HATRED : Game Over

Title : Hatred (Game Over)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Arsen menghentikan mobilnya di salah satu taman yang terlihat sepi. Matahari sejak beberapa menit lalu telah kembali ke peraduannya. Menoleh, di sampingnya Yoona duduk dengan wajah yang selalu menampilkan ekspresi datar. Namun, ada yang berbeda. Tubuh wanita itu gemetar yang tampaknya berusaha disembunyikan oleh Yoona.

Berdecak, ia memilih menghiraukan Yoona dan mengambil ponselnya. “Apa aku masih memiliki jadwal kerjaan, Dimitri?”

“…”

“Benarkah?” Melirik Yoona yang masih belum kembali di dunia nyata, lalu melanjutkan perkataannya, “bagus. Aku bersama orang yang tepat untuk menemaniku.”

“…”

“Ya.”

“…”

Arsen memutus sambungan sebelumnya ia menyuruh Dimitri datang ke lokasi mereka sekarang, selain membawakannya setelan yang akan dipakainya juga gaun untuk Yoona.

Memberi atensi lebih pada wanita yang belum lama ini membuatnya terkejut dengan apa yang dilakukannya. Arsen belum pernah melihat kebencian pekat dalam mata seseorang seperti yang dilihatnya pada orbs cokelat Yoona di gudang tadi.

Detik mereka melangkah masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa orang, detik itu pula wajah wanita itu lebih dingin dibanding yang selalu ia tampilkan. Ia tidak terkejut melihat dua wanita yang duduk terikat di masing-masing kursi mereka.

Ia tahu, cepat atau lambat Yoona akan menyelesaikan apa yang diinginkannya pada dua orang itu. Hal yang membuatnya terkejut adalah fakta bahwa Ibu Yoona bunuh diri karena Ayahnya selingkuh dengan wanita paruh baya yang menjadi Ibu tirinya.

Choi Siwon sepertinya sangat licik. Menyembunyikan kenyataan Istri pertamanya bunuh diri. Yang diketahui warga Washington adalah Ibu Yoona meninggal karena sebuah penyakit. Pria menjijikkan. Pantas saja Yoona sangat membencinya.

Hal selanjutnya yang membuatnya dibuat tidak percaya saat Yoona menyuruh orang suruhannya memerkosa saudara tirinya. Well, jika sebelumnya Arsen masih memiliki pikiran bahwa Yoona masih perasaan di dalam dirinya. Dia salah. Dengan acuh wanita itu menonton dan memaksa Ibu tirinya melihat saat anaknya dijamah tiga pria.

Disuguhkan dengan adegan seks secara langsung dengan jeritan dari sang aktris membuatnya menyeringai sinis. Hal yang paling tidak disangkanya adalah ketika Yoona dengan wajah datarnya mengiris leher Tiffany.

Saat itu juga Arsen mengeluarkan ringisan diikuti dengan pria besar yang diduganya sebagai bos dari orang suruhan Yoona. Sedang wanita gila yang berada cukup jauh di depannya melanjutkan kegiatannya merobek leher wanita paruh baya itu. Arsen semakin menyudutkan dirinya dan sebisa mungkin menyatu dalam bayang-bayang gelap.  Dengan ponsel yang diusahakannya tetap merekam apa yang tengah terjadi.

Suara Yoona yang mengingatkannya untuk tidak membuat dirinya terlihat adalah alasan besar untuk melakukan hal itu. Tahu dengan pasti, Yoona akan melaksanakan perkataannya melukai wajahnya jika ia tertangkap dalam pandangan wanita itu. Jeritan pilu saudaranya tidak membuat Yoona tersentuh. Ia tertawa sinis dalam hati memikirkan Yoona.

Yoona sudah terlalu tenggelam dalam kebenciannya. Ia tidak ragu lagi bahwa wanita itu tidak memiliki empati. Mengingat alasan Yoona seperti sekarang rasanya Arsen tidak bisa untuk menghujatnya. Yoona tidak bisa disalahkan jika berubah seperti ini.

Kelakuannya Ayahnya benar-benar menjijikkan. Satu alasan lagi yang membuatnya tidak menyukai pria itu. Arsen mencemooh perbuatan bodoh Sooyoung ketika menabrak Yoona. Di waktu ia memikirkan Yoona yang kemungkinan besar mengubah rencana balas dendamnya pada keduanya. Ia tidak pernah berpikir jika salah satunya akan kehilangan nyawa.

Tatapan kelam Yoona saat ia mengatakan mengubah rencananya untuk membalas mereka yang dibencinya. Arsen tidak akan melupakannya.

Arsen tidak menyadari tubuh gemetar Yoona sampai ketika ia menghentikan mobilnya di tempat mereka sekarang. Tanya kembali menyusup masuk dalam benaknya. Merasa sudah saatnya menyadarkan Yoona, sebelum Dimitri datang, ia yakin Yoona tidak menyukai jika terlihat lemah di hadapan orang lain.

“Tubuhmu gemetar hebat. Aku yakin orang yang melihat mobilku akan menyangka kita sedang berhubungan seks, jika gemetarmu semakin kuat.” Perkataan sinis Arsen berhasil membuat Yoona tersentak.

Dia tidak sadar tubuhnya gemetar sejak tadi, pikir Arsen.

“Biar saja.” Suara Yoona pecah. Wanita itu sadar suaranya menunjukkan keadaan dirinya yang masih lemah, setelahnya berdecak jengkel.

“Jengkel menyadari kau terlihat menyedihkan, huh.”

“Tutup mulutmu.”

“Apa yang kau takutkan, Yoona? Kenangan seperti apa yang membuat seorang wanita yang tanpa rasa takut merobek leher seseorang beberapa saat lalu sekarang gemetar seperti kucing kecil menyedihkan?”

“Kucing kecil menyedihkan, brengsek.”

Arsen tersenyum miring menyadari tubuh Yoona berhenti gemetar. “Apa kau memiliki trauma dengan darah? Lalu kenapa memaksa memutus leher wanita paruh baya itu?”

Ia melihat Yoona melempar pandangan tajam ke arahnya. Yoona masih tidak menyukai seseorang mengetahui kelemahannya. Ia bisa melihat orbs cokelat Yoona tidak sedingin sebelumnya.

Memalingkan wajahnya sebelum menjawab pertanyaan Arsen. Sepertinya Yoona sadar percuma mengelak. Pria di sampingnya sudah mengetahui semuanya. “Darah. Aku masih tidak bisa melihat darah. Bahkan darah yang berasal dari luka kecil, aku berusaha keras menyembunyikan reaksiku terhadapnya. Baru ketika aku sendiri, aku akan mengeluarkan ketakutanku. Aku benci terlihat lemah, semua itu mengingatkanku terhadap Ibuku yang dengan bodohnya mencintai suami yang selingkuh darinya dan memilih mengakhiri hidupnya. Alasan aku mengiris lehernya? Aku ingin membuatnya merasakan rasa sakit yang dirasakan Ibuku saat mengiris pergelangan tangannya. Membuatnya tersiksa disetiap irisan yang aku buat, ” ucap Yoona dingin.

Menatap Yoona dengan kengerian yang kentara. Wanita ini jelas punya gangguan mental, pikir Arsen sebelum membuka mulutnya. “Mungkin Ibumu sangat putus asa. Berpikir dengan menghilang dari dunia adalah cara terbaik untuk mengakhiri penderitaannya.”

“Aku juga berpikir seperti itu, karena itulah aku membencinya. Dia dengan egoisnya meninggalkanku menanggung luka atas perlakuan pria tua menjijikkan itu.  Hati manusia yang dipenuhi cinta perlahan akan rapuh dan membuat mereka menjadi bodoh, bukan?”

“Kau wanita tersinis yang pernah aku temui, Yoona.” Arsen menyeringai mendengar apa yang keluar dari bibir Yoona. Pandangan mereka berdua tentang cinta sama. Seringainya melebar memikirkan hal itulah yang membuat dirinya tidak menolak kehadiran Yoona di dunianya.

“Lalu, kenapa kau ikut membenci, Minho?”

“Pengecut itu? Dia terlalu sibuk menyembuhkan lukanya dan melupakanku. Juga dia terlalu baik untuk membenci pria yang berkontribusi dalam hadirnya kami berdua di dunia ini. Minho seperti Ibuku dan aku seperti Choi Siwon.”

“Aku memiliki ego yang tinggi dengan sifat keras. Aku terluka dengan kenyataan yang menimpaku.  Aku tidak ingin menjadi rapuh karena jika seperti itu aku tidak akan memiliki alasan untuk hidup…”

“Karena itu kau hidup dengan kebenciannmu, jika kau rapuh lebih baik kau lenyap sekalian dari bumi. Seperti itu, bukan?” sambar Arsen dan dibalas delikkan oleh Yoona.

Ketukan di kaca mobil membuat keduanya mengalihkan fokus mereka pada seseorang yang berada di luar. Arsen menurunkan kaca mobil dan mendapati Dimitri menatap canggung padanya dan Yoona.

Keluar dari mobil dan berdiri berhadapan dengan Dimitri. “Kau membawanya?”

“Ya, sir.” Dimitri menyerahkan dua paperbag dan sebuah folder file.

Alis Arsen melengkung naik melihatnya. Menyadari tatapan Arsen tertuju pada file yang dibawanya. Dimitri langsung menjelaskan maksudnya. “Ini file yang Anda butuhkan saat pertemuan nanti.”

Tersenyum puas. Arsen selalu menyukai kecakapan Dimitri menangani semua urusannya.  Mengambil  barang yang diberikan asistennya dan mengucapkan terima kasih. Dimitri lalu meninggalkan keduanya.

Masuk ke dalam mobil, ia langsung ditodong dengan pertanyaan oleh Yoona. “Bungkusan apa itu?”

“Ganti pakaianmu dengan gaun yang ada dalam paperbag ini.” Melihat pandangan tidak setuju Yoona, ia kembali meneruskan perkataannya. “Tenang saja, gaun itu berwarna hitam.”

“Bukan itu yang aku ingin tahu, Arsen. Tapi, tujuan dari gaun yang kau berikan padaku, ck.”

“Untuk menemaniku bertemu salah satu investor yang kau rekomendasikan padaku beberapa hari yang lalu, tentu saja. Kau seorang PR, kau jelas lebih mengetahui apa yang lebih bisa menarik minatnya untuk berinvestasi di perusahaanku. Oh,,, bukan karena aku tidak mampu. Aku hanya ingin melihat kemampuanmu.”

“Kau pasti sedang bercanda. Selama ini kau selalu melakukannya tanpaku.”

“Memang. Tapi, saat ini aku memiliki alasan kuat untuk mengajakmu.” Melihat tanya di wajah Yoona membuat Arsen mendengus.

“Kau terlalu bersemangat dengan niatmu untuk mengeksekusi rencanamu dan melupakan hal penting lainnya. Alibi. Kau tidak menyiapkan alibi untuk keberadaanmu. Kau kira Ayahmu tidak akan menyewa seseorang untuk mencari tahu tentang hilangnya kedua orang itu? Kau bisa saja dicurigai karena sangat jelas kau tidak menyukai orang-orang itu.”

Yoona diam dalam posisinya. Ia merasa ditampar dengan perkataan Arsen. Ya, ia melupakan hal itu. Semua itu berhasil membuatnya mengutuk dirinya sendiri.

“Sebagai orang yang perfeksionis kau cukup ceroboh,” ejek Arsen dan hanya dibalas dengusan oleh Yoona.

“Kemarikan bungkusan itu.” Mengambil paperbag yang berisi gaunnya. Yoona lalu keluar dari mobil dan membuka pintu bagian belakang.

Setelah berada di dalam ia menatap Arsen lewat kaca depan. “Keluar dari mobil sekarang. Aku tidak sudi kau lihat.”

Arsen dibuat ternganga karenanya. “Kau pikir aku akan bernafsu melihat tubuh kurus keringmu, heh? Astaga,  jangan buat aku tertawa.”

Yoona tidak menanggapi hinaan Arsen, ia memilih membenturkan kepala Arsen di jendela sampingnya beberapa kali sebelum pria itu melepas tangannya dengan paksa. Mengutuknya dengan berbagai macam nama penghuni kebun binatang sebelum keluar dan membanting pintu mobil dengan keras.

Ditinggal sendiri tangannya kembali gemetar yang ia tahu sebentar lagi seluruh tubuhnya akan ikut gemetar. Menarik napas dalam dan dengan paksa mengubur ketakutannya dalam sudut jiwanya. Ia masih harus bertahan beberapa jam lagi.

Melihat Yoona keluar, Arsen kembali masuk dalam mobil untuk mengganti pakaiannya. Ia mulai menjalankan mobilnya di waktu Yoona mengambil tasnya dan merogoh ke dalamnya. Dahinya mengeryit heran melihat tas kecil berisi peralatan make up.

Menyadari ekspresi yang dibuat Arsen, Yoona bertanya dengan nada datar. “Apa?”

“Kau memiliki peralatan itu juga?”

“Tentu saja.”

“Aku mengira kau tidak memilikinya. Ahahaha….”

Arsen masih tertawa dengan keras menghiraukan Yoona yang tidak menanggapinya. Mereka tiba di salah satu restoran berbintang lima yang dipilih kliennya sebagai tempat pertemuan. Berjalan masuk, keduanya digiring di salah satu ruang VIP.

“Kau beruntung Mr. Mcconnell memiliki beberapa urusan yang membuatnya menjadwalkan pertemuan kita malam ini,” bisik Arsen pada Yoona di sampingnya. Pintu ruangan di depan mereka dibukakan oleh pelayan yang mengantar mereka. Seorang pria paruh baya berada di dalamnya ditemani seorang wanita yang Yoona duga sebagai sekretarisnya.

Tubuh keduanya menghilang di balik pintu dan bersamaan dengan itu menyembunyikan perbuatan sadis yang dilakukan oleh wanita berwajah datar yang kini mengulas senyum ramah di bibirnya. Topeng kembali dipasang dan ia mulai memainkan sandiwara dengan panggung yang sudah disiapkan pria di sampingnya.

Minho bisa melihat Ayahnya yang sejak beberapa jam lalu mondar-mandir di depannya. Mereka berada di ruang tengah dengan pikiran tertuju pada dua wanita yang belum kembali hingga malam menggantikan siang.

Awalnya Ayahnya tidak sepanik ini, mengetahui Tiffany dan Sooyoung menghabiskan waktu belanja di luar. Baru ketika matahari tenggelam dan sosok keduanya belum kembali, Ayahnya mulai khawatir. Beberapa kali mereka menghubungi ponsel kedua wanita itu. Nihil. Mereka hanya mendengar suara operator menjelaskan ponsel Tiffany dan Sooyoung tidak bisa dihubungi.

Kesabaran Ayahnya habis. Ia berjalan ke meja kecil samping sofa yang diduduki Minho, nampaknya Ayahnya memutuskan untuk  menyuruh orang kepercayaannya mencari keberadaan Tiffany dan Sooyoung.

Ketukan di pintu depan menghentikan gerak jari Siwon yang baru saja ingin menelpon. Keduanya saling menatap sebelum berjalan ke arah sumber suara. Dibukanya daun pintu depan dan ia melihat dua sosok pria berseragam.

Salah satunya ia kenali sebagai seorang polisi yang ditemuinya saat ia dipanggil ke kantor polisi. Perasaaan tidak enak perlahan merayap masuk dalam dirinya.

“Selamat malam, Mr. Choi,” ucap salah seorang dari mereka berdua.

Detik polisi itu menjelaskan alasan kedatangan keduanya. Siwon merasa ia hampir kehilangan kesadarannya. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan hampir mencium lantai di bawahnya jika saja Minho tidak menahannya.

Keempatnya bergegas ke alamat yang dikatakan polisi itu. Siwon masih berharap apa yang dikatakan polisi itu bahwa Istrinya dan Putrinya sekarang berada di sebuah rumah sakit. Istrinya sudah meninggalkannya dan malangnya Putrinya sekarang berada dalam kondisi tidak sadarkan diri. Keduanya kemungkinan besar menjadi korban perampokan dan pemerkosaan.

Harapan rapuh Siwon lenyap saat melihat tubuh dingin Tiffany dengan leher robek  karena irisan benda tajam. Wajah yang selalu dilihatnya selalu dipenuhi binar cerah sekarang pucat tanpa adanya darah.

Ia jatuh terduduk dan air matanya meluncur turun. Ia terisak, menangisi hatinya yang terluka. Pukulan bagi lukanya bertambah ketika melihat Sooyoung dalam salah satu ruang rawat yang ia minta untuk dipindahkan di ruang rawat VIP. Bibirnya sobek di bagian sudutnya. Pipinya berwana keunguan yang ia tahu hasil dari tamparan yang dilakukan orang yang memerkosa Putrinya.

Kedua lengannya memar bekas cengkeraman yang menurut dokter, Putrinya diperkosa lebih dari satu orang. Kesedihan berganti amarah. Ia berbalik meninggalkan ruangan Putrinya. Ia melihat Minho bersama dua polisi tadi dan seorang wanita muda.

Siwon diberitahu bahwa wanita itulah yang menemukan Tiffany dan Sooyoung. Ia tidak bisa menghubungi keluarga korban karena tidak ada barang satu pun diantara keduanya. Wanita itu menghubungi polisi dan untungnya salah satunya adalah polisi yang menangani kasus penabrakan yang dilakukan Sooyoung.

Siwon meminta polisi itu menemukan pelaku yang membuat Tiffany dan Sooyoung seperti ini. Tidak puas ia menelpon orang suruhannya untuk mencari tahu semuanya. Tubuhnya kaku dan jiwanya dipenuhi kesedihan dan kemarahan.

Minho tidak berhenti cemas. Melihat apa yang terjadi pada Tiffany dan Sooyoung membuat pikirannya tertuju pada wanita berwajah datar itu. Suara wanita itu terus terdengar di kepalanya. Menambah kecemasannya. Entah mengapa ia tidak sepenuhnya percaya dengan dugaan polisi bahwa keduanya adalah korban salah satu geng di Washington.

“Hmm… Minho,  apa yang dilakukan Sooyoung bukanlah kegilaan. Aku. Aku yang akan menunjukkan seperti apa yang disebut sebagai kegilaan.”

Mengingat kembali tatapan yang dilihatnya di orbs Yoona membuatnya takut. Takut jika Yoona adalah orang berada di balik kejadian yang menimpa Tiffany dan Sooyoung. Menggeleng, berusaha memercayai bahwa Adiknya tidak akan berubah menjadi seorang pembunuh sadis.

Ia berusaha menghubungi ponsel Arsen dan Yoona. Kedunya kompak tidak menjawab panggilannya. Tidak menyerah, Minho mencari kontak asisten Arsen. Dering ketiga panggilannya diangkat.

Ia beralasan ke kamar mandi untuk menjauh dari orang di sekitarnya.

“…”

“Saya Choi Minho.  Apa Arsen Carter bersama Anda? Saya ada perlu dengannya dan sudah menghubunginya, tapi ponselnya tidak dapat dihubungi.”

“…”

“Makan malam?”

“…”

“Calon investor? Boleh saya tahu dia bersama dengan siapa?”

“…”

“Yoona? Kau yakin? Sejak kapan pertemuan mereka?”

“…”

“Begitu. Baiklah, saya akan menghubunginya nanti. “

Minho memutus sambungan dan menghembuskan nafas lega, tanpa sadar ia menahan napasnya sejak tadi. Kelegaan menyerbu masuk  ke dalam tubuhnya. Meluruhkan ketegangan yang dialaminya. Setidaknya ia tahu. Adiknya masih belum melangkah sepenuhnya ke dalam pelukan sang kegelapan.  Harapan yang salah.

Beberapa jam berlalu. Mereka rasanya baru menghilangkan sedikit ketegangan di tubuh mereka saat ponsel Minho kembali berbunyi,  nomor ponsel Mr. Jordan, asisten Ayahnya yang sekarang menjadi asistennya semenjak ia mengantikan Ayahnya, muncul di layar ponselnya.

Kulit di sekitar area dahi Minho berkerut. Tanpa prasangka apapun ia mengangkat telepon. Detik selanjutnya ponselnya tergelincir jatuh dari tangannya. Untungnya tidak membuat ponsel itu hancur.

Melihat reaksi Minho, Siwon kembali disergap perasaan tidak enak. Dugaannya benar.

“Ayah… keluarga Oh menarik sahamnya dari perusahaan kita,” ucap Minho dengan pandangan nanar.

Siwon tahu. Itu artinya perusahaan mereka dalam keadaan bahaya. Saham yang dimiliki sahabatnya sangat besar. Karena Taejon yang menjadi investor pertama saat ia membangun perusahaannya. Taejon yang mendanai berdirinya perusahannya. Jika sahabatnya menarik sahamnya perusahaannya akan goyah.

Sentakan rasa sakit menyelubungi jantungnya. Pukulan bertubi-tubi dari masalah yang mendatanginya hanya dalam satu malam nampaknya membuat tubuhnya tidak bisa menerima lebih. Hal terakhir yang dilihatnya adalah Minho yang berteriak panik padanya sebelum kegelapan menelannya.

Sehun mengemudikan mobilnya ke apartemen seorang wanita yang menjadi tujuannya. Dihiraukannya ponselnya yang sejak  beberapa jam lalu tidak berhenti berbunyi. Tanpa melihatnya ia tahu dengan pasti siapa yang meneleponnya.

Ia telah melakukan sesuatu yang pasti membuat keluarganya kecewa. Satu-satunya tindakan yang diambilnya di luar dari keinginan kedua orangtuanya. Ia mematikan perasaannya untuk menghindarkan dirinya dari perasaan bersalah.

Kalau apa yang dilakukannya bisa menyelamatkan dan mengeluarkan wanita yang menjadi alasan terbesarnya melakukan hal itu. Maka ia tidak akan ragu. Ia tidak ingin wanita itu semakin melangkah ke dalam kegelapan.

Ia telah menerima e-mail yang berisi bukti yang dijanjikan Arsen. Menelitinya dan cukup tercengang dengan apa yang dibacanya.

Memarkir mobilnya di basement apartemen Yoona. Melangkah masuk ke dalam lift, ia mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai lift dengan tidak sabar. Ia butuh melihat wanita itu secepatnya. Untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dalam mengambil keputusan.

Melangkah lebar di lorong apartemen Yoona. Mengetuk pintu di depannya beberapa kali. Kenyataan memberitahunya, Yoona sedang tidak berada di apartemennya.

Arsen dan Yoona dalam perjalanan pulang saat ponselnya berdering. Dering  yang menandakan sebuah pesan masuk. Melepas salah satu tangannya dari setir dan mengambil ponselnya.

 

Aku menyetujui permintaanmu.

 

Sehun.

 

Arsen terkekeh yang kemudian berubah menjadi tawa menggelegar. Ia menoleh ke samping untuk menatap Yoona.  Wanita itu melemparkan pandangan yang seolah berkata apa-penyakit-gilamu-kambuh. Ia kembali tertawa dengan perasaan tidak percaya.

Sebelumnya Dimitri sudah mengiriminya e-mail tentang apa yang diselidikinya, saat mereka masih berada di restoran tadi. Menyuruh asistennya itu memforwardnya ke Sehun. Arsen mengagumi seberapa besar pengaruh Yoona pada sahabatnya.

Sehun yang dikenalnya adalah orang yang selalu menggunakan logikanya, namun jika berhubungan dengan keluargnya ia tetap memilih keluarganya, meski bertentangan dengan logikanya. Sehun tidak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keluarganya.

Choi Siwon jelas sahabat Ayahnya, dan sekarang ini sahabatnya itu mengejutkannya dengan memilih Yoona dibanding Ayahnya.

“Kau wanita iblis, menggoda sahabatku hingga berani melawan keluarganya,” ujar Arsen pada Yoona.

Pemahaman muncul di pikiran Yoona. Tersenyum sinis dan melihat jam tangannya. “Sepertinya Choi Siwon sudah mendapatkan bagiannya.”

“Hanya seperti itu? Bukankah kau sangat lunak pada sumber terbesar kebencianmu?”

Senyum misterius terlihat di wajah Yoona. “Aku masih memiliki kejutan untuknya, Arsen. Dengan rekaman yang kau ambil di gudang  juga pada saat Sehun datang ke kantormu.”

“Bagaimana bisa hal itu akan membuat Ayahmu merasakan rasa sakit yang sangat?”

“Kau akan lihat nanti. Sekarang hubungi Dimitri agar mengirim file itu ke e-mailku.”

“Kau mau menggunakannya lagi?”

“Hmm….” Tahu dengan pasti Yoona tidak akan menjawab pertanyaannya lagi. Ia menghubungi Dimitri,  memberitahunya untuk memforwardnya pada Yoona.

 

Yoona melangkah ke lorong apartemennya. Matanya menangkap sosok yang menjadi objek pembicaraannya dengan Arsen di mobil. Mendengar bunyi ketukan heelsnya, Sehun memaku tatapannya pada orang yang ditunggunya sejak sejam yang lalu.

Keduanya saling berhadapan, lantas lengan Sehun membungkus tubuh Yoona dan membawanya dalam pelukan hangat pria itu. Yoona merasakannya lagi, perasaan familiar serta aman dari Sehun. Ia kini mengetahuinya, pria ini adalah pria yang telah dikenalnya sejak kecil.

Lelah dengan semuanya, Yoona menerima pelukan itu dengan tangan terbuka. Ia sadar. Hal yang dibutuhkannya adalah sebuah pelukan. Yoona juga sadar dengan perasaan yang dirasanya dari pria itu. Sehun membutuhkan kekuatan dan kepastian.

Yoona melihat dirinya yang berumur 13th berdiri di ambang pintu sebuah kamar. Ia mengikuti arah tatapan dirinya dan di sana. Tepat di samping tempat tidur, Ibunya duduk di lantai dengan tubuhnya yang disandarkan di pinggir ranjang.

Ia bisa mendengar Ibunya yang menatapnya dengan senyum rapuh dan memanggil namanya. “Yoona. Putri Ibu yang manis.”

Tubuhnya tersentak, ia sudah lupa dengan suara Ibunya. Ketika mendengarnya membuat ia merasakan perasaan rindu memenuhi dirinya. Ia menoleh dan menatap dirinya berdiri terpaku di tempatnya. Menghiraukan perkataan Ibunya, Yoona kecil mengalihkan matanya ke arah tangan Ibunya yang terus mengeluarkan darah.

Ibunya sadar dengan tatapannya. Ia masih tetap tersenyum. “Tidak apa. Ibu baik-baik saja. Dengan ini Ibu tidak akan merasakan sakit lagi. Yoona tidak ingin Ibu sakit, bukan?”

Yoona kecil refleks menggelengkan kepalanya dengan kuat. Mengundang senyum lebar Ibunya. Namun, semakin lama darah mulai surut dari wajah Ibunya. Ia meringis, dan memancing Yoona kecil melangkah masuk , berniat menghampiri Ibunya.

“Jangan mendekat, Yoona. Ibu tidak ingin kau ikut berdarah. Ingat ini Yoona, jangan pernah membenci Ayahmu, hmm. Dia tidak jahat, Ayahmu hanya sedang terperangkap dalam cinta masa lalunya.”

“Ibu.” Suara Yoona kecil bergetar, ia menghiraukan larangan Ibunya. Mendengar Ibunya menyebut Ayahnya, ia tahu ada yang salah.

“Ibu menyayangimu dan Minho. Jadi anak yang kuat dan jangan lupa untuk tidak membenci Ayahmu. Ahh, Ibu mulai mengantuk.” Mata cokelat Ibunya perlahan menutup.

“Jangan…” Mendengar suara Yoona kecil, Ibunya berusaha keras membuka matanya hanya untuk melihat Yoona tinggal selangkah lagi ke arahnya.

“Ibu.. Jangan pergi…,” ucap Yoona. Selanjutnya ia melihat mata Ibunya menutup sepenuhnya.

Yoona kecil berlari cepat menghampiri Ibunya. Memeluk tubuh Ibunya dan mengguncangnya. “Ibu… Ibu buka matamu, Ibu jangan seperti ini.”

Tidak mendapat jawaban dari Ibunya, tangis Yoona kecil pecah. Beberapa saat setelahnya ia bisa melihat pengurus rumahnya datang ke kamar Ibunya. Mereka terkesiap, kemudian setelah mendapat kesadarannya. Mereka berpencar, beberapa orang menghampiri Yoona kecil dan Ibunya.

Yang lain membangunkan Minho dan juga menghubungi rumah sakit, lalu kepala keluarga Choi yang ponselnya tidak dalam keadaan aktif. Pengurus rumah yang berada di kamar Ibunya berusaha melepas tubuh Ibunya dari pelukan Yoona kecil.

Seperti patung, Yoona kecil memeluk erat tubuh Ibunya, menolak  melepasnya. Matanya kosong.  Mulutnya terus mengulang ucapan yang sama. Menyuruh Ibunya bangun. Dihiraukannya teriakan panik Minho yang sekarang berada di depannya.

Ia memaksa melepas pelukan Yoona kecil dan menyuruh pelayannya mengangkat tubuh Ibunya untuk dibawa keluar menunggu ambulans tiba. Yoona yang melihat semua itu menggeleng tidak percaya. Yang tersisa dari ingatannya adalah ia yang melihat Ibunya terduduk di lantai dengan senyum getir dan pergelangan tangan yang terus mengeluarkan darah.

Ia sadar saat suara ambulans terdengar. Memacu langkahnya ke luar rumah dan ikut masuk ke dalam ambulans. Dilihatnya Minho yang memeluk Yoona kecil dan salah seorang pengurus rumah tangganya tidak hentinya menghubungi seseorang. Ia bisa menebaknya. Orang itu berusaha menghubungi Ayahnya yang saat ini ia yakin tengah bersama Tiffany.

Tubuh Ibunya diletakkan di atas brankar rumah sakit dan di dorong masuk ke dalam sebuah ruangan. Tidak menunggu lama, seorang dokter keluar dengan wajah iba menatap ke arah mereka.

Mengatakan bahwa Ibunya tidak bisa diselamatkan karena darah yang keluar sudah terlalu banyak. Tampaknya mereka  terlambat menemukan dan membawa Ibunya. Yoona sadar, ia terlambat menemukan Ibunya. Ibunya sudah cukup lama mengiris pergelangan tangannya sebelum ia datang ke kamarnya.

Yang dilihatnya setelahnya adalah Minho yang  jatuh terduduk di lantai. Tadinya  ia dalam posisi berdiri menggendong Yoona.  Tangisnya terdengar namun kalah dengan teriakan histeris Yoona kecil. Ia meloncat turun dari gendongan kakaknya dan berlari masuk dalam ruangan di depannya. Melihat Ibunya ditutupi kain, ia histeris. Mendorong perawat yang berada di sampingnya dan memeluk Ibunya. Menyuruh Ibunya agar bangun dan berjanji tidak akan nakal lagi. Tapi, Ibunya tidak meresponnya.

Yoona kecil pingsan dan baru membuka matanya dua hari kemudian. Awalnya ia berusaha mengingat di mana ia berada sebelum ingatan Ibunya yang meninggalkannya membuatnya menangis histeris. Pintu dibuka dengan kasar dan ia menoleh. Di sana tidak jauh darinya dilihatnya Ayahnya dalam keadaan berantakan.

Perkataan Ibunya kembali terdengar dan bukannya menuruti permintaan Ibunya. Ia menatap benci pada Ayahnya dan setelah itu teriakan penuh kebencian keluar darinya. Mengatakan Ayahnya adalah pembunuh Ibunya dan ia membencinya.

Ayahnya maju dan memeluknya namun ia berontak. Kuku jarinya menggores pipi Ayahnya dan keributan itu mengundang perawat masuk. Ia berusaha ditenangkan dan Yoona kecil baru bisa tenang saat disuntikkan cairan yang membuatnya terlelap.

Ia mengikuti Ayahnya yang berbicara dengan seorang dokter. Ia mendengarnya. Dokter itu mengatakan ia mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan agar ia tidak mendapat tekanan lebih berat.

Nyatanya Yoona sekarang tahu, traumanya memaksa otaknya untuk melupakan apa yang telah dialaminya. Melupakan seluruh masa lalunya karena dianggapnya terlalu menyakitkan untuknya. Sayangnya apa yang dilihatnya pada Ibunya meninggalkan bekas diingatannya dan melekat kuat. Membuatnya hidup dengan kenangan yang selalu menghantui tidurnya selama sembilan tahun.

Yoona terbangun dengan jeritan di waktu bersamaan pintu kamarnya terbuka dan Sehun muncul dalam kamarnya.

Sehun tidur di sofa yang menjadi tempatnya setiap menginap di apartemen Yoona. Tidurnya terusik dengan suara jeritan dari dalam kamar Yoona. Kelopak matanya terbuka, tubuhnya otomatis bangkit dari rebahannya dan berlari ke arah pintu kamar Yoona.

Dibukanya pintu dengan kasar dan melihat Yoona yang tengah menatap ke arahnya dengan pandangan ketakutan. Bergegas ke arah Yoona dan membawanya dalam pelukannya. Tubuh Yoona gemetar dan bajunya basah oleh keringat.

“Ssssttt, tenanglah. Kau tidak bermimpi lagi. Aku akan menjagamu.” Dielusnya punggung Yoona dengan lembut. Kedua tangan Yoona mencengkeram kain bajunya dengan erat.  Dirasanya tubuh Yoona yang tegang perlahan lemas.

Dilihatnya Yoona kembali tertidur. Ia membaringkan tubuh Yoona dan beranjak bangun. Berniat kembali ke sofa sebelum jemari Yoona menahan lengannya. Ia menatap Yoona, mengira wanita  itu kembali terbangun. Namun, mata Yoona masih tertutup dan deru napasnya teratur.

Ia tersenyum sedih, bahkan dalam tidurnya Yoona masih ketakutan. Ia menggeser Yoona dan berbaring di samping Yoona dibawanya Yoona dalam pelukan lengan kokohnya, seakan menghalau mimpi buruk menghampiri wanita itu.

Pukul 03:00 am

 

Yoona bangun dan menemukan dirinya berada dalam pelukan Sehun. Berusaha mengingat alasan yang membuat mereka tidur berpelukan dalam kamarnya. Ketika berhasil mengingat ia hanya menghela napas kasar.

Melepas lengan Sehun, dan perlahan bangkit dari ranjang. Berjalan menuju ruang kerjanya. Diperiksanya e-mail masuk dan menemukan apa yang dicarinya. Meraih ponsel yang dibawanya dari kamarnya.

Seseorang yang dihubunginya baru mengangkat telepon dipercobaan kelima, membuat Yoona gusar.

“…”

“Kau harus melakukan apa yang kuminta. Bangun dan buka e-mailmu.”

“…”

“Aku tahu ini jam berapa, Devon. Tapi, aku butuh kau sekarang. Utang budimu harus kau bayar sekarang.”

“…”

Yoona menunggu seperti yang diminta Devon padanya. Lima belas menit kemudian dia bisa mendengar Devon yang berusaha menanyakan keputusannya.

“Aku serius, Devon.”

“…”

“Aku tidak perduli. Kau tahu jika aku membenci orang itu. Jadi jangan membuatku mengulang perkataanku.”

“…”

“Bagus. Aku menunggunya. Selamat bekerja, kakak.” Seringai Yoona muncul bersamaan dengan ia yang menutup teleponnya. Besok pagi Washington akan heboh, dan tentunya pukulan yang menimbulkan rasa sakit akan bertambah pada orang itu.

Yoona tidak bisa lagi melanjutkan tidurnya, ia memilih menghabiskan waktu dini hari dengan duduk di balkon kamarnya. Perasaan lega yang ditunggunya tidak kunjung dirasanya. Yang ada ia tidak bisa merasakan perasaan apapun. Hampa.

Kegiatannya menatap bulan selalu membuatnya mengingat kembali alasan ia hidup. Janji yang dibuatnya saat berada di pemakaman kota sembilan tahun lalu.

Bulan ketiga ia lari dari rumah sakit yang menjadi tempatnya dirawat karena mentalnya yang belum stabil. Malam hari ia berjalan seorang diri menuju satu-satunya tempat yang ingin ia kunjungi.

Tepat di depan sebuah makam, ia menatap kosong nisan yang mengukir nama Ibunya. Yoona bahkan tidak sempat menghadiri pemakaman Ibunya karena ia yang terus histeris dan membuat Ayahnya dengan kejam memaksa dirinya tinggal di rumah sakit.

Bukannya mencari cara untuk menebus dosanya, Ayahnya memilih membuangnya dan bersenang-senang dengan Istri dan Putrinya yang lain. Minho yang juga terluka memilih menghabiskan waktu bersama temannya dibanding mengunjunginya dan menguatkannya.

Lama ia berdiri di depan makam Ibunya. Pandangan matanya kosong, dihiraukannya dinginnya angin malam, suara makhluk malam, dan tungkainya yang mulai mencapai batasnya. Alih-alih meninggalkan pemakaman. Yoona memilih duduk di samping makam.  Menghabiskan waktunya di tempat itu hingga fajar menjelang.

Di waktu kegelapan perlahan memudar, ia juga membuang dirinya yang dulu. Mengubah semua yang ada dalam dirinya. Orbs cokelatnya kini tidak lagi kosong namun sebagai gantinya diisi dengan tekad yang akan membalas apa yang terjadi padanya.

Yoona kembali ke rumahnya, bangunan yang dilihatnya sebagai neraka untuknya. Melangkah ke dalam rumah, ia mendengar gelak  tawa dua orang dewasa dan gadis seumuran dengannya.

Di sana, tepatnya di ruang tengah rumahnya. Ia melihat pria yang dulunya ia panggil Ayah tengah tertawa bersama seorang wanita seumuran Ibunya dan  seorang gadis yang ia yakini sebagai selingkuhan dan anaknya.

Merasa diperhatikan ketiganya menoleh. Ia bisa melihat Ayahnya yang terkejut dan seperti melihat iblis padanya. Menatap tajam pada Ayahnya lalu diikuti pada dua orang di sampingnya.

Ia sudah memutuskan, tiga orang itulah yang akan ia buat menyesal sudah melakukan hal ini padanya. Ia hanya harus bersabar. Sampai waktunya ia memiliki kekuatan untuk membalas dendam.

Ia mendengar Ayahnya menyebut namanya. Tubuhnya merasa jijik mengetahui dalam darahnya dialiri darah pria itu. Menghiraukannya, ia membawa dirinya menuju lantai atas. Dan setiap langkah yang diambilnya seperti ia menginjak bara api. Sakit.

Pagi hari ia berada di dapur. Menyiapkan makanan dan kopi untuk ia dan Sehun. Suara langkah kaki tidak membuatnya menghentikan aktivitasnya. Ia bisa merasakan tatapan Sehun di punggungnya.

Sekarang ia bisa merasakan panas yang berasal dari tubuh pria yang berdiri di belakangnya. Dada keras Sehun bertemu dengan punggungnya dan kepalanya diletakkan di pundaknya.

“Selamat pagi.”

“Pagi.”

Ia baru akan beranjak sebelum lengan Sehun melingkar di perutnya. Menahannya. “Sebentar lagi,” pintanya dengan suara serak.

“Aku masih harus mengangkat panci ini, Sehun. Masakanku bisa gosong.”

Bukannya melepasnya, pria itu memilih menggerakkan tubuh keduanya ke samping untuk dan menyuruhnya mengangkat masakannya. Yang membuat Yoona menghela napas kasar.

Sekarang mereka menghabiskan waktu di depan tv. Yoona langsung mencari siaran berita. Voila, apa yang diinginkannya terjadi. Devon benar-benar berusaha keras menyebarkan beritanya. Ia memuji kinerja pria itu.

Sehun yang menonton berita itu, mengalihkan fokusnya pada Yoona. Tersenyum miris. Wanita ini tidak tanggung-tanggung menghancurkan Ayahnya, pikirnya.

Minho yang semalam menjaga Ayahnya. Tampaknya tidak diizinkan untuk beristrahat. Apa yang dinontonnya pagi ini. Membuatnya hampir kehilangan tenaga.

Berita itu menyiarkan perusahaannya yang melakukan penggelapan pajak dan salah satu petinggi perusahaannya melakukan korupsi.

Ia masih berusaha memproses apa yang dinontonnya. Dering ponselnya menyadarkannya. Melihat nomor orang yang dibutuhkannya, ia langsung mengangkatnya.

“Paman, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa seperti ini? Siapa sumber beritanya?”

“Paman masih menyelidikinya, tapi informasi itu berasal dari sumber yang dipercaya kebenarannya. Penggelapan pajak itu, orang-orang itu melakukannya di belakang kita selama ini. Kita terlalu mempercayai mereka dan juga kasus korupsi yang dilakukan Mr. Fletcher itu dilakukannya beberapa bulan yang lalu.”

Minho terpaku. Mengetahui ia bisa ceroboh seperti ini. Sekarang apa lagi yang bisa ia lakukan.

“Minho?”

“Ya, Paman,”

“Paman tahu ini berat. Tapi, akan paman usahakan agar terkendali. Sekarang paman sedang menuju kantor. Orang-orang dari badan perpajakan akan datang untuk pemeriksaan.”

“Apa, Ayah akan ikut terseret?”

“Tenanglah, Ayahmu sama sekali tidak tahu apapun, orang-orang itu terlalu pintar mengelabui kita. Paman juga akan mengontak Mr. Taejon kembali. Jangan panik, yang harus kau lakukan adalah jaga Ayahmu dan saudaramu,  kau anak yang kuat, Minho.”

“Terima kasih, paman. Terima kasih.” Minho tersedu. Dengan semua yang terjadi ia beruntung masih ada yang berdiri di sampingnya.

Sooyoung terus histeris setiap melihat manusia dengan jenis kelamin pria selama seminggu ini. Membuat Minho bersedih dengan apa yang terjadi padanya. Sekarang ia berada di ruangan Sooyoung dirawat.

Paman dan Bibi Oh datang mengunjungi Ayahnya. Mereka baru bisa menjenguk karena banyaknya wartawan seminggu yang lalu di depan rumah sakit. Membuat Minho menempatkan penjaga di depan kamar Ayahnya.

Minho sudah menjalani pemeriksaan dari badan hukum dan ia terbukti tidak terlibat. Ayahnya sudah sadar pagi tadi, meski ia masih harus dipasangi alat bantu pernapasan.

“Maafkan Sehun, Siwon. Aku tidak tahu alasan ia berbuat seperti ini. Aku sudah mengurus masalah saham. Kau tidak perlu khawatir, yang harus kau pikirkan adalah segera sembuh,” ucap Taejon yang duduk di samping ranjang Siwon. Yojin, Istrinya berdiri di sampingnya dengan mata yang penuh rasa bersalah.

Siwon belum mampu berbicara, ia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda ia mengerti.

Sooyoung berada dalam pelukan Minho dengan jerit ketakutan.

“Tenanglah, Sooyoung. Ini aku Minho. Sadarlah agar kau bisa membantuku menangkap orang yang membuatmu seperti ini juga Ibumu.”

Mendengar Ibunya dibawa dalam perkataan Minho membuat Sooyoung tersentak. Seperti kembali dari dunia lain yang dibangunnya. Ia menatap Minho dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu.”

“Ya, Sooyoung. Ibumu. Kau mengingat siapa yang melakukan hal ini padamu dan Tiffany?”

Sekarang tangis yang keluar dari Sooyoung adalah tangis kesedihan akan Ibunya. Ia berduka atas apa yang terjadi pada Ibunya. Lalu wajah seorang wanita yang menatap tajam padanya sembari mengiris leher Ibunya muncul.

Amarah muncul dalam dirinya. Ia langsung mengatakannya pada Minho, sayangnya perkataannya terpotong saat melihat sebuah sosok melintas dan terlihat dari kaca yang berada di pintu kamarnya.

“Y…” Sooyoung sontak melepas pelukan Minho dan bergegas menuju pintu. Ia butuh sosok itu. ia ingin meyakinkan dirinya bahwa ia masih memiliki seseorang yang menerimanya sebagai wanita.

Dilihatnya sosok itu masuk ke dalam salah satu ruangan yang tidak jauh darinya. Ia mempercepat langkahnya. Ia hendak masuk dalam ruangan itu sebelum didengarnya perkataan pria itu.

Ia membuka pintu dan terkesiap ketika mendengar ulang apa yang dikatakan orang itu.

Seminggu Sehun tinggal bersama Yoona. Ia tahu orangtuanya kembali menanamkan sahamnya. Tapi, ia tidak punya urusan lagi dengan hal itu. Yang ia butuhkan sekarang ini adalah memutus pertunangannya dengan Sooyoung.

Dan tidak ada saat yang lebih tepat lagi selain hari ini. Wanita itu berada di rumah sakit yang sama. Ia tidak punya rasa kasihan pada Sooyoung karena sudah lancang menabrak Yoona. Itulah sebabnya ia berada di ruangan Choi Siwon saat ini.

Ia menatap muak pada pria itu. Yoona sudah memberitahunya, alasan ia berubah dan kenapa ia bisa melupakannya. Dan itu semua berhasil membuatnya ingin menghancurkan pria paruh baya tersebut.

“Sehun. Kau datang untuk minta maaf?” tanya Ibunya dengan harapan di wajahnya.

“Tidak.”

“Sehun,” desis Ayahnya.

Menghiraukan nada penuh peringatan dari Ayahnya. “Aku ke sini untuk memberitahu Ayah, Ibu, dan Paman Siwon. Aku memutus pertunanganku dengan Sooyoung.”

“Sehun!!!” teriakan kedua orangtuanya tidak membuatnya bergeming.

“Tarik kembali ucapanmu!”

“Aku memutus pertunanganku, Ayah. Aku tidak ingin menikah dengan seorang wanita yang tidak mau bertanggung jawab atas  perbuatannya.”

“Apa maksudmu?”

“Sooyoung menabrak Yoona, dan Paman Siwon malah menutup kasus itu.”

Taejon dan Yojin terkejut, namun sedetik kemudian mereka menguasai diri lagi. “Siwon mungkin punya alasannya sendiri.”

“Aku tidak perduli. Paman, aku tidak mau melanjutkan pertunangan ini lagi. Kau pasti tahu alasanku yang lain.”

Siwon hanya bisa menerima keputusan Sehun. Ia sadar pria muda itu menyukai Putrinya yang lain. Putri yang ia telantarkan. Ia mengangguk dan mengundang reaksi tidak percaya dari Taejon dan Yojin.

Suara hantaman pintu yang dibuka dengan kasar mengundang perhatian dari mereka. Sooyoung berdiri di depan pintu dengan tatapan terluka. Minho hanya bisa menatap kecewa pada Sehun.

“Tidak. Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini.” Perkataan Sooyoung hanya ditanggapi dengan lengkungan alis Sehun.

Melihat keteguhan Sehun. Sooyoung hancur. Detik selanjutnya ia kembali histeris bedanya, ia akan menanggung tiga kali lipat beban dalam hatinya. Kematian Ibunya, Sehun yang meninggalkannya, dan tubuhnya yang dianggapnya kotor karena dijamah pria-pria yang memaksanya.

Minho langsung menangkap tubuh Sooyoung. Berusaha keras membawanya kembali ke ruangannya. Keributan itu mengundang perhatian perawat di sekitar situ. Mereka membantu Minho yang menahan Sooyoung.

“Tidak!!! Kau tidak boleh meninggalkanku!”

Yoona tertawa bak pasien sakit jiwa mengetahui Sooyoung kehilangan kewarasannya. Apa yang dilakukan Sehun, adalah hal yang tidak disangkanya. Namun, melihat hasilnya mau tidak mau ia merasa senang akan perbuatan pria itu.

Malam hari setelah kejadian Sehun membuat Sooyoung kehilangan kewarasannya. Ia memutuskan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya.

Dini hari ruangan Siwon tampak lengang. Minho berada di kantin untuk mengisi perutnya dan menenangkan dirinya atas apa yang terjadi siang tadi.

Dua penjaga di depan kamar Siwon duduk di masing-masing kursi yang mengapit pintu. Kepala tertunduk, yang memberitahu orang yang melihatnya bahwa mereka tengah tidur. Sosok berpakaian hitam yang membungkus seluruh tubuhnya dengan topi yang menutup wajahnya terlihat menuju ke arah mereka.

Berjalan dengan sedapat mungkin tidak membangunkan dua orang itu. Tepat di depan keduanya. Ia mengeluarkan dua jarum suntik yang berisi cairan. Dengan cepat ia menancapkan jarum di kedua tangannya di leher masing-masing penjaga.

Keduanya terkejut, mata terbelalak dengan tangan yang menyentuh benda yang menyakiti mereka. Terlambat. Mereka tidak bisa melawan. Kegelapan lebih dulu kembali menarik mereka.

Diaturnya tubuh dua orang itu agar bersandar di dinding belakang mereka. Dari kacamata orang lain. Keduanya hanya sedang tertidur, kenyataannya memang seperti itu. Hanya saja ia memaksa mereka tidur dalam beberapa jam ke depan.

Dibukanya pintu di depannya. Ia bisa melihat pria yang tidur dengan alat bantu pernapasan menutupi mulut dan hidungnya. Setiap langkah yang diambilnya mengeluarkan ancaman. Dan pria paruh baya itu merasakannya.

Kelopak matanya terbuka saat merasakan seseorang melepas alat bantu pernapasannya. Matanya terbelalak melihat siapa yang berdiri di samping ranjangnya.

“Selamat malam, Choi Siwon,” ucap Yoona dingin. Ia hanya mendengar napas tersendat sebagai balasannya.

“Anda terlihat menyedihkan. Bagaimana dengan hadiah yang saya berikan? Anda menyukainya? Oh,, Anda harus menyukainya sebab itu adalah hal pantas untuk Anda. Ah,, saya membawakan hadiah lainnya untuk Anda.”

Dirogohnya saku celananya dan mengambil ponselnya. Mencari apa yang ingin ditunjukkannya pada Ayahnya. Rekaman pembicaraan dua orang pria berhasil mengundang beliak mata Siwon lebih lebar.

Dia mengenali suara dua orang itu. Arsen dan Sehun, mereka berdua membicarakan tentang rencana untuk menarik saham kelurga Oh. Ia menatap Yoona tidak percaya dan tatapan terluka.

“Kenapa? Anda merasa terkhianati? Jangan salahkan saya. Salahkan diri Anda yang mengajarkan saya bagaimana mengkhianati seseorang yang menjadi keluarga Anda.”

Dicarinya file lainnya dalam ponselnya. Menatap kembali dalam orbs yang berwarna sama dengannya. Dan Siwon bisa merasakan hawa dingin menyelubungi dirinya.

“Ingin melihat apa yang terjadi jika Anda menjadi manusia tidak tahu malu?” Tepat di depannya video yang menampilkan tiga wanita yang dikenalnya. Sooyoung yang tengah diperkosa tiga orang pria, lalu Tiffany yang dipaksa melihat oleh Yoona. Hal selanjutnya menghancurkan hatinya.

Putrinya yang dulu selalu tersenyum manis. Di dalam video itu mengiris leher Tiffany tanpa ada perasaan bersalah. Orbs cokelatnya beku dan memandang tajam ke depan. Jiwanya hancur. Ia telah mengubah Putrinya menjadi wanita yang kehilangan kemanusiaannya.

“Anda sudah melihatnya? Anda membentuk saya sebagai monster. Karena itulah saya harus memerankannya sebaik mungkin. Saya tidak akan membunuh Anda. Saya ingin Anda menanggung perasaan bersalah dan penyesalan selama sisa hidup Anda. Ingatlah ini, seberapa besar dosa Anda. Choi Siwon. Pria yang dicintai Ibuku hingga membuatnya bunuh diri.” Setiap patah kata yang diucakannya seperti racun bagi Siwon, dan bayangan Taeyeon yang menatap sedih padanya berhasil memunculkan rasa sakit yang sangat padanya.

Mesin di samping ranjang berbunyi nyaring. Yoona tersenyum kejam. Orbs cokelatnya merekam dengan baik wajah kesakitan Siwon. Berbalik ia menurunkan topinya agar lebih menutupi wajahnya. Ia berjalan keluar hingga hilang di balik belokan.

Minho merasakan perasaannya berubah tidak enak. Memacu langkahnya ke ruangan Ayahnya. Di ujung lorong yang berada di seberangnya ia bisa melihat sosok berpakaian hitam menghilang di belokan.

Langkahnya dipercepat dan ketika berada di dalam kamar rawat Ayahnya. Ia bisa melihat tubuh Ayahnya terguncang-guncang. Ia tidak menyadari bahwa teriakan histeris yang didengarnya berasal dari dirinya.

Ia memencet alat yang berada di jari Siwon dan berusaha menahan tubuh Ayahnya. Ia mendengar beberapa langkah menuju ke ruangan Ayahnya.

Satu jam kemudian, ia hanya bisa menunggu dokter yang memberikan pertolongan pada Siwon. Dua penjaga yang ditugaskannya dipindahkan  di ruang rawat lain. Keduanya nyatanya disuntik dengan obat bius.

Membuat pikirannya melayang pada sosok yang dilihatnya tadi. Satu nama. Ia tidak memiliki kandidat lain yang bisa melakukan ini selain orang itu.

“Yoona,” batin Minho.

Menyesali apa yang dilakukan Adiknya. Ia disadarkan oleh kenyataan yang menyakitkan. Mengingat ucapan Sooyoung yang terpotong siang tadi tentang seseorang yang melakukan hal keji itu pada mereka. Menghubungkannya dengan semua yang terjadi.

Ia menggeleng sedih. Detik selanjutnya ia menangis tergugu. Minho tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Semua perasaan yang ditahannya akhirnya meledak keluar. Lalu perasaan frustasi ikut meramaikan suasana hatinya yang tengah kacau.

“Arghhh!!!”

 

 

Esoknya Minho menolak usulan dokter untuk melaporkan kejadian tadi malam pada polisi. Tidak. Ia tidak ingin Yoona semakin menggila jika mengetahui ia tengah dikejar. Yoona akan melakukan hal nekat lainnya dan itu adalah hal terakhir yang diinginkannya.

Ayahnya dinyatakan stroke. Dan ia bersedih karenanya.

“Kuharap kau bisa memadamkan dendammu, Yoona. Kau sudah membalas orang-orang yang menyakitimu. Hiduplah dengan bahagia,” batin Minho yang duduk di kursi taman rumah sakit. Memandang langit biru dengan mata dipenuhi kesedihan dan harapan.

Yoona keluar dari rumah sakit, lalu menyetop sebuah taksi. Menyebutkan alamat yang menjadi tujuannya. Membayar ongkos taksi, ia bergegas masuk ke dalam sebuah gedung apartemen.

Mengetuk pintu di depannya dengan tidak sabar yang menghasilkan geraman tidak suka dari dalam. Pintu dibuka dan Arsen berdiri di depannya dengan dada telanjang dan hanya memakai celana piama yang menggantung rendah di pinggulnya.

“Yoona,” geram Arsen. Ia terganggu dengan apa yang baru saja dilakukan wanita di depannya. “Apa yang kau inginkan? For God Sake, ini masih dini hari.”

“Aku tidak punya banyak waktu. Kau sudah menyiapkan apa yang aku minta sebagai imbalanku membantumu menghancurkan Choi Corp?”

Melihat keseriusan di wajah Yoona membuat Arsen menelan kejengkelannya. Ingatannya melayang pada apa yang diminta Yoona.

“Kau ingin menggunakannya sekarang?”

“Hm.”

“Masuklah. Aku akan menghubungi Dimitri dan menyuruhnya menyiapkannya.”

Yoona melangkah masuk. Berjalan di mendahului Arsen, ada yang berbeda darinya. Aura Yoona semakin kelam. Mengirimkan perasaan was-was bagi Arsen.

Lepas menghubungi Dimitri, ia menghampiri Yoona yang tengah duduk di salah satu sofa.

“Ak sudah menghubunginya, juga aku sudah memberitahu temanku untuk membuka lowongan kerjaan untukmu. Kau hanya tinggal datang ke kantornya dan mengikuti tes masuk, dengan kemampunmu kau akan langsung diterima.”

“Hm.”

“Kau baik-baik saja, Yoona?”

Yoona menatapnya. Dan ia tidak mengenali tatapan yang diberikan Yoona. Wanita di depannya bukanlah wanita yang dikenalnya. Tubuhnya menegang dan bersiap dengan kemungkinan terburuk. Biar bagaimanapun wanita ini adalah seseorang yang mungkin saja memiliki kecenderungan psikopat.

“Aku harus pergi secepatnya dari sini, Arsen. Suruh Dimitri menghubungiku jika semua sudah selesai ia tangani. Penerbangan jam 5 pagi. Itu yang aku inginkan.”

“Ya.”

Yoona bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu depan. Tepat sebelum  ia membuka pintu, ia berhenti. Tanpa membalikkan badannya, ia berkata. “Senang mengenalmu,  Arsen. Aku ingin lebih mengenalmu, tapi aku tidak bisa tinggal di negara ini lagi. Aku sudah menyelesaikan dendamku. Orang itu, aku yakin akan terus terbaring di rumah sakit di sisa hidupnya dengan perasaan bersalah juga penyesalan yang kuat.” Menghela nafas dalam seakan ia berusaha menenangkan dirinya.

“Aku sedang dalam keadaan tidak baik. Tampaknya selain menderita PTSD dan OCD, aku juga memiliki kecenderungan psikopat. Aku sangat ingin melukai seseorang saat ini. Iblis di dalam jiwaku menginginkannya. Aku tahu kau ikut merasakannya.”

Hening. Selama lima menit. Suara Arsen terdengar memecahkan gelembung keheningan. “Segera temui psikiater. Kau wanita gila.” Suara Arsen terdengar kasar. Namun ia bisa menangkap nada kepedulian yang besar di dalamnya.

Arsen tidak mendapat jawaban dari Yoona. Hanya bunyi pintu yang dibuka lalu ditutup dari luar yang menyadarkannya bahwa wanita itu sudah pergi.

 

Pagi harinya Arsen berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Ia menatap pesawat mengudara dan mungkin saja membawa Yoona ke tempat yang dimintanya.

Yoona. Wanita yang sudah terlanjur menenggelamkan dirinya dalam kegelapan. Benaknya memutar memori dari awal ia bertemu dengan Yoona hingga saat ini. Hanya dalam setengah tahun, wanita itu menghancurkan apa yang dibangun oleh Choi Siwon.

Ia tersenyum miris. Wanita itu mengajarkannya satu hal. Ia tidak akan melakukan apa yang sudah dilakukan Choi Siwon. Sepertinya dia akan merindukan Yoona.

Bunyi ketukan kasar di pintu apartemennya membuat Arsen berdecak jengkel.  Ia melupakan sahabatnya yang ia yakin tengah berdiri di depan pintu dengan gusar.

Sehun mengetuk pintu apartemen dengan keras. Hingga mengundang keributan di sekitarnya. Seseorang tampaknya telah memanggil pegawai gedung itu. Dan apa yang di dengarnya  berhasil membuatnya membantu.

Tadinya ia berniat mengunjungi Yoona dan meyakinkannya untuk bersama dengannya. Setelah mendengar apa yang dikatakan pria di depannya bahwa Yoona sudah tidak tinggal di tempat itu lagi, akhirnya membuatnya seperti patung.

Ia berusaha memproses apa yang didengarnya. Pria itu mengatakan Yoona keluar sekitar pukul 04:00 am. Setelah mendapatkan kontrol dirinya kembali, ia memacu mobilnya ke tempat sahabatnya. Ia yakin Arsen mengetahui keberadaan Yoona.

Dan sekarang ia berdiri di depan pintu apartemen sahabatnya. Pintu dibuka dan ia melihat Arsen yang berdiri di depannya dengan wajah kusut.

“Masuklah. Jangan melakukan hal yang memalukan di depan pintuku.”

Mendengus ia melangkah masuk dan langsung mencegah Arsen berjalan lebih jauh. Arsen melangkah ke samping dan memilih duduk di salah satu sofa ruang tamunya.

“Di mana Yoona, Arsen?”

Arsen tidak langsung menjawabnya. Baru ketika ia hampir meledak dalam amarah, Arsen membuka mulutnya. “Jangan mencarinya, Sehun. Biarkan ia sendiri. Wanita itu harus menenangkan dirinya.”

Baru ia ingin membantah perkataan Arsen, namun Arsen lebih dulu mengatakan hal yang menjadi pemicu dirinya kehilangan kontrol dirinya. “Yoona tidak mencintaimu. Tidak pernah.”

Hanya dengan kata itu. Sehun kehilangan ketenangannya yang tersisa sedikit. “Aku tahu!” teriak Sehun. Wajahnya merah padam, tubuhnya kaku, dan urat-urat di sekitar lehernya menyembul.

“Aku tahu dia tidak merasakan perasaan yang sama denganku! Aku tahu itu, bagaimana bisa dia merasakan perasaan seperti itu, jika jiwanya menanggung penyakit mental yang aku tidak tahu berapa. Aku bahkan tidak bisa berpikir bagaimana dia memainkan peran seolah ia baik-baik saja, sedang dirinya sendiri hancur.”

Kemarahan Sehun berubah menjadi sesuatu yang lain, air matanya keluar dari mata kirinya. Menandakan ia sangat terluka. “Tapi, aku tidak perduli dengan semua itu, Arsen.  Kau tahu yang baru saja ingin aku lakukan? Aku ingin melamarnya. Mengikatnya dalam hidupku hingga tidak ada pilihan lain bagi dirinya selain mencintaiku.”

Tubuh Sehun jatuh di atas sofa yang dekat dengannya. Bahunya terguncang dan isak tangis keluar darinya. Arsen menatap sedih pada Sehun. Sahabatnya tidak pernah menangis. Dan melihatnya seperti sekarang membuat Arsen mengirimkan kutukan pada wanita kejam yang sayangnya tidak bisa dibencinya.

Sahabatnya dibutakan oleh cintanya pada Choi Yoona. Wanita yang membawa kebencian dalam dirinya hingga melenyapkan kemampuan wanita itu untuk merasakan perasaan lain.

 

 

END

 

 

 

AN

HALO…^^

 

MAAF KALAU AKU POST CHAPTER ENDINGNYA LAMA.

AKU BERUSAHA MIKIR ENDING YANG COCOK BUAT HATRED. JADINYA AKU KELAMAAN MIKIR.. AAHAHA MIAN YA..

OKE, BAGI YANG MASIH NUNGGU MAKASIH BANYAK YA.. UDAH NGIKUTIN HATRED, DAMIA CS DARI AWAL SAMPAI END,, NOMU GOMAWO #BIGHUG.

SEMOGA PUAS YA. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. DAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKANNYA.^^

GOMAWO #KETJUPBASAH

BONUS PICU NAE NAMPYEON

Advertisements

34 thoughts on “HATRED : Game Over

  1. Yak kasian banget eonni sehun oppa ditinggal yoona,sebenernya pengen tau gmna perasaan yoona sama sehun??ya ampun semoga di epilog mereka bersatu ga rela sehun sama cewe lain !!😃☺harus sama yoona ✌gomawo eonni ditunggu klanjutannya jgn siksa sehun oppa terlalu lama ya

    • Sehun kasihan ya😅😅😅

      Prsaan Yoona ke sehun? Ntr ad d bgian epilog kok😆..

      Gomawo juga udh ngikutin hatred smpe end😙

      Ditunggu aja epilog sm bonus chapter.a ne😄

      Gomawo dh rc saeng😄

  2. Walau satu part aku harap masih ada kelanjutannya..

    Jadi soo gax mati.. tapi gila.. ya sama aja 😂😂😂

    Yoona pergi. Udah susul aja sehun. Seoiga masih ada seq atau epilog juga gax apa paa

  3. Eonii,,, yak nanggung end nya.. Tapi kerenn,,,, what the.. Hahhah.. Ini gak mungkn berakhir kayak gini kan eoni, masih ada sequelnya kan.. Ehheheh… Tapi aku juga nunggu sequel yang lain.. Frustasi nunggu ini 2 minggu,,, keren ini,, jjang

  4. Whoa tragis bgd ini ceritanya, kykny yoong berhasil sma misi bales dendamnya. Tp apa yoona bkal bahagia y?hihi trus gmn tuh nasib si sehun? Frustasi jg kah,,?smg ada lnjutannya yaaa

    • Tragis ya😅😅😅…

      Yoona brhasil ya😊.. apa dia bkal bahagia? Trgntung kl dia udh sembuh ya..

      Lanjutan? Aku ksih epilog sm bonus part aja😅…

      Gomawo dh rc😊

  5. Waaah…perasaanku ikut meledak membaca part end nya thor.Rasanya puas banget melihat Yoona bisa balas dendam pada orang yang dibencinya.Meski Arsen terlihat kasar tapi justru Arsenlah yang turut berperan besar dalam balas dendam Yoona.Mendampingi Yoona dari jauh menyiksa Soyoung dan Tiffany.Akhirnya Sehun lebih memilih gadis yang dicintainya dibanding orang tuanya juga Sehun memutus ikatan pertunangannya dengan Soo dihadapan ayah dan ibunya serta Siwon dan mengatakan kebenaran tentang Soo yang menabrak Yoona sedang Siwon menutup kasus itu…,dan Soo gila!!!Meski sudah membuat Siwon strok dengan rekaman yang Yoona perlihatkan..,bagaimana kehidupan dan penyesalan Siwon selanjutnya?????Kemana perginya Yoona????Arsen sepertinya tahu,tapi ia belum memberitahukan kepada Sehun.Kasihan Sehun…😢😢.Apa Yoonhun akan kembali bertemu??Andaikan Yoona menuruti Arsen untuk menemui psikiater,mudah mudahan membuatnya sembuh dari traumanya.Akankah berlanjut dengan sequel thor???

    • Senangg banget kl feel.a dpt😄😄

      Arsen the best guy fr me😄😄..

      Sehun the one i love😅😅😅..

      Hub yoonhun? Slhkn nungg epilog ya. Aku gg buat seq ya😅.

      Kehidupan siwon? Yah cma bsa mrtpi nasib😅😅😅

      Gomawo dh rc dn mau ngikutin hatred dr awal smp ending😊

  6. Yaaa udh end ?? Masih belum puas thorr, endingnya masih gantung bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttttt,,,,, pengeb sequel dong huhuhu
    Sumpah ini hatred ff yg paling baguss,,,, huuaaa update lagi thor dg judul yg beda dan cast yg sama lagii

    • Iy udh end😅😅

      Msh blm puas😂😂… mungkin bgian yoona-sehun-arsen.a ya yg blm puas.. kan mslh inti.a udh aku usahain tratasi😂

      Seq? Entahlah.. aku msh pu.a utang crta yg blm aku slsain 😅

      Woah. Gomawo😄😄.. senang banget ada yg nganggap hatred berkesan ehehhe😗

      Aku gg buat seq tp nnti msih ad epilog.a.. moga di epilog bisa dapat feel yg ilang. Ttg hub tiga tokoh utama ya.😊

      Gomawo dh rc😊

  7. Yoona memilih pergi setelah ia puas membalas dendam pada orang yg dibencinya.Kemana Yoona pergi?Kasihan Sehun yang begitu mencintainya.Siwon yg mendapatkan strok stlh mendengar dan melihat rekaman yg diperlihatkan Yoona.Apa Siwon akan meminta maaf pd Yoona?Bgmn reaksi orang tua Sehun jika ternyata Sehun mencintai Yoona putri kandung Siwon?gadis dimasa kecilnya.

  8. Update langsung end,,,kasihan sehun di tinggal yoong eonni,apakah yoona eonni juga mncintai sehun???
    Puasss bangeeeeeet yoona eonni bisa membalaskan dendamnya apalagi liat soo jadi gila haha,,
    Yoona eonni pergi kmna sih,,??? Apakah yoonhun bisa bersatu,,,
    butuh Sequel thor,,

  9. keren bgt thor… d tragis jg kluarga y yoona… epilog y di tggu thor..
    ingatan yoona saat kcl bersama sehun blm pulih ya… trs yoona memilih pergi stlh balas dendam… d sprti y arsen jg yg tau kmna dia prgi…. seneng jg arsen mbantu yoona smpe sgitu y… trs sehun kshn bgt pst klhlngn bgt… kl yoonhun bersatu ak harap sehun tau sma yg di lakukan yoona dan tau jg alasan yoona melakukn y….

    di tgg thor epilog d bonus chapter y…

  10. Yakin nih in udah end???? Aq btuh sequel thor…. Ksihan sehunku d tnggalin yoona. Buat mreka bhgia dong…..
    Kshan jga yoona low trus2an sndri. Pdhal ad sehun yang menanti…. haha

  11. Eonni…. Epilognya dong,,,, omo.. Ini dah hampir 2 minggu,,,,,🤔🤔🤔🤔,, hehheeh.. Well, cuma kasihan sehun digantungin,,,, dan kepo sama yoona.. Hehheh✌✌..

  12. Aku butuh sq thor😭😭😭😭 ohhh ending yg bener” memuaskan. Gue harap yoona bakal sembuh dan akhirnya sama sehun.
    Gue bener” suka banget sama character arsen thor uuuughhhh

  13. ketinggalannnn 😥 udah end ya..
    knp yoona ninggalin sehun 😭
    minho kasian juga ya.. sbenernya disini menurut pandanganku yg paling kasian itu minho 😅
    aaa ijin baca epilognyaaa 😁

    • kenapa Yoona ninggalin Sehun??.. karena dia memang dr awal udh niat mau kluar negri. ahaha

      Yoona blm punya prasaan yang sama dengan Sehun ya…

      Minho kasian ya.. ahaha.. silhkan^^
      gomawo dh rc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s