Title : Hatred (Memories)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

Yoona menghabiskan hari liburnya dengan mengunjungi perpustakaan kota, juga tempat wisata di Kota Liverpool. Seperti janjinya pada Seohyun untuk menjaga Yoona. Ethan mengajak gadis itu keluar ke beberapa tempat, hari ini mereka mengunjungi Albert Dock yang lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Liverpool dan hanya butuh sekitar 20 menit berjalan kaki dari Liverpool Lime Street train station.

Albert Dock  yang dulunya merupakan  komplek pergudangan yang diresmikan pembukaannya untuk pertama kali oleh Prince Albert (suami Ratu Victoria) pada tahun 1846. Sekarang menjadi tempat wisata dengan beragam atraksi wisata seperti belanja, mencicipi kuliner di restoran maupun bar atau mengunjungi museum. Di samping itu ada wisata air dengan menumpang The Yellow Duckmarine yaitu semacam kendaraan amphibi yang memiliki 24-30 tempat duduk.

Ethan menunggu Yoona yang sedang membeli minuman disalah satu toko yang tidak jauh darinya. Mereka berada di jalan yang menuju Museum dekat Albert Dock.

Yoona keluar dari toko dan hendak menyebrang jalan saat matanya tidak sengaja melihat seorang wanita paruh baya berdiri tidak jauh darinya sedang tarik-menarik tas yang dipegangnya dengan seorang lelaki bertubuh tinggi. Satu kesimpulan muncul dipikirannya dan berniat membantu wanita paruh baya tersebut sebelum laki-laki itu mengeluarkan pisau dari saku jaketnya dan melukai pergelangan tangan wanita itu.

Yoona yang sedang berjalan mendekat, terhenti. Ia membatu ditempat. Rona wajahnya berubah pucat seketika, seakan seluruh darah diwajahnya disedot keluar. Tubuhnya gemetar dan matanya memaku pada darah yang terus-menerus keluar dari pergelangan tangan wanita tesebut. Adegan yang terjadi di depannya mengingatkannya pada kilasan mimpi buruknya.

Ethan mendengar teriakan kesakitan dari seberang jalan tempatnya berdiri dan melihat kerumunan orang-orang. Seorang pria berlari ke arahnya dan memegang sebuah tas tangan wanita. Ia menghiraukannya dan memilih beranjak ke kerumunan orang di seberang jalan.

Di sana tidak jauh dari kerumunan ia mendapati Yoona ikut menatap keramaian tidak jauh di depannya. Mendekati Yoona bermaksud menanyakan apa yang terjadi, sebelum Ethan berdiri di samping Yoona dan memperhatikan wajah Yoona yang pucat.

Mengikuti arah pandang Yoona pada seorang wanita paruh baya yang dikeluarkan dari kerumunan dengan pergelangan tangan berdarah. Salah seorang membalut pergelangan tangan wanita itu untuk menghentikan pendarahan dan membawanya masuk ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

Ethan menyadari tubuh Yoona yang mulai bergetar, Ia memanggil Yoona, namun tidak mendapat tanggapan. Rasa khawatir mulai menyergapnya, diguncangnya bahu Yoona dan menyebut namanya beberapa kali.

Suara panik seseorang menyadarkan Yoona dari keterpakuannya. Mendapati Ethan berdiri di depannya dengan wajah cemas dan kedua tangannya memegang bahu Yoona dengan cengkraman yang sedikit menimbulkan rasa nyeri.

“Yoona!”

“Yoona, syukurlah kau kembali dari apapun yang kau pikirkan. Kau baik-baik saja?”

“Ethan, aku ingin kembali ke apartemen.”

“Kalau begitu, kita kembali. Aku akan mengantarmu, kau kelihatan pucat.”

Yoona tidak membantah dan hanya menganggukkan kepalanya. Ia sadar membutuhkan seseorang untuk membawanya pulang. Tenaganya seperti terkuras habis.

 

Ethan berdiri di depan pintu apartemen Yoona dengan pemiliknya yang berdiri di sampingnya. Ia memutar tubuhnya ke arah Yoona.

“Kau yakin baik-baik saja?”

“Ya, aku hanya sedikit pusing. Kau boleh kembali sekarang. Terima kasih sudah mengantarku.”

 

Ethan ingin membantah bahwa gadis di depannya tidak sedang dalam keadaan baik. Namun, ia mengurungkan niatnya karena mengetahui batasannya, menyadari pengusiran halus dari Yoona. Ia menganggukkan kepalanya, “Baiklah, beristrahatlah. Sampai jumpa, Yoona.”

Yoona memperhatikan Ethan yang menghilang di dalam lift. Membuka pintu apartemennya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.

 

Kamar itu gelap tanpa penerangan satu pun. Sunyi menyelimuti ruangan tersebut, di sudut kamar seorang gadis dengan gaun tidur putih tampak meringkuk dengan gumaman tidak jelas keluar dari bibirnya.

“Jangan, jangan lakukan itu!” Teriakannya menggema di kamarnya. Air matanya keluar dan teriakan frustasi kembali terdengar.

“Jahat, kau wanita jahat,” gumam gadis itu dengan tangannya memeluk kedua lututnya. Kepalanya tertunduk dengan tatapan mata kosong,  “Aku akan membunuhmu. Aku akan mambalas apa yang sudah kalian lakukan padaku.”

“Pria egois. Menjijikkan.”

“AHAHAHAHA.” tawanya keluar menggantikan tangisnya. Airmatanya tetap mengalir keluar sedang bibirnya mengeluarkan tawa.

 

Seohyun gelisah sepanjang hari, terus memperhatikan ponselnya yang tidak kunjung mendapat balasan pesan dari orang yang ditunggunya.

Perasaannya tidak enak, ditambah ketika mendengar apa yang dikatakan Ethan padanya. Ia bergegas menghubungi Yoona, namun gadis itu tidak mengangkatnya bahkan ponselnya tidak aktif.

“Aku harap kau tidak sedang bermimpi buruk lagi, Yoona.”

 

“Apa yang ingin kau katakan, Minho?” tanya  Siwon pada putranya.

Minho berdiri di depan meja kerja ayahnya, mencoba menguatkan tekadnya, dan mulai membuka mulutnya untuk mengatakan apa yang ada dipikirannya.

“Apa Ayah sudah mendapat kabar dari Yoona?”

Jawabannya tidak segera datang, ayahnya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.

Setelahnya, Siwon menjawab dengan suara datar, “Kenapa aku harus mencari kabar dari seseorang yang tidak ingin dicari?”

“Meski begitu, seharusnya kita tetap mencoba menghubungi, Yoona.”

Siwon hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya. Minho yang melihatnya hanya tersenyum miris, “Inilah yang membuat Yoona semakin membenci Ayah.”

Mendengar perkataan Minho membuat amarah Siwon muncul, “Apa kau berhak mengatakan hal seperti itu? Kau juga sama sepertiku Minho. Kau meninggalkan Yoona,” desisnya.

Diingatkan tentang kebodohannya membuat Minho tertawa getir, “Ahaha..” Menggelengkan kepalanya, sebelum berbalik menuju pintu.

Ia berhenti dan tanpa membalikkan badannya, tetap membelakangi ayahnya,  Minho berkata, “Biar bagaimanapun, Ayah tidak akan pernah terima dijadikan sebagai pihak yang bersalah, bukan? Sama seperti yang terjadi pada Ibu.”

Setelahnya, Minho keluar dan menutup pintu ruang kerja ayahnya. Meninggalkan Siwon yang membeku ditempatnya, sinar matanya meredup dan menyebutkan nama istri pertamanya, “Taeyeon.”

 

Advertisements