HATRED : TOGETHER (bagian 1)

Title : Hatred (Together 1)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Yoona memilih meja yang letaknya berada di bagian sudut restoran,  di samping kursi yang didudukinya, ada  jendela yang menampilkan lalu lalang orang di luar restoran.  Restoran yang dipilihnya adalah restoran dengan kaca yang mendominasi bangunan berlantai dua tersebut, langit-langit gedung yang menjulang tinggi, susunan meja dan kursi  diatur berderet,  dan bagian tengah ruangan diletakkan sebuah meja makan yang cukup panjang dengan gantungan dari langit-langit gedung digunakan untuk menaruh lilin putih berbentuk gelas.

Restoran yang diketahuinya dari Devon,  dan melihat banyaknya pengunjung yang memenuhinya membuat Yoona membenarkan ucapan pria penyuka kegiatan hiking itu, bahwa restoran ini adalah salah satu restoran yang terkenal  di Washington .

Perhatian Yoona tertuju pada pria yang melangkah masuk ke dalam restoran dengan wajah terkesan dingin. Sehun mengarahkan tatapannya pada meja yang terletak di sudut restoran persis seperti yang dikatakan petugas resepsionis.

Keduanya saling mengamati penampilan satu sama lain,  berjalan ke arah Yoona dengan senyum hangat yang melunturkan raut wajah dinginnya. Menghiraukan tatapan kagum dan suara nafas tertahan di setiap penghuni meja berjenis kelamin wanita yang dilewatinya.

Mengambil tempat duduk di depan Yoona yang masih menatapnya. “Menunggu lama?” tanya Sehun pada wanita yang siang ini memilih setelan kantor warna hitam.

“Tidak juga,”

“Pilihan restoran yang bagus.”

“Kau suka? Baguslah.” Yoona tersenyum tipis dengan mata yang masih tetap menatap Sehun, membuat Sehun semakin melebarkan senyumnya. Senang dengan pikirannya bahwa Yoona memperhitungkan pendapatnya.

Seorang pelayan wanita mendekat dan menanyakan apa mereka sudah siap memesan sesuatu. Yoona baru saja ingin memilih makanan yang akan dipesannya, sebelum perasaannya berubah menjadi tidak tenang. Tepat pada saat ia mengangkat kepalanya dari buku menu, ia melihat sosok yang tidak ingin dilihatnya.

Awalnya hanya satu orang sebelum tiga orang di belakangnya ikut masuk.  Keempatnya  berjalan masuk dengan senyum yang menghiasi wajah masing-masing. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua restoran.

Perasaannya kacau, selera makannya menghilang, Yoona meletakkan menu di atas meja. “Maaf. Kami tidak jadi memesan.” Perkataannya membuat Sehun menatapnya dengan tanya yang terihat jelas di orbs hitamnya.

Menghiraukan tatapan Sehun, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Menunggu pria yang ia yakini akan menyusulnya, Yoona menghirup udara dengan rakus sebelum menghembuskannya dengan kasar serta kedua tangan mengepal.

Sehun bisa melihat tubuh Yoona yang tegang, ia berdiri di samping Yoona. Wanita itu menoleh padanya dengan orbs cokelatnya yang menggelap. Tertegun, ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Melihat reaksinya Yoona kembali melempar pandangannya ke depan.

“Aku kehilangan selera makan, tapi mungkin aku bisa mengembalikannya jika kau memiliki usul untuk tempat lunch kita?” Sehun bisa mendengar nada antusias dari Yoona, tapi sedikit tidak yakin ketika melihat wajah Yoona yang datar tanpa ekspresi.

“Kau yakin? Tidak perlu memaksanya, kita bisa melakukannya di hari lain.”

“Aku yakin, Sehun.” Yoona kembali menatap Sehun, melihat keseriusan  Yoona, pria itu hanya mengangguk sebelum berjalan menuju mobilnya.

Yoona mengikuti Sehun yang melangkah di depannya,  Sehun membukakan pintu mobil untuknya yang sempat membuat Yoona menghentikan langkahnya sebelum melanjutkan masuk dalam mobil. Keheningan mengisi ruang di antara keduanya. Sesekali Sehun melirik Yoona yang menyandarkan tubuhnya di jok sampingnya. Wanita itu menutup kedua matanya dengan nafas yang terdengar teratur, Yoona tidur pikirnya.

Tepat di lampu merah, ia menggunakan kesempatan itu untuk mengamati wajah Yoona. Wajah yang dilihatnya bukan wajah dengan ekpresi  datar dan kaku yang sering terlihat ketika Yoona terbangun melainkan wajah polos dengan raut lembut.  Ia tersenyum dan tanpa bisa dicegahnya tangannya terjulur mengambil sejumput rambut  di  dahi Yoona yang keluar dari ikatan rambutnya.

Ia tersentak  mendapati kulit di bawah sentuhannya sangat lembut hingga terkesan rapuh  membuat Sehun berpikir wanita ini akan hancur jika disentuh terlalu keras. Ia menyukainya, menyentuh Yoona membuatnya memiliki pemikiran untuk menyentuhnya di bagian tubuhnya yang lain selain dahi.

Ia baru saja ingin menyentuh pipi Yoona, sebelum kelopak mata Yoona bergerak dan perlahan terbuka menampilkan orbs cokelat yang beku. Ia membatu tidak tahu harus berbuat apa dengan suasana canggung karena kedapatan menyentuh wanita itu tanpa izin.

“Sebaiknya kau menjalankan mobilnya, klakson dari mobil-mobil di belakang sangat berisik,”  ucap Yoona datar, menghiraukan kecanggungan yang dirasakan pria di sampingnya.

“Ah, baiklah.” Sehun bergerak kaku  kembali ke posisinya.

Yoona melirik Sehun sekilas melihat tubuh pria itu yang berubah kaku, memalingkan wajahnya ke jendela sampingnya, ia menghela nafas. Sehun tidak tahu dengan kondisi jantung Yoona yang berpacu cepat karena perbuatannya,  dimulai sejak pria bersetelan biru navi itu mengambil rambut di dahinya dan menyelipkanny ke belakang telinganya.

Yoona tidak tidur dan sangat sadar dengan apa yang dilakukan Sehun padanya. Sehun di sisi lain tidak berhenti mengumpat dalam pikirannya. Dan perjalanan mereka ke tempat yang dituju semakin diisi dengan keheningan dan kecanggungan.

Yoona berdiri di depan bangunan dengan batu bata merah yang disusun menjadi dinding bangunan tersebut,  di pintu masuk ada dua patung singa besar yang diletakkan di sisi kanan dan kiri, ketika mereka melangkah masuk ke dalam, Yoona disambut dengan nuansa klasik dengan warna merah hitam sebagai cat temboknya, langit-langit ruangan cukup tinggi dengan warna cokelat muda dan lampu gantung berbentuk prisma terbalik.

Mereka digiring ke salah satu meja yang cukup privat dan Yoona tidak bisa berbohong dengan mengatakan bahwa ia tidak menyukai restoran tersebut. Suasana tenang restoran itu membuatnya semakin menyukai restoran pilihan Sehun.

“Kau menyukainya?” Sekarang Sehun yang bertanya padanya.

“Ya. Kau sering kesini?”

“Tidak, aku baru pertama kali ke sini.”

“Jadi?”

“Salah satu rekan kerjaku mengatakan bahwa restoran ini berhasil menarik perhatian warga Washington.”

“Dan rekanmu itu seorang wanita yang ingin mengajakmu ke sini, tapi kau tolak.” Sehun tidak siap dengan tebakan Yoona, membuatnya mengalihkan tatapannya dari Yoona.

“Ah, kau mau memesan apa?”

Sadar Sehun tidak ingin membahasnya,  sebelah alis Yoona terangkat dan diikuti senyum mengejek yang semakin membuat Sehun bergerak gelisah.

Sooyoung menghubungi Sehun yang baru diangkat didering ke tiga,  dan suara yang tidak pernah berhenti disukainya menyapa gendang telinganya.

“Sooyoung.”

“Ya, kau sedang sibuk?”

“Tidak juga, hanya ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani.”

“Um,, well,, apa kau sudah makan siang? Aku ingin membawakanmu makan siang.”

“Tidak perlu. Aku sudah makan siang.”

Sooyoung menghela nafas kecewa. “Baguslah, kau tahu.. aku baru saja makan siang bersama keluargaku dan aku benar-benar berharap kau ikut bersama kami tadi, aku menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif.”

“Aku harap kau menikmati makan siangmu.”

“Tentu saja.”

“Baiklah, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Selamat siang Sooyoung.”

“Siang Sehun.” Sambungan tertutup dan Sooyoung kembali dikuasai rasa kecewa. Sikap Sehun belakangan ini seperti kembali ke dua tahun lalu. Menjaga jarak dengan Sooyoung, padahal Sooyoung berpikir dia sudah selangkah lebih dekat dengan Sehun, dan ia tidak ingin kembali diwaktu Sehun tidak menghiraukannya.

 

Seminggu sejak makan siang pertama mereka,  Yoona dan Sehun mulai sering menghabiskan waktu makan siang bersama. Terbiasa dengan hal itu membuat Sehun gusar karena terpaksa membatalkan lunch mereka. Pikirannya tidak tertuju pada bawahannya yang sedang mempresentasikan program kerja divisi masing-masing, rapat mendadak yang dibuat ini membuatnya menggeram tidak suka.

Pukul 07: 00 pm, Sehun baru bisa meninggalkan kantor dan dengan cepat ia memacu mobilnya ke apartemen Yoona. Yoona sedang memasak makan malamnya saat mendengar bunyi ketukan di pintu. Ia mengecilkan nyala api kompor, dan berjalan menuju pintu depan.

Sehun berdiri di depannya dengan wajah kusut sama seperti kemejanya yang dua kancing atasnya dibuka, rambut cokelatnya yang berantakan membuatnya sangat berbeda dengan Sehun yang selalu dilihatnya.

“Hari yang berat?”

“Mmm..” Yoona mengangkat  satu alisnya melihat sikap dingin pria bermata hitam itu.

“Masuklah.” Memutuskan bahwa pria ini harus dibiarkan beristrahat sebelum ia menjadi lebih menggenaskan.

Sehun membatu karena perkataan yang baru didengarnya, tidak menyangka wanita yang saat ini menggunakan apron hitam mengajaknya masuk ke dalam apartemennya. Selama satu minggu ini ia tidak pernah diizinkan untuk melangkah lebih dari pintu depan, dan sekarang ia berpikir mungkin saja ini hanya halusinasinya.

“Tidak mau?” Bukan, apa yang didengarnya bukanlah halusinasinya. Yoona membuka lebar daun pintu dan menunggu Sehun masuk.

Keduanya berjalan ke ruang tamu dengan Sehun yang melarikan matanya menjelajah ruangan apartemen setiap mereka melangkah. Menghempaskan tubuhnya disalah satu sofa dan melihat Yoona yang berdiri di samping sofa lainnya, menatapnya dengan pandangan tak terbaca.

Yoona berlalu dari tempatnya meninggalkan Sehun yang berbaring di sofa. Melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karena kedatangan Sehun. Selesai menata makanan ia kembali ke ruangan tempat satu-satunya pria yang ia izinkan masuk ke apartemennya.

Sehun membuka matanya saat bahunya diguncang, melihat Yoona yang menunduk di depannya dengan wajahnya yang berjarak beberapa inci dari wajah Sehun, ia bahkan bisa merasakan terpaan nafas Yoona di wajahnya.

“Bangun dan cuci mukamu, aku menunggumu di meja  makan.”

“Dimana kamar mandinya?”

“Ikut aku.” Yoona menegakkan badannya dan berjalan ke ruangan yang dijadikan sebagai ruang kerjanya, ruangan yang awalnya adalah kamar tamu.

Setelahnya mereka ke ruang makan dan Sehun tidak bisa berhenti mengarahkan tatapannya dari makanan yang ada di atas meja lalu ke wajah Yoona.

“Berhenti melihatku seperti itu, mengganggu.” Yoona menarik kursi untuk dirinya, menghiraukan wajah Sehun yang terlihat aneh.

Ikut menarik kursi berhadapan dengan Yoona. “Kau pintar masak.”

“Hum,” gumam Yoona yang mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang baru dimasaknya. Ia mengarahkan tatapannya pada Sehun, “Kenapa belum mengambil makanan?”

Sehun mengisi piringnya dengan wajah yang tidak bisa dikatakan normal, rona merah menjalar dari wajah hingga ke lehernya, malu karena sempat berpikir Yoona akan mengambilkan makanan untuknya.

“Sejak kapan?”

“Maksudmu kapan aku pintar memasak? Sejak tiga tahun lalu,  di Liverpool aku harus pintar menyiapkan makanan untuk diriku sendiri.”

Sehun menelan suapan pertamanya dan ia mengakui keahlian Yoona dalam memasak. Ia menyukai apa yang dibuat oleh wanita itu. Keduanya makan tanpa berbicara satu sama lain.

“Biar aku yang mencuci piring, kau sudah memasak.” Sehun melarang Yoona yang hendak mencuci piring kotor.

Wajah Yoona berubah keruh. “Aku mencuci karena benda yang berada di apartemen ini adalah milikku. Aku tidak mempercayai orang lain atasnya. Jika karena sopan santun tidak enak, tidak usah khawatir aku tidak menuntutmu untuk itu.” Yoona kembali meneruskan kegiatannya mengangkat piring kotor dan menaruhnya di bak cuci.

Sehun hanya bisa menghela nafas dalam sebelum kembali ke ruang tamu. Setelah mengamati keadaan tiga ruangan yang dilihatnya, ia baru menyadari satu hal. Ketiga ruangan itu hanya memiliki dua warna yaitu abu-abu dan hitam.

Mengeryitkan keningnya mendapat satu kebenaran dari Yoona, wanita itu hanya memakai benda yang berwarna hitam dan abu-abu bahkan untuk cat ruang apartemennya.

 

Advertisements

22 thoughts on “HATRED : TOGETHER (bagian 1)

  1. Ahh seru banget semuanya moment yoona sehun tp eonni kenapa pendek bnget masih blm puas bcanya *abaikansyyggataudiri* eonni ini together bagian 1 emang nanti ada brp bagian?? Udh gitu knp judulnya together??*mian banyak nanya*

    • Ehehe ia, nae bagi jadi lebih dr 1 bagian karna lg cpek banget😅😅😅… brpa bgian? Lht ntr aj y ahaha. Nae jg blm thu smpe brpa bgian moment yoonhun.a. mau buat sehun happy dlu sbln di siksa ahahhaa…

      Knp judl.a together? gg ad yg spesial sih . Nae cuma milih it krna chapter ini khusus yoonhun yg mlai dkat 😆😆

      Gomawo dh rc saeng😄

  2. ahhhh akhirnya ff hatred lanjut lagi..dri kemarim penasaran terus dengan kelanjutan ff ini. dan tada muncul juga dg subjudul yg bikin..bikin penasaran lagi. Bagaimana kisah hidupnya yoona…apalagi yg bakal yoona lakukan untuk membuat kebahagiaan kembali.
    Bagaimana sikap ayah dan kakanya yoona saat tahu klau sehun dan yoona dekat lagi??
    apakah yoona bisa bebas dan bahagia??
    wahhh pokoknya bener2 penasaran.

  3. Mengapa Yoona membatalkan pesanan makananya??apa karena kedatanga 4 orang yg masuk kerestoran itu??apakah itu keluarganya ayah kakaknya ibu tirinya dan Soyoung??Sayang sekali jika benar ada Soyoung tapi ia tidak melihat Yoona bersama Sehun.Sehun sepertinya memang benar mulai menyukai Yoona dengan makan siang bersama dan merasa tidak enak mmbatalkan makan siang karena ada rapat mendadak.Tapi senang juga Yoona mengijinkannya masuk ke dalam apartemennya dan makan malam masakan Yoona.Ditunggu kelanjutannya…😊😊

  4. Part yg ini agak pendek.. Tp cerita’y ttp menarik. Aku ska alur’y yg ga kecepetan.. Aku tunggu part selanjut’y ya..
    Btw poster’y keren bangeeeeett..

  5. keren thor… seneng yoonhun tmbh deket… ak harap mrka lbh deket… yg di temui di lht yoona di restoran it kluarga yoona?
    smg sehun bisa merubah yoona lbh baik dan mrka bahagia…
    next thor kljtn y jgn lma2… kl bisa pnjangin lg….

  6. Yaaa pendek thor tpi gpp soalnya Seneng banyak moment yoonhun nya,,penasaran siapa sih orang yng di liat yoona eonni pas d restoran apakah keluarga choi,,??
    Semoga sehun bisa merubah yoona eonni menjadi lebih baik,ceria dan gx bersikap dingin lagi,,,
    D tunggu kelanjutan nya,,,

  7. accidentally found this fanfiction.

    Udah selesai baca dari awal dan baru bisa komen disini. Sori hehehe. Keaskan baca nih.

    But really this story is good. Aku suka alur dan konfliknya. Jarang jarang Yoona digambarin kejam gitu, maksudnya ya emang beneran kejam di depan dan belakang orang. Mostly, sekejem kejemnya Yoona di ff cuman di depan orang, dibelakang mewek mewek begitulah wkwk. Kamu berhasil bikin persona Yoona yang emang…beneran persona. Cool banget dia disini hadu 😦

    Please update soon author-nim. I’m craving for Yoona’s past. :)))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s