Title : Hatred (Graduation and Farewell)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

 

Hari yang ditunggu oleh setiap mahasiswa adalah hari dimana mereka menggunakan toga. Seperti Yoona juga Seohyun yang duduk dibaris kedua dari podium dengan toga yang melekat ditubuh keduanya. Senyum terukir disetiap bibir mahasiswa tingkat akhir dan begitu juga dengan keluarga mereka yang menghadiri wisuda kelulusan.

Yoona berdiri cukup jauh dari keramaian, mengamati wajah bahagia dan senyum yang muncul diwajah teman-teman seangkatannya, kebahagian yang mereka bagi bersama keluarga mereka yang datang. Seohyun, gadis itu sedang larut dalam euforia kelulusan dengan kedua orang tuanya juga kakak laki-lakinya.

Karena tidak ingin mengganggu, Yoona memilih menjauh dari keramaian. Tanpa bisa ia tahan, ingatannya melayang pada sosok wanita yang melahirkannya. Meskipun berusaha keras mengatakan ia membenci ibunya, tetap saja tidak bisa menampik perasaan yang menginginkan kehadiran ibunya dihari wisuda kelulusannya.

Melihat binar bahagia yang terpancar dari bola mata teman-temannya, ia juga berpikir mungkin saja ia bisa merasakan hal itu bersama ibunya yang akan tersenyum lembut padanya. Memeluknya dan mengatakan ia bangga pada Yoona. Memikirkan semua itu, membuat Yoona dihantam perasaan sedih yang membuat dadanya sesak.

Tidak tahan memandang kebahagian di depan matanya, Yoona beranjak pergi. Memilih untuk kembali ke apartemennya, untuk menyelamatkan dirinya dari rasa sakit yang akan menyiksanya kembali. Tidak, Yoona tidak menginginkan air mata dihari kelulusannya.

Yoona terbangun dengan kepala yang berdentum hebat, membuatnya mengerang menahan rasa sakit yang dirasakannya. Melihat keadaan kamarnya yang gelap membuatnya menyadari bahwa matahari telah beranjak ke peraduaannya, membiarkan bulan menggantikan tugasnya.

Yoona meraih ponselnya yang terletak di nakas dan menemukan benda yang dipegangnya dalam keadaan mati. Ia mencharger ponselnya, dan menghidupkannya.

Detik benda pipih berlogo apel digigit menyala, ponselnya langsung mengeluarkan bunyi berisik dari banyaknya pesan yang masuk. 20 missed call dari Seohyun, membuatnya mengernyitkan dahi.

Baru saja ia ingin menghubungi Seohyun, sebuah panggilan masuk dan menampilkan wajah Seohyun dilayar ponselnya. Menggeser gambar telepon berwarna hijau, ia langsung mendengar teriakan dari sipenelpon.

“Yak!!!, kau kemana saja?!”

“Aku..”

“Kau tidak tahu jika aku mencemaskanmu? Aku bahkan hampir mendobrak pintu apartemenmu, jika kau tidak mengangkat panggilanku saat ini.”

“Tenanglah, Seo. Kau menyakiti telingaku. Aku tertidur dan baterai ponselku habis.”

“Kau… kau.. God, kenapa kau harus memberikanku sahabat seperti gadis ini.”

Sudut bibir Yoona terangkat sedikit, seakan ia sedang tersenyum mendengar ocehan sahabatnya. Seohyun mengeluarkan erangan frustasi ketika mendengar penjelasan Yoona.

“Kau bersiap-siaplah. Aku dalam perjalanan ke apartemenmu lagi. Aku ke sana setelah acara kelulusan selesai, tapi aku mengira kau tidak ada.”

“Ada apa?”

“Aku ingin mengajakmu makan malam bersama keluargaku dan….”

“Dan?”

“Dan juga keluarga Ethan! Kau bisa bayangkan aku sangat bahagia melihat keluargaku, khususnya ibu dan Jisung, menerima Ethan sebagi kekasihku. Jadi, berdandanlah yang cantik dihari bahagia sahabatmu juga hari kelulusan kita, Yoona.”

“Baiklah. Aku ikut senang untukmu.”

Yoona mengakhiri panggilan Seohyun, dan bersiap untuk makan malam bersama keluarga Seohyun dan Ethan.

“Aku akan merindukanmu, Yoona.” Seohyun memeluk erat gadis di depannya dengan mata dipenuhi cairan yang terus menerus keluar.

“Hm.. jaga dirimu baik-baik,” balas Yoona dengan tangan yang memeluk sahabatnya dengan sama eratnya.

“Kau harus selalu menghubungiku,  luangkan waktumu untuk mengunjungiku di Korea. Aku juga akan mengunjungimu.”

Yoona hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan Seohyun. Ia mengurai pelukan mereka dan langsung mendapat pelukan dari Ibu Seohyun disusul Ibu Ethan.

“Jaga dirimu, Yoona. Aku dan keluargaku akan selalu menunggu kehadiranmu di rumah kami,” ucap Ibu Seohyun.

“Kau juga harus mengunjungi kami di sini, Yoona. Kau sudah kuanggap anak, aku benar-benar akan merindukanmu yang selalu menjaga kedua pasangan labil itu,” kata Ibu Ethan yang mendapat suara rajukan dari Ethan dan Seohyun, dan kekehan dari suaminya, juga keluarga Seohyun.

Pesawat Yoona mendarat Bandar Udara Internasional Washington Dulles. Keluar dari pintu kedatangan bandara, perasaan Yoona bercampur aduk. Rasa sakit, amarah, dan benci memenuhi dirinya.

Di dalam taksi yang ditumpanginya, Yoona sibuk dengan pikirannya tentang rencana yang telah ia susun sejak beberapa tahun lalu. Memikirkan kapan ia melaksanakan rencananya.

Dibanding kembali ke rumah ayahnya, Yoona memilih untuk tinggal di apartemen miliknya yang dimintanya pada ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 17th. Ia tidak diizinkan menempati apartemennya sebelum umurnya memasuki 20th, karena itulah meski memilki kunci apartemennya, ia tetap tinggal bersama ayahnya.

Kepulangan Yoona bahkan kelulusannya tidak diketahui oleh keluargnya. Ia sengaja tidak memberitahu mereka. Namun, tetap saja. Ketika tiba di apartemennya dan hanya disambut kesunyian membuat Yoona tertawa getir.

 

Setelah selesai berbenah dan mengisi perutnya, langit telah berubah gelap. Yoona duduk di depan laptopnya dan browsing mencari lowongan pekerjaan yang cocok untuk dirinya. Diantara sekian banyak lowongan pekerjaan yang sesuai dengan lulusan Public Relation sepertinya, matanya tertuju pada salah satu nama hotel yang cukup terkenal. Hotel yang menjadi rival dari hotel milik ayahnya.

Mengetahui bahwa ia telah mendapat tempat kerja yang cocok untuk dirinya. Sudut bibir Yoona melengkung naik ke atas, menciptakan senyum sinis diiringi sinar kejam dimata cokelat gelap miliknya.

Esok paginya, Yoona telah siap dengan setelannya untuk mengantar surat lamaran kerjanya di perusahaan pilihannya. Yoona melangkah keluar dari taksi dan langsung berhadapan dengan gedung yang menjadi hotel saingan ayahnya.

 

The Jefferson Hotel, berdiri angkuh dengan lalu lalang manusia keluar masuk dari gedung tersebut. Yoona menarik nafas dengan perlahan dan menghembuskannya, setelahnya  ia memantapkan langkahnya menuju ke dalam salah satu hotel bintang 5 di Washington DC.

The Jefferson adalah hotel butik mewah yang terletak di 1200 16th Street NW di Washington, DC, di Amerika Serikat. Hotel yang diakuisisi dari The Jefferson Corp oleh Carter Corp. Menjadi hotel favorit bintang film, musisi, dan para pejabat tinggi pemerintah.

Satu minggu berlalu dan Yoona mendapat panggilan untuk mengikuti tes  dari The Jefferson Hotel. Yoona, berusaha keras agar ia dapat lulus disetiap tes yang diberikan. Dan usaha Yoona tidak sia-sia, ia berhasil lulus dan diterima sebagai seorang Public Relation Officer di Jefferson Hotel.

Mengetahui ia berhasil mendapatkan posisi seorang Public Relation di hotel yang menjadi salah satu cara untuk memuluskan rencananya, membuat Yoona tidak bisa menahan teriakan kegembiraannya.

Yoona yang berusia 10th berlari masuk ke dalam rumahnya. Menuju kamarnya di lantai dua, ia tergesa-gesa mengganti seragamnya, kemudian kembali menuruni tangga. Gerakannya terhenti mendengar suara lembut dari ambang pintu dapur memanggil namanya.

“Yoona?”  Berbalik, Yoona melihat ibunya berdiri dengan apron ditubuhnya.

Ia mendekat ke arah ibunya. “Ya, Ibu?” Yoona tersenyum pada ibunya dan dibalas dengan usapan lembut dikepalanya.

“Kau ingin kemana? Jangan bilang, kau ingin ke rumah Sehun oppamu.” Perkataan ibunya hanya dibalas dengan cengiran oleh Yoona. Membuat Taeyeon hanya menggelengkan kepala.

Yoona memang sangat dekat dengan Sehun yang merupakan anak tunggal dari pasangan Taejon dan Yojin tetangga mereka dan juga Taejon adalah teman kuliah Siwon, suaminya.

“Kalau begitu sampaikan salam Ibu pada Yojin,” kata Taeyeon sebelum mengecup pipi Yoona.

“Okay…” Yoona berlari meninggalkan Taeyeon dan keluar dari rumah.

Ia berpapasan dengan Minho yang muncul dari pintu gerbang. Menghiraukan kakaknya ia terus berlari menuju rumah yang berada di samping rumah keluarganya.

Minho masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju dapur. “Aku pulang.”Ia melihat ibunya sedang menyiapkan makan siang dan segera menolehkan kepalanya ke arah Minho.

“Ganti bajumu, dan bantu Ibu menata meja, hum,” perintah Taeyeon yang dibalas erangan dari Minho.

“Gadis nakal itu, tidak membantu Ibu lagi, bukan?”

“Kau tahu adikmu selalu menghabiskan harinya di rumah Sehun.”

“Adik menyebalkan, dia lebih menganggap Sehun sebagai Oppanya dibanding aku.”

“Kau tahu alasannya, Minho. Kau selalu menjahili adikmu.” Minho terkekeh mendengar fakta yang diucapkan ibunya. Ia memang sangat suka menjahili adiknya, karena baginya wajah Yoona yang sedang kesal terlebih menangis terlihat menggemaskan.

Minho kembali ke ruang makan setelah ia berganti pakaian dan membantu ibunya, “Ayah akan makan siang bersama kita, Ibu?”

“Ya, ia sedang dalam perjalanan pulang.”

Baru beberapa menit, suara mobil terdengar dari luar. Taeyeon dan Minho saling menatap dan berjalan ke pintu depan. Siwon keluar dari mobil dan melempar senyum pada Minho dan Taeyeon.

Siwon langsung menghampiri Taeyeon dan memeluk mesra istrinya. Taeyeon membalas pelukan Siwon dengan tangannya yang mengusap lembut punggung suaminya.

“Aku merindukanmu,” bisik Siwon dan berhasil membuat rona merah diwajah Taeyeon.

“Aku juga,” balas Taeyeon.

Aigo,,, berhentilah memamerkan kemesraan di depan anakmu,” erang Minho dan hanya mendapat kekehan dari kedua orang tuanya.

“Bagaimana harimu?” Siwon melepas pelukannya dan beralih menepuk lembut punggung Minho. “Baik, Ayah.”

“Dan dimana Putri kecilku?”

“Ayah seperti tidak tahu saja, Yoona lebih menganggap keluarga paman Taejon sebagai keluarganya,”

“Ahahaha.. ah, benar. Anak itu selalu lebih memilih menghabiskan harinya di rumah Taejon.”

“Sudahlah, lebih baik kita masuk ke dalam,” ajak Taeyeon pada suami dan anak lelakinya.

“Bibi, apa Sehun  oppa masih lama?” tanya Yoona yang duduk di salah satu kursi di ruang makan.

Yojin melirik Yoona yang bertopang dagu dengan wajah cemberut, ia tertawa melihat tingkah menggemaskan gadis yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.

“Tunggu sedikit lagi, sweetheart. Mungkin saja Sehun dalam perjalanan pulang. Ahh,, Bibi senang kau datang, Pamanmu belum pulang dari urusannya di luar kota. Bibi kesepian,” ujar Yojin sambli mengaduk masakannya.

“Baiklah. Paman belum kembali? Aku juga senang menemani Bibi. Ehehe.” Tawa Yoona terdengar disusul oleh Yojin.

Suara tawa keduanya berhenti saat mendengar suara bariton dari pintu depan. “Aku pulang.” Yoona bergerak lincah, turun dari kursi makan, dan bergegas menuju ke ruang tamu. Ia berlari dan langsung menubruk Sehun yang menangkapnya dengan tubuh terhuyung ke belakang. “Oppa!”

“Yoona. Oppa senang kau menyambut Oppa, hanya saja Oppa lebih suka kau tidak berlari dan menubruk Oppa.”

“Apa Yoona menyakiti Oppa? Apa Yoona berat?”

“Tidak, kau tidak menyakiti Oppa. Bukan, karena kau berat. Oppa hanya takut tidak bisa menahan keseimbangan Oppa, dan kita berakhir jatuh ke lantai.”

“Jadi, seperti apa?”

Sehun berpikir sejenak, “Kau bisa menyambut Oppa di depan pintu dan memeluk Oppa dengan lembut, tanpa harus menubruk Oppa.”

“Oppa ingin seperti itu? Baiklah.”

“Ahahahahaha..”  Suara tawa yang berasal tidak jauh dari keduanya mengalihkan perhatian Sehun dan Yoona. Keduanya melihat Yojin yang berjalan kearah mereka dengan tawa yang terus keluar dari bibirnya.

“Ada apa, Ibu?” Kulit diarea sekitar dahi Sehun berkerut. Menandakan rasa bingungnya pada ibunya yang tanpa sebab menertawakan ia dan Yoona yang berada dalam pelukannya.

Yojin berhenti beberapa langkah dari putranya dan Yoona, “Kalimat yang barusan kamu katakan adalah kalimat seorang suami yang menginginkan istrinya menunggui kepulangannya, sayang.” Perkataan Yojin berhasil merubah warna wajah Sehun.

Yoona nampaknya memiliki pemikiran lain dari apa yang diucapkan Yojin, “Tapi aku tidak ingin menjadi istri Sehun oppa, Bibi,” cetus Yoona.

Sehun terkejut mendengar perkataan Yoona, bergitu juga dengan Yojin, “Kenapa? Bukankah kau lebih memilih Sehun dibanding Minho?”

“Tetap saja, Sehun oppa, kadang mudah dipengaruhi Minho untuk menggangguku. Aku menginginkan seseorang seperti Ayah. Ayah tidak mudah dipengaruhi, kecuali oleh Ibu.” Mata Yoona bersinar dengan pemujaan saat mengingat kedua orang tuanya.

Sehun hanya bisa tersenyum kecut, sedang Yojin kembali mengeluarkan tawa lebih besar dibanding sebelumnya melihat wajah anaknya.

 

 

 

Advertisements