HATRED : Why I Should

Title : Hatred (Why I Should)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

Yoona keluar dari ruangan Arsen, melangkah masuk ke lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Yoona berniat menghabiskan waktu makan siang di kantin.

Baru selangkah ia menginjakkan kakinya, ia sudah bisa merasakan beberapa pasang mata melihat kearahnya. Yoona menghiraukannya, meneruskan langkahnya untuk mengambil makan siangnya.

Menyantap makanannya dalam diam, Yoona berhati-hati dalam menelan makanan yang dimakannya. Bekas cekikan Arsen berhasil ia tutupi dengan menggerai rambut sepunggungnya. Dan ia yakin hal itulah yang semakin dirinya menjadi pusat perhatian.

Sejak bekerja di perusahaan Arsen, ia tidak pernah membiarkan rambutnya tergerai. Yoona selalu menyanggul rambutnya, karena ia lebh nyaman berkerja tanpa adanya gangguan rambut yang berantakan.

Rasa perih tiap menelan makanan tidak bisa lagi ditahannya, “Arsen, pria brengsek itu. Seharusnya aku bisa melukai wajah menyebalkannya,” umpat Yoona.

Yoona masuk ke dalam salah satu bilik di toilet. Suara berisik di balik pintu bilik membuatnya terusik. Membuatnya mengerutkan dahi dengan wajah terganggu.

“Kau tadi melihatnya kan?”

“Ya, dia benar-benar tidak tahu malu.”

“Jalang itu, pantas saja dia tidak ingin nama belakangnya diketahui. Kenyataan bahwa dia adalah putri Choi Siwon, ck.”

“Aku penasaran dengan niatnya masuk ke dalam perusahaan ini.”

“Apa lagi, tentu saja sebagai mata-mata, aku yakin. Dia benar-benar licik.”

Yoona keluar dari bilik dan berhasil mengagetkan dua karyawan wanita yang membicarakannya. Melangkah menuju salah satu wastafel dengan wajah datarnya.

Melihat aksi Yoona membuat kedua wanita itu jengkel,

“Lihat siapa yang berada disini.”

“Dia mendengar semua yang kita bicarakan tentangnya dan masih tetap memasang wajah datarnya, perempuan ini sudah tidak punya malu,”

Menghiraukan keduanya, Yoona berniat membuka pintu toilet sebelum sebuah lengan menariknya dan mendorong tubuh Yoona didinding samping pintu dengan kasar.

“Jangan mengacuhkan kami, bitch,” ucap salah satu diantara kedua wanita tadi. Wanita dengan rambut merah menyala dibiarkan tergerai dan membuatnya terlihat nyala api dimata Yoona.

Wanita satunya dengan rambut pirang stroberi ikut berdiri disamping temannya. Yoona mengernyit melihat warna rambut wanita tersebut, tanpa bisa dicegahnya seorang wanita dengan  wajah tersenyum kearahnya dengan warna rambut yang sama terlintas dimatanya.

Suara cacian kedua wanita di depannya tidak didengar olehnya, telinganya berdenging dan telapak tangannya basah. Sedang dua wanita yang memojokkan Yoona menganggap sikap Yoona sebagai tanda bahwa ia ketakutan.

Senyum lebar terulas dibibir keduanya, mendorong bahu Yoona, dan bergegas keluar dengan tawa mencemoh dan penuh kepuasan terdengar. Senang dengan pikiran mereka berhasil membuat seorang Yoona dengan ekspresi wajah yang dianggap sebagai kesombongan, takut pada mereka.

Yoona menghabiskan sisa jam kerja dengan pikiran tidak fokus. Berkali-kali ia menghela nafas untuk menenangkan dirinya dan detak jantungnya, setiap detik yang dijalaninya sangat menyiksanya, yang diinginkan Yoona hanyalah ia berada dikamar apartemennya dan mengeluarkan segala bentuk kegelisahan di dalam dirinya.

Waktu yang ditunggunya tiba, ia membereskan barang-barangnya dan melangkah dengan cepat keluar dari ruangan. Sampai di depan pintu lobby, ia bisa melihat sebuah mobil mewah dan seorang sopir berdiri di depan pintu mobil bagian penumpang.

Merasa tidak mengenalnya, Yoona meneruskan langkahnya, berniat menahan salah satu taksi.

“Miss. Yoona.” Suara yang memanggil namanya membuat Yoona menolehkan kepalanya dan menatap sopir tadi tersenyum padanya.

Salah satu alisnya terangkat, membalik badannya dan berhadapan dengan sopir tersebut, “Ada keperluan apa dengan saya?”

“Saya diperintahkan untuk menjemput Anda dan mengantar Anda ke rumah Mr. Kim.” Mendengar nama yang diucapkan pria  yang merupakan sopir pamannya membuat Yoona mendengus.

“Pria tua itu.” Yoona bergegas masuk ke dalam mobil yang pintunya dibukakan.

Mobil yang ditumpanginya melaju meninggalkan bangunan dihadapannya diiringi tatapan ingin tahu oleh pegawai lainnya.

Mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumah yang sudah lama tidak didatanginya. Pintu mobil terbuka dan Yoona keluar, seorang wanita paruh baya keluar dari pintu rumah.

Tersenyum padanya dengan kedua lengan terbuka lebar seakan mengundang Yoona untuk berada disana. Yoona membawa dirinya pada wanita tersebut dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan wanita  yang disayanginya.

“Bibi,” desah Yoona dan semakin mempererat pelukannya.

“Yoona, keponakanku yang manis,” balas bibinya dan berhasil membuat Yoona merenggut.

“Lihatlah wajah merenggutnya, Hyun Ah. Anak nakal ini masih membenci kata manis disandingkan dengan dirinya.” ujar Yong Jae yang muncul dari dalam rumah dan sekarang berada dibelakang tubuh istrinya. Berhadapan dengan Yoona yang menatap tidak suka kearahnya.

“Oh, lihat sekarang dia malah menatap tidak suka padaku,” keluh Yong Jae, mengundang tawa istrinya dan membuat wajah Yoona semakin keruh.

Yoona melepas pelukannya dan menabrak pamannya dengan pelukan erat. Yong Jae terkekeh melihat tingkah keponakannya dan ikut membalas pelukan Yoona.

“Sebaiknya kita masuk ke dalam, kau akan menginap di sini kan,Yoona?”

Yoona mengangkat kepalanya dari dada Yong Jae  dan menatap Hyun Ah disamping pamannya, “Besok aku masih harus ke kantor, Bibi.”

“Omong kosong, jika kau membutuhkan setelan kantor, Paman akan menyediakannya. Apa kau tidak kasihan pada paman dan bibimu?”

“Benar, kau harus menginap malam ini, Yoona. Bibi sangat merindukanmu dan bibi tidak menerima penolakan.” Setelahnya Hyun Ah masuk ke dalam meninggalkan Yoona yang mendesah pasrah dan kekehan Yong Jae yang terdengar senang.

Yoona masuk ke kamar yang selalu digunakannya ketika menginap di rumah pamannya. Mengistrahatkan dirinya sejenak sebelum waktu makan malam tiba. Ia memejamkan matanya dan kegelapan langsung menyambut dirinya.

Guncangan dibahunya membuat Yoona terbangun,  mengerjapkan matanya dan melihat bibinya menunduk kearahnya menghalangi sinar lampu.

“Bibi?”

“Bangun dan bersihkan dirimu, hm. Pamanmu dan bibi menunggu di ruang makan.”

“Sudah waktu makan malam?”

“Ya, Sweetheart.”

Hyun Ah meninggalkan Yoona yang masih berada di atas kasur, “Aku tertidur cukup lama.” Bergegas bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk membersihkan diri.

Yoona melangkah masuk di ruang makan dan melihat Yong Jae dan Hyun Ah yang sudah mengambil tempat duduk tersenyum kearahnya, yang dibalas spontan Yoona dengan senyum tulus .

Mereka menghabiskan makan malam mereka dalam suasana hening, kebiasaan yang diterapkan dalam keluarganya. Kali ini Yoona sudah bisa menelan makanannya tanpa rasa sakit seperti yang dialaminya siang tadi.

Mereka bertiga bersantai di ruang keluarga dengan Yoona yang dipaksa duduk dipangkuan Yong Jae, tentu saja diawali dengan penolakan keras Yoona dan berakhir dengan Yong Jae sebagai pemenangnya.

Meski sempat protes karena dirasa sangat kekanakan, Yoona tanpa sadar menyukai posisinya. Ia bisa merasakan kehangatan pelukan seorang ayah lewat sosok pamannya.

“Pamanmu sangat merindukannmu, Yoona. Maklumi saja tingkah kekanakannya,” Hyun Ah mengelus kepala Yoona. Ia duduk di samping Yong Jae dengan Yoona dipangkuan suaminya.

“Jangan membuat Anak nakal ini besar kepala, Hyun Ah.” Yoona mendengus mendengar sangkalan Yong Jae. Pamannya tidak pernah berubah, selalu merasa malu untuk menyampaikan perasaannya.

“Apa kau baru saja mendengus, Yoona? Oh Tuhan. Bagaimana bisa kau memberiku keponakan sekejam ini.”

“Jangan berlebihan Paman, dan kenapa harus dikatakan kejam?”

“Berpura-pura tidak tahu? Kau selalu mengganti nomor ponselmu tiap kali paman berhasil mendapatkan nomormu saat kau berada di Inggris. Tidak pernah memberi kabar selama 3 tahun, dan tiba-tiba muncul di pesta temanku. Apa kau tahu? Paman hampir saja menghambur kearahmu dan memelukmu seperti anak kecil,” jelas Yong Jae yang disambut keheningan selama beberapa saat sebelum tawa dari dua wanitanya terdengar.

Cukup lama Yoona dan Hyun Ah tertawa, dan semakin menambah keruh wajah Yong Jae.

“Ya, teruslah tertawa. Aku senang bisa menjadi badut gratis untuk kalian.” Mendengar perkataan Yong Jae membuat keduanya menghentikan tawanya.

“Astaga, Paman tidak pernah berubah. Aku bisa mengerti alasan Nara unnie memilih ikut suaminya ke Rusia,” kata Yoona mengusap air matanya yang keluar.

“Ahaha, Oh Tuhan, aku jadi merindukan putriku,” Hyun Ah ikut mengusap air matanya sembari mengelus tangan suaminya.

“Apa Nara unnie belum pernah mengunjungi, Paman dan Bibi?”

“Tahun lalu dia datang dan tinggal selama 3 bulan sebelum kembali ke Rusia. Bibi senang kau datang, Yoona. sering-seringlah berkunjung kemari.”

“Kau dengar itu, Anak nakal? Bibimu kesepian, jadi kau harus lebih sering menghabiskan waktumu di sini.”

“Kau juga kesepian, Yong Jae. Dan kau sangat merindukan keponakan tersayangmu yang sekarang kau pangku.”

“Ahahahaha…” tawa Yoona terdengar kembali, Yong Jae yang malu mencubit pipi Yoona sebagai balasannya.

Suasana bahagia yang tadinya tercipta di ruang keluarga tidak berlaku di tempat Yoona berada saat ini. Yong Jae duduk di salah satu sofa ruang kerjanya dengan Yoona yang duduk berhadapan dengannya.

“Apa yang ingin Paman katakan?”

“Harusnya paman yang bertanya padamu, Apa yang ingin kau lakukan, Yoona? Rencana apa yang ada dalam otak jeniusmu dengan bekerja di perusahaan yang sudah jelas adalah rival perusahaan Ayahmu?”

Yong Jae memperhatikan ekspresi apapun yang muncul diwajah keponakannya, namun nihil. Yoona tidak menunjukkan apapun.

“Aku hanya ingin mandiri. Bekerja di perusahaan keluarga adalah hal yang tidak menarik untukku.”

“Kau bisa bekerja di perusahaan, paman.”

“Paman adalah keluargaku, tentu saja aku tidak bisa.”

“Apa hanya itu?”

“Apa yang Paman maksud dengan kata ‘Hanya itu’?”

“Kau tidak berencana melakukan sesuatu yang burukkan, Yoona?”

“Tidak. Tentu saja tidak.” Yoona mengulas senyum diwajahnya yang tampak ganjil bagi Yong Jae. Dia tidak mempercayai perkataan Yoona.

“Hilangkan kebencianmu, Yoona. Balas dendam hanya akan membuatmu semakin menderita. Biar bagaimanapun Siwon tetap Ayahmu. Dan Taeyeon tidak akan senang dengan apapun yang kau rencanakan saat ini.” Yong Jae tidak melihat perubahan ekspresi diwajah Yoona, dan ia mulai ragu dengan pemikirannya bahwa Yoona memiliki rencana jahat pada ayahnya sendiri.

“Paman seolah menuduhku bahwa aku orang jahat.”

Yong Jae  terkejut mendengar ucapan Yoona, “Bukan begitu, Yoona. Paman..”

“Tenanglah Paman, aku hanya bercanda. Aku juga tidak mungkin melakukan hal seperti itu, meski aku sangat membenci orang itu.”

“Aku mengantuk. Selamat malam, Paman.”

Yoona meninggalkan Yong Jae di ruang kerjanya. “Maafkan aku, Paman,” lirih Yoona. Tahu betul jika ia sudah menyakiti pamannya dengan membuat dirinya seolah tersinggung akan perkataan Yong Jae.

Baru selangkah ia berjalan dari pintu di belakangnya, ekspresi datar Yoona berubah. Matanya dipenuhi kebencian dan rahangnya mengeras, “Aku membenci ayahku sampai ketulang-tulangku, dan aku tidak berniat melepaskan kebencianku. Aku hidup hingga saat ini untuk membalasnya,” desis Yoona.

Satu tahun Sooyoung mengenal Sehun dan selama itu ia memendam perasaanya. Berusaha untuk dekat dengan  pria itu, namun selalu berakhir dengan dia yang selalu mengeluarkan suara sedang Sehun sibuk dengan ponselnya.

Sehun mulai sedikit menaruh perhatian padanya saat ia mengajak Hayoung bermain. Tiap tawa yang dikeluarkan Hayoung akan memancing senyum dibibir Sehun.

Sooyoung tidak bisa menahan kegembiraannya menyadari bahwa Sehun tidak lagi bersikap terlalu dingin padanya. Sesekali  Sehun akan tersenyum padanya dan mengajaknya keluar, yah meski sebagai alasan utamanya adalah Hayoung.

Tepat dua tahun ia mulai dekat dengan Sehun dan itu membuatnya semakin menyukai Sehun. Namun, tetap saja Sooyoung tidak bisa menahan rasa cemburu tiap kali Sehun bersama seorang wanita. Ia tidak tahu apakah wanita yang terlihat bersamanya adalah kekasihnya atau bukan.

Puncaknya Sooyoung termakan cemburu melihat seorang wanita yang Sooyoung kenali sebagai putri salah satu rekan kerja Sehun terang-terangan mendekati Sehun. Bahkan ia selalu melihat wanita itu datang ke rumah Sehun dengan alasan ingin mengajak Hayoung bermain.

Sooyoung membuka pintu ruang kerja ayahnya dengan mata berkaca-kaca, “Ayah.” Siwon memeluk Sooyoung yang langsung menghambur kearahnya.

“Ada apa?”

“Bisakah.. bisakah Ayah menjodohkanku dengan Sehun?”

Siwon terhenyak dikursinya mendengar permintaan Sooyoung, “Kenapa? Kenapa meminta Sehun untuk dijodohkan denganmu?”

“A-aku mencintainya, Ayah.. sangat mencintainya sampai rasanya sangat sakit melihat wanita lain mendekatinya.”

Siwon mengelus surai Sooyoung dan memikirkan kata-kata putrinya. Ia sangat tahu, Sooyoung sudah tertarik pada Sehun sejak pertama melihatnya. Melihat sikap Sehun pada Sooyoung selama ini, sepertinya Sehun mungkin saja menaruh rasa yang sama pada Sooyoung.

“Ayah akan mencoba membicarakannya dengan, Taejon. Jadi, berhentilah menangis, hum.” Sooyoung mengangkat kepalanya dan menatap mata cokelat Siwon.

“Benarkah? Ayah akan mengusahakannya?”

“Hm,,,”

“Kyaaaa!! I love you, Ayah.” Siwon hanya terkekeh geli melihat tingkah Sooyoung.

“Jadi, kau berniat menjodohkan Sooyoung dan Sehun?”

“Ya, tampaknya mereka berdua saling tertarik satu sama lain.”

Taejon menatap Siwon yang siang ini berkunjung ke kantornya. Apa yang diucapkan Siwon cukup membuatnya terkejut. “Kau yakin?”

“Ya. Kau bisa melihat interaksi keduanya, bukan? Lagipula aku ingin mempererat persaudaraan kita, Taejon.”

“Aku akan menanyakan pada Sehun terlebih dahulu.”

 

Taejon memperhatikan wajah putranya yang sedang duduk dihadapannya saat ini. Usai makan malam ia memanggil Sehun ke ruang kerjanya untuk membicarakan perjodohan yang ditawarkan Siwon.

“Apa kau setuju?”

“Katakan padaku alasan Ayah dan Paman Siwon ingin menjodohkan kami berdua.”

“Kau tahu Siwon adalah sahabat ayah sejak kuliah. Kami hanya ingin mempererat hubungan persahabatan. Juga, ayah lihat kau cukup tertarik pada Sooyoung.”

“Seperti itu? Kalian melihatku tertarik pada Sooyoung?” Perkataan  Sehun berhasil menggoyahkan niat Taejon. Melihat wajah anaknya yang tetap sama sejak beberapa menit lalu. Datar.

“Kau tidak menyukainya? Jika kau tidak ingin, ayah akan membatalkan rencana kami.”

“Apa dengan perjodohan ini, Ayah bahagia?”

“Ya.”

“Kalau begitu, Ayah sudah tahu jawabannya, bukan? Ayah tahu aku tidak akan bisa menolak apa yang Ayah minta.” Sehun bangkit dari duduknya  dan berjalan menuju pintu, “Selamat malam, Ayah.”

Bahagia adalah kata yang bisa melukiskan apa yang dirasakan Sooyoung saat ini, mendengar Sehun setuju dengan perjodohan yang dibuat oleh kedua orang tua mereka.

Terlebih malam ini, ia dan Sehun resmi berganti status sebagai tunangan. Melihat cincin yang melingkar dijarinya membuat Sooyoung tidak berhenti mengulas senyum bahagia.

Ia merangkul lengan Sehun erat saat melihat wanita yang selalu menempeli Sehun menuju kearah mereka berdua. Ia bisa melihat tatapan sendu dimata wanita yang sekarang berdiri tepat di depan mereka berdua.

“Selamat untuk pertunangan kalian, Sehun.”

“Vanessa, aku senang kau datang.”

“Kau tahu aku pasti datang.” Sehun tersenyum sedang Sooyoung mendengus mendengarnya.

Sehun melihat Sooyoung yang berubah muram sejak Vanessa memberi selamat pada mereka, “Kau baik-baik saja?”

Ingin rasanya Sooyoung mengatakan dengan lantang bahwa ia tidak dalam keadaan baik. Namun alih-alih jujur dengan apa yang ia rasakan, Sooyoung menutupinya dengan senyum, “Aku baik-baik saja.”

“Baguslah.”

Sooyoung menghela nafas melihat sifat acuh Sehun, “Katakan Sehun, apa kau senang dengan pertunangan ini?”

Sehun mengangkat salah satu alisnya mendengar pertanyaan Sooyoung, “Kau yakin baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja dan jawab pertanyaanku, Sehun.”

Sehun menatap lurus pada Sooyoung, sebelum menjawab pertanyaannya, “Secara personal, tidak. Aku tidak menyukai pertunangan ini.  Aku tidak menyukaimu sebagai wanita, aku hanya menganggapmu sebagai adik. Tapi, jika melihat Ayahku  bahagia. Aku akan menjalani pertunangan ini.”

Sooyoung melepas rangkulannya pada Sehun, kepalanya ditundukkan. Apa yang baru saja didengarnya berhasil melenyapkan semua perasaan bahagia yang dirasakannya. Pria dihadapannya hanya menganggapnya sebagai adik? Bagaimana bisa dia mengatakan hal kejam seperti itu padanya?

Menolak menyerah, Sooyoung menghapus air mata yang tumpah dipipinya. Ia yakin suatu saat nanti Sehun akan mencintainya. Yah, karena mereka sudah terjebak dalam hubungan yang akan mengikat mereka.

Sehun akan membalas perasaan yang dirasakannya. Ia akan memastikan hal itu. Sooyoung yakin ia masih memiliki banyak waktu untuk mengubah perasaan pria ini padanya. Dengan tekad baru ia mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar pada Sehun. Sehun tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya melihat perubahan mood pada wanita dihadapannya.

“Aku akan memastikan kau menikmati hubungan pertunangan kita, Sehun. Aku tidak akan membuatmu menyesal terikat denganku.” Setelahnya Sooyoung meninggalkannya berdiri terpaku ditempatnya.

Yoona melangkah masuk ke dalam lift dengan wajah suram. Hari ini juga tidak berjalan baik untuknya. Pagi tadi ia berangkat dari rumah Pamannya dengan perasaan baik, namun semua itu berhasil dirusak oleh pegawai ditempatnya bekerja.

Mereka semakin sering membicarakan dirinya yang merupakan anak dari rival pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, mencurigai motifnya, dan terang-terangan menatap penuh permusuhan padanya.

Semua itu berhasil membuat dirinya berkali-kali mengeluarkan berbagai macam nama penghuni kebun binatang. Ia melangkah keluar dan berjalan cepat menuju pintu apartemennya. Keinginannya saat ini adalah berendam di bathtub kamar mandinya untuk merilekskan tubuhnya.

Langkahnya terpaksa terhenti melihat sosok yang bersandar didinding samping pintu apartemennya. Matanya bertatapan dengan sosok yang berada beberapa langkah di depannya.

Yoona kembali melanjutkan langkahnya dan menghiraukan sosok tersebut. Bersikap seolah tidak ada seorang pria yang saat ini berdiri di sampingnya dan memandangnya dengan tatapan yang terasa mengganggu baginya.

Ia memasukkan kode apartemennya dan berniat masuk sebelum lengannya ditahan oleh pria tersebut. “Yoona.”

Yoona menyentak tangannya hingga terlepas dengan kasar. Menatap dingin pria yang ia anggap lancang memegang tangannya.

“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” tanyanya dingin.

“Aku merindukanmu. Boleh aku masuk?”

“Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu. Pergi. Kehadiranmu tidak diterima di sini.” Ia bisa melihat tatapan terluka di orbs yang berwarna sama dengannya.

“Apa kau masih membenciku? Apa kau tidak bisa memaafkanku?”

“Memaafkanmu? Jangan buat aku tertawa. Dan ya, aku membencimu. Selamanya akan membencimu. Jadi menyingkirlah dari hadapanku.” Yoona benar-benar tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Dia sudah bersikap baik dengan menghiraukan sosok di depannya. Ia benar-benar lelah dan pria di depannya cukup bebal bersikeras mengajaknya berbicara.

Ia tergoda untuk mengucapkan sesuatu yang akan menyakiti sosok di depannya dan tepatnya itulah yang dilakukannya. “Kau tidak aku butuhkan untuk berdiri disisiku. Seorang pengecut sepertimu lebih cocok bergabung dengan seorang penghianat.”

“Aku membencimu yang meninggalkanku dan aku juga membenci pria penghianat itu. Kau bukan saudaraku dan pria itu bukan ayahku.”

Yoona bisa melihat luka dimata Minho bertambah. Mata pria yang dulunya sering menjahilinya kini mulai dipenuhi cairan. Yoona yakin sebentar lagi air mata itu akan keluar dari mata pemiliknya, karena itulah ia bergegas masuk ke dalam apartemennya dan membanting pintu meninggalkan suara berdebam keras.

Minho menatap pintu yang memisahkan ia dengan adiknya. Tersenyum miris melihat kebencian pekat dalam mata adiknya, “Aku minta maaf sudah bersikap pengecut dengan meninggalkanmu saat kau membutuhkanku. Aku menyayangimu. Merindukanmu, sangat merindukanmu, Yoona.” Ia yakin Yoona masih berada di belakang pintu dan mendengar apa yang dikatakannya.

Minho berjalan ke arah lift dengan tangan yang menepuk-nepuk dadanya. Seolah-olah rasa sesak yang dirasakannya akan hilang dengan cara itu. Di dalam lift ia tidak bisa lagi menahan semua luapan perasaannya. Menyender di dinding lift, ia mengeluarkan semuanya dengan air mata yang berlomba-lomba keluar dari matanya. Ia tidak lagi perduli jika seseorang akan masuk dan melihatnya dalam kondisi menyedihkan.

 

 

Advertisements

20 thoughts on “HATRED : Why I Should

  1. Ah akhirnya yg ditunggu2 dipost juga penasaran gmna kelanjutannya??gmna nanti yoona ketemu sama sehun gumawo eonni postnya jgn lama2 ☺😊😃😐🙏✌

  2. Ditunggu moment yoonhunnya thor. Gue pengen tau gimana ceritanya yoona sampe segitu bencinya sama keluarganya sendiri, apa yg dilakuin ayah sama ibunya? Minho ninggalin yoona?
    Next ya thor:)

  3. Hanya demi kebahagiaan ayahnya Sehun mau bertunangan dengan Soyoung mesti Sehun sendiri sebenarnya tidak mencintai Soyoung.Rasanya nyesek baca part ini.Bagaimana nanti Sehun jatuh pada Yoona sementara Sehun sendiri sudah bertunangan.Ditunggu lanjutannya..

  4. kasihan jg minho… tp nglht minho sprti y bahagia dgn kluarga sooyoong wajar sprti y yoona bgtu… paman yoona ja brusaha mdptkn no tlpn yoona… tp kluarga y sndri gk da usaha… momen yoonhun mana nie thor… hmpr tiap chapter y gk da… di tggu thor…
    ff keren ak suka… di tggu kljtn y thor

  5. Yah.. Nyesek banget.. Aku ska ff unnie.. Ga melulu fokus ke romantis’y.. Cerita’y jd terasa real.. Makasih unnie udh memghadirkn ff yg sangat keren.. Aku sgt terhibur..
    Ttp semangat ya and ditunggu part selanjut’y..

  6. Omoo makin kesini makin seru ceritanya,, gak ada flashback gitu thor knpa yoona sampai membenci ayahnya sama minho??
    Ditunggu kelanjutannya thor hwaitingg

  7. Ya ampun part ini bener2 nyesek thor,,,mulai dari yoona eonni yng mndapat perlakuan yng tidak menyenangkan dari para pegawai lain,,sehun yng rela mengalah bertunangan dgn sooyoung demi kebahagiaan ayahnya,,minho yng harus menerima kebencian dari yoona eonni yng merupakan adiknya sendiri,,,
    Keren bangeeeeeet thor,,,
    Semangat terus yach,,,hwaiting !!!!!

  8. Kerennnnnnnnnnnnnnnnnnn saya suka saya suka lanjut thor penasaran selanjutnya aku suka suka jangan lama lama thor hehe pisss 🙂 next selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s