Title : Hatred (Be Prisoner)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

“Apa kau sudah berhasil mendapatkan apa yang aku minta?” Arsen berdiri memandang gemerlap cahaya Kota Washington dari kaca ruang kerja apartemennya.

“Aku sudah menduganya, wanita yang merupakan salah satu lulusan terbaik dari universitasnya tidak akan sebodoh itu. Jadi semua itu karena seorang pria.” Tersenyum sinis sebelum melanjutkan perkataannya, “orang akan menjadi bodoh jika dihadapkan dengan hal berkaitan dengan kata cinta, bukan?” Arsen terkekeh geli memikirkan kebodohan wanita yang berani mencari masalah dengannya.

“Bereskan wanita itu, buat seolah ia mengalami kecelakaan di depan perusahaan kekasihnya bekerja.” Memutus sambungan telepon dengan orang di seberang.

“Seorang penghianat harus mendapat apa yang pantas untuknya,” ujar Arsen dingin. Matanya menghujam ke depan, menerawang pada langit malam dengan bulan yang menggantung indah.

 

Yoona duduk di sofa ruang tamunya dengan segelas kopi ditangan kanannya, dan tablet miliknya ditangan kiri. Layar tablet menampilkan grafik jumlah pengunjung selama tiga bulan yang mengalami peningkatan dengan sangat memuaskan.

Tersenyum mengetahui rencana yang dibuatnya membuahkan hasil yang baik. Senyumnya memudar diganti kerutan didahinya, mendengar bunyi bel apartemennya.

Meletakkan kedua benda yang ada ditangannya dan melangkah untuk membuka pintu tanpa berniat mengecek orang yang menekan bel di interkom.

Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam berdiri di depannya. Melihat raut wajah bertanya Yoona, pria itu menjawab pertanyaan tak terucapnya, “Saya bodyguard yang diperintahkan untuk membawa Anda kembali ke rumah oleh Mr. Choi.”

Tanda tanya dibenak Yoona lenyap, diganti dengan gerakannya yang berniat untuk menutup pintu, namun pria itu berhasil menahan pintu dan berucap dengan nada datar, “Saya harus membawa Anda, jika Anda menolak. Saya akan membawa Anda dengan paksa.”

Tangan Yoona melayang dan mendarat di sisi kanan wajah bodyguard tersebut. “Kau benar-benar lancang, ya. Memaksa, heh. Sangat khas Choi Siwon. Menyingkirlah dari hadapanku, aku akan menemui Tuanmu, tanpa harus dikawal olehmu,” ucap Yoona dingin dengan mata cokelatnya yang menggelap. Berhasil membungkam protes yang hendak diberikan oleh bodyguard di depannya.

Yoona menutup pintu apartemennya dan berjalan lurus kearah kamarnya. Mengambil hoodie hitam kebesaran miliknya, menutup tanktop berwarna sama yang dipakainya juga short pantsnya.

Mengambil topi berwarna sama dengan pakaiannya, dompet miliknya, ia menutup pintu kamarnya, berhenti untuk memakai sneakers yang membalut kakinya. Yoona berjalan masuk ke lift meninggalkan apartemennya dengan ponsel yang terletak terlupakan di meja ruang tamu.

Siwon menunggu putrinya yang ia yakin sedang dalam perjalanan ke rumahnya. Bodyguard yang diperintahkannya menjemput Yoona, menghubunginya beberapa menit yang lalu. Memberitahunya hal yang tentu saja akan dilakukan putrinya. Bahwa ia menolak untuk ikut sebelumnya menghadiahkan tamparan diwajah bodyguardnya.

Pikirannya terganggu oleh suara pintu yang dibuka dengan cara kasar. Matanya bertemu dengan mata yang memiliki warna yang sama dengannya.

Mata yang ditatapnya semakin dingin dari tiga tahun yang lalu. Lebih dalam dan penuh dengan rahasia. Meneliti wajah anaknya yang tetap sama datarnya, namun dengan gurat dewasa terlihat jelas. Putrinya bukan lagi seorang remaja, ia adalah wanita dewasa yang memandangnya sebagai orang asing bukan seorang ayah.

Yoona membawa dirinya mendekat pada Siwon yang duduk di belakang meja kerjanya. Menolak mengalihkan tatapannya dari Siwon yang sejak ia masuk sudah menatapnya dengan pandangan tak terbaca.

“Langsung saja, apa yang Anda pikir sedang Anda lakukan.”

“Masih belum mengubah kebiasaanmu memanggilku dengan tidak sopan, Yoona?”

“Apa yang Anda pikir sedang Anda lakukan.”

“Apa lagi? Tentu saja membawa putriku kembali. Tampaknya kau melupakan rumahmu.”

“Rumah? Saya tidak berpikir seperti itu.”

“Cukup Yoona. Sekarang jelaskan alasanmu bekerja di perusahaan Carter. Apa ini caramu untuk membangkan padaku, Yoona?”Siwon tertawa mengejek, “Apa kau pikir mampu mengalahkan perusahaan Choi dengan kemampuanmu? Harusnya kau tahu, kau hanya seorang pemula dan aku akan tetap lebih unggul.” Menatap Yoona dengan ejekan yang sangat jelas terlihat dari orbs cokelatnya.

Yoona menutupi semua amarah yang dirasakannya. Dadanya bergemuruh dengan rasa panas memenuhinya. Menggigit bagian dalam pipinya dengan keras hingga ia bisa merasakan karat dari darah yang mulai menguasai rongga mulutnya.

Menelan darah yang ada, ia mulai membuka mulutnya, “Begitu? Kalau begitu tunggulah. Aku memiliki otak yang cukup bagus untuk membuat perusahaan Anda kalah. Tenang saja, Anda tidak akan menunggu lama. Saya seorang pembelajar yang cepat.”

“Ah, saya hampir melupakannya. Niat Anda membawa saya kembali setelah melihat saya di pesta Jhonson Corp tiga bulan lalu, itu semua karena Anda ingin saya tidak bekerja, bukan? Gusar karena perusahaan saingan Anda mulai hampir menyamai Choi Corp?” Tersenyum sinis kemudian melanjutkan perkataannya, “berperan sebagai Ayah yang baik? Menyedihkan sekali alasan Anda.”

“Anak kurang ajar!!” Raungan amarah Siwon menggema, berdiri dari kursi yang didudukinya. Mencekal tangan Yoona dengan kuat dan menyeretnya keluar dari ruangan.

Pintu ruangan di belakang Yoona dibanting dengan kasar dan menghasilkan bunyi cukup keras untuk didengar. Siwon masih menyeret Yoona, menghiraukan Yoona yang tersandung-sandung di belakangnya kesusahan menyamai langkah Siwon.

Mereka naik menuju ke lantai dua, tepatnya kamar Yoona. Setelah sebelumnya mengambil kunci kamar Yoona, Siwon baru melepas cekalannya saat berada di dalam kamar yang keadaannya jauh dari kata rapi.

Ia mendorong Yoona ke ranjang dengan kasar, “Kau tidak akan keluar dari kamar ini sebagai hukumanmu. Makanan akan diantar ke kamarmu. Kau tidak akan bisa kabur, Ayah yakin kau tidak membawa kunci yang ada padamu. Renungkan kesalahanmu.” Siwon melangkah keluar, meninggalkan Yoona yang tersenyum sinis.

Siwon menyuruh beberapa pelayan untuk membersihkan kamar Yoona. Ia yakin kamar berantakan dengan pecahan kaca berserakan, dibuat Yoona sebelum ia berangkat ke Inggris tiga tahun lalu.

Mengusap kasar wajahnya saat gambaran pergelangan tangan Yoona dengan warna merah bekas cekalannya muncul. Menyesali tindakan kasarnya pada putri yang baru dilihatnya lagi.

Yoona jatuh tertidur saat waktu masih menunjukkan pukul 10:00 pm. Hasilnya ia terbangun dengan teriakan ketakutan dengan jarum jam wekernya berada diangka 3.

Kegelapan menyelimuti kamarnya, tangannya mencengkram erat selimut, nafasnya memburu dengan detak jantung yang seakan ingin meledak.

“Sialan.” Yoona mengusap peluh dikeningnya, mengutuk kebodohannya yang membiarkan dirinya tertidur.

Yoona akan selalu mendapat mimpi buruk jika tidur di atas jam 3 pagi. Dan mimpi yang akan mendatanginya adalah kenangan yang tidak ingin diingatnya. Karena itulah Yoona selalu membiarkan dirinya kelelahan dan baru tertidur pada pukul 3.

Yoona beranjak bangun dan berdiri di depan jendela kamarnya. Menyibak horden hitam tebal dan menatap jauh dikegelapan malam. Sinar bulan menerangi kamarnya, ia tersenyum miris mengetahui ia kembali melakukan rutinitas yang sempat terhenti beberapa bulan yang lalu.

Memandangi langit dini hari setelah terbangun dari mimpi buruk. “Apa yang harus aku lakukan? Kau akan kembali menghantuiku selama aku dikurung di kamar ini, karena aku tidak akan punya alasan untuk jatuh tertidur karena kelelahan.”

“Apa yang harus aku lakukan, Ibu? Aku ingin melupakan kenangan dimana Ibu terlihat menyedihkan dengan senyum yang aku benci. Kau kejam hanya menyiksaku untuk terus mengingatmu. Kenapa kau tidak melakukannya pada penghianat itu? Dia lebih pantas untuk merasakan apa yang aku rasakan selama sembilan tahun ini.” Helaan nafas lelah dari Yoona menutup monolog yang dilakukannya.

Satu minggu berlalu dan Yoona masih terkurung di kamarnya sendiri, ia tidak diizinkan keluar bahkan hanya untuk berkeliaran dalam rumah. Ia hanya melihat wajah pelayan yang datang mengantar makanan, membersihkan kamarnya, dan mengambil piring bekas makannya.

Yoona tidak bisa berhenti menertawai apa yang dilakukan Siwon padanya. Malam ini ia berencana melarikan diri, apapun yang terjadi ia harus keluar dari ruangan yang mengancam merenggut kewarasannya.

Matanya memandang lurus ke arah pintu masuk. Kamarnya sengaja dibiarkan dikuasai kegelapan, menunggu orang yang akan dijadikannya sebagai kuncinya untuk bebas.

Pintu dibuka dan ia melihat pelayan yang bertugas mengambil piring kotornya. Lampu dinyalakan dan Yoona tetap dalam posisi duduknya. Setiap gerakan si pelayan diperhatikannya, membuat pelayan tersebut semakin gelisah ditatap tajam oleh nona mudanya.

Ia baru mengeluarkan kunci dari saku seragamnya, ketika ia merasakan sakit dibagian belakang kepalanya dan kegelapan segera mengambil alih kesadarannya.

Yoona melihat pelayan yang dipukulnya dengan vas bunga kaca, terjatuh di bawahnya. Bunyi piring yang pecah terdengar di dalam kamarnya, sayangnya hal itu tidak akan pernah diketahui orang yang berada di luar kamarnya. Yoona melangkah ke ranjang dan melepas salah satu sarung bantal, kemudian kembali mendekati pelayan yang tengah pingsan untuk dibebat kepalanya. Ia tidak ingin mengambil resiko melihat darah dari luka dikepala pelayan itu.

Kembali menunggu hingga jam telah menunjukkan pukul 01:00 am. Yoona telah siap dengan pakaian yang dipakainya saat datang ke rumah satu minggu lalu.

Ia membuka pintu dan keluar, tanpa mengunci pintu kamarnya kembali. Berpikir pelayan itu akan kehabisan darah jika ia mengunci pintunya.

Mengendap-endap dan matanya awas melihat sekelilingnya. Suasana hening menemani dirinya yang sekarang berjalan kearah pintu belakang rumah.

Beruntung wanita pelayan yang sedang pingsan dalam kamarnya memiliki kunci pintu belakang. Membuka pintu dengan perlahan, ia keluar dan kembali melanjutkan langkahnya menuju pada salah satu pohon yang tumbuh disepanjang jalan setapak menuju gerbang.

Menyembunyikan dirinya di balik pohon, ia bisa melihat dua bodyguard yang menjaga pintu rumahnya. Ia berdecak, mengetahui Siwon yang sampai harus mempekerjakan bodyguard hanya untuk mencegahnya kabur.

Untung hoodienya berwarna hitam dapat menyaru dengan gelapnya malam. Ia berpindah dari satu pohon hingga sampai di samping pos penjaga gerbang.

Melihat melalui jendela, seorang satpam yang tengah tertidur dengan televisi menyala. Mengedarkan pandangannya, dan beranjak masuk dalam pos untuk mengambil kunci gerbang kecil di atas meja, yang biasa digunakan untuk pelayan. Ceroboh, itulah yang dipikirkan Yoona terhadap satpam tersebut.

Ia keluar dan melangkah hati-hati ke gerbang kecil. Membuka sepelan mungkin dan saat berhasil berada di luar, ia hanya menutup gerbang dan tidak mengunci kembali.

Yoona berlari secepat yang ia bisa menembus malam. Udara dingin menampar-nampar wajahnya, ia terlalu fokus dengan pikirannya yang ingin menjauh dari rumahnya dan tidak sempat menghindar saat cahaya lampu mobil memenuhi pandangannya.

Sehun baru meninggalkan kantor saat dini hari karena beberapa laporan yang memaksanya lembur. Ia tidak suka menunda pekerjaan.

Kelelahan, ia memacu mobilnya dengan cepat. Kantuk mulai menguasainya membuatnya lalai hingga tidak sempat menginjak rem dengan cepat saat sebuah sosok terlihat di depan mobilnya.

Rasa lelah dan kantuk yang tadi dirasanya lenyap, ia bergegas keluar dari mobil dan melihat sosok yang diyakininya seorang wanita dengan hoodie hitam terbaring di aspal.

Melangkah mendekat, berniat mengecek kondisi wanita yang ditabraknya. Ia kembali dikejutkan dengan wanita tersebut tiba-tiba bangun dan tudung hoodie terlepas.

Rambut sepunggung berwarna hitam gelap menyembunyikan wajah wanita itu. Ia baru ingin menanyakan keadaannya, namun didahului oleh umpatan dari wanita berhoodie, “Brengsek. Menyingkir dari hadapanku.”

Sehun tertegun, bukan karena umpatan yang ditujukan padanya, namun karena ia mengenal suara yang didengarnya. Seorang wanita dengan gaun hitam yang menatapnya dengan sinis.

“Hey, selain buta kau juga tuli, huh!” hardik Yoona pada pria yang berjongkok dihadapannya.

“Miss. Choi”

Sekarang Yoona yang dibuat terkejut mendengar nama keluarganya disebut. Jantungnya kembali berdetak kencang, pemikiran bahwa bisa saja pria dihadapannya adalah salah satu bodyguard ayahnya.

Ia bangkit dari duduknya dan berniat melarikan diri sebelum tangannya dicekal oleh pria tersebut. Yoona melawan dengan melayangkan tinjunya dengan tangan yang bebas, namun berhasil ditahan.

“Tenanglah, saya bukan orang jahat. Saya sahabat Arsen yang Anda lihat di pesta Jhonson Corp,” jelas Sehun yang berusaha membendung pergerakan Yoona. Sehun berpikir Yoona takut karena mengira dirinya adalah orang jahat.

Yoona menghentikan aksi berontaknya setelah mendengar penjelasan pria itu. Ia membalik tubuhnya agar berhadapan kembali dan ia bisa melihat seorang pria dengan setelan kantor abu-abu berdiri di depannya.

Melupakan kedua tangannya yang masih berada dalam genggaman pria yang mengaku sebagai sahabat Arsen. Ia menaikkan pandangannya dan langsung bertatapan dengan orbs hitam yang untuk kedua kalinya membuatnya merasakan perasaan familiar, seakan ia pernah mengenal pria itu.

Lama mereka memaku pandangan pada orbs lawan bicara, dan diputus oleh sahabat Arsen. “Kita mungkin belum sempat berkenalan. Saya Oh Sehun, Anda boleh memanggil saya, Sehun.”

Sehun? Kening Yoona mengerut, semakin bingung dengan perasaan familiar mendengar nama pria di depannya. “Yoona. Sekarang apa Anda bisa melepas tangan saya?” Yoona menepis kebingungannya dan memutuskan untuk pergi.

“Ah, maafkan saya. Bagaimana jika saya mengantar Anda? Luka Anda juga harus diobati.” Sehun melepas kedua tangan Yoona. Berusaha menekan keinginannya untuk bertanya alasan Yoona berada dijalan diwaktu dini hari.

Shit! masuk ke mobil, kita harus ke apotik terdekat. Kepala Anda tampaknya terbentur cukup keras,” Sehun mengutuk dirinya saat melihat darah terlihat diwajah Yoona.

Yoona meraba dahinya saat merasakan cairan hangat mengalir membasahi pipinya. Seperti yang dikatakan Sehun, tampaknya ia terbentur cukup keras. Dan ia baru merasakan sakitnya ketika sadar dahinya terluka.

Darah ditangannya membuat dirinya terlempar masuk dalam kenangan yang masih menghantui dan berusaha dilupakannya hingga saat ini. Seperti film, ia melihat dirinya ketika berumur 13th memandang ke depan, tepatnya pada seorang wanita yang menatapnya dengan senyum getir.

Tubuh Yoona gemetar dan itu tidak lepas dari tatapan Sehun. Berpikir bahwa Yoona sangat kesakitan, ia memanggil nama Yoona, dan pada panggilan kedua Yoona kembali menatapnya.

Yoona tertarik dari masa lalunya dan menatap pria yang memanggilnya dengan panik, “Kau bisa membantuku?”

God, apa kau sangat kesakitan? Katakan apa yang harus aku bantu, sebelum itu lebih baik kita masuk ke mobilku.”

Berpikir tidak ada gunanya membantah, dan juga dengan  ikut bersama Sehun ia tidak perlu bersusah payah mencari taksi. Yoona masuk ke dalam mobil dan meminta Sehun membersihkan darah dari wajahnya dengan sapu tangan yang diminta Yoona pada Sehun. Ia menekan sapu tangan pada luka di dahinya sampai mereka tiba di apotik. Sehun tidak menyadari selama itu tubuh Yoona masih tetap gemetar dan keringat ditubuhnya membasahi hoodie yang dipakainya.

 

Sehun memperhatikan Yoona mengobati luka didahi juga lututnya. Mengernyit tidak suka ketika Yoona menolak diobati olehnya. Mereka berada di dalam apotik dan terpisah satu kursi.

Ketika melihat Yoona selesai, ia mulai mengeluarkan pertanyaannya. “Dimana tempat yang ingin Anda tuju?”

Pertanyaan Sehun mengalihkan atensi Yoona. Ia menoleh dan menatap lurus pada mata lawan bicaranya. “Ke apartemen saya. Tapi, saya membutuhkan tempat tinggal sementara. Jadi, apa Anda bisa mengantar saya juga ke tempat teman saya?”

Daftar pertanyaan dikepala Sehun bertambah. Kenapa wanita ini tampak seperti seorang yang sedang melarikan diri? Melarikan diri? Pikiran Sehun berhasil mendapat pencerahan.

Alasan Yoona berada di jalanan, dan tidak berniat untuk tinggal di apartemennya setelah keluar dari rumahnya, adalah karena Yoona sedang melarikan diri.

Kesimpulan lain kembali menghantam benaknya, “Apa itu berarti Yoona beberapa hari ini berada di rumah keluarganya?” batin Sehun.

Sehun tersenyum dalam hati mengetahui ia bisa menyimpulkan dengan tepat. Namun perkataan terakhir Yoona mengganggunya. “Apa teman Anda seorang wanita?”

Yoona mengernyit tidak suka mendengar nada curiga dari pria yang menabraknya. Apa hubungannya dengan dia?

“Saya rasa itu bukan urusan Anda.”

“Jadi teman Anda seorang pria. Saya tidak bisa mengantar Anda ke tempat yang Anda inginkan.” Sehun bisa melihat penolakan diwajah Yoona, “tapi saya bisa membawa Anda ke apartemen saya. Anda butuh tempat sementara, bukan? Anda bisa tinggal di apartemen saya. Tenang saja, saya jarang menempatinya.”

Yoona semakin tidak suka mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Sehun. Kenyataan bahwa Sehun pasti sudah mengetahui alasan dirinya berada dijalan pada waktu dini hari.

Namun logika memaksanya menerima apa yang ditawarkan Sehun. Senyum muncul diwajah Yoona, hanya saja Sehun tidak bisa membaca makna dari senyum yang diberikan Yoona padanya, terlalu misterius.

“Aku bisa menggunakan pria ini untuk menyakiti jalang itu. Well, nampaknya takdir sedang berpihak padaku,” ucap Yoona dalam hati.

“Jika Anda tidak keberatan saya tidak akan menolaknya.”

“Tidak, sama sekali tidak. Dan mungkin kita bisa melepas panggilan formal satu sama lain?”

“Aku menyukai idemu, Sehun.”

Sehun tidak bisa menahan senyumnya mendengar untuk pertama kalinya sejak mereka kembali bertemu, Yoona menyebut namanya. Dan ia menyukai cara wanita dengan orbs cokelat itu melafalkan namanya.

Yoona di sisi lain, membalas senyum Sehun dengan senyum yang hanya dirinya sendiri tahu arti dari tarikan kedua sudut bibirnya.

“Bagaimana dengan Yoona?” tanya Arsen pada Dimitri, asisten setianya sejak ia menjabat sebagai CEO.

“Miss.Choi masih belum terlihat di kantor sejak satu minggu lalu, dan juga hubungan dengan karyawan lainnya tidak baik,” jawab Dimitri dengan wajah yang tampak masih ingin melanjutkan ucapannya namun ia tahan.

“Katakan apa yang ada dalam pikiranmu.”

“Maafkan saya, tapi sepertinya Miss. Choi tertekan dengan permusuhan yang diberikan oleh karyawan lain.” Dimitri tertunduk tidak berani menatap langsung Arsen.

“Ahaha.. Yoona? Tertekan? Kau benar-benar menghibur.” Arsen tidak bisa menahan tawanya mendengar kesimpulan Dimitri tentang alasan Yoona tidak bekerja sejak satu minggu lalu.

Dimitri mengerutkan kening, melihat reaksi yang diberikan Arsen. Tadinya ia kira akan mendapat amarah dari Arsen karena sudah seenaknya mengambil kesimpulan tentang wanita yang dekat dengan Arsen.

“Tidak perlu memasang wajah bingung, Dimitri. Orang seperti Yoona tidak akan tertekan dengan hal sepele seperti itu. Dia pasti memiliki alasan kuat hingga membuatnya meninggalkan rutinitasnya.” Arsen melihat kerutan semakin bertambah diwajah asistennya.

“Yoona seorang penderita OCD, dia tidak akan meninggalkan apa yang harus selalu dilakukannya. Jika ia meninggalkannya, aku sangat yakin jika bukan tubuhnya yang memiliki bekas luka, maka barang-barang di sekitarnya akan menjadi pelampiasan kecemasannya.”

Dimitri terkesiap mendengar apa yang diberitahukan Arsen padanya tentang Yoona, hingga tidak bisa menahan pertanyaan keluar dari mulutnya, “Bagaimana bisa?”

Salah satu alis Arsen melekuk naik, “Apa kau tidak memperhatikan pakaian yang selalu dikenakan olehnya?”

Dimitri berusaha mengingat pakaian yang selalu dipakai Yoona sebagai setelan kantor. Merasa tidak mendapat keanehan ia kembali bertanya, “Saya tidak melihat keanehan pada model pakaiannya, Sir.”

“Bukan pada model, tapi pada warnanya. Dia hanya menggunakan setelan berwarna hitam dan abu-abu. Meski model pakaiannya berbeda, kedua warna itulah yang selalu melekat padanya,” Membiarkan asistennya mencerna perkataannya, kemudian melanjutkannya kembali setelah dirasanya Dimitri memahaminya, “Rambut yang selalu disanggul, hanya sekali ia menggerainya. Ya, satu minggu yang lalu, selalu datang dijam yang sudah ditentukan, mengerjakan tugasnya dengan terstruktur dan selalu membuat planning sebelum mengadakan suatu program kerja. Dari kacamata normal ia terlihat sebagai seorang perfeksionis.”

“Ya, Anda benar. Jadi, dimana letak keanehannya?”

“Dia akan tampak gelisah dan bahkan cemas jika tidak melakukan apa yang biasa ia kerjakan, selalu mengecek ulang apa yang sudah dikerjakannya, aku melihatnya dari cctv diruang kerjanya. Hari dimana ia menggerai rambutnya setelah ke ruanganku. Dan juga ketika aku memberikannya kejutan kecil di pesta Jhonson Corp. Ia tidak bisa membiarkan orang mengambil alih kontrol pada dirinya. Melakukan hal yang diluar dari kebiasaannya selalu membuatnya gusar.”

Dimitri tidak bisa mengatakan apapun. Ia tenggelam dalam pikirannya, kenyataan bahwa seorang PR baru yang hanya dalam beberapa bulan menjadi orang yang berperan penting dalam peningkatan pengunjung dan citra Jefferson Hotel semakin baik, wanita itu seorang OCD, penderita Obsessive Compulsive Disolder.

Choi Yoona yang berani melayangkan pisau lipat pada Arsen di ruangannya. Wanita yang menawarkan kerja sama pada CEO Carter Corp. Ia berada di ruangan Arsen saat itu, berdiri di samping meja kerja Arsen dan melihat kegilaan kedua orang di depannya.

Wanita yang ia kagumi karena ketangguhannya, otak jeniusnya, dan ia takuti karena kesadisannya, adalah salah satu penderita penyakit mental.

Yoona berhati-hati ketika keluar dari apartemen Sehun, pagi ini ia memutuskan untuk kembali bekerja. Ia tidak ingin merusak barang-barang milik Sehun, karena kecemasan berlebihannya.

Melangkah masuk ke gedung perusahaan, ia hanya melihat beberapa karyawan yang baru tiba sama sepertinya. Masuk ke dalam lift dan memencet angka lantai ruangan kerjanya berada.

Suasana disekelilingnya perlahan dipenuhi oleh gumaman percakapan karyawan lainnya. Ia juga bisa merasakan tatapan yang diarahkan padanya. Dering telepon di mejanya membuat dirinya mengalihkan perhatiannya dari apa yang dikerjakannya.

Mendengar apa yang dikatakan seorang wanita di seberang telepon, kemudian menghela nafas kasar. Ia bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke dalam lift menuju ruangan Arsen.

Orbs abu-abu yang selama seminggu tidak dilihatnya, menatapnya tepat pada saat ia membuka pintu ruangan Arsen. Melangkah masuk dan duduk di kursi depan meja kerja Arsen.

“Apa yang membuatmu terpaksa meninggalkan rutinitas wajibmu, Yoona?”

Yoona berdecak, kembali merasa tidak suka ketika bertambah satu orang yang mengetahui apa yang terjadi padanya. Dua sahabat yang menjengkelkan.

Sehun yang dapat dengan cepat mengetahui ia melarikan diri dari rumahnya, dan sekarang Arsen yang berhasil membongkar kenyataan yang ia sembunyikan. Kenyataan bahwa ia seorang penderita OCD. Arsen seorang pengamat yang baik, dan ia harus lebih pintar menyembunyikan rahasia dirinya yang lain.

“Hanya sedikit masalah.”

“Sedikit, heh. Masalah keluarga bagimu adalah hal kecil?” Arsen tertawa mengejek. Tahu betul alasan Yoona tidak terlihat seminggu berhubungan dengan Choi Siwon.

“Kau hanya ingin mengatakan itu? Sangat membuang waktu.” Yoona berdecak malas dan berhasil membuat Arsen mengubah raut wajahnya menjadi serius.

“Apa hubunganmu dengan sahabatku Sehun?” Arsen melihat Yoona mengangkat salah satu alisnya seakan mengatakan apa-maksud-perkataanmu?

“Sehun menanyakan tentang dirimu, empat hari yang lalu. Saat aku mengatakan kau menghilang sudah tiga hari, aku bisa melihat raut cemas yang sempat muncul diwajahnya sebelum berhasil ditutupinya dengan baik.”

Yoona masih memasang ekspresi datarnya, menyembunyikan rasa curiganya pada Sehun. ia kembali menghubungkan rasa familiar saat berada di dekat sahabat Arsen dengan tingkah aneh Sehun.

Apa dia pernah mengenal Sehun? Hal itu memenuhi benaknya. Melihat Arsen yang menunggu jawabannya, ia menyimpan semua kemungkinan yang ada dipikirannya.

“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, belum.”

“Apa maksud ucapanmu, Yoona?”

“Kau jelas tahu apa maksudku.”

“Jangan bermain-main dengan sahabatku, Yoona. Aku tidak akan melepaskanmu jika kau berani.”

“Ck, Dia bisa menjaga dirinya sendiri, Arsen. Kau juga tahu itu. Dia lebih dari mampu.”

“Lupakan soal, Sehun. Aku lebih tertarik untuk membahas kerjasama yang aku tawarkan padamu. Apa kau sudah berniat menyetujuinya?”

Arsen menatap tajam Yoona selama beberapa menit, sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku masih ingin menilaimu, apa kau pantas mendapat kesempatan untuk bekerjasama denganku.”

Dan setelahnya, ia hanya mendengar umpatan Yoona padanya. Arsen menatap sosok Yoona yang menghilang di balik pintu. Kekehan geli yang dikeluarkannya ketika mendengar umpatan Yoona berhenti.

“Sehun mungkin saja sama sepertiku, tapi kau tidak tahu Yoona. Sehun dingin hanya pada orang yang tidak dikenalnya. Ia masih memiliki hati. Tidak sama sepertimu dan aku. Manusia bisa berubah menjadi bodoh karena cinta, Yoona. Hal itulah yang aku lihat dari Sehun, dia tertarik pada wanita kejam sepertimu.”

 

 

Advertisements