Title : Hatred (Agony)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

WARNING!!!

Berisi adegan dewasa dan kata-kata kasar. Mohon jadi pembaca yang bijak ya.

 

Hari pertama ia kembali bekerja membuatnya sedikit tenang. Setidaknya ada yang bisa mengalihkan perhatiannya dari keinginan kuatnya melenyapkan dua orang yang sangat bodoh  menghantarkan diri mereka untuk mendapatkan pembalasan darinya.

Berjalan  masuk di lobby Jefferson Hotel, ia bisa merasakan tatapan dari beberapa pegawai yang dilewatinya. Masuk  ke dalam lift dan berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kemarahannya. Sejak kemarin perasaannya dalam keadaan buruk dan hal terakhir yang diinginkannya adalah menambah daftar orang yang membuatnya tenggelam dalam amarah.

Dalam lift hanya ada tiga orang pegawai wanita lainnya. Bahkan ketika ia baru melangkah  masuk, ia bisa melihat cibiran yang ditujukan padanya. Menghiraukannya dan memilih berdiri di depan ketiganya. Ia bersyukur luka kecil di wajahnya dapat ditutupi dengan  make up.

Tiba di lantai yang di tuju ia bergegas keluar dan menuju kubikel miliknya. Menaruh tas yang dibawanya da n menyalakan  komputer. Semalam ia telah membuat daftar kerjaan yang harus diselesaikannya segera karena cuti yang diambilnya.

Yoona tenggelam dalam dunianya. Menghiraukan sekeliling dan menaruh atensi penuh pada utang pekerjaan yang harus ia selesaikan. Menyadari bahwa bulan ini ia harus menarik beberapa investor agar tertarik menanamkan modalnya.

Dering telepon mengalihkan  atensinya, berdecak kesal karena merasa terganggu. Mengangkatnya dan suara pria yang ia kenali sebagai orang kepercayaan Arsen menyapa indera pendengarnya. Kulit sekitar dahinya berkerut.  Matanya dilarikan ke arah jam  tangan yang dipakainya.

“Aku akan segera ke sana.” Memutus sambungan dan  membereskan  kerjaannya yang baru  sebagaian  rampung.

Yoona hampir mengerang kesakitan karena kaki kirinya yang  secara mendadak berdenyut mengirimkan rasa sakit padanya. Ia terlalu memaksakan dirinya selama dua minggu ini agar tetap terlihat baik-baik saja. Kenyataannya kakinya belum  terlalu siap untuk menerima beban kerja yang berat.

Ia masih harus menjalani terapi beberapa kali lagi agar kakinya bisa kembali normal. Menunggu beberapa saat agar nyeri di kaki kirinya hilang, kemudian  melanjutkan jalannya ke arah lift. Dibukanya pintu  ruang kerja Arsen tanpa meminta izin. Ia menangkap sosok  Dimitri, pria yang beberapa menit lalu menghubunginya berdiri di samping Arsen yang duduk di kursi kebesarannya.

“Yoona… masih tetap mampu memakai topeng baik-baik saja, huh.” Seringai yang sangat dibencinya kembali dilihatnya. Mendengus dan membanting tubuhnya di sofa yang berada di ruangan Arsen.

“Hentikan ocehan tidak bermutumu Arsen,  straight to the point.”

Seringai di wajah Arsen semakin lebar, orbs cokelatnya melirik pada Dimitri. Orbs keduanya bertemu pandang dan yang dilakukan pria itu adalah  memalingkan  wajahnya ke arah  lain. Satu alisnya terangkat dan tawa geli Arsen menggema di ruangan.

“Jangan menatapnya, Yoona. Dimitri sepertinya takut padamu.”

“Katakan  tujuanmu, Arsen. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku.” Menghiraukan perkataan Arsen. Yoona mencari posisi nyaman untuk dirinya di sofa yang didudukinya.

“Aku menyetujui tawaranmu.”

Yoona yang tadinya menutup matanya langsung membawa pandangannya ke arah pria yang selalu membuatnya kesal. Ditatapnya orbs abu-abu Arsen dengan  tajam, mencoba mencari kesungguhan dari apa yang disampaikannya.

Arsen membalas tatapan Yoona. Tahu  dengan  pasti bahwa wanita yang berada beberapa meter darinya tengah  mencari kebenaran perkataannya.  Aksi saling  tatap dilakukan  keduanya dalam beberapa menit dan  mengundang perasaan risih bagi Dimitri.

“Cara mendapatkan kepercayaanmu adalah hal yang sulit, heh. Aku harus mendapatkan patah tulang dan pendarahan otak lebih dulu. Entah  kenapa membuatku  ingin menancapkan pisau di lehermu.”

“Kau tahu aku orang yang sulit, Yoona,” ucap Arsen diikuti kekehan yang membuat Yoona memutar orbs cokelatnya.

“Jadi, apa rencana yang aku yakin sudah  kau susun ulang karena kecelakaanmu. God,,, aku sudah memperingatimu. Perhatikan sekitarmu. Saudara tirimu akhirnya berhasil membuatmu  mendapat kamar di rumah sakit selama sebulan lebih. Kau benar-benar terlihat menyedihkan saat itu.”

Shut up ur f**king mouth, Arsen.

Arsen menatap Dimitri. Pria yang ditatapnya menganggukkan kepala, kemudian berjalan  menuju pintu meninggalkan dua orang di dalam. Pria yang hari ini menggunakan kemeja yang berwarna sama dengan warna matanya itu berjalan ke arah Yoona.

Mengambil tempat di sofa yang berada tepat di depan Yoona. Yoona menegakkan tubuhnya dan mulai memberitahu apa yang harus dilakukan Arsen dalam kerjasama mereka. Dahi Arsen berkerut setelahnya. Melemparkan pandangan tidak yakin.

“Kau hanya menginginkan aku melakukan hal itu?”

“Ya. Aku membutuhkan  koneksimu. Kau tahu aku tidak mempunyai akses untuk mendapatkan apa yang aku cari.”

“Baiklah. Aku membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Kau tahu sendiri untuk mendapatkan informasi tersebut cukup sulit. Ada satu  hal yang membuatku bingung, kenapa aku juga harus mencari informasi tentang aktivitas petinggi dan karyawan perusahaan Ayahmu?”

“Untuk menguatkan kejatuhan seseorang kau harus menghancurkan semuanya.”

Arsen memaku tatapannya pada Yoona yang kembali memunculkan senyum yang sama di waktu pertama kali wanita itu menawarkan kerjasama padanya. Dan sampai saat ini ia sangat membenci senyuman itu. Senyum yang sangat tidak pantas bagi manusia dengan jenis kelamin perempuan.

“Lalu kenapa aku yang harus membujuk Sehun? Kau bisa melakukannya sendiri.”

“Tidak. Aku yakin kau  lebih bisa menanganinya.”

Fine. Bagaimana dengan dua orang lainnya? Semua yang kau katakan tadi menyangkut  Siwon.”

“Mereka berdua?  Kau tidak perlu ikut campur dalam  hal itu.”

Menyadari nada dingin dari suara Yoona membuat Arsen hanya bisa menganggukkan  kepalanya. Apapun yang akan dilakukannya pada mereka adalah hal yang tidak akan berakhir baik. Pertanyaan besar muncul dalam kepalanya. Melihat wajah Yoona yang kembali tanpa ekspresi. Ia memilih untuk melihat tindakan Yoona yang akan  menjawab pertanyaannya nanti.

“Kau tampak semakin buruk. Sepertinya kau terlalu memaksakan dirimu.” Matanya dilarikan  ke arah kaki kiri Yoona yang terbungkus celana Palazzo. Bagian bawah celana yang lebar membuatnya mengerti kenapa wanita itu memilih menggunakan celana itu.

Mengamati pakaian yang dikenakan Yoona membuatnya mengulas senyum miring. Dengan atasan tanpa lengan berkerah  model V Neck dipadankan dengan celana Palazzo.Warna hitam  menjadi pilihan Yoona. Membuatnya terlihat seksi namun elegan di waktu bersamaan.

“Hentikan senyum menjijikkanmu itu, Arsen.”

“Kau pintar membuat citra dirimu terlihat baik. Aku tidak heran citra Jefferson  Hotel membaik karenamu.”

“Kau baru menyadarinya, huh.”

“Sayangnya wajah datarmu membuatmu  terlihat buruk.”

“Mati saja kau.”

 

Setelah kembali dari Korea Selatan. Sehun langsung  disambut dengan setumpuk berkas dan membuatnya selama hampir satu minggu lebih fokus pada kerjaannya. Mengesampingkan  sejenak keinginannya untuk mencari tahu apa yang sudah membuat Yoona terlihat aneh dengan kaki kiriya.

Ia tidak buta begitu juga keluarga sahabat wanita itu. Gaya jalannya yang berbeda dan jika bisa ia lebih memilih duduk dibanding harus berjalan. Pakaian yang dikenakannya semuanya terdiri model yang bisa menyembunyikan kaki serta lengannya.

Menghela napas lega karena bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ia memutar kursinya menghadap jendela. Tidak lama, dering ponselnya yang menandakan pesan masuk. Pesan yang  berasal dari Arsen.

Melihat jam tangan miliknya. Ia bangkit dari kursinya sembari memakai jas yang sempat dilepasnya. Selama perjalanannya menuju Jefferson hotel benaknya dipenuhi pertanyaan  tentang apa yang ingin disampaikan Arsen padanya.

Matanya menatap tajam ke depan, menghiraukan setiap mata yang mencuri pandangan ke arahnya. Air mukanya tampak dingin, masuk ke dalam benda kotak yang akan membawanya ke lantai tempat ruangan sahabatnya berada.

Di lantai yang ia tuju pintu lift terbuka dan ia langsung di sambut oleh senyuman wanita yang berada di balik meja. Menyapanya dan langsung mengantarnya ke ruangan Arsen. Pintu di buka dan sahabatnya menyambutnya dengan senyuman yang membuat perasaannya tidak enak.

Arsen merencanakan sesuatu dan ia benci dikala ia menjadi orang yang akan menjadi korban dari rencana sahabatnya yang sedikit tidak normal. Menatap tajam Arsen yang malah membuat senyuman di wajah pria itu melebar.

Mengambil tempat di single sofa dan melayangkan pandangan menutut penjelasan. Arsen terkekeh geli sebelum melakukan sesuatu yang semakin membuat dirinya tidak tenang. Ia bisa mendengar Arsen yang berbicara pada seseorang yang berada di seberang telepon di atas meja. Menyuruh orang itu untuk datang ke ruangannya segera.

Orbs abu-abu itu kembali memaku tatapannya padanya. “Kau tampak kacau.”

“Setumpuk berkas yang mengancam kewarasannku.”

“Aku mengeluarkanmu dari neraka berbentuk berkas-berkas itu.”

“Tepatnya kau meneleponku di waktu aku baru saja menyelesaikan semuanya, Arsen.”

“Ahahaha… yah setidaknya kau akan lebih menyukai berada di ruanganku.”

“Apa yang kau rencanakan. Kau tahu, aku selalu membenci senyumanmu itu.” Menghela nafas lelah sedang Arsen hanya terkekeh geli.

Percakapan keduanya berlanjut beberapa saat, lalu diinterupsi oleh seseorang yang membuka pintu dengan gerakan kasar disusul suara bernada datar yang sangat akrab di indera pendengarnya.

“Aku pastikan akan membuat wajahmu penuh bekas goresan kuku jariku, jika apa yang kau lakukan ini hanya untuk mengerjaiku, Arsen.”

Orbs hitam Sehun membeliak lebar, menatap pada sosok yang belum menyadari kehadirannya karena terlalu fokus melempar tatapan tajam pada sahabatnya. Perasaan kesal menyusup dalam dirinya. Melihat Yoona yang langsung menatap Arsen dan meski mengucapkan kata-kata kasar, ia bisa merasakan kedekatan yang terjadi pada dua orang itu.

“Tenanglah, Yoona. Aku hanya ingin membuat sahabatku merasa lebih baik karenamu.” Perkataan Arsen mengundang tanya di orbs cokelat Yoona. Menggeser pandangannya kini orbs yang selalu bisa menyembunyikan perasaan pemiliknya bertatapan dengan orbs hitamnya.

Ia tidak bisa membaca apa yang tengah dipikirkan Yoona saat melihatnya. Wanita itu menatapnya semenit sesudahnya memutus tatapannya dan mengambil langkah menuju ke arah mereka berdua.

Dalam hatinya menginginkan Yoona mengambil tempat di sofa yang berada di sampingnya. Nyatanya Yoona memilih duduk di sofa yang berada di sebelah sofa Arsen. Membuat Yoona dan Arsen sekarang duduk berhadapan dengannya.

Kesal dengan pemandangan di depannya membuat ia melarikan tatapannya pada Arsen. Sahabatnya tahu. Pria gila yang sayangnya adalah sahabatnya tahu seberapa besar pengaruh Yoona padanya.

“Katakan tujuanmu, Arsen. Aku harus kembali ke kantor selepas jam makan siang berakhir.”

“Terburu-buru sekali, Sehun.”

“Arsen.” Sehun sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik. Untungnya sahabatnya itu menangkap nada penuh peringatan darinya. Dan tahu dengan pasti, dalam kondisi seperti itu bukan hal yang bijak untuk memancingnya.

Mengatakan apa yang diinginkannya, Arsen berhasil mengundang kerut di area sekitar dahi Sehun. Menggeser pandangannya dan melihat Yoona yang menatapnya masih dengan pandangan tidak terbaca.

“Kenapa baru sekarang?”

“Aku baru memiliki alasan kuat untuk melakukannya.”

“Aku tidak bisa begitu saja melakukannya, Arsen. Kau tahu sendiri orang tuaku bersahabat dengan Choi Siwon.”

“Aku tahu, karena itulah aku tengah mempersiapkan bukti yang nyata.”

Terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Aku akan memikirkannya.”

Yoona berdiri dari duduknya yang membuat dua pria itu menatapnya. “Aku harus kembali.”

Sehun ingin menahan Yoona, tapi mengingat kekesalannya karena wanita itu, membuatnya menghentikan lidahnya yang hampir mengeluarkan kata agar Yoona tetap tinggal. Matanya masih terpaku pada pintu.

“Kau sudah terlalu menggilainya.” Mendengar nada datar Arsen. Ia berbalik dan melihat pria itu menatapnya dengan cemoohan yang terlihat jelas.

“Apa maksud tatapan dan ucapanmu, Arsen?”

Menghiraukan pertanyaan Sehun. “Aku selalu penasaran alasan kau menatap Yoona seperti kau telah menghabiskan seumur hidupmu bersamanya ketika kau pertama kali melihatnya di pesta Jhonson Corp.”

Menatap Arsen tajam, lalu memutuskan untuk memberitahu sahabatnya. “Karena aku sudah lama mengenalnya, Arsen.” Satu alis Arsen terangkat, menuntut penjelasan lebih.

“Orang tua kami bersahabat. Maksudku Ibu kandung Yoona serta Ayahnya.” Masih menatap Arsen memastikan pria itu memahami apa yang diucapkannya. Lalu mengalirlah penjelasan Sehun akan hubungannya dengan Yoona.

Yoona tidak bisa berhenti mengutuk Arsen akan apa yang dilakukannya. Melibatkan dirinya dalam permainannya membuatnya hampir saja mencekik leher pria itu. Menyadari kehadiran Sehun di ruangan Arsen berhasil membuatnya membendung keinginannya.

Mengingat raut wajah Sehun yang berubah keruh dengan sinar di orbs hitamnya yang tidak bisa ia tebak. Terlebih ketika ia memilih duduk di hadapannya, orbs hitam itu malah tidak pernah sekalipun menatapnya.

Hanya ketika ia ingin memastikan apa yang baru diucapkan Arsen padanya. Baru Sehun menatapnya dan tatapan yang hanya sekilas saja. Ia tahu Sehun pasti menghubungkan permintaan Arsen dengannya. Sehun tidak bodoh dan karena itulah ia benar-benar semakin ingin mencekik Arsen.

Arsen tenggelam dalam pikirannya. Menghiraukan setumpuk berkas yang menunggu untuk mendapat perhatian olehnya. Memutar ulang percakapan dengan sahabatnya yang beberapa saat lalu meninggalkan kantornya.

“Jadi seperti itu. Apa kau sejak dulu menyukainya?”

“Sialan, Arsen kau pasti sudah gila. Tentu saja tidak, aku menganggapnya sebagai Adik.”

“Dan sekarang berubah menjadi rasa suka pada seorang wanita dewasa.”

“Sekarang aku yang ingin bertanya padamu. Ada hubungan apa kau dengan Yoona?”

Seringai menghias wajahnya, memutuskan untuk sedikit menggoda sahabatnya. “Kenapa? Apa jika aku mengatakan aku dan dia memiliki hubungan khusus kau akan mundur, seperti saat kuliah dulu?”

Sehun tersentak. Hampir saja ia bergerak maju dan menyarangkan tinjunya di wajah sahabatnya jika tidak melihat kilat jahil di orbs abu-abu Arsen. “f**k, jika tidak mengenalmu aku sudah menghajarmu.”

“Aku tidak akan mundur.”

“Wah, wah.. apa ini.. tidak diragukan lagi, kau sangat menyukai Yoona.” Melempar senyum mencemooh sebelum melanjutkan ucapannya. “Pikirkan apa yang kuminta padamu, Sehun.”

“Katakan alasanmu baru memintaku melakukan hal ini.”

“Karena aku tahu kau akan memikirkannya, bahkan melakukannya. Yoona adalah alasan yang bisa membuatmu bertindak gila. Akuilah Sehun, kau akan melakukan apapun untuknya.”

“Aku tetap tidak bisa melakukan hal itu tanpa alasan lainnya.”

“Karena itulah, aku juga sedang menyiapkan bukti yang cukup.”

“Baiklah, aku menunggunya.”

Mencari tahu akan apa yang membuat Yoona terlihat berbeda dengan kaki kirinya, nyatanya membutuhkan waktu satu bulan lebih. Mengetahui hal ini membuat Sehun sadar, ada pihak yang cukup berkuasa untuk menutupi kejadian yang berhubungan dengan Yoona.

Tepat di waktu ia baru akan menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah. Ponselnya berdering dan nomor orang suruhannya untuk menyelidiki kasus Yoona muncul. Apa yang didengarnya hampir membuatnya meremukkan ponsel yang digenggamnya.

Wajahnya dingin tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun orbs hitamnya menggelap menunjukkan keinginan kuat menyakiti seseorang. Memacu mobilnya dengan kecepatan yang berhasil membuatnya mendapat umpatan dari pemilik mobil yang dilewatinya.

Langit gelap diatasnya nampaknya sangat serasi dengan kegelapan dalam dirinya. Ban mobilnya berdecit nyaring. Memarkir mobilnya di area taman kompleks perumahan yang ia tinggali.

Mengirim pesan pada seseorang yang tidak beruntung karena menjadi orang yang mendapatkan kemarahannya. Sejak tadi dua telapak tangannya mencengkeram setir mobil dengan kuat. Buku-buku jarinya memutih dan tubuhnya menegang kaku.

Melihat sosok yang ditunggunya sejak tadi muncul. Ia keluar dari mobil dan menunggu orang itu dengan menyandarkan tubuhnya di body mobil. Senyum lebar yang terlihat di wajah orang itu membuatnya muak.

Sooyoung tengah berbaring di ranjang miliknya saat ponselnya berbunyi dan pesan dari pria yang menjadi tunangannya muncul. Mengetahui pria itu ingin bertemu dengannya, berhasil melenyapkan rasa kecewa atas apa yang dilakukan pria itu dengan saudara tirinya.

Mengganti baju yang dikenakannya dan berlari turun ke lantai bawah. Menghiraukan tanya yang muncul di wajah Ibunya. Melihat pria itu menunggunya di samping mobil miliknya membuatnya semakin merasakan perasaan senang.

Baru ketika ia berdiri berhadapan dengan Sehun, senyumnya lenyap dengan cepat. Sehun menatapnya dengan pandangan dingin yang berhasil membuatnya menggigil dan tanpa sadar tubuhnya mengambil langkah mundur.

Sehun tidak membiarkannya, menarik lengannya dan dengan kasar mendorong tubuhnya ke body mobil. Ia meringis kesakitan saat punggungnya berbenturan dengan pintu mobil Sehun. Kedua lengan pria itu sekarang diletakkan di kedua sisi tubuhnya, mengurung dirinya.

Takut dengan tatapan Sehun, Sooyoung memilih menunduk. Namun Sehun tidak mengizinkannya. Satu lengannya memegang dagu Sooyoung. Orbs hitamnya menatap tajam ditambah dengan tangan pria itu yang mencengkeram kuat dagunya. Seakan ia memang bertujuan untuk meremukkan dagu Sooyoung.

“Katakan alasanmu melukai Yoona, Sooyoung.”

Mendengar nama yang keluar dari bibir Sehun membuat kemarahan muncul dalam dirinya. Melupakan ketakutannya ia balas menatap tajam pria itu. Pria yang menyakitinya. “Kau sampai melakukan ini karenanya? Apa yang membuatnya spesial bagimu? Di sini aku yang tunanganmu, bukan dia.” Sooyoung menolak untuk menunjukkan seberapa sakit dirinya karena Sehun.

Melihat perubahan Sooyoung membuat satu alisnya terangkat. “Begitu? Sayangnya aku tidak lagi menganggapmu tunanganku. Seberapa spesial Yoona bagiku? Yang jelas dia adalah seseorang yang aku inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anaku.” Sengaja memancing emosi Sooyoung dengan apa yang dikatakannya dan hasilnya sangat memuaskan.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!!!” teriak Sooyoung dan secara membabi buta berusaha mendorong Sehun. “Aku membencinya.. kenapa. Bahkan kau berhasil menjadi miliknya. Aku melihatmu, melihat kau mencium jalang itu, sialan!”

Sehun bergeming, dorongan Sooyoung tidak berefek apapun padanya. Mendengar kalimat penuh kebencian Sooyoung pada Yoona. Raut wajahnya semakin keruh. “Jalang? Kau memanggilnya jalang? Wanita sialan.” Mendorong tubuh Sooyoung ke tanah dengan kasar. Berdiri menjulang di hadapan Sooyoung yang meringis karena kerasnya dorongannya.

Sebelah lutut Sehun menyentuh tanah dan dibungkukkannya tubuhnya hingga kepalanya sejajar dengan Sooyoung. Mengirimkan ancaman pada Sooyoung sebelum tangan kanannya melingkar di leher wanita itu. Kelima jarinya menekan kuat leher rapuh Sooyoung, ia tergoda ingin mematahkannya. Namun ia lebih memilih membuat wanita itu kesulitan bernapas. Tangan Sooyoung berusaha melepas tangannya, sia-sia. Ia tidak berniat melepasnya. Dilihatnya wanita itu hampir kehilangan kesadarannya baru ia melepas tangannya.

“Itu peringatan untukmu. Sekali lagi kau menyakiti Yoona, aku akan mematahkan lehermu.”

“Semakin kau mengancamku, aku lebih ingin menyakitinya!!!” Susah payah Sooyoung memaksakan teriakannya.

Senyum sinis menghiasi bibir Sehun. “Coba saja. Sebagai gantinya bukan hanya leher, bahkan kaki dan tanganmu yang akan aku patahkan. ” Bangkit berdiri dan dengan tiba-tiba menginjak kaki kiri Sooyoung. Menekan kuat dan menghasilkan teriakan kesakitan dari Sooyoung. Berbalik menuju mobilnya dan meninggalkan wanita yang sudah lancang menyakiti Yoona.

Sooyoung yang ditinggalkan Sehun mengeluarkan semua rasa sakit yang dirasanya. Ia membenci Yoona karena semua yang diinginkan Sooyoung selalu didapatnya dengan mudah. Pertama kali bertemu dengan Yoona, ia kira akan bisa mendapat saudara perempuan tempatnya berbagi. Nyatanya ia malah mendapat tatapan tajam dan penuh penghinaan.

Seminggu lebih berusaha mendapat kebaikan Yoona, ia tidak berhasil. Malah wanita itu semakin memberinya tatapan hinaan untuknya. Sooyoung terluka karena penolakan itu. Ia hanya menginginkan saudara, nyatanya ia dan Ibunya dianggap sebagai musuh.

Seminggu Sooyoung mengurung dirinya di dalam kamar. Menolak berkomunikasi dengan siapapun. Apa yang dilakukan Sehun sangat menyakitinya dibanding ketika ia melihat Sehun mencium Yoona. Pembelaan dan amarah pria itu hanya karena dirinya melukai Yoona berhasil menghancurkan hatinya.

Ia tidak ingin menceritakannya pada Ibunya. Sebab ia tahu Ibunya akan langsung memutuskan pertunangan mereka, dan itu adalah hal terakhir yang diinginkan Sooyoung. Tidak. Sampai kapanpun dia tidak akan melepas pria itu.

Meski ia harus berdarah-darah karena Sehun yang melukainya sekalipun, Sooyoung tidak akan membiarkannya lepas. Tidak jika pria itu hanya akan berakhir menjadi milik Yoona.

Tiffany yang melihatnya Putrinya menarik diri dari lingkungan sekitarnya membuatnya cemas. Ia khawatir melihat mendung yang selalu membayangi wajah Sooyoung. Seminggu yang lalu setelah melihat Sooyoung berlari keluar rumah dengan wajah berseri. Paginya ia tidak mendapati Sooyoung sarapan pagi.

Memberi Putrinya waktu, namun sekarang ia sudah cukup bersabar. Sebabnya ia naik ke kamar Sooyoung. Memutuskan untuk menarik keluar Sooyoung dari gua kesendirian yang dibangun olehnya.

Pintu kamar dibuka, ia menangkap sosok Sooyoung tengah meringkuk di sofa yang berada di sudut kamarnya. Earphone terpasang di telinganya, matanya jauh menatap ke luar jendela.

Sooyoung masih belum menyadari kehadirannya. Karena itulah ia melepas earphone yang dipakai Sooyoung. Akhirnya ia mendapat perhatian dari Putrinya yang terlihat linglung. “Ada apa? Ibu cemas dengan keadaanmu yang seperti ini.” Mengambil tempat di samping Sooyoung dengan tangannya yang menggenggam dua tangan anaknya.

Tidak ada tanda yang menunjukkan Sooyoung akan memberitahunya. Satu nama terlintas di pikirannya. Namun ia kembali memilih Sooyoung sendiri yang akan memberitahunya. “Bagaimana kalau menemani Ibu belanja?”

Sooyoung mulai merespon pertanyaannya. “Ide yang bagus, Ibu. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Ibu. Kita tidak usah memakai mobil. Naik bus saja,” Memaksakan senyum di bibirnya untuk membuat Ibunya tidak bertambah khawatir.

“Baiklah. Ibu tunggu di ruang tamu.”

Melihat deret angka yang muncul di layar ponselnya membuat Yoona menghentikan kerjaannya. Mengambil ponselnya dan dengan cepat menuju ke toilet. Masuk ke salah satu bilik.

“Kuharap kau memberiku informasi penting.”

“…”

“Mereka hanya berdua? Naik bus?”

“…”

“Bagus. Itu semakin memudahkan kalian. Lakukan apa yang kuminta.”

“…”

“Aku akan ke sana saat jam kerjaku berakhir.”

Menutup sambungan. Seringai Yoona muncul. Setelah menunggu seminggu untuk bisa mendapatkan keduanya. Akhirnya. Penantiannya berbuah manis. Pembalasannya akan dilakukannya.

Tubuh Yoona bergetar, memikirkan darah yang disekanya karena sudut bibirnya sobek ketika Tiffany menamparnya. Ia masih mengingat seberapa kuat dirinya menahan gemetar di tubuhnya saat itu. Tiba di apartemen, ia tidak sanggup melangkah lebih jauh. Tubuhnya merosot jatuh karena ketakutannya akan darah.

Dan hari ini ia akan membutuhkan tenaga lebih agar bisa menahan gemetar tubuhnya. Tahu dengan pasti darah yang akan dilihatnya akan lebih banyak di banding malam sepulangnya dari Korea selatan.

Perasaan Sooyoung sedikit membaik, menghabiskan waktu bersama Ibunya membuatnya merindukan saat ia masih berdua dengan Tiffany. Ibunya yang masih seorang pelayan di salah satu restoran.

Senyum tulus kembali di wajah Sooyoung, memeluk lengan Ibunya. Keduanya memutuskan acara belanja mereka hari ini selesai. Berjalan keluar dari gedung salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di Washington.

Mereka berdua berada di depan gedung saat sebuah mobil sedan hitam dengan kaca jendela gelap berhenti di depan keduanya. Seorang pria dari pintu kemudi keluar, berjalan ke arah keduanya dengan senyum ramah.

Tepat di hadapan mereka, pria itu mengikis jarak diantara ia dan Sooyoung. Sooyoung merasakan sebuah benda tajam menempel di atas lapisan bajunya. Dari samping akan terlihat mereka adalah pasangan. Benda itu kecil tajam, berhasil merobek kain baju Sooyoung yang tipis dan melukai kulit perutnya.

“Silahkan masuk dengan tenang di kursi penumpang. Jangan berontak, saya tidak menjamin isi perut Anda masih utuh nantinya.” Masih dengan senyum di wajahnya, pria itu menyelipkan kembali pisau tipis berukuran kecil ke lengan jasnya.

Menyadari pria dihadapan mereka serius, Tiffany dan Sooyoung disergap perasaan takut. Melihat sekeliling banyak orang lalu lalang, tetap saja orang-orang itu tidak akan menolong keduanya dengan cepat. Parahnya pria yang berdiri di depan mereka lebih dulu melaksanakan niatnya.

Masuk di kursi belakang. Seorang pria lain duduk di kursi samping pengemudi. Mobil yang membawa mereka melaju meninggalkan tempat tersebut. Keringat mulai membasahi pakaian yang mereka berdua kenakan.

Mobil itu berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi. Pria yang duduk di kursi penumpang, berbalik dan merampas paksa tas dan ponsel mereka. Yang terakhir mereka ingat adalah jarum suntik yang disuntikkan di leher mereka sebelum kegelapan menelan kesadaran keduanya

Detak jantung Yoona berdetak tidak karuan. Memukul-muku dadanya hingga terasa menyakitkan. Matanya tidak lepas dari jarum jam yang terasa sangat lambat berada di angka 5.

Arsen yang memang selalu melihat Yoona dari cctv yang dipasang di ruangan tempat Yoona bekerja, mulai merasa curiga. Yoona sangat jelas sedang gelisah dan seingatnya sepanjang hari ini Yoona tidak melakukan hal yang bertentangan dengan kebiasaannya.

Tubuh Yoona bangkit dari kursi seperti sebuah pegas yang ditekan oleh seseorang. Ia ikut berdiri. Memacu langkahnya menyusul Yoona. Di lobby ia melihat sosok Yoona yang akan keluar. Ia memutuskan untuk berlari dan ia berhasil menangkap lengan kiri wanita itu.

Menyeretnya menuju mobil yang sudah diparkir di teras gedung. Mendorong Yoona masuk lewat kursi pengemudi, lalu menyusul masuk. Kemudian memacu mobilnya menjauhi Jefferson Hotel. Meninggalkan ekspresi terkejut dari karyawannya melihat drama yang dibuatnya.

“Hentikan mobilnya, Arsen.”

“Katakan saja tujuanmu.”

“Kau tahu aku tidak akan memberitahumu.”

Mendengus, Arsen semakin menambah kecepatan mobilnya. “Kau juga tahu aku tidak berniat menuruti perintahmu. Jadi, katakan di mana tujuanmu, aku akan membuat diriku tidak terlihat sampai kau selesai dengan apapun yang membuatmu sangat tegang seperti sekarang.”

“Kau tidak bisa terlibat dalam urusanku yang ini,” ucap Yoona kasar.

Melihat Arsen yang saat ini mengubah dirinya menjadi seorang yang indera pendengarnya rusak, Yoona hanya bisa menekan dalam-dalam kemarahannya. Memilih menyebutkan tempat tujuannya. Dan sepanjang perjalanan itu hanya diisi keheningan.

Mobil yang ditumpanginya berhenti di belakang gedung yang sudah lama tidak diisi kehidupan. Membuka pintu mobil dan melangkah keluar. “Pastikan kau membuat dirimu tidak terlihat, Arsen. Karena ketika kita berdua melangkah masuk, sedikit saja aku melihatmu selain untuk memberikan apa yang kuminta. Tubuhmu tidak akan keluar sebelum ada luka yang aku buat.”

Tiffany kembali mendapat kesadarannya saat merasakan seseorang menamparnya. Pipi kirinya berdenyut sakit. Matanya menangkap sosok seorang pria berbadan besar dengan jas hitam berdiri di depannya.

Ia bisa melihat tato yang menyembul keluar dari kerah kemeja yang dipakai pria itu. Kesadaran menamparnya bahwa ia baru saja diculik. Mendapati tubuhnya diikat dengan tali yang dililitkan dengan kuat di kursi yang didudukinya. Mulutnya di sumpal dengan kain yang membuat rahangnya sakit.

Melarikan matanya mencari putrinya dan ia mendapati Sooyoung yang tampaknya baru sadar berada tidak jauh darinya. Kondisinya sama seperti dirinya dan semua itu berhasil membuat ketakutan kembali menyergapnya.

Pikirannya dipenuhi dengan siapa yang menjadi otak penculikan mereka. Sebelum ia melihat siluet seorang perempuan masuk dan semakin jelas ketika berdiri sepuluh langkah di depannya. Sosok itu menjelma menjadi mimpi buruknya. Tengah menatapnya dengan orbs cokelatnya yang menjanjikan rasa sakit untuknya dan ia yakin putrinya.

Melihat dua wanita itu diikat dengan wajah ketakutan membuat iblis di dalam dirinya bersorak gembira. Bisikan penuh hasutan untuk segera menyiksa mereka memenuhi pikirannya.

“Lepaskan kain yang berada di mulut mereka berdua.” Suaranya datar, namun orbs cokelatnya berkilat kejam.

“Anak sialan, lepaskan kami sekarang juga.” Tiffany berontak, membuat kursi yang didudukinya berdecit kala menggesek lantai di bawahnya.

“Masih tetap tidak menyadari posisimu, heh. Menyedihkan sekali.”

“Siwon akan mencariku dan kau akan mendapat masalah besar, Yoona.”

“Tenang saja, sebelum ia menemukannmu. Kau sudah tidak berada di dunia ini lagi.”

“Kau iblis! Lepaskan kami!” Sooyoung geram dengan apa yang dikatakan Yoona pada Ibunya. Namun ia dan Tiffany tahu, Yoona akan melakukan apa yang dikatakannya dan hal itulah yang membuatnya takut.

“Berisik. Suaramu mengganggu, tutup mulut wanita itu.” Pria yang melukai Sooyoung dengan pisau kembali menyumpal kain untuk membungkam Sooyoung.

“Apa ini pembalasan dari seorang anak dari wanita lemah, yang suaminya lebih memilih aku yang mantan kekasihnya sekaligus cinta pertamanya, hah.” Tiffany benci kalah, jadi ia memilih mengucapkan kalimat yang dapat  menyakiti Yoona.

Tidak ada tanda yang menunjukkan perkataannya berpengaruh pada wanita itu. Malah Yoona hanya menatap malas padanya. “Jadi~~ kau wanita yang memiliki masa lalu dengan pria yang menyedihkan itu, dan ketika bertemu kembali, kau dengan tidak punya malu melemparkan dirimu padanya untuk menjadi pelacur seorang pria yang sudah jelas memiliki anak dan istri.”

Wajah ibu dan anak itu merah padam. Mendengar hinaan yang dengan mulus keluar dari mulut Yoona. Tiffany baru membuka bibirnya untuk memaki Yoona, tapi kalah cepat dengan wanita muda itu.

“Sayangnya Ibuku yang terlalu lemah memilih menghabisi dirinya sendiri ketimbang membalas suami dan jalang miliknya. Untungnya aku tidak sepertinya.” Mengambil langkah maju hingga menyisakan delapan langkah dari Tiffany.

“Perbuatanmu mengambil suami wanita lain, mungkin saja tidak akan membuatmu berakhir seperti ini. Aku menyayangkan kau yang salah memilih pria. Kau sudah menghancurkan kebahagianku, Tiffany~~,” ucap Yoona dengan suara diseret. Mengambil langkah lebar dan sekejap ia sudah berada tepat di depan wanita paruh baya yang dibencinya sampai ke dalam nadinya.

Lutut keduanya beradu. Saling melempar tatapan kebencian. Orbs cokelat Yoona menghujam tajam pada orbs milik Tiffany. “Karena itulah aku akan membuatmu membayar apa yang sudah kau lakukan padaku. Lihat baik-baik apa yang menimpamu saat kau dengan mudahnya menjadi jalang tidak tahu malu.”  Berpindah posisi. Ia berdiri di samping Tiffany. Membungkukkan tubuhnya sedang tangan kanannya mencengkeram erat dagu wanita itu.

Mata Yoona bertemu dengan pria yang menampar Tiffany. Lalu pria itu menyuruh tiga pria lainnya membuka ikatan Sooyoung. Menyeret wanita itu dengan kasar dan melemparnya ke lantai berdebu.

Dua lengannya di tahan masing-masing pria. Sedang pria satunya berjongkok dan merobek baju yang dipakai wanita itu. Kaki Sooyoung yang tidak ditahan berusaha menendang pria yang berada diantara kedua kakinya yang dibuka lebar.

Melihat apa yang tengah dilakukan tiga pria itu pada Putrinya  berhasil membuat Tiffany berteriak histeris. Yoona hanya memutar bola matanya sebelum tangannya bergerak menampar bolak-balik pipi Tiffany.

Tanganya sekarang menjambak kasar rambut Tiffany dan memaksanya menatap ke arahnya. “Kau menyakitiku melalui kematian Ibuku, maka putrimu yang akan menggantikanmu merasakan sakit yang sama sepertiku.” Kepala Tiffany dipaksa kembali tertuju ke depan  dan mendapati pria yang tadinya masih dalam posisi membungkuk kini menindih tubuh Sooyoung.

“Lakukan dengan keras. Jangan membuatnya merasakan kenikmatan sama sekali. Oh, sepertinya wanita itu tetap tidak akan menikmatinya.”

Tepat setelah Yoona menyelesaikan ucapannya, pria itu merobek bra Sooyoung. Gaun yang dipakainya sekarang menumpuk diatas perutnya. Robekan kain yang menutupi bagian intim Sooyoung, terdengar seperti gaung mengerikan bagi Tiffany. Dan ketika pria itu membuka resleting celananya, lalu memaksa masuk dalam tubuh Sooyoung. Jerit kesakitan dan teriakan pilu Tiffany memanggil nama Putrinya, menjadi melodi indah di indera pendengar Yoona.

Orbs cokelatnya tanpa risih menonton adegan yang tidak jauh darinya, dengan kejam memaksa Tiffany melihat bagaimana tiga orang pria memerkosa putrinya. Jiwanya seakan melayang, tenaga di tubuhnya hilang yang bisa dilakukannya hanya menangisi kemalangan Putrinya.

“Cukup.” Tiga pria itu berhenti dari kegiatannya setelah mendapat pelepasan masing-masing. Membenahi pakaian yang berantakan dan mengikuti perintah Yoona yang menyuruh mereka mengarahkan kepala Sooyoung ke arah dirinya dan Tiffany.

Ia bisa melihat tatapan kosong dari Sooyoung.  Menghiraukannya, ia melepas cengkeramannya pada kedua pipi Tiffany. Mengeluarkan sarung tangan yang sering digunakan dokter untuk mengoperasi pasiennya dari kantung celana yang dipakainya.

Memakainya di kedua tangannya dan kembali merogoh saku celananya. Sebuah pisau lipat kecil, tapi tajam berada di tangan kanannya. Berpindah ke belakang tubuh Tiffany yang kembali menegang. Ia bisa merasakan ketakutan besar dari wanita paruh baya itu. Dan iblis di pikirannya semakin melebarkan seringai kejinya.

Bibirnya dibuat sejajar dengan telinga Tiffany. “Kau tahu, orang yang kubayar sudah mengamati kalian sejak seminggu yang lalu. Menunggu kesempatan untuk membawa kalian padaku, dan tampaknya keberuntungan berpihak padaku. Dengan bodohnya kalian menghantar diri dengan sukarela.”  Menunggu sejenak, membuat ketakutan semakin menyelimuti wanita yang dibencinya, ia kembali meneruskan ucapannya. “kau kesakitan, bukan? Melihat putrimu yang kehilangan harta yang dijaganya. Aku berbaik hati untuk melenyapkan rasa sakitmu sekaligus… eksistensimu dari dunia ini.”

Menegakkan tubuhnya kembali. Pisau yang digenggamnya ditempelkan di leher putih Tiffany. Orbs cokelatnya hanya menampilkan sorot beku, memaku tatapannya pada Sooyoung. Dengan perlahan digerakkannya pisau itu untuk melaksanakan tugasnya. Merobek kulit leher Tatiana, mengiris dalam hingga darah segar berlomba-lomba keluar.

Ia bisa mendengar suara kesakitan Tiffany bercampur terkejut seiring dengan tangannya yang merobek lehernya. Membuat setiap irisan yang dibuatnya mengirimkan rasa sakit yang sangat bagi Ibu dari Sooyoung yang sekarang mulai mendapat kesadarannya.

Matanya membeliak lebar dan selanjutnya ruangan itu di isi oleh teriakan histeris Sooyoung. Menatap Ibunya yang balas menatapnya, tapi dengan tatapan penuh rasa sakit dan terkejut. Menyaksikan Ibunya meninggalkannya sendiri, matanya terpaku pada orbs cokelat Yoona. Suara Yoona berdengung di kepalanya.

“Aku akan membuatmu tersiksa bahkan menyesal karena terlahir ke dunia.”

Yoona berhasil.

Melepas tubuh yang sudah tidak bernyawa di depannya. Yoona membersihkan pisaunya pada baju yang dikenakan Tiffany. Membuka dua sarung tangan yang dipakainya. Memasukkannya ke dalam saku celananya bersamaan dengan pisaunya.

Melangkah ke arah pria besar yang menjadi ketua kelompok yang dibayarnya. Matanya dilarikan pada Arsen yang sekarang melangkah keluar dari sudut ruangan. Di tangan kirinya tas kerja Yoona dipegangnya.

Membuka tas tersebut dan mencari apa yang dibutuhkan Yoona. Sebuah amplop cokelat diambil Yoona dari tangan Arsen dan memberikannya pada pria di depannya. “Bayaranmu. Letakkan dia dan Ibunya di tempat yang dapat ditemukan. Sebelumnya pastikan kalian tidak terlihat.”

“Jangan lupa buat seakan keduanya dirampok juga diperkosa.”

Pria itu mengangguk dan mengambil bayarannya. “Kuharap kita tidak bertemu lagi.”

“Harapanmu bersambut.” Senyum dingin diberikannya. Melewati pria itu dan melangkah keluar ruangan. Meninggalkan gedung serta Sooyoung di dalamnya.

Sooyoung dibuang di gang samping sebuah bar yang tidak terlalu memiliki pengunjung bersama dengan tubuh Ibunya. Seorang wanita muda yang keluar dari pintu samping itu berteriak histeris. Setelahnya keduanya dilarikan ke rumah sakit terdekat.

 

 

Advertisements