudah selesai, Gi?”

“Sama sepertimu.”

G hanya mengangkat bahu sebagai balasannya kemudian kembali asik pada ponselnya. Aku hanya menghela napas melihat sikap G.

Sejak awal semester genap kelas 2 sikap G mulai berubah, ia mulai sedikit tidak perduli pada pelajaran dan tugas yang diberikan guru. Puncaknya dua bulan ini G sama sekali tidak perduli jika tugas yang dikerjakannya mendapat nilai rendah. Padahal dulu G adalah salah satu siswa yang sering mendapat nilai tinggi.

Aku tahu sebab G berubah, itu semua sejak ia berpacaran dengan kak Reza, teman dari pacar Eka dan Hana, yang sekarang duduk dibangku SMA. Hubungan mereka memasuki bulan kedua.

Waktu pertama kali jadian, G mengirim pesan padaku bahwa ia berpacaran dengan kak Reza. Well, awalnya aku ikut senang, tapi melihat perubahan G semenjak ia mulai berpacaran membuatku kurang suka pada kak Reza.

G juga mulai cuek padaku, aku jadi kesal karenanya. Aku sekarang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kinan yang merupakan siswi terpintar di kelasku. Widya, Hana, dan Lisa sama seperti G. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bersama kelompok eksis. Aku seperti dilupakan dan aku benci itu.

 

<<<< 

To : G

From : Gi

G, kau sibuk?

 

 Aku mengirim pesan pada G sambil berbaring diatas kasurku. Aku benar-benar bosan tidak tahu mau mengerjakan apa. Aku sudah selesai mengerjakan tugas untuk pelajaran besok. Biasanya aku akan bersms ria bersama keenam temanku. Sekarang, bahkan salah satu dari mereka tidak menghubungiku sejak pulang sekolah.

Aku masih menunggu pesan balasan dari G, semenit, dua menit, hingga lima belas menit berikutnya aku masih belum mendapatkan balasan. Apa memang seperti ini? jika kau sudah berpacaran kau akan melupakan teman-temanmu dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama pasanganmu? Keterlaluan.

 

Aku masih sibuk menyumpahi teman-temanku karena dengan kejamnya melupakanku, saat  bunyi tanda pesan masuk diponselku mengalihkan perhatianku.

 

To : Gi

From : G

Smsan sama kak Reza J

Sory for late ehehe.

 

Good, dugaanku tepat. Gi sibuk dengan kak Reza,menyebalkan!

 

 

<<<<<< 

 

Setelah hari itu aku tidak lagi berusaha menghubungi keenam temanku. Aku lebih menghabiskan waktu bersama Kinan. Kinan lebih memilih buku di banding seorang cowok. Dua bulan berikutnya aku mendapati G  yang kembali menyapaku dan menghabiskan waktu bersamaku. Aku awalnya canggung dengan kehadiran G yang belakangan ini jarang berkumpul denganku. Namun, itu hanya berlangsung selama seminggu. Minggu berikutnya aku mulai terbiasa dengan kehadiran G kembali. Selama itu G tidak pernah membahas kak Reza sama sekali. Padahal dulu hampir setiap saat nama kak Reza keluar dari mulut G.

 

Menjadi seseorang yang tidak peka mungkin adalah bagian dari diriku. Aku tidak sadar tentang masalah yang dialami G. Sampai saat ketiga temanku yang juga sudah menghiraukanku selama dua bulan ini kembali menghabiskan waktu denganku. Mereka membahas tentang kak Reza. Setelahnya, aku tahu apa yang membuat G tidak pernah membahas kak Reza.

G dan kak Reza sudah tidak berhubungan lagi. Mereka putus setelah seminggu dibulan kedua mereka berpacaran, kak Reza menghilang tanpa kabar.

 Ia memutuskan G dengan mengirim pesan putus. Parahnya Eka memberitahu G, bahwa saat kak Reza dan G berpacaran, cowok itu masih memiliki pacar lain. Brengsek!

Aku tidak mengerti pada G. Normalnya seseorang akan merasa terluka jika mengalami hal seperti yang dialami G, bukan? Tapi G berbeda. Ia tidak menampakkan ekspresi seseorang yang sakit hati. Ia tetap G yang selalu berkata sinis, tertawa dengan suara melengkingnya, dan memakai wajah tanpa ekspresi saat bertemu orang tidak dekat dengannya.

Aku benar-benar berharap bahwa apa yang ditampilkan G pada kami memang seperti yang dirasakannya. Ia baik-baik saja. Aku tidak ingin ia bermain peran ‘Aku baik-baik saja’ pada kami, sedang hatinya mungkin saja berdarah karena hal yang dilakukan kak Reza brengsek pada G.

 

<<<<< 

 

Well, G mungkin bisa mengatakan ia baik-baik saja. Meyakinkan kami dengan selalu bersikap seperti ia yang dulu. Namun, yang tidak ia sadari bahwa ada yang berbeda darinya. G, memang tidak memasang wajah murung. Sayangnya, hal yang dilakukannya lebih parah dari itu. Ia menjadi seorang playgirl. Kalian tahu kan? Aku dan ketiga teman cewekku bahkan Juan serta Dika dibuat terkejut. Aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran cewek satu itu.

Selain itu meskipun G tidak lagi berpacaran dengan kak Reza, ia masih tetap bersikap acuh tak acuh pada tugas dan pelajaran di sekolah. Hasilnya sudah bisa dipastikan. Ia mendapat peringkat yang hampir membuatnya terdepak dari kelas. G diwaktu pengumuman hasil ujian kenaikan dari kelas 2 ke kelas 3 , ia bisa berakting biasa saja ketika mendapat peringkat terburuk, tapi aku bisa melihat pancaran rasa getir  yang disembunyikan G dari mata dan senyumnya.

Hal aneh yang juga baru aku sadari adalah aku tidak pernah melihat salah satu atau bahkan kedua orang tua G mengambilkan rapor miliknya selama ini. Aku hanya melihat ibu G yang datang ke sekolah untuk mengambil rapor milik kak Ikbal. Sedang, G selalu bersama seorang kakak perempuan yang aku perkirakan berumur pertengahan 20tahun untuk mengambil rapor miliknya. Aneh, aku ingin menanyakan pada G, tapi aku takut akan menambah kegetiran pada pancaran mata G. Aku sekarang tahu hal yang bersangkutan dengan keluarganya sepertinya menjadi hal yang menjadi salah satu penyebab G mempunyai keangkuhan dan hal gelap lain pada tatapan miliknya. Aku mengetahuinya tanpa harus menanyakan pada G secara langsung.

FLASHBACK END

 

 

 

 

G menatapku dengan mulut terbuka lalu tertutup persis seperti ikan koi, aku terkekeh geli karenanya dan mendapat delikan tajam dirinya.

Sebelum aku menyadarinya sebuah jitakan mendarat di dahi lebarku, sial. aku meringis karen rasa sakit yang kurasakan karena G menjitakku sekuat tenaganya. Kejam sekali.

“Cewek bodoh.” hinanya padaku.

Sekarang gantian aku yang memberikannya delikan tajam, jangan memikirkan bahwa aku akan balas menjintaknya. Aku tidak sebodoh itu, G adalah cewek mengerikan dan aku tidak akan pernah bisa melawannya dalam adu fisik. Membayangkannya saja sukses membuatku bergidik.

“Nathan jelas berbeda dengan cowok brengsek itu, Gi.”

“Apa kau bisa memastikannya?”

“Tentu saja, sejak awal cowok malang itu hanya berusaha mendekatimu, hampir setiap waktu ia ikut bersama kita. Bahkan Juan dan Dika teman dekat Nathan, jelas mereka tahu seperti apa Nathan.”

Aku memikirkan apa yang dikatakan G. Ia memang benar, tapi..

“Nathan, tidak lagi berbicara padaku. Itu semua salahku, lalu apa yang bisa aku lakukan? Aku juga belum siap untuk berpacaran saat ini, G.”

G  memandangku dengan sebuah pengertian dalam matanya, “Itu semua terserah kau, Gi. Kalau kau memilih untuk fokus pada ujian, aku rasa Nathan akan mengerti. Aku juga berani bertaruh ia akan kembali memintamu menjadi pacarnya nanti.” Ia menyeringai padaku saat melihat kedua pipiku bersemu. Damn!

Advertisements