Title : Hatred (New Player)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

Baru genap seminggu Yoona membiasakan dirinya sebagai seorang Public Relation Officer di Jefferson Hotel, ia sudah harus mengikuti rapat untuk membahas masalah yang sedang dialami hotel tersebut.

Yoona duduk diantara barisan staf dan petinggi perusahaan. Raut tegang menghiasi wajah setiap orang dalam ruangan. Yoona dapat merasakan lirikan kecil bahkan ada yang menatapnya secara terang-terangan. Ia berhasil menampilkan raut datar yang menjadi keahliannya, sedang dalam pikirannya berkecamuk pertanyaan, apa yang mendasari rapat yang diadakan diselimuti dengan suasana tegang dan muram.

Setelah rapat dimulai akhirnya Yoona mendapat kejelasan akan sesuatu yang awalnya masih diselubungi kabut tebal dalam kepalanya. Masalah. Hal itulah yang ditangkapnya.

Yoona hampir tidak mampu menahan tawa sinisnya, mengetahui alasan perusahaan membutuhkan tenaga seorang PR secepatnya, dan kenapa dia yang terpilih.

Tentu saja, Yoona lulusan terbaik diangkatannya dengan IPK sempurna, berasal dari salah satu universitas terbaik di dunia. Hal yang sangat masuk akal pihak perusahaan memilihnya untuk mengatasi krisis perusahaan saat ini.

PR sebelum dirinya, membuat masalah, hingga membuat kurangnya pengunjung di hotel tersebut. Masalah yang ditimbulkan sepele, ia  menanggapi keluhan seorang pelanggan dengan cara  yang salah.

Mempelajari file tentang masalah yang dihadapi membuat Yoona tidak berhenti melontarkan umpatan dalam pikirannya. Hotel ini benar-benar dalam masalah.

Kurang baiknya relasi yang dijalin dengan pihak media, dimana media tentunya memiliki andil besar sebagai pihak luar untuk menjaga citra baik perusahaan, pelanggan Jefferson Hotel, juga pihak telekomunikasi, universitas, dan pihak-pihak lain yang memegang peranan penting.

Publikasi hotel yang sudah sangat jarang dilakukan membuat kurangnya informasi tentang keberadaan Jefferson Hotel pada masyarakat.  Yoona, benar-benar tidak bisa menghentikan dirinya untuk terus-menerus mengeluarkan sumpah serapah pada PR sebelum dirinya, masih banyak masalah yang orang itu tinggalkan untuknya.

 

Yoona duduk di kubikel miliknya, memperhatikan monitor komputer yang menampilkan data-data yang ia butuhkan untuk mengatasi masalah yang dibebankan padanya. Tangan kanannya mengambil ponsel di samping komputer, dan mencari kontak seseorang.

Dering pertama panggilannya langsung diterima oleh seorang lelaki bersuara bass.

“Yoona. Kau akhirnya menghubungiku juga.”

“Aku butuh pengaruhmu,”

“Hari yang kau sebutkan adalah hari ini?”

“Ya.”

“Berapa banyak yang kau butuhkan?”

“Sebanyak kontak dan relasi yang kau punya.”

“Ahahaha.. sepertinya kau memikul masalah dari orang yang ceroboh. Baiklah. Apa kau masih membutuhkan yang lain?”

“Masih, tapi bukan saat ini.”

“Kirimkan aku informasi yang kau ingin aku sebarkan. Teman-temanku akan mengikutiku.”

“Hmm..”

“Yoona?”

“…”

“Senang mendengar suaramu lagi. Kau tidak berubah, masih kaku seperti enam tahun lalu.”

“Kau akan menerima email dariku.”

 

Yoona memutus sambungan telepon dengan lelaki yang sangat ia butuhkan untuk kondisinya saat ini. Setelah mengirim e-mail  yang dijanjikan pada laki-laki tadi, Yoona mengambil laptop miliknya, menghiraukan komputer di depannya, ia mulai mengerjakan desain iklan hotel yang akan ia gunakan untuk dipasang dimedia cetak  dan beberapa stasiun tv.

Yoona, lalu menghubungi staff IT untuk menanyakan web site perusahaan yang rencana akan ia minta agar desain tampilan diubah dan mengajukan diri menjadi pengelola web site perusahaan.

Hampir sebulan Yoona lembur dan melaksanakan strategi yang telah direncanakannya untuk mengatasi masalah perusahaan tepatnya hotel tempatnya bekerja.

Meski sempat mendapat beberapa penolakan dan tatapan meremehkan dari atasannya yang merupakan General Manager perusahaan juga hampir semua karyawan, namun usaha yang Yoona lakukan membuatnya bisa melemparkan senyum sinis pada mereka.

Dalam sebulan, Jefferson Hotel kembali mendapatkan pengunjung dalam jumlah yang sama banyaknya sebelum mendapat masalah. Jefferson Hotel kembali mendapat kepercayaan customer, informasi-informasi yang diberikan oleh Jefferson Hotel pada pihak media diterima dengan baik, dan peningkatan pelayanan hotel dan memberikan fasilitas yang memadai.

 

Yoona menyandarkan punggungnya dikursi  kerjanya saat sosok atasannya, seorang wanita pertengahan 30th  dengan wajah menyebalkan bagi Yoona muncul dan berjalan ke arah kubikelnya.

Tepat di depannya, Miss. Hudgens menatapnya dengan kekesalan yang tidak berhasil disembunyikan pada mata hijaunya. Yoona menegakkan punggungnya, menunggu atasannya mengatakan maksud menemui dirinya.

“Miss. Yoona, ikut saya sekarang.” Tanpa menunggu respon Yoona, atasannya membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan. Yoona tidak pernah terbiasa dengan panggilan nama depannya disandingkan kata “Miss”

Salahnya yang menolak memberitahu arti dari nama belakangnya, C. Yang akan dengan mudah menunjukkan identitasnya sebagai putri dari seorang  Choi Siwon.

Yoona mengikuti Lirra Hudgens, atasannya masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai teratas gedung perusahaan. Dahinya mengerut dengan pemahaman yang didapatkannya, mereka menuju kantor CEO perusahaan.

Masalah seperti apa yang membuatnya harus bertatap muka dengan CEO perusahaan? Ia mendengar bahwa selama satu bulan kemarin, pria yang menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan sedang tidak berada di Washington. Jadi, apa yang membuatnya spesial hingga bisa bertatap muka secara langsung untuk pertama kalinya dengan pria tesebut?

Ia sadar, hampir semua karyawan tidak menyukai bahkan meremehkannya. Tidak mungkin atasannya dengan senang hati memuji dirinya di depan CEO kan?

Pintu lift terbuka, dan mereka langsung disambut oleh seorang wanita dengan rambut pirang strowbery di belakang meja penerima tamu. Suara seorang wanita mengalihkan atensi Yoona, pada seorang wanita lainnya yang muncul dari lorong yang menyambungkan lobby dengan lorong yang Yoona tebak menuju ke arah ruangan orang yang akan ditemuinya.

Mereka bertiga berdiri di depan pintu satu-satunya ruangan di lantai teratas gedung. Wanita yang mengantar mereka mengetuk dan memberitahu kedatangan mereka. Terdengar suara bariton dari dalam ruangan, yang membuat Yoona mengerutkan keningnya.

Pintu dibuka dan di sana, beberapa meter di depannya. Tepatnya di belakang meja kerja, seorang pria dengan tatapan mata dengan sinar kekejaman yang terukir jelas dinetra abu-abu pucat miliknya sedang menatapnya. Abu-abu pucat bertemu cokelat, satu dengan  kekosongan dan satu dengan kekejaman.

Atmosfir ruangan terasa berat membuat atasannya dan wanita lainnya yang Yoona tebak sebagai sekretaris pria yang tengah menatapnya gelisah. Miss. Hudgens mengatakan sesuatu  tentang dirinya dan meminta izin kembali, begitu juga sekretaris berambut pirang pucat.

Yoona berdiri di depan meja kerja, dengan mata yang tetap menatap pria di seberangnya. Mengamati sosok di depannya, pria yang berada di usia 32th dengan bahu lebar dan tubuh yang Yoona yakin selalu bisa membuat wanita yang melihatnya tertarik, rambut tembaganya di sisir rapi, dengan rahang tegasnya ditumbuhi cambang dan mata abu-abunya yang menyorot tajam, menimbulkan kesan kejam pada pria itu.

“Miss. Yoona. C.”  Suara pria di depannya mengakhiri observasi kecil Yoona.

“Silahkan duduk,” lanjutnya. Yoona mengikuti perintahnya dan mengambil tempat di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan pria itu.

“Saya, mengagumi usaha yang Anda lakukan dalam mengatasi masalah bulan lalu. Anda memang pantas mendapat gelar mahasiswa lulusan terbaik di universitas Anda berkuliah.”

“Terimakasih atas pujiannya, Sir. Tapi, saya hanya melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan seorang PR.”

Arsen Carter, CEO dari Carter Corp dan pemegang kekuasaan tertinggi di Jefferson Hotel, mengangkat salah satu alisnya mendengar perkataan yang diucapkan salah satu karyawannya.

Ia meneliti sosok wanita di depannya, tubuh mungil dan wajah yang tidak cukup cantik, namun bisa dikatakan wanita mungil dihadapannya berwajah manis. tidak sesuai dengan mata cokelatnya yang hanya menampakkan sorot datar. Bahkan ketika dia menatap wanita itu dengan tatapan yang selalu diberikannya untuk mengintimidasi orang  lain, wanita bernama Yoona itu membalas tatapannya dan menolak untuk mengalihkan tatapannya.

Netra cokelat yang seharusnya indah dirusak dengan tidak adanya binar di dalamnya. Datar. Tanpa emosi, seakan ia terlahir dengan tidak adanya emosi dalam dirinya, atau Yoona adalah orang yang pintar dalam menyembunyikan apapun yang dirasakannya.

“Saya mendengar, Anda menolak memberitahu nama belakang Anda. Apa yang spesial dari inisial C dari nama Anda, Miss. Yoona?”

Entah karena Arsen yang tidak teliti atau Yoona yang terlalu pintar mengatur bahasa tubuhnya, Arsen tidak menemukan tanda-tanda yang biasa dilakukan orang yang menyembunyikan sesuatu.

“Saya hanya tidak menyukai orang mengetahui nama belakang saya.”

“Baiklah. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung. Saya selalu menghargai pegawai saya berkerja dengan baik. Anda boleh kembali.” Mengakhiri ucapannya Arsen menatap Yoona sekilas, kemudian memfokuskan perhatiaannya pada tumpukan berkas di depannya.

Ia bisa mendengar balasan terima kasih Yoona padanya. Suara  ketukan heels terdengar menuju pintu ruangannya. Arsen menaikkan pandangannya dan memakunya pada sosok Yoona yang menghilang di balik pintu.

Ia meraih ponselnya, membuka kontak ponselnya dan mencari nomor yang akan dihubunginya, “Selidiki seorang wanita bernama Yoona. C, dan berikan aku informasinya pada jam makan siang.” Mengakhiri panggilan ia memutar kursinya menghadap ke jendela kantornya yang menampilkan pemandangan gedung-gedung Kota Washington.

“Wanita menarik.”

Yoona baru saja kembali dari makan siang, ketika telepon dimeja kerjanya berbunyi, tanpa prasangka apapun Yoona mengangkatnya. Kemudian, beberapa menit setelahnya sambungan telepon diputus oleh sipenelpon, meninggalkan Yoona dalam kondisi membatu.

Orang itu mengetahui identitas aslinya. Otak Yoona kembali menyusun ulang rencananya, lebih cepat yang dia duga. Orang itu berhasil mencari tahu identitasnya. Satu yang Yoona percayai, pria itu tidak mengetahui motif  dirinya bekerja di perusahaan ini.

Diwaktu yang sama di tempat berbeda, seorang pria menyeringai dengan kilat kejam bersinar di netra abu-abu pucatnya, “Aku mendapatkanmu, Choi  Yoona.” Tawa keluar dari bibirnya, “Apa yang dilakukan salah satu anak keluarga Choi Siwon di perusahaanku?”

Advertisements