Title : Hatred (Meet Again)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

“Choi Yoona, saya meminta Anda menjadi pasangan saya di pesta yang akan diadakan dua hari lagi.” Kata seorang pria dengan nada dingin di seberang telepon. Yoona bisa menyadari ancaman tersirat yang diselipkan dalam setiap kata yang diucapkan.

Sambungan telepon diputus, Yoona membatu. Sedetik kemudian senyum dingin terukir dibibirnya. Pemikirannya tentang karakter orang itu memang tepat. Hal sepele untuk informasi sebuah nama keluarga bukanlah hal sulit bagi pria tersebut.

Ia beranjak dari posisinya dan mendudukkan dirinya dikursi kerja. Memilih melanjutkan pekerjaannya untuk beberapa jam ke depan sebelum jam kerja berakhir.

Sooyoung menempelkan ponsel miliknya ke telinga, menunggu orang yang dihubungi mengangkat panggilan telepon darinya. Panggilan pertama tidak dijawab, ia tidak menyerah. Menghubungi kembali sampai orang itu mengangkatnya. Dering ke tiga suara bariton yang disukainya terdengar.

“Sooyoung?”

“Ya. Kau sibuk?”

“Begitulah, ada apa?”

“Aku ingin bertanya apa kau akan datang ke pesta ulang tahun Jhonson Corp?”

“Ya. Aku akan datang, Mr. Jhonson berteman baik dengan Ayahku.”

“Baguslah, bagaimana jika kita datang bersama? Ayah juga diundang, tapi aku ingin datang denganmu.”

Ada jeda beberapa detik sebelum suara Sehun kembali terdengar dengan penolakan yang terselip dalam kata-katanya, “Aku akan datang bersama kedua orang tuaku dan Hayoung. Kita ketemu dipesta.”

“Baiklah, kau sudah makan siang? Aku ingin mengajakmu makan disalah satu restoran yang direkomendasikan Abel.” Sooyoung berusaha mengangkat suasana hatinya dari keterpurukan karena penolakan Sehun.

“Aku sedang makan bersama temanku saat ini.”

“Well, sepertinya aku mengganggu makan siangmu. Sampai jumpa, Sehun.”

“Sampai jumpa, Sooyoung.”

Sooyoung menghela napas kasar dan meletakkan kepalanya di meja kerja. Berusaha menguatkan dirinya akan sikap dingin Sehun. Ini bukan pertama kalinya Sehun bersikap dingin padanya.

Sooyoung tahu, meski Sehun bersikap dingin padanya. Sehun bukanlah pria jahat. Dia memang seperti itu, buktinya ia selalu meluangkan waktunya untuk mengiyakan ajakan Sooyoung jika sedang tidak sibuk, meski kadang pria itu menolak ajakannya seperti yang baru saja terjadi.

Sooyoung yakin, Sehun akan membalas perasaan yang ia punya suatu hari nanti. Dengan status tunangan yang ia sandang  saat ini, membuat kesempatan itu akan semakin besar. Sooyoung tersenyum sendiri dengan pikiran yang muncul dikepalanya.

Tawa geli seseorang menyadarkan Sooyoung dari apa yang ia lamunkan. Mengangkat kepalanya ia melihat Minho kakaknya berdiri di depan meja kerjanya.

“Jadi ini yang selalu dilakukan sekretarisku diwaktu luang. Ckck.. kenapa aku bisa memilihmu menjadi sekretaris seorang direktur?”

“Aku tidak seburuk itu, dasar jahat,” ketus Sooyoung pada Minho yang sekarang terkekeh dengan tangan yang menyentil dahinya.

Sooyoung menepis tangan Minho, “Ada apa?”

“Aku ingin mengajakmu ke restoran yang biasa. Ayah dan Ibu sudah duluan ke sana.”

Senyum Sooyoung mengembang mendengar ajakan Minho, ia bergegas bangkit dari duduknya dan menuju ke arah Minho. Menggandeng tangan pria bermata cokelat di sampingnya dan berjalan menuju ke lift.

Hampir semua kepala di lobby menoleh kearah pasangan kakak-adik yang keluar dari lift. Tatapan iri dan juga kagum diarahkan pada mereka. Terlebih saat Minho tersenyum mendengar apa yang dikatakan Sooyoung, suara nafas tertahan terdengar dari karyawan wanita pada direktur perusahaan mereka.

“Kau lihat mereka berdua?” bisik salah satu karyawan pada temannya.

“Ya, benar-benar keluarga yang rupawan.”

Yoona melangkah keluar dari dalam lift dan matanya langsung bertemu dengan mata abu-abu pucat. Ia berjalan ke arah pria yang mengenakan tuxedo dengan warna yang sama dengan gaun yang dipakainya.

Sir.”

“Miss. Choi,” Seringai mengejek muncul diwajah Arsen yang sekarang berdiri di depan Yoona.

Yoona bisa merasakan darah dimulutnya karena menggigit bagian dalam pipinya.  Mendengar nama keluarganya dijadikan panggilan untuknya sangat menganggu ketenangan Yoona. Meski begitu wajahnya tetap datar.

Arsen meneliti perubahan apapun yang disebabkan ucapannya barusan. Nihil, Yoona tetap seperti patung dengan ekspresi datar yang membuatnya muak.

“Seharusnya saya tidak terkejut lagi, Anda bisa mengetahui apartemen saya.”

“Tentu saja. Anda harus ingat, setiap orang yang melangkahkan kakinya ke dalam perusahaan saya,maka dia tidak akan mempunyai sesuatu yang bisa disembunyikan.”

“Dan Anda gunakan sebagai senjata untuk  menyerang siapapun yang berkhianat pada Anda.”

“Wanita cerdas. Saya mengagumi kecerdasan Anda.”

“Brengsek.”

Lengan kekar Arsen melingkar dipinggang Yoona, menariknya mendekat dan berbisik ditelinga gadis itu, “Hati-hati Woman. Kau tidak ingin berahir ditemukan sebagi mayat tanpa bibir, bukan?” desis Arsen dengan meremas kuat pinggang Yoona, membuat Yoona mati-matian menahan erangan kesakitan keluar dari mulutnya.

“Sebaiknya kita berangkat sekarang.” Arsen berjalan dengan lengan yang masih melingkar dipinggang Yoona.

Sooyoung tidak berhenti menatap pintu yang terus memunculkan pria dan wanita dengan gaun elegan dan tuxedo yang terlihat cocok ditubuh pemakainya.

Di sampingnya kedua orang tuanya sedang berbicara dengan pria seumuran mereka yang menjadi penyelenggara pesta.  Sooyoung dengan royal blue evening dress tanpa lengan, tampak menjadi objek menarik bagi beberapa pengusaha muda yang beberapa kali melirik padanya.

Ia menghiraukan tatapan yang didapatnya dan fokus mencari orang ditunggunya sejak tiba tadi. Minho yang menyadari tingkah aneh Sooyoung hanya menggelengkan kepalanya, tahu betul siapa yang sedang dicarinya.

Keluarga Oh muncul dan senyum Sooyoung ikut terlihat. Matanya menangkap empat sosok yang berjalan kearahnya, lebih tepatnya pada teman bicara ibu dan ayahnya.

Thomas Jhonson, pemilik Jhonson Corp  tersenyum lebar menyadari kehadiran salah satu teman baiknya. Taejon menyapa Thomas dan juga istrinya. Melanjutkan menyapa Jhonatan dan Tiffany, kemudian kedua anaknya.

“Sehun,” sapa Sooyoung pada pria yang terlihat tampan malam ini.

“Sooyoung,” balas Sehun dan mengarahkan pandangannya pada  sosok pria di samping Sooyoung, “Minho.”

“Hi, Princess Hayoung. Princess terlihat sangat cantik malam ini,” puji Sooyoung pada gadis kecil yang berada digendongan Sehun.

“Kau juga, Sooyoung,” ucap Hayoung dengan pipi bersemu.

Melihat tingkah menggemaskan gadis kecil itu, membuat Minho, Sooyoung, dan Sehun tertawa geli. Dan Sooyoung tidak pernah berhenti mengagumi tawa yang dikeluarkan Sehun.

Tawa ketiganya terhenti ketika suasana pesta berubah hening. Mencari sumber keheningan, Sooyoung melihat pasangan yang baru saja melewati pintu depan. Keduanya tampak serasi dengan gaun dan tuxedo warna hitam menjadi pilihan.

Sosok pria dengan tubuh tegap dengan wajah yang Sooyoung akui tampan, merangkul pinggang pasangannya, seorang wanita yang tampak mungil dengan gaun hitam elegan melekat ditubuhnya.

Sooyoung bisa melihat tatapan kagum diarahkan pada pasangan yang berjalan ke arah tuan rumah.  Wanita itu tidak cantik, namun memiliki aura yang dapat membuatmu menoleh padanya dalam waktu yang lama. Wajah yang memiliki pesona tersendiri, ditambah dengan gaun yang membungkus tubuh mungilnya, menonjolkan lekuk tubuh sempurna miliknya.

Kekaguman Sooyoung pada pasangan itu, harus hancur saat keduanya melewatinya dan sekarang berdiri beberapa langkah di depannya. Menyapa tuan rumah, kedua orang tuanya dan Sehun.

“Mr. Jhonson, selamat atas ulang tahun perusahaan Anda.”

“Arsen Carter, tetap kaku seperti Ayahmu,” canda Thomas sambil menepuk pundak Arsen.

“Mr. dan Mrs. Choi,”

“Paman Taejon dan Bibi Yoojin,”

“Kau baru kelihatan Arsen, padahal Bibi sudah sangat merindukanmu,” omel Yoojin yang hanya dibalas tawa oleh Arsen. Ibu sahabatnya yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.

“Siapa wanita yang menjadi pasanganmu malam ini, Arsen?” Pertanyaan Thomas membuat pasangan Oh mengarahkan pandangan mereka pada wanita mungil di sampingnya.

Hal yang sudah ditunggu Arsen akhirnya tiba, dengan senyum lebarnya ia mengenalkan pada orang-orang di depannya, “Kenalkan Yoona. C, seorang Public Relation Officer di perusahaanku. Orang yang memiliki andil besar menyelesaikan masalah Jefferson Hotel.”

“Senang berkenalan dengan Anda Miss. Yoona. Anda cukup terkenal dikalangan pengusaha seperti saya, sejak berita tentang PR baru berhasil menyelesaikan masalah Jefferson hotel, bahkan menaikkan jumlah pengunjung hanya dalam satu bulan.” Mr. Jhonson dan istrinya tersenyum pada Yoona.

“Anda terlalu memuji saya, Mr. Jhonson,” balas Yoona dengan senyum ramah yang sudah biasa ia latih menjadi topeng untuk kondisi seperti saat ini.

Arsen memperhatikan raut wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan oleh keluarga Yoona dan sahabatnya Sehun. Membuatnya kembali menampilkan senyum mengejek.

Sosok seorang pria paruh baya lainnya tertangkap dalam pandangannya, pria yang dikenal sebagai pemilik K Corp. Satu pemahaman kembali didapatnya, pria itu adalah kakak dari mendiang istri pertama Choi Siwon.

“Sepertinya aku mengenal pasangan Mr. Carter.”

“Ya, wajahnya familiar.”

“Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?”

Saat paman Yoona tiba di tempat Arsen dan lainnya berada. Suara kesiap terdengar menggantikan gumaman berisik yang tadi di dengarnya.

God, bukankah dia Choi Yoona? Putri Choi Siwon?”

“Kau benar. Aku dulu sering melihatnya saat keluarga Choi datang ke pesta perusahaan diwaktu ayahku masih menjadi pimpinan perusahaanku.”

“Apa yang dilakukannya? Kau dengar bukan? Dia adalah orang yang menjadi PR di Carter Corp.”

Ruangan seketika menjadi lebih berisik, dan Arsen hanya tersenyum lebar melihat suasana kaku pada orang-orang disekitarnya, “Selamat malam, Mr. Kim,” sapa Arsen pada paman Yoona yang sedari tadi menatap Yoona.

“Mr. Carter,” balas paman Yoona, “Pesta yang menakjubkan, Thomas.”

“Kim Yong Jae, kau selalu memujiku dengan nada mengejek,” kekeh Thomas dan mencairkan suasana tegang yang menyelubungi mereka.

Keluarga Yoona terus menatap pada seorang wanita yang bertingkah seolah ia adalah orang asing bagi mereka. Siwon sudah bisa mengatur kembali ekspresinya, dan bersikap sama seperti yang dilakukan putrinya. Tiffany, di sampingnya juga ikut mengabaikan Yoona, meski sesekali melirik.

Di sisi lain, Minho memilih berjalan menuju meja yang sudah disiapkan untuk keluarganya. Mendudukkan dirinya, lalu matanya terus menatap pada adiknya. Memperhatikan setiap gerak tubuh dan raut wajah yang muncul.

Sooyoung yang tadinya senang karena kehadiran Sehun, sekarang melempar pandangan benci pada wanita yang ia yakin akan mengacaukan semua hari-hari sempurnanya. Sedang keluarga Oh, khususnya tiga orang dewasa, memilih bersikap seolah tidak terjadi apapun.

“Aku tidak bisa tinggal terlalu lama, Thomas. Hyun Ah sakit,” ujar Yong Jae pada Thomas.

“Baiklah, aku harap Hyun Ah lekas sembuh. Terima kasih sudah menyempatkan datang.”

Yong Jae mengangguk dan berbalik, sebelumnya melempar pandangan pada orang-orang yang berada disekitarnya. Yoona merasa sudah saatnya mengakhiri perannya sebagai pasangan pria di sampingnya.

Melayangkan tatapan pada Arsen yang langsung dibalas olehnya. Arsen menangkap maksud Yoona, “Kami berdua ingin berkeliling menikmati pestanya, Mr. Jhonson.”

Setelahnya Arsen mengajak Yoona berbaur dengan kerumunan tamu, dan menuju satu-satunya tempat yang cukup sepi. Ia tahu, Yoona ingin berbicara padanya dan ia sangat antusias, ingin mengetahui reaksi seperti apa yang akan diberikan padanya.

Keduanya berdiri berdampingan dengan tubuh menghadap kedepan. Arsen memaku pandangannya pada pemandangan malam dari balkon gedung. Mereka berdua diselimuti suana hening selama setengah jam.

“Peranku sebagai badut Anda berakhir, Mr. Carter.”

“Menyenangkan, bukan?”

Bukan kalimat penuh amarah yang didapatnya dari wanita yang sudah memasang kembali ekspresi datarnya, yang sebelumnya selalu menyunggingkan senyum ramah saat berada di dalam.

Arsen, tidak dapat menutupi raut terkejutnya saat merasakan kuku runcing berwarna merah menekan pergelangan tangannya, tepatnya pada urat nadinya.

Ia tidak melihat gerakan Yoona yang bergerak mendekat hingga berada diposisi seakan mereka adalah pasangan kekasih yang sedang bermesraan.

“Aku tidak menyukainya. Jangan pernah menjadikanku pemain dalam permainanmu. Kau tidak mengenalku. Kau bukan satu-satunya yang bisa bersikap kejam,” bisik Yoona padanya, setelahnya ia bisa merasakan rasa sakit dari pergelangan tangannya.

“Selamat malam, Mr. Carter.” Yoona mengurai kedekatan mereka dan berjalan menuju pintu balkon.

Arsen melihat darah keluar dari pergelangan tangannya. Arsen mengumpat menyadari bahwa Yoona, melukai pergelangan tangannya. Beruntung Yoona tidak memotong urat nadinya.

Mengambil sapu tangan dari kantong jasnya, ia mulai membalut lukanya. Menghiraukan Yoona yang berhenti di depan pintu balkon. Ia terlalu fokus pada lukanya dan tidak menyadari Yoona menghentikan langkahnya.

Yoona bisa melihat sosok yang saat ini bersembunyi di dinding samping pintu, “Menguping pembicaraan oran lain, benar-benar memalukan.”

Yoona berjalan mendekat dan berhenti diambang pintu. Ia mengenali pria itu. Pria yang berdiri di samping Sooyoung dan menggendong seorang gadis kecil.

Orbs cokelatnya menatap langsung pada orbs hitam. Ia merasa familiar dengan mata yang balas menatapnya, “Anda teman, Mr. Carter.” Yoona menyunggingkan senyum sinis sebelum melanjutkan langkahnya.

Sehun tidak bisa melepas tatapannya dari Yoona, sejak Arsen mengenalkan Yoona pada Mr. Jhonson. Ia tidak tuli, ia bisa mendengar bisik-bisik tamu lainnya yang mengatakan wanita itu adalah anak Choi Siwon.

Melihat ketegangan diwajah keluarga Choi, ia tahu wanita itu adalah Choi Yoona. Gadis remaja dengan mata cokelat yang selalu menempel padanya.

Apa yang menyebabkan Yoona memilih bersikap seakan tidak mengenal keluarganya? Dan kenapa ia tidak pernah mendengar berita kepulangan Yoona?

Mungkin saja keluarga Yoona juga tidak tahu. Memikirkan semua itu membuat Sehun, tidak bisa mengenyahkan Yoona dari pikirannya. Rasa penasaran membuatnya tanpa sadar melangkah mengikuti sahabatnya dan Yoona.

Karena keputusan impulsifnya, Sehun tidak bisa berhenti mengutuk dirinya sendiri, menyadari dirinya menjadi seorang penguping. Parahnya ia tidak bisa mendengar apa yang kedua orang itu bicarakan.

Ia hanya melihat Yoona yang tiba-tiba membalik tubuhnya dan mendekati Arsen. Posisi keduanya membuat dirinya curiga jika mereka memiliki hubungan khusus.

Kejadian selanjutnya, ia ketahuan mencuri dengar pembicaraan mereka. Sehun dapat merasakan wajahnya menjadi panas. Hal yang tidak berhenti muncul dipikiran Sehun adalah kenyataan bahwa Yoona bersikap seakan ia tidak mengenalnya.

Apa waktu sembilan tahun bisa membuat seseorang yang cukup dekat denganmu lupa pada sosokmu?

Kesadaran Sehun kembali saat mendengar langkah kaki mendekat. Tidak ingin mengulangi kesalahannya dan ketahuan menguping ia memutuskan untuk memunculkan dirinya.

“Sehun?”

“Arsen.”

“Kau mencariku?”

“Ya, Ibu menyuruhku mencarimu.” Dalam hati Sehun berharap agar ibunya tidak mengatakan kebohongannya pada Arsen.

“Oh tidak. Bibi pasti akan menceramahiku karena sudah beberapa bulan ini tidak mengunjunginya.”

“Kau tahu itu, Arsen.”

Sehun tertawa geli melihat raut wajah ngeri Arsen. Arsen adalah sahabatnya sejak kuliah. Pria dihadapannya ini juga memiliki sikap yang sama dengannya. Karena itulah keluarganya, terlebih ibu dan adik kecilnya sangat menyukai Arsen.

Mereka berjalan menuju ke tempat keluarganya duduk, dan ia bisa melihat wajah Arsen yang semakin muram. Arsen sangat tidak tahan dengan omelan Yoojin dan hanya bisa pasrah mendengarkan.

Esok paginya, Yoona kembali berada di ruangan Arsen. Berada dibawah tatapan menyelidik Arsen. Ia membiarkan pria yang duduk di belakang meja kerjanya, mengamati dirinya.

Memikirkan apa yang dilakukan Arsen padanya kemarin malam dengan membawanya di pesta yang keluarganya juga hadir, membuat Yoona merasakan rasa marah dan juga senang.

Marah karena ia dijadikan boneka oleh Arsen dan senang karena ia tidak perlu lagi memikirkan rencana untuk membuat kejutan kepulangannya pada keluarganya. Yoona tidak bisa berhenti tertawa mengingat ekspresi terkejut pada ayahnya, Minho, dan dua parasit dikeluarganya.

Arsen mengamati Yoona dan berusaha menebak niat wanita itu menemuinya. Arsen berpikir mungkin saja Yoona ingin meminta maaf padanya karena perbuatan lancangnya. Ia tersenyum memikirkan kemungkinan alasan Yoona menemuinya.

“Saya ingin menawarkan kerjasama,” ucap Yoona datar dan menatap lurus padanya.

“Kerjasama?” Arsen menaikkan salah satu alisnya, sebelum berdiri dan memutari meja menuju ke arah Yoona.

Dengan gerakan cepat ia memutar tubuh Yoona hingga bersandar di meja kerjanya, kemudian memajukan tubuhnya untuk menghimpit wanita mungil di depannya.

“Jangan bermain-main denganku, Yoona. Katakan niatmu bekerja di perusahaanku. Kau menjadi mata-mata Choi Siwon, huh.” Melupakan semua sikap formalnya, Arsen menaikkan salah satu tangannya dan mulai mencekik Yoona.

Yoona menahan rasa sesak didadanya karena saluran pernafasannya diblokir oleh Arsen. Ia mencengkram tangan Arsen dan berusaha melepas cekikan Arsen. Ia tahu, Arsen sangat serius saat ini, dan ia bisa berakhir menjadi mayat dalam beberapa menit kemudian jika tidak segera menghirup udara.

Yoona berusaha berpikir jernih disaat paru-parunya meneriakkan pasokan udara. Tubuh Arsen memblokir pergerakan kakinya untuk menendang selakangan pria di depannya.

Hatinya berteriak kesenangan mengetahui ia masih memiliki sesuatu yang bisa membuatnya terbebas. Ia menurunkan tangannya yang berusaha melepaskan tangan Arsen dari lehernya. Melihat seringai kejam Arsen yang berpikir ia menyerah, membuatnya tertawa dalam hati.

Meraba sesuatu dari lengan baju setelan kerjanya, tepatnya pada bagian yang sedikit lebih ke atas dari pergelangan tangannya. Ia dapat merasakan benda kecil meluncur dari lengan bajunya ke telapak tangannya.

Ia mengayunkannya, membidik wajah kejam Arsen. Sayangnya, Arsen melihat kilau dari benda yang digenggamnya. Arsen melepas cengkramannya dan secepatnya menarik tubuhnya menjauh dari jangkauan Yoona.

“Tidak cukup cepat untuk melukai wajahmu,” Suara Yoona bernada dingin yang membuat Arsen mengamati Yoona lebih intens.

“Pisau lipat, huh. Wanita menyeramkan untuk ukuran seorang putri.”

“Aku bukan seorang putri, Ah sepertinya kita lebih baik melepaskan semua sikap formal satu sama lain.”

“Katakan Yoona, apa yang kau rencanakan.”

“Aku sudah mengatakannya, aku ingin mengajakmu kerjasama. Kita berdua sama-sama menginginkan kehancuran Choi Corp.”

Untuk ketiga kalinya Arsen dibuat terkejut oleh wanita yang sama, “Kenapa kau ingin menghancurkan perusahaan keluargamu sendiri?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Rumor yang beredar di pesta, benar? Kau membenci keluargamu.” Arsen tidak mendapat jawaban dari Yoona. Namun, melihat orbs cokelat di depannya menggelap membuatnya dapat mengambil kesimpulan.

“Menarik. Apa yang sudah dilakukan Choi Siwon hingga putrinya membencinya? Terlebih Yoona bisa menjadi pihak yang bisa membuat Choi Corp semakin berkembang.” batin Arsen sambil terus memperhatikan Yoona.

“Kau dapat membuat perusahaanmu menjadi perusahaan nomor satu di Washington, mengalahkan Choi Corp yang menjadi rivalmu. Dan aku tentu saja mendapatkan keinginanku.”

“Kehancuran Choi Siwon, bukan?”

“Ahahaha.. Wanita gila. Kau benar-benar menyeramkan.”

“Kau sama sepertiku, Arsen.”

“Arsen? Aku tetap lebih tua darimu Yoona.”

“Aku tidak peduli.” Yoona mengedikkan bahu dan berjalan ke arah sofa.

“Jadi, apa rencanamu?” Mengikuti Yoona, Arsen mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Yoona.

Dan saat itu untuk pertama kalinya Arsen melihat ekspresi lain diwajah Yoona, selain raut datar dan senyum palsu. Yang ia lihat adalah senyum terburuk dari semua orang yang pernah ia lihat.

Kejam. Bahkan dirinya tidak yakin akan menampilkan senyum kejam seperti wanita itu. Mereka memang sama, bedanya Arsen tidak memiliki atau mungkin pernah mengalami sesuatu yang membuat seseorang bisa menampilkan senyum kejam seperti Yoona.

Ia bisa melihat mata cokelatnya menggelap dan mengancam. Di dalamnya ada kegelapan yang menunggu dengan kesabaran untuk melenyapkan hal yang mengusiknya. Membuat Arsen semakin tertarik untuk mengetahui apa yang membuat seorang anak memiliki keinginan jahat untuk menghancurkan ayahnya sendiri.

Sehun memandang gedung pencakar langit yang terlihat dari jendela kantornya. Pikirannya kembali pada Yoona yang sangat berbeda dengan gadis yang dikenalnya dulu.

Setelah mencari tahu apa yang sudah dilakukan Yoona sebagai seorang PR di Jefferson Hotel, membuat dirinya tidak bisa menghentikan perasaan kagum pada kemampuan dan tentu saja kecerdasan Yoona.

Wanita yang mengandalkan otak dibanding daya tarik fisik adalah hal yang membuat Sehun memandang Yoona bukan sebagai adik yang pernah bermanja-manja padanya.

Dia tahu, ada perasaan lain yang menggantikan perasaannya dulu pada Yoona.

“Yoona.”

 

Diwaktu yang sama seorang pria dengan setelan jas abu-abu melangkahkan kakinya di pemakaman kota. Ia berjalan lurus menuju salah satu makam.

Ia menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah makam dan menatap nisan yang mengukir nama wanita yang ia sayangi. Matanya dipenuhi kesedihan seakan ia telah kehilangan seseorang yang berharga dan menanggung kemalangan dunia.

Ia memang kehilangan, bukan satu namun dua orang yang berharga untuknya, “Apa kabar, Ibu. Maaf aku baru bisa mengunjungimu lagi. Satu bulan yang lalu aku disibukkan dengan perusahaan.”

Ia menghela nafas dalam sedang tangannya meletakkan buket bunga lili di makam, “Yoona berubah dan ia semakin jauh dari dirinya yang dulu. Aku… bisa melihat topeng yang menyembunyikan kekelaman dirinya yang sekarang. Apa..” Perkataannya terhenti disusul tubuhnya yang jatuh berlutut di depan makam ibunya.

Tangisnya terdengar memilukan, ia mengggenggam tanah makam seakan itu adalah pegangan untuknya, “Apa yang harus kulakukan, Ibu? Aku pikir waktu tiga tahun tanpa kami akan menyembuhkan lukanya, karena itulah aku berusaha menerima kenyataan dan menerima kehadiran Sooyoung dan Tiffany sebagai ibu kedua dan adik perempuanku yang lain.”

Ia tergugu dan ia dapat merasakan dadanya dipenuhi rasa sesak menyakitkan, “Yoona kembali tanpa memberitahu kami. Wisuda kelulusannya tidak juga ia beritahu, Ia memilih tinggal ditempat lain dibanding bersama kami. Bukankah, Yoona sudah menegaskan maksudnya dengan jelas? Ia tidak menganggapku dan Ayah sebagai keluarganya lagi,” Minho kembali menghela nafas.

“Apa yang terjadi pada keluarga kita, Ibu? Dimana gadis manja yang selalu merenggut marah padaku? Dimana Ayah yang selalu memangku Yoona dan mengecup puncak kepala adikku? Katakan padaku Ibu, Apa yang harus kulakukan?” Tangis Minho semakin menjadi.

Bahunya berguncang-guncang dan badannya gemetar, “Yoona membenciku yang terlalu pengecut, dan juga membenci Ayah. Aku merindukannya Ibu. Merindukan sosok adik yang memiliki senyum manis dan tatapan ceria dimata cokelatnya, bukan wanita mengerikan yang pintar menggunakan banyak topeng dan bermain sandiwara dalam kehidupannya.”

“Apa yang kau rencanakan, Choi Yoona,” ucap Siwon dengan wajah muram mengetahui putrinya sendiri memilih bekerja di perusahaan yang menjadi rival perusahaannya.

 

 

.

.

.

Ini contoh gaun Yoona ya ^^

 

Ini gaun Sooyoung.

 

Mian kalo gg cocok.

 

Advertisements