Title : Hatred (Watch out your back)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD

Yoona melangkah keluar gedung yang ditempatinya selama sebulan lebih. Menahan salah  satu taksi yang akan membawanya kembali ke apartemennya. Ia menggeram mengingat rasa sakit yang harus ditanggungnya selama menjalani terapi penyembuhan.

Perasaannya memburuk dengan tambahan kehadiran Arsen yang sesekali datang menjenguknya lengkap dengan ejekan darinya, Minho yang selalu memunculkan wajahnya membuatnya muak. Perpaduan keduanya membuat Yoona semakin terpacu untuk segera menyelesaikan terapinya dan segera keluar dari rumah sakit yang mengancam kewarasan Yoona.

Taksi yang ditumpangnya berhenti di depan gedung apartemennya. Membayar ongkos taksi dan berjalan masuk ke dalam gedung. Melihat pantulan dirinya di dinding lift, tampak seorang wanita menggunakan dress katun berwarna hitam dengan rambut yang diikat, kantung mata dan beberapa goresan bekas luka di wajah, kaki yang digibs membuatnya terlihat menyedihkan.

Menghembuskan nafas lega ketika berada di dalam apartemennya. Ia bergegas menuju kamarnya dan membaringkan dirinya di kasur. Melepaskan semua perasaan yang dipendamnya saat di rumah sakit.

Ia membenci rumah sakit dan harus berada di dalamnya selama sebulan lebih membuatnya seperti mayat hidup. Karena itulah dia membiarkan ejekan Arsen dan kehadiran Minho. Bukan karena ia menerima mereka, tapi ia tidak bisa mengeluarkan energi seperti biasanya. Kesadarannya perlahan memudar dan kegelapan kembali merangkulnya.

Minho membuka pintu kamar yang di tempati Yoona dan ia melihat seorang perawat yang merapikan ranjang dalam ruangan. Menyadari kehadiran seseorang, perawati itu mengangkat kepalanya dan melihat pria yang selalu dilihatnya selama satu bulan lebih  menjaga wanita yang menempati kamar yang dirapikannya saat ini.

Melihat raut bingung pada pria tersebut, ia menghentikan kegiatannya melipat selimut dan menjawab pertanyaan yang ia yakin berputar di kepala pria itu. “Anda mencari Ms. Yoona? Ia keluar dari rumah sakit pagi tadi.”

Minho terpaku di tempatnya selama beberapa saat, mencoba memproses apa yang baru saja dikatakan perawat di depannya. Yoona meninggalkan rumah sakit pagi tadi. Melihat jam tangan yang dipakainya menunjukkan pukul 12:30 pm, membuatnya tanpa sadar menghembuskan nafas frustasi.

Mengucapkan terima kasih pada perawat yang kembali melanjutkan kegiatannnya, ia melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan rasa kecewa yang membuat dadanya sesak. Minho sangat ingin menyusul Yoona ke apartemennya, tapi ia tahu. Adiknya membutuhkan ruang untuk sendiri.

Menghabiskan waktu bersama Yoona selama satu bulan lebih membuatnya tidak berhenti tersenyum. Ia senang melihat Yoona dalam jarak dekat tanpa harus menerima tatapan penuh kebencian Adiknya. Kadang kesedihan menghantamnya dengan kuat saat menyadari seberapa banyak Yoona berubah.

Adiknya tidak pernah sekalipun menunjukkan raut kesakitan selama menjani terapi. Dulu saat terjatuh dan lututnya tergores, Yoona akan menangis kesakitan. Senyum tidak sekalipun terlihat di wajahnya, tatapan matanya kosong tidak ada binar apapun di dalamnya. Itu semua berhasil membuat rasa bersalahnya bertambah. Pikirannya tertuju pada pria yang juga sering diihatnya bersama Yoona.

Arsen Carter, sejak melihatnya sebagai pasangan Yoona di pesta Jhonson Corp, sudah membuatnya bertanya-tanya tentang hubungan keduanya. Meski selama kunjungannya ke rumah sakit selalu diisi dengan ejekan pada Yoona. Ia dapat merasakan kepedulian pria itu pada Adiknya.

Bayangan Arsen yang datang dihari Yoona sadar dan tidak sengaja melihat keduanya dalam posisi yang hampir saja membuatnya salah paham. Arsen yang dilihatnya tengah membungkuk ke arah Yoona dengan posisi kepala yang dimiringkan. Wajah keduanya yang hampir tidak memiliki jarak.

Baru ketika ia melangkah mendekat dan mendengar bisikan Arsen yang cukup besar untuk di dengarnya. Arsen menyuruh Yoona untuk bersikap baik padanya, wajahnya memerah karenanya. Yoona yang melihatnya, mendorong Arsen menjauh dan membuang pandangannya ke jendela.

Arsen hanya tersenyum mengejek padanya dan bertanya alasan Minho masuk kembali ke dalam ruangan, setelah tadi bersikeras untuk menunggu di luar. Minho menghiraukan Arsen dan menanyakan apa Yoona sudah menghabiskan makanannya.

Kembali dari pikirannya tentang Arsen dan Yoona, Minho berjalan menuju mobilnya dengan tangan kanan yang memegang ponsel. Ia membuka kunci ponselnya dan melihat wajah Adiknya yang tengah tertidur sebagai walpaper ponselnya.

“Kuharap kau baik-baik saja. Aku akan mengunjungimu.” Minho tersenyum dengan mata yang diisi dengan rasa rindu pada Adiknya.

 

Yoona terbangun mendengar dering ponselnya yang ia taruh di atas nakas. Menjulurkan tangannya dan mengernyit melihat nomor asing muncul di layar ponselnya. Kode negara yang berasal dari luar Washington.

Menimbang sejenak apakah ia harus mengangkatnya, menggeser ikon untuk menjawab panggilan. Yoona belum menyelesaikan ucapannya saat suara cempreng wanita yang menjadi lawan bicaranya memotong ucapannya.

“Hal….”

“Yoona!!!” Refleks Yoona menjauhkan ponselnya untuk menyelamatkan indera pendengarnya dari ancaman menjadi tuli.

“Seohyun?”

“Ya… ini aku. God, kau tahu aku harus menggunakan koneksi keluargaku hanya untuk mendapatkan nomor ponselmu. Gadis kejam ini, kenapa tidak pernah menghubungiku, hah.”

“Aku cukup sibuk. Maaf.”

“Oh,,, sudahlah, aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku akan mengunjungimu.”

Yoona terkejut. Memikirkan Seohyun yang akan datang membuatnya tidak nyaman. Ia tidak ingin wanita itu melihatnya dalam keadaan menyedihkan. Yoona yakin sahabatnya akan mulai berceloteh dan membuatnya sakit kepala karenanya.

“Tidak usah, aku yang akan datang ke tempatmu.”

“Kau apa? Apa kau Yoona? Sahabatku bukanlah gadis yang baik.”

“Hentikan ocehanmu. Aku akan datang ke Korea minggu depan. Pastikan kau menjemputku.”

“Kyaaa!!!! Akhirnya, kau mau juga membawa pantatmu yang seksi ke negaraku. Kay, Ethan juga bekerja di sini. Kita akan berkumpul kembali. Thanks God. Baiklah, aku akan menghubungimu lagi. See ya, Yoona.”

“Hmm….”

Mengakhiri panggilan dengan raut wajahnya yang melembut. Ia merindukan sahabatnya. Mengedarkan pandangan, Yoona baru menyadari kamarnya dalam keadaan gelap. Ia rupanya tertidur cukup lama.

Menghabiskan waktunya selama satu minggu untuk mengistarahatkan tubuhnya. Untungnya Arsen mau memberinya cuti yang membuatnya bisa terhindar dari cibiran karyawan Jefferson Hotel lainnya. Yoona sesekali menghubungi Paman dan Bibinya, membuat alasan akan keabsenannya mengunjungi keduanya selama satu bulan lebih.

Malam hari dihabiskan Yoona dengan mengingat kebenciannya dan rencana untuk menyakiti orang-orang yang dibencinya. Memenuhi kepalanya dengan semua kemungkinan yang bisa ia jalankan.

Sehun keluar dari pintu kedatangan di bandara dengan senyum lebar. Mengambil ponsel di saku jaket yang dipakainya dan mencari nomor yang selama satu bulan ini tidak berani dihubunginya. Alasannya karena ia takut mendengar suara wanita itu akan membuatnya bertindak gila dengan langsung mengambil penerbangan kembali ke Washington. Dering ketiga teleponnya diangkat dan suara dengan nada datar menyapa gendang telinganya.

“…”

“Kau di mana?”

“…”

“Aku sudah kembali. Lelah dan kelaparan. Kupikir singgah ke apartemenmu adalah pilihan terbaik.”

“…”

“Apa! Kau sedang bercanda kan?”

“…”

“Sial, kalau begitu aku ikut denganmu.”

“…”

“Tidak. Aku akan ikut denganmu, jam berapa penerbangan yang kau pilih?”

“…”

“Aku menunggumu di bandara. Sampai ketemu siang nanti.”

Memutus sambungan, Sehun menarik nafas lelah sekaligus lega. Kabar Yoona yang akan ke Korea mengunjungi sahabatnya membuatnya terkejut. Ia sempat kecewa akan pikiran harus menunda keinginannya untuk bertemu dengan wanita itu. Untung saja sifat keras kepalanya  bisa membuatnya menemani Yoona.

Memilih beristrahat di salah satu hotel yang dekat dengan bandara. Tubuhnya sudah meneriakkan kerinduan akan tempat tidur dan perutnya berontak ingin mendapat asupan. Mempercepat langkahnya ke luar bandara dan menahan salah satu taksi.

Yoona menghela nafas jengkel karena sifat keras kepala pria yang baru saja menghubunginya. Ia ingin menolak, tapi ada keinginan kecil dari bagian dirinya yang merasa nyaman dengan sosok pria itu. Pria yang sejak pertemuan pertama menghadirkan rasa familiar terhadapnya.

Memilih membereskan apartemennya yang akan ditinggalkannya selama seminggu. Setelahnya bersiap-siap untuk menuju ke bandara. Menghubungi Seohyun dan membuatnya harus menekan tombol pengeras suara karena jeritan wanita itu.

Sekarang di sinilah Yoona berada. Duduk di salah satu kursi ruang tunggu bandara menunggu giliran keberangkatan pesawatnya sekaligus seorang pria yang belum menampakkan dirinya. Menyumpal telinganya dengan earphone miliknya yang tersambung dengan ponsel yang tengah memutar salah satu lagu di playlist musik.

Yoona memilih menggunakan jaket hitam tebal, syal, jeans panjang, ditambah beanie hat yang menutupi rambut cokelatnya, semua atribut pakaian yang digunakannya kali ini berwarna hitam. Ia sudah melepas gibs kaki kirinya. Berdecak kesal saat melihat jam tangannya, beberapa menit lagi pesawat yang ditumpanginya akan berangkat dan orang yang ditunggunya tidak juga menampilkan batang hidungnya.

Tepukan di bahu kanannya membuatnya menoleh. Berbalik dan melihat sosok yang ditunggunya berdiri dengan napas terputus-putus. Sehun melangkah hingga tepat di depan Yoona duduk. Pria itu menggunakan jaket tebal abu-abu, ia bisa melihat kemeja biru yang dikenakan sebagai dalaman, jeans biru pudar, dan yang membuat Sehun tampak berbeda adalah kacamata dengan lensa bening yang dipakainya.

Mengetahui apa yang menjadi perhatian Yoona, Sehun memegang kacamata yang masih dipakainya. “Ah… kau baru melihatku menggunakan benda ini. Apa terlihat aneh untukku?” tanyanya dengan cengiran yang tidak bisa menutupi rasa canggungnya.

“Kau hanya terlihat berbeda. Tidak aneh.”

“Um… begitu. Baguslah. Kau sudah lama menunggu?”

Yoona mendengus sebelum menjawab pertanyaan Sehun. “Apa harus kau tanyakan?”

“Maaf. Aku ketiduran.”

Yoona melihat orbs hitam di depannya yang terlihat merah dan wajah yang tampak lelah. Menghela nafas panjang, tahu betul bahwa pria di depannya sangat membutuhkan istrahat. Menghiraukan perkataan Sehun, Yoona memilih bangkit dari duduknya.

“Sudahlah.” Berjalan di depan Sehun yang diikuti pria itu. Keduanya menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Korea.

“Yoona!” Tubuh Yoona ditabrak oleh Seohyun,  yang membuatnya terhuyung ke belakang. Ia bisa melihat wajah terkejut Sehun yang berdiri di sampingnya.

“Aku merindukanmu..,” ucap Seohyun dan semakin mempererat pelukannya.

“Hm…” Melepas paksa belitan tangan Seohyun yang mengancam keberlangsungan hidupnya. Ia mendelik jengkel pada Seohyun, “Kau ingin membuatku kehabisan nafas dengan belitan tanganmu, heh.”

“Itu balasanku karena melupakan sahabatmu yang cantik ini.” Seohyun memberikan cengiran jahilnya yang membuat Yoona semakin menatap tajam padanya. Suara kekehan mengalihkan atensi Yoona pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari ketiganya.

Pria itu mendekat dan membawa Yoona ke dalam pelukannya. “Yoona… aku merindukan wajah datarmu.”

Tawa Ethan dan Seohyun pecah, Yoona mengurai pelukan Ethan dengan memutar bola matanya, sedang Sehun masih menunjukkan ekspresi bingungnya. Yoona yang melihatnya membuat ia mengutuk dirinya sendiri karena sempat melupakan pria itu.

“Seo, Ethan, kenalkan dia Sehun.” Dua orang itu menghentikan tawanya dan memberikan atensinya pada pria yang berada di samping Yoona.

Aksi saling menatap dilakukan keduanya sebelum kembali memperhatikan Sehun. Melihat pria itu berdiri begitu dekat dengan Yoona dan salah satu lengannya sekarang berada di pinggang wanita itu. Sebuah pemahaman muncul di benak keduanya yang membuat wajah mereka terlihat aneh.

“Seohyun.”

“Ethan.”

“Sehun.”

“Well, sebaiknya kita melanjutkan temu kangen ini di rumah Seo. Aku yakin kalian berdua lelah.”

“Ide yang bagus, Ethan.”

Empat orang tersebut kemudin berjalan ke luar dari Bandar Udara Internasional Incheon.

Mereka berempat menuju Pyeongchang-dong Art District yang juga merupakan area perumahan terbaik di Seoul. Rumah Seohyun merupakan salah satu kediaman di distrik yang  merupakan Beverly Hills Amerika versi Korea ini ditinggali oleh orang-orang sukses temasuk politisi, pengusaha, seniman, dan lainnya. Diantara mereka terdapat juga warga asing termasuk diplomat dan eksekutif bisnis.

Beberapa galeri seni dan museum tertangkap oleh orbs cokelatnya sebelum mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan gerbang rumah dengan dinding seperti susunan bata yang menambah kesan klasik dan artistik dari area ini.

Keluar dari mobil dan berjalan di belakang Seohyun yang berada lima langkah di depannya. Yoona melangkah masuk ke dalam area rumah dan disambut dengan pekarangan yang cukup luas. Warna hijau memenuhi pandangannya. Seluruh pekarangan rumah Seohyun ditumbuhi rumput yang dipotong rapi. Beberapa pohon mengelilingi rumah tingkat dua yang berada di tengah.

Rumah yang hampir di dominasi oleh kaca dan memiliki tiga balkon yang luas. Ia bisa melihat satu cerobong kecil yan terletak di belakang, dinding beton dengan cat warna cokelat muda dan atap kayu.

Baru selangkah ia masuk ke dalam rumah, ia kembali ditubruk tubuh seseorang. Selanjutnya ia berada dalam dekapan Ibu sahabatnya dan telinganya yang berdenging karena teriakan wanita paruh baya tersebut.

“Yoona!!!”

“Bibi, aku senang kau merindukanku. Hanya saja, mungkin Bibi bisa melonggarkan pelukanmu.”

“Oh Tuhan… Mian, Yoona. Bibi terlalu senang dengan kedatanganmu.” Soo Kyung tersenyum dan matanya menangkap sosok yang berada di belakang Yoona.

“Oh… kau membawa teman, Yoona? Akhirnya, Bibi sempat berpikir kau akan memilih menjadi biarawati seumur hidupmu,” goda Soo Kyung yang memunculkan beberapa reaksi yang berbeda dari empat orang lainnya.

Ethan dan Seohyun yang kembali tertawa, cengiran lebar dari Sehun, dan wajah lelah Yoona dengan tarikan napas panjang dilakukannya.

“Oh Sehun, Ma’am.” Sehun maju dan mengulurkan tangannya.

“Seo Soo Kyung. Kau bisa memanggilku Bibi, lebih bagus lagi jika memanggilku Ibu,” ujar Soo Kyung.

Sehun menggangguk dan matanya melirik Yoona yang tampak lelah. Menyadari lirikan Sehun, Yoona menoleh dan menaikkan salah satu alisnya. Semua itu tidak luput dari perhatian tiga orang yang bersama mereka berdua.

“Berhenti mengganggu anak malang ini, Soo Kyung. Aku yakin Yoona sangat membutuhkan istrahat.” Ayah Seohyun muncul dari sebuah ruangan diikuti Jisung kakak Seohyun. Keduanya terkekeh geli melihat wajah Yoona.

“Kau benar, Yeobo. Seo antar Yoona dan Sehun ke kamar mereka. Istrahatlah, Bibi akan memanggil kalian untuk makan malam.”

Masuk ke dalam kamar yang disiapkan untuknya. Yoona mempercepat langkahnya menuju tempat tidur di tengah ruangan. Menghela napas lega dan matanya yang perlahan menutup. Seohyun yang melihat sahabatnya, hanya tersenyum maklum dan ikut berbaring di samping Yoona.

Seminggu dihabiskan Yoona dengan mengunjungi beberapa tempat wisata Korea Selatan. Mulai dari N seoul Tower yang merupakan menara komunikasi dan observarsi yang terletak di gunung Namsan, Seoul, Korea Selatan. Satu hal yang kurang disukai Yoona dari tempat ini adalah gembok cinta yang dipasang di pohon dan pagar bagian bawah menara. Benda yang dianggap orang lain sebagai hal yang menarik dan romantis. Namun bagi Yoona semua itu hanya merusak pemandangan.

Hari kedua ia diajak untuk mengunjungi Istana Kerajaaan Korea. Wisata yang membuatnya melupakan keberadaan teman-temannya. Dilanjut dengan berkunjung ke kampung-kampung penduduk dengan rumah tradisional Korea (hanok). Dan beberapa tempat wisata lainnya.

Hari terakhir di Seoul, Yoona memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah Seohyun. Selain lelah karena hampir seminggu penuh ia habiskan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata. Ia juga ingin menghabiskan hari terakhir di Korea Selatan bersama keluarga Seohyun.

Malam ini mereka berada di belakang rumah Seohyun. Memutuskan untuk membuat acara barbeque dengan empat pria yang bertugas memanggang makanan dan tiga wanita yang menata meja. Yoona menata piring yang dibawanya dari dalam rumah dengan Seohyun di sampingnya. Ibu Seohyun berada di dapur membuat minuman.

“Aku menyukai pilihanmu, Yoona. Sehun pria yang baik.” Yoona menoleh ke arah Seohyun yang sekarang menatap Sehun yang tengah menertawakan sesuatu bersama Jisung.

“Aku dan dia tidak dalam hubungan seperti yang kau pikirkan, Seo. Juga Sehun tidak beruntung bertemu denganku,” balas Yoona datar. Tatapannya menerawang dan benaknya memutar ulang percakapannya dengan Minho saat dirawat di rumah sakit.

 

Dua minggu ia berada di rumah sakit membuatnya hampir kehilangan kesabarannya. Arsen yang terus mengejeknya dan sukses membuatnya marah. Serta Minho yang mulai membuatnya muak.

Ia tahu tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menyingkirkan dua makhluk itu. Karena itulah dia memilih diam dan bersikap seolah-olah mereka tidak terlihat. Siang ini Minho menungguinya di ruang inapnya seperti biasa. Duduk di sofa dan menonton salah satu siaran tv.

Pikirannya tertuju dengan perasaan aneh yang selalu dirasakannya saat bersama Sehun. Mengingat pria itu adalah tunangan Sooyoung membuatnya penasaran. Karena itulah ia membuka mulutnya dan bertanya pada Minho.

“Kau mengenal Sehun sejak kapan?” pertanyaan Yoona mengundang kerut di dahi Minho.

“Sehun? Memangnya kenapa?”

“Aku… aku ingin tahu apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya.” Yoona bisa melihat raut tidak percaya muncul di wajah Minho.

“Kau, apa kau pernah bertemu Sehun, selain dari pesta Jhonson Corp?”

“Jawab saja pertanyaanku,”

Menghela napas berat. Minho menatap Yoona dengan senyum sedih. “Kita berdua mengenalnya sejak bayi, Yoona. Dulu Sehun dan keluarganya adalah tetangga kita, sampai kau umur 10th. Mereka pindah ke New York. Lalu kita juga pindah ke Washington saat umurmu 11th. Kau paling dekat dengannya.”

Sekarang Yoona yang dibuat tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Lalu? Kenapa aku tidak bisa mengingat mereka?”

Untuk menjawab pertanyaannya yang ini. Butuh waktu 30 menit bagi Minho. “Saat kematian Ibu, kau yang paling terpukul. Membuatmu tidak sadar dan demam selama dua hari. Ketika kau membuka mata dihari berikutnya kau mulai histeris setiap hari. Kata dokter kau mengalami trauma. Dan itulah yang membuatmu tidak mengingat masa lalumu. Kau hanya mengingat kematian Ibu, tapi kau tidak mengingat apa yang pernah kau lakukan sebelum hari itu.” Minho membuang pandangannya ke arah jendela. Tidak sanggup menatap Yoona dan mengingat hal yang membuat keluarga mereka hancur.

Yoona kehilangan kemampuan untuk berbicara. Otaknya sibuk menerjemahkan apa yang baru diucapkan Minho. Alasan yang membuatnya tidak bisa mengingat apapun selain kematian Ibunya. Karena trauma? Menyedihkan.

Menyadari hal itu membuatnya semakin tenggelam dalam kebenciannya pada tiga orang yang dibencinya. Membuatnya sampai melupakan masa lalunya karena sifat egois manusia lain. Membuat Ibunya memilih bersikap pengecut dengan bunuh diri dan meninggalkannya dalam luka yang menganga. Semua karena Ayahnya.

“Pria yang menjadi Ayah kita selingkuh, bukan? Meski aku tidak mengingatnya. Aku bisa menebaknya dengan kehadiran dua sampah itu ke dalam keluarga kita. Bahkan sebelum kematian Ibu mencapai satu minggu.” Yoona menatap Minho yang masih memilih untuk bungkam.

“Aku sudah mengenal Sehun lebih dulu. Dan sampah itu berpikir aku yang merebut orang yang dicintainya. Ahahah….” Yoona tertawa yang di dalam suaranya penuh kesinisan. “Ironis.  Ibunya yang merebut pria penghianat yang menjadi Ayah kita. Dan Aku yang merebut tunangan anaknya. Bukankah karma benar-benar berlaku?” Yoona tersenyum sinis.

“Apa karena itu Sooyoung bertindak gila padamu?”

“Hmm… Minho,  apa yang dilakukan Sooyoung bukanlah kegilaan. Aku. Aku yang akan menunjukkan seperti apa yang disebut sebagai kegilaan.” Orbs cokelat Yoona menggelap dan berhasil menutupi perasaan pemiliknya. Namun Minho tahu dengan pasti Yoona akan membalas Sooyoung dan itu tidak akan menjadi hal yang baik bagi wanita itu.

“Kau sudah mengingat Sehun?”

“Tidak. Aku hanya selalu merasakan perasaan familiar padanya dan kadang bayangan tidak lengkap Sehun saat masih remaja.”

Minho mengangguk dan mulai bercerita masa kecil yang dihabiskan Yoona dan Sehun.

Yoona dan Sehun berada di Bandar Udara Internasional Incheon. Seohyun dan keluarganya juga Ethan mengantar keduanya. Mendengar perkataan keempatnya untuk kembali berkunjung. Ia mengangguk sebagai jawaban dan kembali menatap Seohyun.

“Aku menyayangimu, Seo. Kau sudah kuanggap sebagai saudara perempuan yang tidak aku miliki. Kau tahu itu, kan,” ucap Yoona yang menatap Seohyun. Air mata mengumpul di mata Seohyun.

Seohyun memeluk Yoona erat. Mengetahui jika Yoona masih belum menyembuhkan luka dalam dirinya. “Aku tahu. Aku juga menyayangimu, Yoona. Cepat sembuh, meski kau tidak mengatakannya. Aku tahu kakimu tidak baik-baik saja,” bisik Seohyun. Mengeratkan pelukannya dan melanjutkan perkataannya. “Aku harap luka hatimu ikut sembuh, Yoona.”

Keluar dari Bandar Udara Internasional Washington Dulles. Yoona bisa melihat seorang pria yang dikenalnya sebagai bodyguard  yang menjemputnya di apartemennya dulu berada beberapa langkah di depannya.

Mendengus ia tahu alasan keberadaan orang itu. Siwon mengetahui kepergiannya ke Korea Selatan dan tentu sangat mudah untuk mencari tahu jadwal kepulangannya ke Washington. Melihat Yoona yang mendengus jengkel, Sehun ikut melihat ke arah yang dilihat Yoona.

“Aku kembali ke rumah keluarga Choi. Sampai Jumpa, Sehun.”

“Kau tidak mau aku ikut?”

“Tidak.”

Mendengar nada tegas dari wanita di sampingnya membuat Sehun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Yoona melangkah ke arah pria yang menunggunya.

Yoona sampai di rumah ayahnya. Membayar ongkos taksi dan melangkah menuju gerbang. Menyuruh satpam untuk membuka gerbang. Ia menolak untuk ikut di mobil yang menjemputnya. Detik ia kembali di rumahnya perasaannya semakin memburuk. Mengetuk pintu rumah dan dibuka oleh pengurus rumah tangga. Berjalan masuk dan langsung menuju ke kamarnya.

Meminta pelayan membersihkan kamarnya, sementara ia mandi. Pintu kamar mandi diketuk dengan kasar dan Yoona hanya tersenyum sinis, sengaja berlama-lama berpakaian dan membuat gedoran di pintunya semakin keras.

Membuka pintu membuat seorang wanita berambut cokelat kemerahan terjerembab ke lantai. Yoona menatap dengan cemoohan terlihat jelas dalam matanya, menikmati melihat wanita itu menatap kearahnya dengan posisi mengenaskan. Ia benci mengetahui wanita itu masuk ke dalam kamarnya.

“Ingin menjadi pelayan tambahan?” Ia mendapat umpatan dari Sooyoung yang sekarang bangkit berdiri,

“Aku tidak sudi menjadi pelayanmu,” ucap Sooyoung

“Aku lebih tidak sudi menerima sampah mengotori wilayahku bahkan untuk posisi seorang pelayan,” Yoona tersenyum sinis dan menatap Sooyoung seakan ia melihat makhluk paling hina.

“Kau!” Sooyoung berang dan hendak menampar Yoona.

Menahan tangan Sooyoung, dan mencengkeramnya hingga menyakiti Sooyoung. “Hati-hati bicth. Kau bukan orang yang pantas menyentuhku. Kau tidak ingin berakhir di peti mati saat ini juga, bukan?” Yoona melepas tangan Sooyoung dan menyeretnya keluar dari kamarnya.

Sooyoung mengusap lengannya yang berubah warna menjadi merah, “Kenapa kau harus kembali. Kau seharusnya menikmati hidupmu di Inggris, tidak ada yang menginginkanmu di sini Yoona. Bahkan Minho sekarang lebih menganggapku sebagai Adik. Aku yakin Ayah mungkin sudah menganggapmu mati sama seperti Ibumu.” Sooyoung berusaha mengembalikan harga dirinya dengan mengucapkan kata-kata yang Sooyoung yakin dapat menyakiti Yoona.

Yoona mengangkat salah satu alisnya, “Kau sungguh bangga dengan semua pencapaianmu? Minho? Siwon? Apa yang membanggakan dari seorang pengecut dan sampah masyarakat? Ah… aku mengerti, bagimu yang lebih rendah dari mereka, itu semua adalah pencapaian yang berharga. Seorang sekretaris? Sungguh? Aku yakin itu semua hanya belas kasihan atau bahkan keegoisan seorang Ayah pada putrinya yang tidak memiliki kemampuan apa-apa.”

“Kau!!” Sooyoung hendak maju, berniat menyerang Yoona karena penghinaan Yoona untuknya. Melupakan apa yang baru saja terjadi padanya.

Belum sempat melaksanakan niatnya, Yoona lebih dulu menyambar leher Sooyoung. Mencekiknya dan mendorong tubuh Sooyoung hingga terseret dan menabrak dinding di seberang pintu kamarnya.

Mengeratkan cengkeramannya dan menatap Sooyoung masih dengan tatapan tanpa emosi di matanya. Tangan Sooyoung berusaha mencakar wajahnya, ia menangkap tangan Sooyoung dan menyatukan kedua tangannya di atas kepalanya.

Sooyoung berusaha berteriak, paru-parunya perih membutuhkan pasokan udara, tapi wanita di depannya tidak berrniat melepasnya. Ia ketakutan. Tiga tahun tidak bertemu membuatnya melupakan betapa mengerikannya sosok Yoona. Sooyoung berada diambang batas kesadarannya sebelum pintu kamar di sampingnya terbuka.

“Yoona!” teriak Minho yang langsung berusaha melepas tangan Yoona dari leher Sooyoung. Yoona mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Minho. Membuat Minho secara tidak sadar mundur ke belakang.

Yoona kembali menatap Sooyoung yang hampir mencapai batasnya, ia melepas cekikannya, kemudian berbisik di telinga Sooyoung. “Aku akan membuatmu tersiksa bahkan menyesal karena terlahir ke dunia.”

Ia melepas tubuh Sooyoung dan mendorongnya ke arah Minho, “Urus Adikmu. Pastikan dia mengetahui tempatnya.” Yoona membalik badannya dan matanya menangkap sosok pelayan yang ia tebak meminta mereka untuk makan malam.

Minho memperhatikan sosok Yoona yang menjauh dan menghela napas kasar. Ia dikejutkan dengan teriakan Tiffany dari ujung tangga sedang berjalan kearahnya tepatnya pada Sooyoung yang pingsan di pelukannya.

“Sooyoung, Oh Tuhan. Apa yang terjadi Minho?”

Minho tidak menjawab pertanyaan Tiffany, “Lebih baik kita pindahkan Sooyoung ke kamarnya.” Minho menggendong Sooyoung dan membawanya ke kamar Sooyoung. Semarah apapun dia pada dua orang ini.

Minho tidak bisa membiarkan Yoona berubah menjadi seseorang yang menganggap melukai seseorang adalah hal yang layak. Ia juga tidak bisa meninggalkan Sooyoung dalam keadaan pingsan di depan pintu kamarnya.

Tiffany tidak buta, ia melihat memar di leher dan pergelangan tangan putrinya, berpapasan dengan Yoona di tangga membuatnya tahu siapa yang membuat putrinya seperti ini.

Ia meninggalkan Sooyoung, mendahului Minho keluar dari kamar Sooyoung. Mencari Yoona dan mendapati orang yang dicarinya duduk dengan nyaman diposisi yang selalu ditempatinya di ruang makan. Menghiraukan Siwon yang juga mengambil tempat di kursi untuk kepala keluarga.

Mendekati Yoona dan menamparnya. “Beraninya kau melukai putriku!”

Yoona mengusap darah yang keluar dari luka di sudut bibirnya. “Tamparan seorang sampah selalu sama.” Desisnya sambil mengarahkan tatapannya pada Siwon.

Siwon berusaha menahan emosinya. Beranjak dari duduknya dan mendekati Yoona dan istrinya. “Ada apa, Tiffany?”

“Ia baru saja hampir membunuh Sooyoung dengan mencekiknya!” teriak Tiffany dan langsung melempar dirinya ke dada Siwon.

Yoona yang melihat drama di depannya hanya mendecakkaan lidah bosan. Ia berdiri dari kursi yang didudukinya.

“Niat Anda ingin mencari tahu alasan saya mendekati Sehun? Sayangnya, saya tidak berniat memberitahu Anda.”

“Jaga bicaramu Yoona. Kau masih harus menjelaskan alasanmu melukai Sooyoung,” ujar Siwon tajam, masih memeluk Tiffany.

“Saya tidak berniat memberitahu. Bukannya saya yang harus meminta penjelasan alasan anak Anda melukai saya? Ck, memalukan. Watch out ur back, Sir.”

”Kau mengancamku, Choi Yoona!” Nada suara Siwon bertambah satu oktaf.

“Silahkan berpikir sesuka Anda. Selamat malam.” Yoona baru mengambil beberapa langkah menuju pintu ruang makan sebelum memutar badannya kembali.

Mendekat pada pasangan paruh baya yang menyakitkan matanya, setiap langkah yang diambilnya membawa rasa curiga pada Siwon.

Yoona secara tiba-tiba menarik kerah baju Tiffany, dengan paksa melepas pelukan keduanya. Semuanya terjadi sangat cepat yang dapat disaksikan Siwon adalah Tiffany yang mendapat tamparan di sisi yang sama saat ia menampar Yoona. Tubuh Tiffany didorong hingga menabrak meja makan dan hanya memperlihatkan punggungnya, setelahnya Yoona mengambil pisau makan dan menancapkannya tepat di samping pipi Tiffany.

Siwon terlalu terkejut  melihat kebrutalan Yoona. “Mata dibayar mata. Darah dibayar darah. Apa yang kalian lakukan padaku, aku akan membuat kalian ikut merasakannya. Jadi, kalian cukup duduk diam dan menikmati sisa waktu kalian. Hargai kesehatan kalian, usia seperti itu hanya tinggal menunggu waktu.”

Untuk kedua kalinya Siwon dibuat terkejut. Ia tidak bisa melakukan apapun melihat Yoona yang perlahan menjauh. Matanya bertemu dengan Minho, putranya hanya menatapnya dengan pandangan pedih dan menggelengkan kepalanya.

Minho bergerak dari posisinya di depan pintu ruang makan, membantu Tiffany yang tampaknya masih dalam keadaan syok. Ia membawa Tiffany ke kamar orang tuanya, meninggalkan Ayahnya. Ia tahu Ayahnya butuh waktu sendiri.

Siwon duduk di kursi ruang kerjanya yang hanya diterangi oleh cahaya bulan. Memutar ulang kejadian yang baru beberapa jam lalu terjadi.

Suara seorang dokter kembali muncul dalam pikirannya. Mengatakan bahwa putrinya yang berusia 13th mengalami trauma pada otaknya karena kejadian yang terjadi di depan matanya. Hal yang membuatnya kemungkinan besar akan melupakan beberapa hal dalam hidupnya.

Kalimat terakhir dokter yang menyarankan agar putrinya tidak mendapat tekanan besar. Membuatnya menyesali pengabaiannya pada Yoona.

Ia tidak kuat menghadapi Yoona. Melihat putrinya berteriak histeris setiap melihatnya dan mengeluarkan kalimat penuh kebencian padanya. Ia memilih mengabaikan Yoona dan sekarang ia dipaksa untuk melihat apa yang sudah dilakukannya.

Bayangan seorang wanita dengan rambut pirang stroberi dengan mata cokelat hangat sedang tersenyum padanya, membuatnya dilanda perasaan rindu dan bersalah diwaktu bersamaan.

Memikirkan semua masa lalu keluarganya semakin membuatnya digayuti penyesalan. Ia mendengar suara handle pintu diputar dan langkah yang diambil mendekat kearahnya. “Apa yang kau inginkan, Minho?”

“Jangan mengganggu Yoona, ia tidak menyukai berhubungan dengan kita. Ayah tahu setiap tahun yang dihabiskannya selama enam tahun lalu bersama kita adalah siksaan baginya. Juga, jika Ayah bersikeras masih memaksakan peran seorang Ayah padanya hanya membuatnya semakin tenggelam dalam kebenciannya. Ia akan kehilangan kontrol dirinya.”

Siwon tersenyum miris untuk pertama kalinya sejak ia mengambil keputusan mengabaikan putrinya, ia menunjukkan ekspresi terlukanya. “Apa waktu 3 tahun tidak membuat kebenciannya hilang? Apa penyesalan yang saat ini aku rasakan terlambat?”

Hening, ia tidak mendengar jawaban dari Minho. Dan itu semua hanya menambah kegetiran dalam senyumnya.

“Terlambat? Entahlah, hal yang bagus Ayah masih menyesali perbuatan Ayah. Hanya saja, apakah Yoona masih memiliki kebaikan untuk memaafkan Ayah?” Minho ikut tersenyum getir. Mereka tahu Yoona sudah berubah terlalu jauh dari gadis kecil yang mereka ingat.

 

 

 

 

Advertisements