Title : Hatred (Attack from your Enemy)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DON’T TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

Yoona duduk di balkon apartemennya dengan mata yang menatap kosong ke langit. Bulan tampak penuh dan bibirnya sekarang mengukir senyum getir. Mengingat percakapannya beberapa jam  lalu dengan Sehun.

Suasana hatinya memburuk mengetahui dirinya yang begitu gampangnya bercerita pada Sehun, ditambah dengan  ingatan tentang penyebab dirinya menjadi penderita OCD. Orbs cokelatnya tampak goyah, detik selanjutnya air mata keluar  dari matanya.

Menyadari pipinya basah, alih-alih menangis tergugu. Justru tawa yang terdengar begitu dingin keluar  dari bibirnya. “Hahahaha….” Ia terus tertawa layaknya pasien sakit jiwa dengan air  mata yang semakin deras keluar .

“Brengsek. Aku benar-benar membenci orang itu.” Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal erat hingga kuku jarinya yang tajam menusuk dalam pada telapak tangannya.

Benak Yoona kembali memutar ulang masa lalunya, dengan orbs cokelatnya  yang berubah kosong.

Yoona pulang dari sekolah dan langsung masuk ke rumah tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ia berjalan menuju tangga rumah sebelum suara berat dipenuhi amarah membuatnya berhenti.

“Yoona!”

Membalikkan tubuhnya dan melihat Ayahnya berdiri tidak jauh darinya. Wajah Ayahnya keruh dan ia bisa menebak apa yang membuat pria itu tampak ingin memakannya. Menggeser pandangannya ia bisa melihat dua orang yang dibencinya  sedang menatapnya  dengan senyum mengejek.

“Ikut Ayah.” Siwon berjalan mendahuluinya ke ruang kerjanya, setiap langkah yang diambil Siwon menjanjikan rasa  sakit di tubuhnya.

Yoona melangkah masuk ke dalam ruang kerja Siwon dan menutup pintu di belakangnya, menghadap ke depan ia disambut dengan tamparan di pipi kirinya lalu menyusul pipi kanannya. Kepalanya sakit dengan telinga yang berdenging, air matanya keluar karena kerasnya tamparan yang didapatnya.

“Jangan coba-coba menangis, Yoona. Kau tahu kenapa mendapat hukuman,” desis Siwon padanya.

“Kau tidak mengerjakan tugasmu dan malah bertengkar  dengan teman sekelasmu. Aku mendapat laporan dari kepala sekolahmu.” Siwon menatap tajam Yoona yang menunduk untuk menyembunyikan air  matanya.

“Aku lupa mengerjakannya, Ayah,” lirih Yoona.

“Kau bohong! Apa ini caramu untuk melawanku? Masih menyalahkanku atas kematian Ibumu!” teriak Siwon tanpa menyadari tubuh remaja 13 th di depannya menegang kaku.

Mengangkat kepalanya dan menatap tajam Ayahnya. “Karena memang Ayah yang membuat Ibuku mati,” ucap Yoona dingin.

Siwon terpaku melihat kebencian yang ada dalam orbs cokelat anaknya. Sedetik kemudian egonya mengambil alih. Menolak disalahkan, ia semakin terbakar amarah. “Beraninya.  Anak kurang ajar!” Siwon kembali menampar Yoona dengan kekuatan penuh. Menyebabkan sudut bibir Yoona robek.

“Keluar dan intropeksi dirimu.”

Yoona segera berbalik dan membuka pintu dengan kasar, menaiki tangga dan berlari menuju kamarnya. Menumpahkan seluruh rasa sakitnya di bantal  yang beberapa bulan ini menjadi temannya.

Sejak Ibunya meninggal, semua tidak lagi sama baginya.  Rumahnya berubah menjadi neraka dan lingkungan  sekitarnya membuat Yoona tidak nyaman. Ia mulai berubah menjadi anak yang pendiam dan sangat sensitif hingga teman-temannya menjauhinya.

Kakaknya yang diharapkannya malah lebih sering menghabiskan waktu di luar dan menghiraukannya. Ayahnya bahkan lebih buruk, selalu menghukumnya jika melakukan sesuatu di luar perintahnya.

Menjadikan Yoona menanamkan pada pikirannya bahwa ia harus selalu melakukan apapun sesuai aturan dan kebiasaan yang diterapkan Ayahnya., untuk menghindari hukuman. Hasilnya Yoona akan merasa cemas dan gelisah jika tidak melakukan salah satu rutinitasnya. Yoona juga entah kenapa sekarang menyukai warna hitam dan abu-abu dan membenci warna lainnya.

Sesuatu yang ketika dirinya berusia 15 th diketahuinya bahwa  ia  menderita salah satu penyakit mental. Seorang penderita OCD. Ia mengetahuinya  saat mengikuti seminar kesehatan yang diadakan sekolahnya, dengan mengangkat tema kesehatan mental. Yoona tidak pernah membiarkan orang lain tahu, terutama dua orang yang ia yakini akan tertawa mengejek padanya.

Sehun berbaring di sofa yang selalu ditempatinya  setiap berkunjung ke apartemen  Yoona. Melihat wanita itu sedang menonton salah satu acara di tv. “Aku ingin bertanya.” Sehun memutuskan untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.

“Hm..”

Mengartikannya sebagai izin, ia kembali membuka mulutnya. “Kenapa hanya warna hitam dan abu-abu yang selalu kau pakai?”

Beberapa menit Yoona tidak menjawab pertanyaannya  dan membuat Sehun berpikir bahwa dia sudah melanggar batasnya. Baru saja ia ingin meminta maaf, suara Yoona membatalkan niatnya. “Karena aku hanya menyukai warna itu.”

“Apa kau  OCD?”

Kembali wanita itu terdiam seakan mempertimbangkan apakah akan menjawab pertanyaannya atau tidak. “Ya. Jangan bertanya kenapa, karena aku tidak bisa memberitahumu lebih dari ini. Sekarang saja sudah membuatku tidak nyaman karena menjawab pertanyaanmu yang sebelumnya,” tegas Yoona, dan berhasil membuat Sehun mengunci rapat bibirnya dengan mata yang menatap sedih padanya.

Mengetahui bahwa Yoona pasti pernah mengalami sesuatu yang buruk di masa lalunya membuat Sehun mengeraskan rahangnya. Menyesali dirinya yang tidak berada di samping Yoona saat itu dan kemungkinan besar  hal itu juga yang membuat Yoona melupakannya.

Hari ini Yoona harus lembur untuk mengerjakan program kerja untuk bulan depan,  jam dinding menunjukkan pukul 08:30 pm. Terlalu larut dengan kerjaannya, ia tidak mendengar bunyi langkah kaki yang mendekat ke ruangannya.

Bayangan wajah yang terpantul di monitor komputer kerjanya membuat ia tersentak. Melihat seringai kemenangan di wajah orang itu membuatnya mendesis desis jengkel. “Menikmatinya, huh” ucap Yoona kasar.

“Sangat. Ahaha,,, tidak menyangka  kau  akan terkejut. Terlalu fokus pada satu hal dan mengabaikan sekelilingmu bisa berbahaya, Yoona~~,” balas Arsen dengan menyeret suaranya dipenyebutan nama Yoona.

“Satu bulan lebih tidak bertemu membuatmu lebih terlihat kelam, ahahaha..” Arsen tertawa gila dengan tangan diletakkan di bahu Yoona dan kepalanya yang tengadah ke atas. Bahunya berguncang dengan wajah yang menunjukkan betapa dia sangat senang  menjadikan Yoona sebagai bahan leluconnya.

Yoona hanya mendengus dan dengan kasar menepis tangan Arsen di bahunya, menyimpan file yang sudah selesai dikerjakannya di hard disk miliknya dan mematikan  komputer. Ia memutar kursi kerjanya dan sekarang berhadapan dengan Arsen yang masih belum menghentikan tawanya.

“Sama sepertimu, sebulan tidak bertemu membuatmu semakin gila. Kenapa kau tidak selamanya menetap di Italia? Mengurus kantor cabangmu di sana.”

Menghentikan tawanya ia kembali menatap Yoona. “Kau pasti akan  merasa kehilangan, dan tentu saja apapun rencana yang susun untuk menghancurkan Choi Siwon akan  mengalami kesulitan tanpaku. Harus kau akui, aku berguna untukmu begitu juga kau untukku. Bukankah kita pasangan yang cocok,” ujar Arsen sembari menundukkan tubuhnya ke arah Yoona, kedua lengannya di letakkan di kedua sandaran sisi kanan dan  kiri kursi.  Mengurung Yoona dalam kungkungan lengan berototnya yang dibalut kemeja hitam.

Yoona masih menatap tajam Arsen dengan orbs cokelatnya yang datar. Memperhatikan bagaimana wajah Arsen yang bergerak perlahan mengecup sudut bibirnya dan beralih ke telinganya. Ia bisa merasakan deru nafas Arsen dan bakal janggutnya yang mulai tumbuh bersentuhan dengan kulit pipinya.

“Bukankah  begitu, Yoona,” bisiknya dengan nada yang dibuat menggoda yang Yoona yakin akan meluluhkan wanita lain, tentunya bukan dirinya.

Yoona mengangkat lengan kanannya dan mencengkram rahang Arsen, membawanya untuk kembali menatapnya. “Kau pasti ingin kepalamu dibenturkan lagi, huh,” desis Yoona tajam, namun wajahnya masih tetap tidak menunjukkan emosi apapun.

Melihat raut datar di depannya berbanding terbalik dengan nada mengancam yang di dengarnya, membuat Arsen terkekeh geli. Menggelengkan kepalanya meski sedikit sulit karena cengkaraman kuat Yoona di wajahnya.

“Bagaimana bisa kau mengeluarkan suara seperti itu dengan wajah tanpa ekspresimu, Yoona.” Melepas paksa tangan Yoona dan bangkit dari posisinya. Berjalan ke meja kerja Yoona dan bersandar di pinggirnya.

“Ku dengar kau semakin dekat dengan sahabatku.” Seringai mengejek kembali terlihat di wajah Arsen.

“Bukan urusanmu.”

“Terserah. Aku akan selalu mengawasimu, Yoona. Jangan menggunakan alasan bahwa kau  menyukai Sehun, karena aku  tahu itu bohong. Selesaikan secepatnya sebelum sahabatku semakin menyukaimu, aku tidak ingin dia hancur. Kau sendiri pasti tahu bagaimana hancurnya orang sepertiku dan Sehun jika mengalami kehancuran.”

Mengetahui keseriusan Arsen membuat Yoona mengangguk kaku. “Kalau begitu kau hanya perlu menyetujui untuk bekerja sama denganku, idiot.”

“Aku masih belum terlalu mempercayaimu,”

“Ck.” Yoona berdecak sebelum mendorong Arsen menyingkir dari mejanya. Ia membereskan barang-barangnya dan memasukkannya dalam  tas. Mematikan lampu kubikelnya dan beranjak berdiri. “Kenapa kau masih di kantor, Arsen? Ku tebak kau baru saja kembali dari urusanmu di Italia.” Berjalan keluar ruangan dengan Arsen yang berjalan menyusulnya hingga tiba di sampingnya.

“Aku harus mengambil beberapa file yang aku butuhkan, dan  menemukanmu begitu larut dalam pekerjaanmu.” Mereka berdua berjalan  menyusuri lorong menuju lift. Masuk dalam  lift tidak ada yang membuka mulutnya. Diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kuantar.”

“Tidak.”

“Jangan keras kepala, woman. Aku tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri, tapi melihat kondisimu yang terlihat seperti kain kusut. Aku yakin kau tidak punya cukup tenaga untuk mengatasi apapun bahaya yang menimpamu.” Arsen melingkarkan tangannya dengan paksa di pinggang Yoona dan mulai berjalan, merasakan  perlawanan Yoona, ia mempererat pelukan lengannya.

“Bangunlah, kita sudah sampai.” Arsen menepuk-nepuk pipi Yoona hingga kelopak mata wanita di sampingnya perlahan  terbuka dan orbs abu-abu pucat Arsen bertemu dengan orbs cokelat Yoona yang sampai saat ini sangat disayangkan Arsen, karena orbs yang harusnya terlihat indah itu harus dirusak dengan tidak adanya binar apapun di dalamnya.

Menepis tangan Arsen, Yoona membuka seatbeltnya dan mengambil tasnya, kemudian membuka pintu keluar. Menutup pintu mobil dengan bantingan kasar hingga menghasilkan suara keras dan decakan jengkel dari Arsen.

“Dasar wanita bar bar.” Memperhatikan Yoona yang berjalan masuk ke gedung apartemennya. Setelah memastikan wanita yang diantarnya masuk, ia menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya ke apartemennya sendiri.

 

 

 

Seorang wanita memandang tidak percaya pada apa yang tengah dilihatnya. Setelah memastikan bahwa pria yang tengah duduk bersama wanita yang memiliki rambut kecokelatan tidak jauh dari mejanya adalah orang yang dikenalnya.

Tangannya mengambi ponselnya dan berniat mengambil gambar kedua orang itu. Manik matanya semakin membeliak lebar melihat pria itu kini menyentuh bibir teman makan siangnya, tidak lupa dengan senyum pria tersebut. Dia bukan gadis lugu yang tidak bisa membedakan tingkah orang yang sedang jatuh cinta. Dan dia melihatnya pada pria yang siang ini menggunakan kemeja abu-abu itu.

Mengecek gambar yang diambilnya, ia meringis melihat gambar itu menampilkan kejadian yang baru saja dilihatnya. Mencari kontak sahabatnya dan mengirim gambar tersebut. Ia tersenyum sedih memikirkan apa yang saat ini dirasakan sahabatnya setelah melihat apa yang dikirimnya.

 

Di mana kau sekarang?

Sooyoung.

 

Pesan yang baru masuk di ponselnya kembali membuatnya meringis. Secepatnya mengetik balasan pesan yang diterimanya.

 

Di restoran yang pernah kuceritakan padamu, babe.

Kau mengenal wanita itu?

 

Dan pesannya tidak mendapat balasan hingga ia kembali ke kantornya. Menghubungi sahabatnya yang satu dan menanyakan apa sahabatnya itu bisa menghubungi Sooyoung. Ia mengkhawatirkan wanita yang sudah dikenalnya sejak kuliah, dan ia sangat tahu berapa besar perasaan yang dimiliki Sooyoung pada pria yang dilihatnya tadi.

“Wanita jalang, bagaimana bisa dia menggoda tunangan orang,” maki Abel pada wanita yang menjadi selingkuhan pria brengsek yang sayangnya sangat dicintai sahabatnya.

Sooyoung memeluk lututnya dengan tubuh yang meringkuk menyedihkan di sudut kamarnya. Ia tergugu merasakan sakit yang dirasanya saat ini. Air matanya belum berhenti keluar sejak setengah jam lalu. Melihat gambar yang dikirim Abel, ia sempat terpaku tidak percaya pada apa yang tengah dilihatnya.

Menyadari bahwa semua itu kenyataan dan melihat senyum yang tidak pernah didapatnya dari pria itu, membuat air matanya tanpa sadar keluar. Ia memberitahu Minho bahwa ia kembali ke rumah karena kepalanya sakit. Tergesa-gesa keluar gedung dan melajukan mobilnya dengan cairan yang semakin banyak keluar dari matanya.

“Wanita jalang! Aku yang pertama mengenal Sehun, aku yang mencintainya kenapa kau yang bisa mendapat senyum sialan itu!” teriaknya histeris pada wanita yang saat ini yakin tengah menertawai dirinya, karena berhasil merayu Sehun.

Sooyoung sangat ingin melajukan mobilnya dan melabrak dua orang yang menyakitinya. Namun ia sadar dan akal sehatnya masih berfungsi dengan baik. Sehun akan semakin menjauhinya dan wanita itu akan membalas perbuatannya jika ia mengamuk dan memukul Yoona. Yoona akan membalasnya, dan ia hanya akan mendapat malu. Tahu dengan pasti siapa yang akan terduduk dilantai dengan menyedihkan di restoran itu. Jadi, ia memilih melampiaskannya dengan menghancurkan barang-barang di kamarnya.

 

Tiffany mendengar keributan dilantai dua, mengernyitkan dahinya berpikir siapa yang berani membuat kekacauan di rumahnya di siang hari. Tepat ketika dia mendengar teriakan Sooyoung, tubuhnya tersentak dan segera berlari ke lantai atas.

Dibukanya pintu kamar putrinya dan mendapati Sooyoung yang tampak kacau meringkuk di pojokan kamar. “God, apa yang terjadi denganmu, sayang,” pekik Tiffany sambil menyebrangi ruangan dan mendekat ke arah putrinya yang tampak berantakan.

Sooyoung mengangkat kepalanya dan menatap Ibunya yang sekarang berjongkok di depannya dan membawanya ke dalam pelukan yang sangat dibutuhkannya. Beberapa saat dihabiskan Sooyoung dengan menumpakahkan tangisnya di bahu Ibunya.

Meluapkan semua rasa sakit yang dirasanya. Mengambil napas dalam sebelum mengatakan apa yang terjadi padanya. “Wanita jalang itu, aku membencinya, Ibu.”

“Siapa yang kau maksud, Sooyoung?”  Keningnya berkerut dalam mendengar perkataan Sooyoung.

“Yoona!”

Air muka Tiffany berubah keruh mendengar nama yang disebutkan Sooyoung. “Apa yang sudah dilakukan, Anak sialan itu, hm.”

Melepas pelukan keduanya, Sooyoung bangkit dan berjalan ke tengah ruangan. Meraih tas yang terletak di lantai dan mengambil ponselnya. Kembali ke arah Ibunya dan menunjukkan foto yang dikirim Abel padanya.

“Anak sialan!!”  Wajah Tiffany menjadi merah dan Sooyoung yakin ia bisa melihat asap keluar dari telinga Ibunya.

“Tenanglah, Ibu yang akan mengurus anak itu.” Mendekap putrinya dalam pelukannya dan mengelus punggungnya. Itu semua tidak membuat Sooyoung tenang. Ibunya mungkin akan melakukan sesuatu untuknya, tapi ia sangat yakin tidak dalam waktu dekat, sedang Sooyoung menginginkan pembalasan pada Yoona saat ini juga.

Yoona menatap tajam pria yang duduk di depannya dengan tangan yang baru saja mengusap sudut bibirnya. Tepatnya saus yang menempel di sudut bibirnya. “Kenapa kau melakukannya?”

“Aku tidak bermaksud apa-apa, selain untuk membersihkan sudut bibirmu.”

“Kau bisa memberitahuku.”

“Aku ingin.”

“Jangan melakukannya lagi, aku tidak menyukainya.”

“Banyak sekali yang tidak kau sukai.” Sehun menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan makannya. Yoona masih menatapnya dan ia tahu sudah membuat wanita itu kesal.

Menyelesaikan makannya. Ia kembali menatap Yoona yang juga sudah menyelesaikan makannya, “Berbaik hatilah padaku, ini makan siang kita yang terakhir kalinya. Satu bulan lebih kita tidak akan bertemu, karena aku akan ke New York untuk mengurus beberapa masalah yang dialami perusahaan cabang di sana.” Menghela nafas kesal mengingat dirinya yang tidak akan bertemu Yoona karenanya.

Yoona diam mendengar apa yang diucapkan Sehun. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, berbeda dengan pemikiran yang tengah berkecamuk di dalam dirinya. Pria ini menghabiskan waktu terakhirnya bersamaku dibanding tunangannya, apa sebenarnya yang dipikirkannya. Jadi, dia benar-benar tertarik padaku? Pikirnya. Yoona menyembunyikan senyum sinisnya lalu menganggukkan kepalanya sebagai responnya pada Sehun.

“Baiklah. Katakan apalagi yang kau inginkan? Aku yakin bukan hanya makan siang yang kau inginkan.”

Dia mengenalku dengan baik, pikir Sehun. Ia menganggukkan kepalanya dengan seringai yang terlihat di wajahnya menambah kesan tampan baginya. “Aku ingin kau bisa mengantarku ke bandara sore ini. Penerbanganku jam 5 sore.”

Menelengkan kepalanya ke satu sisi dengan senyum sinis, entah kenapa membuat Yoona bukannya terlihat menyeramkan, ia malah tampak mempesona bagi Sehun. “Aku akan menemuimu di bandara selepas pulang kantor.”

“Aku menunggumu.”

“Hm.”

Yoona membereskan barang di meja kerjanya dan bergegas keluar ruangan. Sesekali mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Berdiri menunggu di depan lift, pintu terbuka dan matanya langsung bersirobok dengan orbs abu-abu pucat yang ketika melihatnya orbs itu dipenuhi dengan kilatan mengejek menggantikan kilat kejam di sana.

“Yoona.. Yoona. Kita selalu bertemu tanpa direncanakan. Bukankah ini takdir.”

“Mimpi saja kau.” Melangkah masuk dan menghiraukan pria di sampingnya.

Melihat Yoona yang berulang kali mengecek jam tangannya, ia membalikkan tubuhnya menghadap Yoona. “Ada apa dengan dirimu dan jam tangan sialan itu?”

“Bukan urusanmu.”

“Aku mungkin bisa menawarimu tumpangan.”

Berpikir sejenak ia memutuskan memberitahu Arsen. “Aku akan menemui Sehun di bandara.”

“Wah..wah.. apa ini? Kau melunak?”

“Aku sudah berjanji padanya. Bukan berarti aku melunak, idiot.”

“Ahahaha… sudah kuduga. Yoona yang cantik tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada niat di dalamnya.”

Mereka keluar dari lobby dan melihat seorang supir berdiri di samping body mobil dengan pintu penumpang dibuka lebar. “Kau menggunakan sopir? Aku berpikir kau mengemudikan mobilmu sendiri.” Ia menoleh ke arah Arsen yang kembali menunjukkan seringainya.

“Aku hanya ingin menikmati apa yang aku miliki. Aku sedang malas mengemudikan mobilku sendiri.” Melangkah masuk ke dalam mobil yang diikuti Yoona dan mobilnya melaju menuju bandara.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu yang mengangguku sejak tadi.”

“Katakan.”

“Apa mobil yang berada dibelakang kita adalah bodyguardmu?”

“Ahaha.. kau memiliki insting yang tajam, heh.”

“Kau membutuhkannya?”

“Mendengar nada tidak percaya darimu membuatku tersanjung. Aku mungkin bisa melindungi diriku sendiri, tapi kadang kau membutuhkan orang lain untuk melindungimu. Musuhmu tidak hanya satu yang berarti bahaya yang mendatangimu bukan hanya satu.”

Yoona diam dan membuang pandangannya ke jendela sampingnya. Orang lain untuk melindungiku, tidak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri, pikirnya. Pikirannya kembali memutar ulang apa yang selama ini ia alami sejak sembilan tahun lalu. Ia berjuang sendirian, dendamnya hanya dirinya yang tahu, begitu juga rasa sakit yang dialaminya.

Wajah seorang gadis Asia muncul di benaknya. Seohyun. Gadis yang ia biarkan mendekat dan mengetahui sedikit lukanya. Ia tersenyum tulus untuk pertama kalinya dan tidak sadar dengan pria di sampingnya yang juga melihat senyum yang orang itu kira tidak bisa lagi muncul di wajah wanita itu.

“Wanita yang menarik.”

“Kau tidak ikut keluar?”

“Hm.. Sehun akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita berdua dan itu adalah hal terakhir yang aku inginkan. Pikirannya akan terganggu dan pekerjaannya selama sebulan di New York tidak akan maksimal.”

“Kau sangat menyayangi sahabatmu itu, heh.”

“Menyayangi? Entah kenapa itu terdengar menggelikan bagiku. Aku menganggap Sehun sebagai saudaraku, karena itulah Yoona, sebaiknya kau tidak terlalu menyeretnya dalam rencanamu menghancurkan Siwon.”

Ia bisa mendengar keseriusan dan ancaman dalam nada suara Arsen. Ia tidak menanggapinya, memilih membuka pintu mobil dan keluar. Mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Sehun

Ia melangkah menuju tempat yang diberitahu Sehun padanya. Melihat punggung tegap yang memakai kemeja cokelat tua beberapa langkah di depannya. Perasaan familiar kembali menyergapnya, ia seakan pernah melihat bahkan berada di atas punggung tegap itu, dengan bentuk yang belum sepenuhnya tegap seperti sekarang. Lebih muda.

Menepis perasaan asing yang muncul di dalam dirinya.  Ia memanggil nama pria itu, Sehun berbalik dan muncul wajah lain di penglihatannya. Wajah yang mirip dengan Sehun hanya saja orang itu seperti seorang remaja, memanggil namanya dengan senyuman di wajahnya. Ia mengerjapkan matanya dan melihat Sehun melakukan hal yang sama dengan remaja itu.

“Yoona.”

Ia tersentak dan tanpa sadar mundur selangkah yang mengundang kerut di dahi Sehun. Pria itu berjalan mendekat dengan wajah khawatir. Selangkah di depannya, Yoona mengangkat satu tangannya menyuruh Sehun berhenti.

“Aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?”

“Hm..” Menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat, “Maaf aku terlambat. Ada beberapa berkas yang menyita waktuku.”

Its fine, kau datang adalah poin pentingnya.”

Keduanya saling memaku pandangan satu sama lain dengan pikiran yang jauh berbeda. Satu dengan kebingungan yang kental dan satu dengan rasa senang yang berlebih. Tanpa sadar salah satunya sudah mengikis jarak yang ada dan membuat tubuh keduanya menempel.

Suasana magis yang melingkupi mereka lenyap karena suara seorang wanita yang mengumumkan waktu keberangkatan pesawat dan juga merupakan pesawat yang ditumpangi Sehun akan berangkat. Yoona menarik diri dan memalingkan wajahnya.

“Sepertinya kau harus pergi.”

“Ya.”

See u, Sehun.”

See u, Yoona.”

Sehun berbalik dan berjalan meninggalkan Yoona. Baru beberapa langkah ia tiba-tiba berbalik dan kembali menghampiri Yoona dengan langkah lebar. Merangkum wajah Yoona dengan kedua tangannya, kemudian memagut bibir wanita di depannya. Menumpahkan seluruh emosi yang dirasanya.

Yoona tidak sempat bereaksi dan belum bisa mengartikan apa yang terjadi. Sehun menciumnya dengan keras dan ia bisa merasakan perasaan rindu, sedih, bingung, dan amarah dalam ciuman yang diberikan olehnya. Pria tersebut melepas pagutannya, menatap Yoona dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan dan berbalik cepat meninggalkannya.

Terlalu terkejut ia masih berdiri seperti orang dungu di tempatnya sedang Sehun sudah menghilang dari pandangannya. Ia disadarkan dengan decakan seseorang yang berdiri di sampingnya. Menolehkan kepalanya ia melihat Arsen yang menatapnya dengan pandangan mencibir.

“Kau baru pertama kali dicium, heh,” ujar Arsen dengan nada cibiran kental dalam suaranya.

“Apa yang kau harapkan. Aku bukan perempuan  yang suka berhubungan dan menyerahkan diriku untuk dinikmati seorang pria, atas nama perasaan bullshit yang orang-orang menyedihkan itu sebut cinta.”

“Wah,,, jadi kau tidak punya pengalaman sama sekali dengan seorang pria? Sahabatku adalah yang pertama bagimu? Ahahahaha.. God, aku bisa bayangkan senyum lebar Sehun jika mengetahuinya.”

“Aku bisa mempelajari kalian tanpa harus memberikan tubuhku, ck. Jangan berani mengatakannya pada sahabatmu, Arsen. I’ll cut ur balls if u dare.”

“Aahaha.. harga dirimu sangat tinggi. Katakan Yoona, apa kau straight?”

F**k off, Arsen.”

“Mendengar suaramu, dibanding wajah datarmu cukup membuatku yakin kau normal.”

Menghiraukan pria gila di sampingnya ia berjalan meninggalkan Arsen, menuju mobil pria itu yang di parkir di depan bandara bergabung bersama kendaraan lain. Pria berkemeja merah gelap itu menyusulnya masih dengan kekehan menyebalkan miliknya.

Yoona hanya menggelengkan kepalanya melihat seberapa rusak otak pria di sampingnya. Mungkin orang tuanya sering menjatuhkannya saat masih kecil, alasan yang membuatnya jadi terganggu seperti sekarang, pikir Yoona.

“Turunkan aku di depan supermarket itu.”

“Kau tidak salah? Apartemenmu berada di seberang dan kita masih harus mengambil belokan di depan sana.”

“Aku masih harus membeli beberapa barang, Arsen.”

“Terima kasih atas tumpangannya.” Keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam supermarket.

“Apa yang kau inginkan, Arsen.”

“Hanya ingin melihat makanan seperti apa yang sering kau makan.”

Memutar bola matanya, Yoona meneruskan kegiatannya mencari barang yang dibutuhkannya. Arsen terus mengikutinya dan mengomentari setiap barang yang diambilnya.  Tanpa mereka sadari, keduanya menjadi bahan perhatian orang lain di tempat itu.  Ada yang menatap bingung, terganggu, dan iri.

Arsen mengikuti Yoona bukan tanpa alasan. Entah kenapa hari ini pikirannya selalu tertuju pada wanita itu. Membuatnya gusar dan bingung menelaah perasaanya. Apa yang sebenarnya dirasakannya? Itulah hal yang selalu berputar di benaknya satu hari ini.

Mereka keluar dari supermarket dengan Yoona yang tidak biasanya mengucapkan kalimat ‘Sampai jumpa’ padanya. Ia terus menatap wanita yang hari ini menggunakan setelan kantor warna hitam, menyebrang jalan. Tepat di seberang sana ia melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah mobil Audi putih melaju cepat menuju ke arah Yoona yang saat ini berada di tengah jalan menuju ke gedung apartemennya yang berdiri kokoh di depan jalan.

Tergesa-gesa ia berlari menyebrang jalan. Ia tidak cukup cepat, Arsen sudah berada tidak jauh di belakang Yoona. “Yoona, awas!!!” teriaknya. Yoona berniat berbalik untuk melihat orang yang meneriakinya.

Belum sempat berbalik tubuhnya berbenturan dengan mobil yang membuatnya melayang sejenak sebelum kembali ke tanah dengan posisi berbaring dan terseret beberapa meter dari posisinya semula.

Tabrakan itu menghasilkan bunyi yang cukup keras, dan tentunya mengundang teriakan panik orang-orang di tempat itu. Mereka segera mengerubungi Yoona tidak menghiraukan mobil penabraknya yang sudah melaju cepat meninggalkan tempat tersebut.

Arsen sangat terkejut melihat apa yang terjadi pada Yoona, tapi otaknya ternyata cukup pintar untuk memperhatikan plat mobil penabrak Yoona dan menelpon bodyguardnya yang ia yakin berada cukup dekat darinya.

“Ikuti mobil sialan itu, tangkap orang itu. Setelahnya hubungi aku.” Memberikan perintah, lalu segera berlari pada kerumunan di depannya. Menyingkirkan orang yang menghalanginya, ia membawa tubuh Yoona dalam pelukan lengan kokohnya.

“Saya temannya.” Dengan itu ia menggendong Yoona dan membawanya menuju mobilnya yang ia perintahkan menuju ke RS terdekat. Ia merasakan Yoona yang mencengkram kemeja depannya. Menunduk ia melihat wanita yang bahkan dalam kondisi mengerikan masih bisa menunjukkan tatapan tajam padanya.

“Jangan beritahu siapapun. Bungkam orang-orang yang berniat memberitakan kejadian ini. Aku tahu kau bisa. Aku tidak bisa melihat orang yang aku benci mengetahui keadaanku.” Setelahnya Yoona meringis sakit sebelum kelopak matanya tertutup menyembunyikan orbs cokelat beku wanita itu.

“Keras kepala.” Ia melepaskan satu tangan yang memeluk Yoona dan mengambil ponsel dari saku jasnya, mencari kontak seseorang yang ia percayai. “Hilangkan semua pemberitaan yang terjadi hari ini, Dimitri.”

Arsen melompat turun dari mobil dengan Yoona di gendongannya. Perawat yang melihat hal itu langsung beraksi cepat membawa brankar rumah sakit dan meminta Arsen membaringkan Yoona di atasnya.

Arsen menunggu di depan ruangan Yoona diperiksa. Tangannya gemetar melihat darah Yoona yang mengering. Ia mengira tidak memiliki rasa takut, nyatanya ia salah. Melihat wanita yang setiap saat dilihatnya selalu tampak kuat sekarang berada dalam kondisi menyedihkan membuatnya gemetar.

Ia tersentak dengan pencerahan yang muncul dalam pikirannya. Alasan ia selalu memikirkan Yoona seharian ini karena ia tahu, wanita itu akan berada dalam bahaya. Apa yang membuatnya bisa sepeka ini? Apakah ia sudah menganggap wanita penderita OCD itu menjadi salah satu bagian penting dihidupnya?

Ia mengacak rambutnya frustasi, kegiatannya berhenti kala mendengar suara pintu di depannya dibuka. Seorang dokter muda dengan wajah yang Arsen pikir lebih cocok menjadi salah satu anggota boyband Korea, mendekat ke arahnya dengan senyum ramah.

“Saya mencari wali Miss. Yoona.”

“Saya tunangan wanita yang berada dalam ruangan itu.”

Dokter itu mengangguk. “Miss.Yoona harus segera di operasi. Terjadi pendarahan di otak tunangan Anda. Memang tidak terjadi di bagian yang berbahaya. Namun saya menyarankan agar ia di operasi agar menghindari kondisi yang tidak diinginkan ke depannya.”

“Lakukan apapun yang menurut Anda baik. Apakah hanya itu?”

“Selain pendarahan di otak, Miss. Yoona juga mengalami patah tulang bagian kaki kirinya. Di wajahnya terdapat beberapa luka kecil.”

Arsen mengepalkan kedua tangannya mendengar penjelasan dokter di hadapannya. Tubuhnya menegang kaku dan itu tidak luput dari pengamatan pria yang menjadi lawan bicaranya.

“Anda lebih baik mengurus biaya administrasi agar operasi tunangan Anda segera dilakukan.” Mengangguk kaku, ia meninggalkan dokter muda itu dengan perasaan campur aduk.

Arsen duduk di depan ruang operasi dengan wajah keruh. Tubuhnya sejak tadi berteriak untuk diistrahatkan, namun dihiraukannya. Ponselnya bergetar dan ia melihat kontak kepala bodyguardnya muncul di layar ponsel.

“Berhasil?”

“…”

“Apa! Kau yakin?”

“…”

Arsen diam mendengar perkataan orang di seberang telepon. Sedetik kemudian seringai sinis muncul di wajahnya. “Kau sudah kuperingatkan untuk mengawasi orang sekelilingmu, sekarang wanita yang kau curi tunangannya kalap dan membawamu ke dalam kondisi seperti ini,” batin Arsen.

“Bawa dia ke kantor polisi, laporkan dia atas tuduhan kasus tabrak lari. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan dan dipilih Choi Siwon.”

“…”

Memutus sambungan telepon, ia kembali menghubungi seseorang. “Kirimkan nomor ponsel Choi Minho, sekarang.” Seringainya melebar menantikan hal yang akan membuatnya tahu apa yang menjadi alasan Yoona sangat membenci Ayahnya sendiri dan ingin menghancurkannya.

Ponselnya bergetar dan apa yang ditunggunya muncul. Ia segera menekan tombol panggil pada nomor yang baru saja di dapatnya.

Sooyoung tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ia harus menuntaskan rasa sakitnya sekarang. Bergegas keluar rumah dan mengemudikan Audinya ke arah tujuannya. Ia bisa melihat orang yang dicarinya keluar gedung bersama seorang pria yang ia lihat sebagai pasangan wanita itu di sebuah pesta.

Mengikuti kemana  tujuan mobil yang berada cukup dekat dari mobilnya. Ia sampai di bandara dan dahinya mengerut, berpikir siapa yang akan keluar negeri. Wanita yang diikutinya keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam bangunan depannya.

Ia keluar dan berada beberapa langkah di belakang wanita itu. Tubuhnya terpaku ditempatnya berdiri orang yang berniat ditemui wanita itu adalah pria yang menjadi tunangannya. Melihat langsung bagaiamana wajah Sehun berubah menjadi sangat bahagia melihat Yoona, membuatnya seperti merasakan sakit dari sebuah pisau yang ditusukkan langsung ke jantungnya.

Ia memegang dada kirinya, dan sakit yang dirasanya semakin menjadi diwaktu pria yang sangat ia cintai mencium wanita itu seakan pria itu tidak hidup lagi esok harinya. Berbalik dan memacu langkahnya kembali ke mobilnya.

Tangannya mencengkram erat roda kemudi, pikirannya hanya diisi satu tujuan. Hancurkan wanita yang sudah berani merusak kebahagiaannya. Ia menunggu hingga wanita itu masuk kembali ke mobil yang ia tumpangi.

Melihat mobil itu berhenti di supermarket yang berada di seberang apartemen wanita itu. Sooyoung memutuskan untuk menunggu tidak jauh dari gedung tempat tinggal Yoona. Yoona keluar dan dilihatnya tengah menyebrang jalan. Sekarang saatnya, pikir Sooyoung.

Ia menginjak dalam pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kencang menuju satu titik. Ia bisa melihat bagaimana tubuh itu terpelanting keras, hingga membutnya tertawa histeris. Tidak memedulikan tubuh yang sudah ditabraknya, yang diharapnya wanita itu tidak bernapas lagi. Ia semakin melajukan mobilnya menjauh.

Belum jauh dari lokasi kejadian, ia mulai mengernyit heran melihat sebuah mobil hitam mengikutinya ia baru berniat menambah laju kendaraannya, tapi kalah cepat dengan mobil tersebut yang memotong jalannya yang membuatnya terpaksa menginjak rem.

Pintu mobilnya diketuk seorang pria memakai jas hitam. Ia tidak ingin keluar, tapi orang itu memaksa menghancurkan kaca mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan dirinya langsung ditodong pistol. Semuanya sangat cepat, ia hanya mengingat dirinya yang dipaksa masuk kembai ke dalam mobil, setelah salah satu dari lima orang pria itu menghubungi seseorang.

Ia dipaksa menyerahkan diri ke polisi jika  tidak ingin berakhir pada pistol yang ditodongkan padanya. Dan di sinilah dia sekarang, duduk di depan seorang petugas polisi yang terus menanyainya alasan dia menabrak Yoona.

Jiwa Minho seakan dicabut paksa setelah mendengar apa yang dikatakan orang yang baru saja dihubunginya. Bayangan Adiknya kembali terbaring di rumah sakit membuat dirinya kembali diserang kepanikan.

Tersadar, ia segera berlari keluar kamar dan terburu-buru menuruni tangga rumah. Langkahnya terhenti karena seseorang. Berbalik, ia melihat Ayahnya yang memanggilnya sedang duduk bersama Tiffany di salah satu sofa ruang tengah.

“Kenapa terburu-buru?”

“Yoona kecelakaan, Ayah.”

Sama seperti reaksi yang terjadi pada Minho, Ayahnya seperti kehilangan kesadarannya selama beberapa saat. Sebelum ia bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah lebar ke arahnya. “Kita ke rumah sakit ia di rawat sekarang.” Ayahnya memegang tangan Tiffany yang ikut berdiri di sampingnya.

Mereka baru mau melangkah sebelum ponsel Siwon berbunyi, menyuruh menunggu sejenak. Ia mengangkatnya. Hal selanjutnya adalah teriakan penuh amarah dari Siwon. Wajahnya menunjukkan amarah dan rasa tidak percaya.

“Apa!!!”

“…”

“Tidak mungkin, putriku tidak mungkin melakukan hal itu pada saudarinya sendiri.”

“…”

“Sooyoung dan Yoona adalah saudara!!!”

“…”

Tubuh dua orang di sampingnya menegang kaku. Tidak percaya apa yang mereka dengar. Terutama Minho, ia menatap Tiffany dengan pandangan terluka yang tidak direspon oleh Tiffany karena terlampau kaget dengan apa yang baru di dengarnya.

“Ayah harus ke kantor polisi, kalian berdua pergi lebih dulu.”

“Aku ikut.” Tiffany mencengkram kuat lengan Siwon dengan wajah yang menunjukkan raut cemas.

Siwon mengangguk dan keduanya berjalan pergi meninggalkan Minho yang tersenyum miris di tempatnya. Dia hanya bisa berharap Siwon menggunakan akal sehatnya dalam memutuskan apa yang dilakukannya pada Sooyoung yang sudah jelas mencelakai Yoona.

 

Minho berlari di sepanjang lorong rumah sakit sembari matanya dilarikan untuk menemukan sosok yang menelponnya. Ia melihatnya, sosok Arsen Carter yang duduk di depan ruang tunggu operasi. Pria itu tengah tertunduk mengamati kedua telapak tangannya. Berdiri di depan orang itu, ia melihat jika telapak tangan itu dipenuhi bekas darah. Dan ia bisa memastikan darah siapa. Pria itu mendongak menatapnya. Ia langsung disambut dengan seringai mengejek.

“Kau datang,”

“Tentu saja.” Mengambil tempat di kursi samping Arsen.

“Jadi,,, Yoona membenci kalian sekeluarga.”

Ia sangat terkejut mendengar perkataan Arsen, tatapan tidak percaya ditujukannya pada Arsen. Hal itu berhasil mengeluarkan kekehan dari pria itu. Sadar hal itu bukan hal yang tepat untuk dibicarakan saat ini. Minho memilih diam dan menunggu operasi Yoona selesai.

“Aku tidak sabar dengan apa yang akan dilakukan Ayahmu.” Arsen tersenyum sinis, melihat rahang Minho yang mengeras.

Melihat kedatangan Minho saja sudah bisa membuatnya mengetahui kenapa wanita yang berada di balik pintu operasi itu sangat membenci Ayahnya. Arsen yakin Minho juga memberitahu Siwon tentang Yoona, dan tentu saja polisi akan menghubungi Siwon bahwa putrinya yang bodoh tengah berada di kantor polisi karena menabrak saudaranya sendiri. Keluarga yang menyedihkan.

Siwon masuk di kantor polisi dengan wajah diliputi amarah. Melihat punggung rapuh Sooyoung tidak meruntuhkan amarahnya. Menghampiri petugas dan Sooyoung, dan langsung duduk di kursi yang ada di samping Sooyoung.

“Mr. Choi Siwon?” tanya petugas yang menangani kasus Sooyoung.

“Ya.”

“Miss. Choi Sooyoung dilaporkan oleh seorang saksi mata telah menabrak Miss. Choi Yoona.”

“Ayah.. aku tidak berniat melakukannya…” Sooyoung menangis dan merengek pada Ayahnya yang kali ini terlihat menakutkan. Matanya dilarikan pada Ibunya yang memandangnya dengan kecewa.

“Saya butuh bicara dengan putri saya. Semua ini membuat saya tidak bisa memproses kejadian tersebut dengan baik.” Menatap tajam pada petugas itu, ia tahu petugas itu melihat matanya yang dipenuhi dengan amarah.

Mengangguk, mereka lalu di bawa ke salah satu ruangan oleh petugas itu. Meninggalkan mereka bertiga. Tepat saat pintu tertutup, Siwon menatap Sooyoung seakan ia bisa melumatnya. Melihatnya Sooyoung mundur ketakutan dengan tubuh gemetar.

“Jelaskan Sooyoung, kenapa.. KENAPA KAU TEGA MENABRAK SAUDARIMU SENDIRI,” teriak Siwon dan tidak mendapat tanggapan dari Sooyoung.

“Katakan!!! Apa kau tidak berpikir?! Dia putriku juga!”

“Karena dia mengambil Sehun dariku!!!!” balas Sooyoung histeris yang membuat Siwon terpaku di tempatnya.

Tiffany langsung memeluk Siwon untuk membantu putrinya, ia tidak bisa membiarkan Sooyoung dipenjara. “Sooyoung melakukannya karena sakit hati, sayang.” Ia memeluk erat Siwon dengan kepala menengadah melihat suaminya.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Siwon dengan wajah yang sekarang menunjukkan kebingungan yang kental.

Tiffany membuka tas yang dibawanya dan mengambil ponselnya. Mencari gambar yang dikirim Sooyoung padanya siang tadi, lalu menunjukkannya pada Siwon. Ia senang dengan keputusannya yang meminta Sooyoung mengirimkan gambar Yoona dan Sehun padanya.

Siwon kembali dibuat tidak percaya melihat gambar di ponsel Tiffany. Yoona dan Sehun tampak mesra dan ingatannya kembali dimasa dua orang dalam foto itu masih remaja. Apa Yoona sudah mengingat masa lalunya? Pikirnya.

“Sooyoung dalam keadaan kalut, aku yakin dia tidak bermaksud melakukan hal itu. Kau tahu, Sooyoung tidak sanggup untuk berbuat jahat seperti membahayakan saudaranya sendiri. Jika harus ada yang disalahkan, salahkan aku yang tidak bisa menjadi Ibu yang baik.” Tangis Tiffany pecah dan ia menatap Siwon dengan pandangan terluka.

Hati Siwon luluh, ia membalas pelukan istrinya dan mengelus punggung Tiffany lembut. Menggeser pandangannya pada Sooyoung yang tampak sangat ketakutan. Ia semakin menyesal. “Kemarilah, Sooyoung,” panggilnya dengan lembut yang membuat Sooyoung berlari cepat ke arah keduanya dan menabrak mereka dengan pelukan dan tangis yang pecah.

“Apa yang kau rencanakan Yoona,” batin Siwon.

Siwon mengurus agar Sooyoung dibebaskan. Mengatakan semua hanya salah paham yang membuat Sooyoung nekat menabrak Yoona. Awalnya polisi tersebut tidak menerima permintaan Siwon. Namun Siwon menggunakan koneksi yang dia miliki untuk membebaskan putrinya.

Siwon berada dalam perjalanan ke RS tempat Yoona berada. Ia mengantar Sooyoung dan Tiffany lebih dulu kembali ke rumah. Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan apa yang sebenarnya direncanakan Yoona, juga kecemasan keadaan Yoona.

Yoona sekarang ditempatkan di sebuah ruangan untuk pasien VIP atas permintaan dua pria yang menungguinya. Minho duduk di kursi yang berada di samping ranjang yang Yoona tempati. Melihat kepala Adiknya yang dibalut perban begitu juga kaki kirinya di gibs. Luka lecet di wajahnya membuat Yoona terlihat seperti bukan dirinya.

Melihat sepinya ruangan tempatnya berada membuat Minho tersenyum miris dengan mata yang dipenuhi kesedihan. Tadinya ia berniat memberitahu Bibi dan Pamannya, tapi Arsen melarang karena Yoona tidak menginginkan seorang pun tahu.

Arsen, pria itu sedang ke kantin rumah sakit. Entah kenapa, Minho merasa aneh. Sejak Yoona dibawa keluar dari ruang operasi Arsen tidak sedikitpun menatap Yoona. Dan memilih untuk membersihkan dirinya di kamar mandi sebelum ke kantin. Sampai saat ini pria itu tidak terlihat lagi.

Menggenggam tangan Yoona, mengelus permukaan kulit telapak tangan wanita itu. Ia disergap kerinduan yang mendalam. Sudah sembilan tahun lamanya ia tidak pernah melakukan hal sedekat ini pada Yoona.

“Maaf. Harusnya saat kau mengusirku, aku tidak menyerah. Begitu juga saat kau menginjak SHS,  aku seharusnya tidak mundur seperti pengecut melihatmu memberiku tatapan penuh kebencian itu. Jika itu kulakukan, mungkin kau tidak akan berdiri sendiri dan semakin jatuh dalam kebencianmu.” Air matanya keluar yang akhirnya membuat Minho tenggelam dalam tangis penyesalannya. Lagi.

Ia bersedih atas apa yang terjadi pada Yoona, kebencian Yoona, dendam, dan rasa sakit yang ia tahu masih ada sampai saat ini. Yoona menanggungnya sendiri. Perasaan marah pada Sooyoung dan Tiffany, ia sudah berusaha menerima kehadiran keduanya, tapi mereka tega melakukan hal ini pada Yoona.

Disisi lain, Arsen tidak bisa menghentikan tawa sinisnya mendengar informasi yang diberikan oleh orang yang dipercayainya. Kenyataan Siwon memilih membebaskan Sooyoung, membuat dirinya yakin keputusan Yoona membenci Ayahnya sendiri adalah hal yang benar.

Siwon berdiri di depan pintu ruang rawat Yoona, mendengar semua yang dikatakan Minho dan melihat Yoona yang terbaring dengan perban yang melilit kepala dan kaki kiri di gibs. Ia tidak memiliki keberanian untuk masuk. Seperti ada batas tak terlihat yang membuat ia hanya bisa memandang kedua Anaknya dari kaca pintu ruang rawat Yoona.

“Anda tidak memiliki rasa malu rupanya.” Arsen berjalan mendekat, melihat Siwon yang berdiri di depan ruang rawat Yoona membuatnya muak.

Menolehkan kepalanya, Siwon melihat Arsen kini berdiri tepat di sampingnya. “Apa maksudmu, Arsen Carter.”

“Anda tidak dibutuhkan oleh Yoona. Seorang pria yang lemah hanya karena seorang wanita dan melupakan hal yang seharusnya dilakukannya. Yoona tidak butuh Ayah seperti Anda.”

“Tutup mulutmu dan urus urusanmu sendiri. Kau.. apa mungkin kau menyukai putriku. Pria yang hanya terobsesi pada pekerjaan bisa perduli pada orang lain, heh.”

“Putri? Ahahaha.. God,  Anda masih menganggap Yoona putri Anda? Well, setidaknya saya lebih baik dari Anda. Memilih membebaskan anak tirinya dibanding anak kandungnya yang jelas-jelas korban dan harus menjalani operasi karena pendarahan otak dan patah tulang kaki. Menjijikkan.”

“KAU TIDAK TAHU APA-APA.”

“Justru sebaliknya, aku tahu kebencian Yoona pada Anda. Kebenciannya yang membuat dia tidak sudi bekerja di perusahaan Ayahnya sendiri.”

“KAU…”

Perkataan Siwon terpotong karena pintu di depannya terbuka dan memunculkan Minho yang menatapnya dengan kekecewaan. Minho mendengar semuanya, dan mengetahui Ayahnya memilih membebaskan Sooyoung membuatnya sangat kecewa pada Siwon. Dia tidak mengenal Ayahnya lagi.

“Lebih baik Ayah pulang. Aku yang akan menjaga Yoona.”

“Minho, kau juga..”

“Yoona tidak akan sadar malam ini. Juga Ayah tahu dengan pasti, dia tidak akan senang dengan kehadiran Ayah. Selamat malam, Ayah.” Menutup pintu di depan Siwon dan menatap Yoona dengan kesedihan yang semakin menebal.

Siwon berbalik pergi dengan perasaan marah dan kekecewaan mendalam. Sedang Arsen mengirim pesan pada Minho bahwa ia akan kembali ke apartemennya. Menyuruh Minho memberitahunya jika Yoona sadar.

Dua hari Yoona dalam keadaan tidak sadar, selama itu pula Minho tidak pernah kembali ke rumahnya. Ia tidak mandi dan hanya membeli makanan di kantin rumah sakit. Tampangnya kusut dan kecemasaan terus menggayutinya. Ketakutan bahwa Yoona tidak akan sadar membuatnya tidak berani meninggalkan posisinya.

Hari ketiga, kelopak mata Yoona yang dua hari sebelumnya tertutup rapat kini bergerak membuka. Sinar matahari pagi langsung menyerbu masuk dalam retinan matanya. Ia mengerjap beberapa kali dan saat bisa menyesuaikan dengan keadaaan, ia menatap seseorang yang tidur dengan kepala yang menindih tangan kirinya.

Ia mengenali rambut cokelat dan postur tubuh pria di sampingnya. Karena itulah ia menarik paksa tangannya dan membuat pria yang tengah tertidur itu terbangun. Melihat Yoona sadar ia segera menekan alat yang dipasang disalah satu jari kiri Yoona.

“Selamat pagi.”

“Apa yang kau lakukan di sini.”

“Aku menjagamu.”

“Pergi.”

“Silahkan mengusirku sebanyak apapun yang kau mau. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Tahu dengan pasti ia tidak aka bisa mengubah keputusan pria itu, Yoona membuang pandangannya ke arah jendela. Memilih mengabaikan keadaan orang itu. Minho yang melihatnya tersenyum senang. Pintu terbuka dan seorang dokter dan dua suster masuk dengan senyum di wajah ketiganya.

Yoona dalam mode diam. Mengunci pikiran dan kesadarannya dari dunia di sekitarnya. Mengetahui ia harus terbaring di rumah sakit selama satu bulan lebih. Ditambah ia harus melakukan terapi agar penyembuhan kakinya dapat kembali normal. Dokter muda itu mengatakan kakinya masih bisa kembali normal. Dan hal itulah yang disyukurinya.

Otaknya penuh dengan rencana yang ia susun ulang untuk memberikan pembalasan menyakitkan pada tiga orang yang dibencinya. Dan hal itu akan ia lakukan saat ia keluar dari rumah sakit. Sooyoung dan Tiffany akan menerima harga yang harus mereka bayar karena berani melakukan hal ini padanya.

Dan saat itu terjadi Tiffany dan Sooyoung. Salah satu dari mereka akan lenyap dari dunia selamanya dan satu orang lainnya akan tersiksa karena hidup di dunia. Bagi Siwon, Yoona pastikan penghianat itu akan menanggung penyesalan yang terus ia bawa dalam sisa hidupnya. Semua itu tidak akan menjadi mudah dan penuh rasa sakit pada ketiganya.

 

.

.

.

AN. HALO…. INI PART PALING PANJANG YANG NAE TULIS DALAM FF NAE. AHAHHA….

6437 WORDS. WOAH…

SEMOGA PUAS BACANYA. KALAU NGERASA KURANG SREG DENGAN CHAPTER INI TERUTAMA BAGIAN YOONA KECELAKAAN DAN TINDAKAN PENANGANANNYA. YAH.. NGGAK PA-PA AHAHA.. NAE NULIS INI SETELAH RISET KECIL-KECIL, NYARI TAHU DI OM GOOGLE.. LOL

OH YA. MAU KASIH INFO AJA. CHAPTER SEBELUMNYA ADA KESALAHAN YA. YANG SEHUN PIKIR YOONA KECIL ITU UMUR 10th YA, BUKAN 13th. EFEK SUKA KELAMAAN NGEPOST AHAHHA.. NAE LUPA.

UDAH ITU AJA. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA. SELAMAT MEMBACA

Advertisements