Title : Hatred (Devon Wood)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

“Keparat… keluar kau!!” Teriakan penuh amarah dari seorang pria di tengah jam kerja berhasil menarik perhatian karyawan dan pengunjung Jefferson Hotel.

“Pembunuh biadab.. Arsen Carter keluar kau!” Kerumunan orang mulai terbentuk.

Beberapa Petugas keamanan bergerak menuju pada pria berkemeja putih dengan corak merah terlihat tidak beraturan hanya pada bagian depan kemeja.

2 petugas keamanan menyeret pemuda tersebut. Ia berontak dan kembali berlari menuju depan gedung. Arsen keluar dari lift yang membawanya ke lobby. Teriakan penuh kebencian yang ditujukan padanya tidak mengusik raut wajah dinginnya.

Melihat orang yang terus disumpahinya muncul dan berdiri di depan kerumunan orang yang memperhatikannya sedari tadi. Pemuda itu semakin dibutakan amarah melihat wajah tenang Arsen. Berlari menuju ke arah Arsen, berniat menghapus ekspresi memuakkan darinya. Petugas keamanan yang menahannya terlalu terkejut dengan gerakan tiba-tibanya.

Helaan nafas tertahan terdengar dari kerumunan. Ketakutan akan melihat wajah memar Arsen karena pukulan pemuda tersebut. Alih-alih  berhasil menyarangkan pukulan di wajah Arsen. Pemuda itu terpental jatuh, Arsen menurunkan kakinya. Menatap penuh cemohan pada pemuda yang baru saja ditendangnya.

“Brengsek,” maki pemuda itu sembari bangkit dan kembali berniat memukul Arsen. Menahan kepalan tinju yang diarahkan padanya. Arsen memelintirnya hingga suara patahan tulang terdengar disusul teriakan memilukan. Mendorong pemuda yang melolong kesakitan hingga tersungkur di depannya.

“Memalukan.”

“Kau, kau yang harusnya malu. Pembunuh. Kau membunuh wanita yang pernah menjadi karyawanmu. Meninggalkan tubuh bersimbah darah dan wajahnya yang hancur di jalan.”

“Apa yang kau katakan?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu! Kau membunuhnya. Sengaja meninggalkannya di depan tempatku bekerja. Kau membunuh kekasihku hanya karena menghianatimu!”

Arsen tersenyum kejam mendengar pengakuan yang dilakukan tanpa disadari oleh kekasih PR yang menghianati perusahaannya. Gumaman tidak percaya menyebar. Menyadari kesalahannya membongkar hal yang seharusnya tidak dikatakannya. Ia menatap penuh kebencian pada pria kejam di hadapannya.

“Jadi, PR ceroboh itu adalah kekasihmu, heh. Kau pasti menyuruhnya untuk menghancurkan perusahaanku. Menyedihkan sekali,” Arsen menatapnya dengn seringaian mengejek, “sepertinya dia mendapat imbalannya sebagai penghianat.” Pandangan Arsen menggelap. Menusuk. Membuat pemuda tersebut dan kerumunan orang di tempat itu tanpa sadar mundur.

Menatap pada petugas keamanan yang masih terpaku ditempatnya. “Seret keluar pria ini.” Arsen berbalik dan matanya bertemu dengan milik Yoona. Wanita itu berada beberapa langkah di depannya, memandangnya dengan wajah datar. Menggeser tatapannya pada pemuda yang tengah diseret keluar dari halaman gedung Jefferson Hotel.

Arsen menghiraukan Yoona. Berjalan masuk dan diikuti Yoona ke dalam lift untuk kembali ke ruangannya. Keduanya diliputi keheningan, hingga mereka berdua berada di ruangan Arsen belum ada yang berinisiatif memecah gelembung keheningan tersebut.

Berjalan ke lemari, mengambil sebotol wiski dan gelas untuk dirinya sendiri. Meminumnya dalam sekali teguk, dan kemudian mengarahkan tatapannya pada Yoona yang memandang gedung pencakar langit dari jendela.

“Menghukum penghianat, huh.” Suara Yoona menyapa gendang telinga Arsen.

“Wanita bodoh,” umpat Yoona dengan suara datar.

“Dan kekasihnya hanya seorang pria lemah yang menggunakan wanitanya untuk mendapat promosi di tempat kerjanya jika berhasil menjatuhkan Jefferson Hotel.” Arsen mengambil langkah mendekat ke arah Yoona. Berdiri tepat dibelakangnya.

Arsen bisa merasakan panas dari tubuh Yoona. Menggerakkan kepalanya ke ceruk leher Yoona. Menghidu aroma mawar yang membuatnya tersenyum sinis. Yoona bergeming, membiarkan Arsen dengan kegiatannya, dan baru bertindak saat lidah pria di belakangnya menjilati lehernya.

Menarik rambut Arsen dengan kasar dalam genggaman tangan kanannya, tubuhnya diputar ke belakang dan bergerak cepat menyeret Arsen ke meja kerja, kemudian menghantamkan kepala pria tersebut di permukaan meja. Sekali tidak cukup bagi Yoona. Ia membenturkan kepala Arsen beberapa kali, sebelum Arsen melepas tangan Yoona dan balik membenturkan kepala wanita itu. Yoona menggerakkan salah satu kakinya tepat pada sesuatu yang berada di antara kedua paha Arsen.

Shit! Wanita gila!!!” Arsen melepas cengkramannya dari kepala Yoona dan menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya.

“Bagus. Akal sehatmu kembali. Sekali lagi kau melakukan sesuatu yang merusak pekerjaanku. Kupastikan benda itu tidak akan bisa berfungsi.”

“Dan benda yang kau sebut adalah aset berhargaku, damn witch.”

“Salahmu yang bertindak tanpa berpikir. Kau tidak menyadari pengunjung yang mundur ketakutan melihatmu di bawah tadi?”

“Aku tentu tidak akan menyakiti mereka.”

“Sayangnya, kau menunjukkan hal sebaliknya, dan karenamu aku harus menghadapi wartawan yang aku yakin beberapa jam lagi akan datang untuk mencari kebenaran apa yang dikatakan pemuda menyedihkan itu.”

“Itu tugasmu.” Seringai mengejek Arsen kembali terlihat meski dengan ringisan kesakitan.

“Pria brengsek. Kau seharusnya membuang mayat wanita itu di sungai atau laut. Biar saja pria itu mencari kekasihnya hingga putus asa.”

“Aku tidak suka bermain halus. Membuatnya sedih dan marah karena melihat mayat kekasihnya sebagai peringatan adalah kesukaanku.” Yoona mendengus mendengar perkataan Arsen. Ia menuju ke salah satu sofa dan mendudukkan dirinya.

“Kau berbau seperti mawar. Kenapa aku tidak heran.” Melihat alis Yoona yang melengkung membuat Arsen menjawab pertanyaan non verbalnya.

“Kau cocok dengan bunga itu. Indah, tapi berduri. Apa kau tahu? Aku tidak membayangkanmu sebagai mawar merah. Kau cocok dengan mawar hitam. Ahahahha…” Yoona memutar bola matanya melihat kegilaan Arsen.

 

“Bagaimana bisa kalian belum menemukannya?!” hardik Siwon pada orang yang diperintahnya mencari Yoona yang melarikan diri. Siwon sangat marah mengetahui Yoona melarikan diri, dipagi hari ketika pelayan yang bertugas membawa sarapan untuk putrinya. Ia mendengar teriakan histeris dari pelayan tersebut.

Meninggalkan sarapannya dan bergegas naik untuk mengecek Yoona. Berpikir bahwa putrinya melakukan sesuatu pada pelayan itu. Pikirannya memang tepat, tetapi yang menjadi korban Yoona, bukan pelayan yang membawa sarapan. Ia melihat pelayan lain tergeletak dilantai dengan kepala yang dibebat, warna sarung bantal yang awalnya putih berubah menjadi merah karena darah di kepalanya. Terkejut, Siwon tidak bisa mengatakan apapun selama beberapa detik, kemudian tangisan panik pelayan satunya kalah dengan teriakan kemarahan Siwon yang menyebut nama Yoona.

Siwon kembali duduk di kursi yang didudukinya sebelum menerima telepon. Wajahnya keruh dengan dahi yang mengkerut dalam, tangannya mengepal, dan tubuhnya tegang. Ia tidak bisa memahami semua tindakan Yoona.

“Lepaskan Yoona, Ayah. Berhenti mencarinya.” Suara Minho mengalihkan fokus Siwon.

“Dan membiarkan anak itu semakin tidak terkendali dengan sifatnya, tidak. Ayah tidak akan membiarkannya.”

“Tindakan Ayah hanya akan membuat Yoona gusar. Setelah mengurungnya dengan paksa selama seminggu, bahkan tidak bisa melangkahkan kakinya di luar kamar. Tentu saja dia memilih kabur.”

“Minho benar, Sayang. Biarkan Yoona bebas,” timpal Tiffany yang duduk di sofa yang berada di samping suaminya.

Tiffany merasa dia harus menghentikan usaha Siwon membawa Yoona kembali. Kehadiran Yoona hanya mengganggu kedamaian di rumah mereka. Ia selalu mendapati Siwon dikuasai amarah sejak anak tirinya itu kembali.

“Ya, biarkan Yoona, Ayah. Dia hanya akan melawan jika Ayah terus menekannya.” Sooyoung ikut bersuara. Tahu betul maksud perkataan Ibunya.

Mendengar perkataan ketiganya, membuat Siwon memikirkan kebenaran dari pendapat mereka bertiga. Mengingat kebencian Yoona yang semakin besar kepadanya, dan tindakan nekatnya melukai salah satu pelayan. Menghela nafas dalam sebelum mengangguk, “Baiklah.”

 

Yoona membereskan meja kerjanya, benaknya masih mengutuk Arsen karena tindakannya yang membuat dirinya harus berhadapan dengan wartawan dan menjelaskan bahwa pemuda yang merupakan kekasih dari PR sebelum dirinya dalam keadaan tidak stabil. Terguncang dan mencari pelampiasan kesedihannya dengan menuduh Arsen bertanggung jawab atas kematian kekasihnya.

Yoona menahan salah satu taksi dan memberikan alamat rumah Pamannya sebagai tujuannya. Setelah membayar ongkos taksi, ia melangkah masuk ke rumah Pamannya. “Bibi, Paman.” Mencari Bibinya ke ruang tengah dan melihat seorang pria dengan rambut merah kecoklatan duduk membelakangi dirinya.

“Yoona!” teriak Bibinya ketika melihat sosok Yoona. Pria itu menoleh dan keduanya beradu tatap.

“Yoona.” Pria itu bangkit dari duduklnya dan berjalan menghampiri Yoona, menenggelamkan wanita itu dalam pelukannya. “Aku merindukanmu.”

Yoona membalas pelukan pria itu, mendengar nada ceria dalam suaranya membuat Yoona tersenyum. Bibinya melihat keduanya dengan rasa senang layaknya seorang ibu yang menatap kedua anaknya berpelukan.

“Kenapa tidak memberi kabar? Devon bisa menjemputmu.” Ucapan Bibinya membuat Yoona melepas pelukannya, lalu mengambil langkah menuju ke tempat Bibinya duduk.

“Aku tidak ingin merepotkan, Bibi. Aku juga tidak tahu Devon berada di sini.” Yoona menjatuhkan dirinya di samping Bibinya dan merebahkan kepalanya di bahu wanita yang dianggapnya sebagai Ibu.

“Karena itulah kau harusnya menelpon terlebih dulu.” Devon kembali di tempat duduknya.

“Hmm..”

“Kau akan makan malam di sini kan?”

“Ya, tapi aku tidak bisa menginap, Bibi.”

“Oke,, biar Devon yang mengantarmu pulang.”

“Paman masih berada di kantor?”

“Ya, Sweetheart.”

Yoona duduk di samping Devon, berhadapan dengan Paman dan Bibinya. Mendengarkan ocehan Pamannya yang mengeluhkan sikap dingin Yoona padanya.

“Anak ini kejam, tidak pernah berpikir untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan pamannya.”

“Paman berlebihan sekali,”

“Dibanding Devon yang selalu meluangkan waktunya, kau bahkan hanya mengunjungi kami sekali dalam sebulan.”

“Aku punya pekerjaan yang harus aku kerjakan.”

“Devon juga begitu.”

“Yah, itulah alasan aku membawa Devon ke sini 6 tahun lalu. Menggantikanku untuk menemani Paman dan Bibi.”

“Ahaha…” tawa Devon pecah melihat perdebatan Yong Jae dan Yoona, sedang Hyun Ah hanya tersenyum geli.

Devon merindukan perdebatan yang selalu dilakukan kedua orang yang sudah dianggapnya keluarga. Yong Jae yang selalu mengeluh akan sikap Yoona dan wanita penyuka kopi itu akan mengatakan bahwa Pamannya berlebihan. Pikirannya kembali diwaktu dia pertama kali bertemu dengan Yoona.

Yoona berusia 16th menghabiskan waktunya di pusat Kota Washington, ia berniat menikmati sore hari di luar rumah. Memikirkan rumahnya selalu membuat dirinya diliputi perasaaan negatif. Pikirannya melayang hingga ketika melewati salah satu gang, ia mendengar suara aneh.

Berhenti tepat di depan gang, ia memutuskan untuk mencari tahu. Beberapa meter di depannya enam pria dewasa menggerubungi sesuatu, tepatnya seorang pria lainnya. Kata-kata penuh amarah, ejekan, dan tawa mencemoh keluar dari enam orang itu.

“Seharusnya kau sadar, tempatmu bukan di kampus kami. Seorang mahasiswa miskin sepertimu berani merayu Lucy.”

“Kudengar dia kesusahan membayar kuliahnya.”

“Tidak tahu diri.”

“Sampah.”

“Ahaha buat wajahnya babak belur dan lihat apa Lucy masih tertarik padanya.”

Yoona bersembunyi ditumpukan kotak yang disusun dan untungnya cukup untuk menyembunyikan dirinya. Ia bisa melihat wajah kesakitan pria yang terbaring di tanah dengan tangan yang berusaha menghalau kaki-kaki yang menginjaknya.

Dari apa yang dikatakan enam orang itu, ia bisa mengambil kesimpulan. Salah satu dari mereka hanya seorang pengecut yang terbakar cemburu karena wanita bernama Lucy lebih menyukai pria yang mereka keroyok. Tersenyum sinis, ia mengambil ponsel miliknya dan mencari rekaman suara yang dibutuhkannya. Sirine polisi terdengar nyaring di gang sempit dan mengagetkan enam orang yang masih asik memukuli pria lainnya.

“Polisi! Aku melihat beberapa orang mengeroyok temanku,” teriakan Yoona membuat pria-pria pengecut itu berlari dengan cepat meninggalkan gang, Yoona, dan pria satunya.

“Idiot.” Yoona keluar dari persembunyiannya dan melangkah ke arah pria yang tampaknya tidak sanggup untuk bangun dari posisi berbaringnya.

Mendengar suara Yoona, pria itu menggerakkan kepalanya dan melihat seorang siswi menggunakan seragam salah satu SHS elit di Washington berdiri di depannya. Menunduk ke arahnya yang berada dalam posisi menyedihkan.

Orbs cokelat itu terlihat dingin, seakan tidak ada yang bisa menembus rahasia pemiliknya. Menatapnya dengan pandangan tak terbaca, cukup lama ia tertahan dalam tatapan siswi itu. Tanpa disangkanya remaja dengan orbs cokelatnya berjongkok di sampingnya dan mengalungkan salah satu lengan di bahunya, “Bantu aku dengan mengangkat tubuhmu. Aku tidak cukup kuat untuk mengangkatmu.”

Mendengar perkataan tersebut, pria itu berjuang untuk mengangkat tubuhnya dari posisinya semula. Meski setiap sel tubuhnya meneriakkan protes kesakitan, ia menghiraukannya. Gadis ini sudah berbaik hati untuk menolongnya dan ia tidak ingin menjadi orang menyedihkan dengan menyusahkan gadis itu.

Setelah berhasil membuat dirinya berdiri, gadis itu mengubah posisi lengannya dari bahu ke punggungnya, ia tahu itu semua karena tinggi badan mereka yang berbeda. Mereka berdua keluar dari gang dengan gadis tersebut memapahnya. Ia yakin gadis di sampingnya tahu bahwa ia tidak mampu berjalan.

Menahan salah satu taksi dan mereka berdua masuk ke dalamnya, ia ingin bertanya kemana tujuan mereka sebelum mendengar alamat yang diucapkan gadis itu. Kepalanya berdentum hebat dan tubuhnya sakit, membuatnya tanpa sadar tertidur.

Ia merasakan guncangan di bahunya, membuka kelopak matanya dan kembali bertatapan dengan orbs cokelat gadis penolongnya. “Bangun, kita sudah sampai.” Menghiraukan kernyitan dahi pria di depannya, gadis itu kembali menyuruhnya keluar dan kemudian dipapah lagi olehnya.

Mereka berada di depan pintu rumah yang terkesan mewah, ketika pintu dibuka seorang wanita paruh baya terkesiap sebelum membantu gadis itu membawanya ke ruangan yang ditebaknya adalah ruang tamu.

Wanita tadi menghilang, beberapa menit kemudian kembali dengan baskom dan kotak obat di tangan satunya. Ia duduk dengan canggung mendapati dirinya diobati oleh wanita tersebut. Setelah lukanya diobati, ia akhirnya mengetahui nama gadis penolongnya.

“Apa yang terjadi padanya, Yoona?”

Gadis yang ditanya menoleh pada wanita itu, masih dengan ekspresi datar. “Dikeroyok oleh seorang pengecut idiot bersama 5 temannya yang sama idiotnya dengan pengecut itu, Bibi,” ucap Yoona datar.

Mendengar perkataan menghina yang diucapkan dengan nada datar oleh Yoona berhasil membuat Devon terkekeh meski setelahnya meringis kesakitan karena luka robek di sudut bibirnya. Lain halnya dengan reaksi wanita yang sekarang diketahuinya sebagai bibi Yoona.

Wanita itu kembali terkejut dan berkata dengan nada cemas dan prihatin, “God, bagaimana bisa mereka melakukan hal itu, keterlaluan. Bibi senang kau menolongnya Yoona, hanya saja apa kau baik-baik saja? Mereka tidak ikut memukulmu kan?”

“Mereka terlalu pengecut, mendengar rekaman sirine polisi dari ponselku juga teriakanku. Bergerak dengan cepat membawa pantat mereka meninggalkan gang.”

Devon kembali meringis. Namun bukan karena lukanya, tetapi perkataan Yoona yang entah kenapa terdengar kasar baginya. Dan sepertinya bukan cuma dia yang berpikir seperti itu, bibi Yoona juga ikut meringis.

“Siapa namamu, Boy?” Mendengar pertanyaan bibi Yoona, Devon berusaha membuka bibirnya.

“Devon Wood. Terima kasih sudah mengobati saya, Mam. Juga karena sudah menolong saya.” Devon menggeser pandangannya dari bibi Yoona pada gadis yang menatapnya dengan orbs cokelatnya.

“Hm.”

“Tidak usah bersikap formal seperti itu, aku menganggap siapapun yang dibawa Yoona adalah keponakanku juga. Dan Devon, kau satu-satunya orang lain yang dibawa Yoona kemari.”

“Ck.” Yoona berdecak, sedang Devon terkejut mendengar perkataan Hyun Ah.

“Abaikan sikap tidak sopan Yoona. Aku akan menyiapkan makan malam. Kalian bisa menunggu di sini selagi aku menyiapkan makanan.” Hyun Ah bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan keduanya.

“Apa yang bisa kulakukan untuk membalas pertolonganmu?”

Yoona menatapnya cukup lama sebelum menjawab pertanyaannya. “Kau mahasiswa jurnalistik.”

Bukannya menjawab, Yoona mengatakan sesuatu yang berhasil membuatnya terkejut. Melihat raut wajah Devon, ia kembali membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan tak terucap pria di depannya. “Aku melihat kartu pengenal yang tergantung di lehermu.”

Devon menunduk dan tidak bisa menahan untuk mengutuk dirinya sendiri. Tentu saja Yoona tahu dari kartu pengenalnya. “Ya. Aku berada ditahun ketiga dan sekarang aku sedang magang disalah satu perusahaan media cetak.”

Yoona mengangguk dan Devon merasa ia melihat kilat aneh di orbs cokelat Yoona. “Bagus. Aku akan menagih balas budimu, tapi bukan sekarang. Nanti.”

Mendengar suara Yoona tanpa sadar membuat Devon menggigil. Suara rendah dan tenang Yoona seperti menyembunyikan rahasia kelam. Membuatnya terdengar seperti janji yang dibuat oleh sang kegelapan. Anehnya, Devon merasa Yoona memang adalah kegelapan itu sendiri, tepatnya manusia yang menenggelamkan dirinya dalam dasar kegelapan.

Devon kembali dibuat terkejut dengan tindakan Yoona yang meminta Pamannya mengangkatnya sebagai anak angkat, setelah mendengar ucapan Devon bahwa ia seorang yatim piatu. Membujuk Pamannya dengan mengatakan bahwa dirinya bisa menemani Paman dan Bibinya karena Nara putri mereka yang berkuliah di Prancis sangat jarang pulang.

Devon bisa melihat wajah curiga paman Yoona, Kim Yong Jae. Yong Jae mengatakan akan memikirkannya. Satu minggu setelahnya ia dijemput salah satu supir keluarga paman Yoona. Kembali mengunjungi rumah yang pernah didatanginya, ia bisa melihat Yoona yang duduk di pangkuan pamannya dengan wajah merenggut.

Mengambil tempat duduk di depan kursi yang diduduki Yong Jae dan Hyun Ah juga Yoona. Perasaan tegang yang dirasanya menghilang diwaktu melihat senyum di wajah Yong Jae dan Hyun Ah.

“Kami memanggilmu ke sini karena ingin meminta kesedianmu, Devon,” jelas Yong Jae masih dengan senyum di wajahnya, “Kau bersedia menjadi anak angkat kami?”

Kejutan yang didapatnya membuat Devon kehilangan kemampuan berbicara selama beberapa menit. “Anda ingin mengangkat saya sebagai anak?”

“Ya. Saya sudah mencari informasi dan saya tidak ragu untuk mengangkatmu sebagai anak. Sebelumnya maaf sudah mengorek kehidupanmu.”

Devon tertunduk tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia tidak mempermasalahkan tindakan Yong Jae, toh dia bukan seorang kriminal yang sedang bersembunyi dari kejaran polisi. Hanya saja kenyataan bahwa dia masih diinginkan orang lain membuatnya sedikit emosional.

“Kenapa?”

“Kau anak yang kuat, menjalani hidupmu dengan bekerja keras meski tanpa orang tua. Keinginanmu untuk belajar adalah hal yang sangat baik. Kami akan menjadi orang tuamu, mendukung cita-citamu, dan tentu saja membuatmu tidak sendiri lagi.”

Air mata Devon mengalir keluar mendengarnya, hal yang tidak mungkin dimilikinya sekarang berada di depannya. Menawarkan kehangatan sebuah keluarga yang selalu diinginkannya. Devon mengangguk dan mengucapkan terima kasih berka-kali. “Terima kasih.”

“Hapus air matamu, itu membuatmu terlihat menggelikan.” Suara datar Yoona merusak suasana haru di ruang tamu Kim Yong Jae.

“Anak nakal, seharusnya kau mengatakan niatmu dengan baik, katakan saja bahwa kau tidak suka melihatnya menangis dengan kata-kata yang lebih halus.” Yong Jae mencubit pipi Yoona, dan menatap Devon, “Jangan hiraukan Yoona, dia memang gadis kejam. Mungkin sebaiknya kau mempersiapkan mentalmu menjadi sepupunya.”

Devon menghapus cairan yang keluar di matanya dan mengangguk mengiyakan. Menatap keduanya dengan senyum haru, sebelum menatap Yoona cukup lama. Menyampaikan terima kasih lewat tatapannya. Yoona hanya mengangguk sekilas kemudian mengalihkan tatapannya.

Devon kembali dari masa lalunya dan menatap Yoona yang sekarang berada di pangkuan Yong Jae, hal yang selalu dilakukan Yong Jae. Memperlakukan Yoona sebagai gadis kecil dan selalu diprotes oleh Yoona.

Ia juga masih ingat alasan lain Yong Jae mengangkatnya sebagai anak. Yong Jae melihat Yoona mendapakan sosok kakak laki-laki pada Devon. Yoona berusaha mencari sosok yang bisa berperan sebagai orang tua dan kakak yang tidak didapatnya di rumahnya. Mengetahui penyebab sikap dingin Yoona membuat keinginan Devon untuk menjaga wanita itu bertambah kuat. Yoona menatapnya dan alisnya melengkung naik yang dibalasnya dengan senyum lembut.

Sekarang dia sudah berhasil menjadi seorang jurnalis dan bekerja disalah satu kantor surat kabar terkenal, permintaan yang Yoona janjikan padanya masih belum ia ketahui. Apa yang ingin diminta Yoona darinya ketika mengucapkan janji tersebut?

 

Yoona dan Devon berjalan bersisian di lorong apartemen Yoona. Langkah keduanya terhenti melihat sosok pria mengenakan kemeja merah gelap dengan salah satu tangan memegang jas hitamnya. Dilihat dari dasi yang sudah dilonggarkan oleh pemiliknya membuat Devon tahu, pria itu baru kembali dari kantor dan langsung ke apartemen Yoona.

“Sampai di sini saja, Devon. Terima kasih sudah mengantarku.” Devon menatap Yoona, dan melihat tatapan yang membuatnya sadar wanita di sampingnya tidak berniat memberitahu hubungan dirinya dan pria yang diketahuinya sebagai tunangan saudara tiri Yoona.

Sebagai seorang jurnalis Devon mengenal Oh Sehun, salah satu pengusaha muda yang dipilih sebagai pria idaman wanita Kota Washington. Bertunangan dengan Choi Sooyoung satu tahun lalu dan berhasil mematahkan hati wanital lain karenanya. Sehun juga dikenal karena sifat tegas dan kepiawaiannya dalam bekerja membuat perusahaan keluarga Oh semakin sukses. Jadi, apa tujuan Sehun berkunjung ke apartemen Yoona?

“Devon.” Yoona memangilnya lagi dan ia bisa menangkap peringatan dalam suara Yoona.

Meski banyak yang ingin ia tanyakan. Seperti apa hubungan keduanya? Bagaiamana mereka bisa saling mengenal? Mengingat Yoona yang tidak berada di Washington satu tahun lalu saat pertunangan Giselle, dan ketika kembali dari Liverpool, ia tinggal di apartemen.

Devon menelan semua pertanyaannya dan mengangguk. “Baiklah, sampai jumpa, Yoona.” Devon menarik Yoona dalam pelukannya, mengurai pelukan mereka dan berbalik menuju lift yang akan membawanya ke lobby.

Sehun tidak bisa berhenti merasa cemas. Saat ia datang ke apartemennya dan tidak menemukan Yoona di sana. Ia hampir menuju ke rumah Siwon jika tidak melihat memo kecil di atas nakas kamar tidur yang digunakan Yoona.

Mengatakan bahwa ia kembali ke apartemennya, rasa khawatirnya berkurang, tapi ia memilih bergegas ke apartemen Yoona untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. Dan Sehun tidak bisa berhenti mengutuk ponselnya yang kehabisan daya.

Hampir satu jam lebih ia menunggu di depan pintu apartemen Yoona, saat melihat sosok wanita yang ditunggunya muncul dari lift, senyumnya mengembang, tapi memudar dengan cepat melihat sosok pria ikut keluar dan berjalan bersama Yoona.

Keduanya tampak akrab dan semua itu sukses membuat Sehun merasakan perasaan tidak suka. Ia berhasil menyembunyikan apa yang dirasakannya di balik wajah datarnya. Menyadari kedua orang yang berada beberapa meter di depannya sudah menyadari kehadirannya. Ia menunggu reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan keduanya.

Ia bisa melihat wajah yang dipenuhi pertanyaan dari pria yang bersama Yoona. Wanita itu mengucapkan terima kasih dan sangat jelas dari nada suaranya menginginkan pria itu pergi. Pria dengan orbs hitam dan rambut cokelat kemerahan itu melontarkan pertanyaan lewat tatapan matanya.

Alih-alih memberi jawaban, Yoona menyebut nama pria itu, Devon. Sekarang Sehun ingat siapa pria yang menatap Yoona dengan tanda menyerah dalam orbs hitamnya. Devon Wood jurnalis terkenal karena kemampuannya mencari berita dan kredibilitasnya yang sangat baik sebagai seorang jurnalis.

Sehun hampir mengeluarkan geraman tidak suka melihat Devon menarik Yoona dalam pelukannya dan dibalas oleh Yoona. Devon berbalik dan masuk ke dalam lift, tepat saat itu perkataan Yoona, malam dimana ia tidak sengaja menabraknya kembali muncul. Yoona meminta diantarkan ke apartemen temannya. Menyambungkan dengan kedekatan yang dilihatnya, membuat Sehun tahu. Pria yang ditebaknya sebagai teman yang Yoona katakan adalah Devon Wood. Dan semua itu semakin memperburuk suasana hatinya.

“Ada apa?” tanya Yoona saat berada di depan Sehun sebelum menggeser posisinya tepat di depan pintu apartemennya dan memasukkan kode. Pintu terbuka dan kembali menatap Sehun yang balas menatapnya.

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” jawab Sehun. Menyembunyikan alasan ia khawatir karena mengira Yoona dibawa paksa kembali ke rumah Siwon.

“Aku baik-baik saja. Aku ingin menghubungimu bahwa aku kembali ke apartemenku, tapi aku takut mengganggu pekerjaanmu, jadi aku memutuskan untuk menulis memo. Kau membacanya kan, itulah kenapa kau berada di sini.”

“Ya.”

“Aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Silahkan.”

“Kenapa kau menanyakanku pada Arsen?”

“Aku hanya kagum dengan kemampuanmu sebagai PR, aku penasaran akan PR baru di kantor Arsen,” jelas Sehun dengan lancar. Berhasil menyembunyikan perasaan terkejutnya atas pertanyaan Yoona. Sekarang pertanyaan dalam kepalanya bertambah. Apa hubungan sahabatnya dengan Yoona sampai wanita dengan orbs cokelat di depannya memanggil nama Arsen seakan mereka dekat. Mengingat kedekatan keduanya di pesta Jhonson Corp semakin membuatnya curiga, dan paling buruknya ia tidak suka.

“Begitu.” Yoona mengangguk dan sangat jelas menunjukkan ia tidak terlalu percaya.

“Ya. Sebenarnya selain ingin memastikanmu baik-baik saja, aku ingin mengajakmu makan malam.” Mengalihkan pembicaraan Sehun mengutarakan niatnya.

“Sayangnya aku baru saja selesai makan malam.”

“Oh.”

Melihat wajah Sehun yang sekilas menampilkan rasa kecewa, membuat Yoona tersenyum sinis. Yoona berani bertaruh Sehun tidak mengajak Sooyoung dalam rencana makan malamnya, dan wanita yang dibencinya pasti tengah gelisah tidak mendapat kabar dari tunangannya.

“Bagaimana dengan lunch? Aku sangat menyesal menolak ajakanmu malam ini, sebagai gantinya besok aku akan mentraktirmu.”

Kekecewaan Sehun hilang diganti dengan perasaan senang, “Kedengarannya menarik. Baiklah, sampai jumpa besok.” Sehun tersenyum lebar dan berbalik melangkah menuju lift dan hilang dari pandangan Yoona. Senyum Yoona ikut muncul, senyum ganjil yang membuatnya terlihat aneh.

Advertisements