Title : Hatred (Epilog)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

3 tahun kemudian

 

Wanita dengan T-shirt putih dipadankan dengan celana denim pendek berwarna hitam melangkah keluar dari taksi yang ditumpanginya. Tepat di depan sebuah gedung  bergaya klasik dengan papan nama “Cafe de Flore”.

Melangkah masuk, kemeja flanel yang  ia ikat di pinggangnya menutupi setengah paha pucatnya, melambai pada angin yang dengan nakalnya meniupkan dirinya. Di dalam gedung ia disambut seorang pelayan yang mengantarnya ke tempat yang sudah dipesannya.

Ia duduk di tempat yang ditunjukan oleh pelayan tadi. Menaruh tas yang dibawanya di kursi sampingnya.  Mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan. Cafe yang ia pilih sebagai tempat makan siangnya di akhir pekan, memiliki interior bergaya art deco*, dengan lampu bercahaya kuning dan kursi booth berwarna merah. Sedang bagian luar bangunan bergaya klasik dan khas Perancis, dengan jendela-jendela besar berbingkai kayu.  Cafe itu juga menyediakan tempat duduk outdoor di pinggir trotoar.

Perhatiannya dialihkan oleh seorang pelayan yang menuju ke arahnya, pria itu tersenyum ramah sembari meletakkan kopi yang dipesannya.

Félicitations week-end*,” kata pelayan itu, yang dibalas ucapan sama oleh wanita itu.

Benaknya melayang, meninggalkan waktu sekarang. Ia memutar semua kenangan yang sudah dilaluinya selama ini. Ketika ia kembali dari kilas balik dalam memori hidupnya, kopi di gelasnya yang tinggal setengah sudah dingin, di waktu bersamaan seorang pria masuk ke dalam cafe.

Orbs keduanya bertemu, biru dan  hazel.  Pria itu tersenyum lebar sembari mengambil tempat di depan wanita tersebut. “Kau menunggu lama?” tanya pria dengan rambut berwarna hitam  itu.

“Ya. Aku menunggu cukup lama,” jawab wanita itu yang kembali berhasil mengundang senyum di bibir sang pria.

Senang dengan kejujuran yang diberikan wanita di depannya. Selanjutnya ia meminta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatannya. “Maaf. Aku harus membujuk, emm… lebih tepatnya memaksa temanku untuk ikut bersamaku,” Ia meringis sebelum melanjutkan ucapannya, “temanku seorang workaholic, aku harus memaksanya untuk keluar jika ingin membuatnya tetap sebagai manusia.” Ia terkekeh dan menular pada wanita di depannya, meski hanya sebuah senyum yang sedikit kaku. Namun pria itu tahu, senyum yang muncul di bibirnya adalah senyum yang tulus, bukan sebuah topeng keramahan.

Bunyi pintu cafe yang dibuka mengalihkan atensi keduanya. Seorang pria dengan raut wajah datar melangkah masuk. Seperti biasa kehadirannya selalu berhasil menyita perhatian orang-orang di sekelilingnya.

“Itu dia,” kata pria satunya yang melambaikan tangannya pada pria dengan orbs hitam. Detik mata itu bertabrakan dengan milik wanita yang tengah menatap ke arahnya. Dua ekspresi berbeda terlihat dari keduanya.

Ekspresi datar yang ada di wajah sang pemilik orbs hitam itu lenyap, berganti dengan terkejut, kemudian terluka serta rindu. Sedang wanita itu hanya memasang raut datar, seakan tidak mengenal pria tersebut.

 

Tiga bulan setelah Yoona meninggalkan Sehun. Pria itu hancur. Ia menarik dirinya dari lingkungan bahkan orang terdekatnya. Mengurung diri dalam apartemen miliknya dan hanya mengisi energinya dengan makanan fastfood, botol minuman berserakan di ruangan apartemennya.

Kondisi itu berlanjut sampai tiga bulan ke depannya. Berat badannya turun dan sepertinya semangat hidupnya hanya tinggal menunggu waktu untuk habis. Yojin dan Taejon yang awalnya kecewa akan sikapnya pada Siwon akhirnya luluh.

Yojin berinisiatif berkunjung ke apartemen Sehun. Diketuknya pintu di depannya, namun nihil. Penghuninya sepertinya tidak berniat untuk membukakan pintu. Ia berdecak jengkel dan untungnya ia tahu kode apartemen putranya.

Pintu dibuka dan bau tidak sedap berlomba-lomba menyerbu indera penciumannya. Tangannya refleks menutup hidungnya. Mencegah agar dirinya tidak pingsan karena bau yang tidak sengaja masuk di hidungnya.

“My Lord!” pekik Yojin, ia berlari keluar dan terbatuk-batuk.

Apa-apaan itu, kenapa aroma tidak sedap itu bisa ada apartemen Sehun, pikirnya. Sedetik kemudian, pikiran negatif muncul dan Yojin kembali memekik kencang sembari menyerbu masuk dalam apartemen di depannya.

Dihiraukannya bau yang mengancam kesehatan indera penciumannya. Ia lupa, apartemen itu dalam keadaan gelap dan ketika ia menyerbu masuk dengan kepanikan yang kental, sampai di sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu, tubuh Yojin terjatuh karena sebuah benda yang tidak dilihatnya.

Hal itulah yang mengembalikan kesadaran Yojin, ruangan itu dalam keadaan gelap. Kenapa aku tidak berpikir untuk menyalakan lampu, rutuknya dalam hati.

Ia bangkit dan ingatan tentang benda yang membuatnya jatuh kembali, dengan gemetar ia meraba ke belakangnya. Benda itu adalah sebuah betis. Dan Yojin sangat tahu itu adalah betis putranya.

“Tidak.” Bangkit dan berlari ke saklar lampu yang ia ingat berada di dekat pintu masuk. Cahaya membanjiri ruangan itu dan Yojin kembali dibuat terkejut karena kondisi ruangan.

Sampah kotak  pizza dan minuman berserakan. Pakaian Sehun dan debu ikut meramaikan suasana. Lalu di sana, di bawah sofa panjang, Sehun berbaring dan dalam keadaan tidak sadar.

Jeritan Yojin memenuhi apartemen Sehun.

 

“Berhenti bersikap bodoh, Sehun. Dan katakan apa atau siapa yang membuatmu berubah seperti zombie, huh,” omel Yojin pada putranya yang baru siuman sejam yang lalu.

Sehun tidak merespon, ia hanya berbaring di ranjang pasien dan menatap kosong ke depan. Ia tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit karena kekurangan cairan dalam tubuh.

Melihat tidak adanya respon yang diberi putranya membuat Yojin menghela nafas dalam. Wajah Sehun yang setengah tahun lalu selalu dalam keadaan bersih tanpa kumis dan cambang sekarang tidak lagi. Matanya kosong dan tidak ada lagi sinar percaya diri di dalamnya. Berat badannya juga turun dan itu semua membuat Yojin tersenyum miris.

“Sehun, tidak apa jika kau tidak mau mengatakannya pada, Mom. Tapi Mom harap kau bisa kembali menjadi Sehun yang kami kenal,  Arsen juga sudah tidak memiliki ide lagi untuk membawamu keluar dari apartemenmu dan akhirnya Mom yang memutuskan datang. Hayoung merindukanmu, ia merindukan kakaknya yang selalu mengajaknya bermain.” Yojin bisa melihat tubuh Sehun tersentak dan ia bersyukur dalam hati.

“Mom menyuruh yang lain untuk tidak datang.  Mom tahu kau tidak suka terlihat lemah. Gunakan waktumu untuk memikirkan perkataan  Mom. Kami menyayangimu, sayang.” Yojin bangkit dari duduknya dan mengecup pipi Sehun.

Ia keluar dari kamar rawat Sehun dan memberinya waktu untuk berpikir. Sehun yang ditinggal sendiri mengalihkan tatapannya ke jendela samping ranjangnya. Bayangan wajah Adiknya membuat perasaan rindu dan bersalah menyerbu dirinya.

Ia terlalu tenggelam dalam lukanya dan melupakan orang-orang di sekelilingnya. Sadar bahwa ia tidak bisa bersikap tidak adil pada orang-orang yang peduli padanya membuat ia membuat satu keputusan.

Satu wajah menyusup masuk dalam pikirannya dan tekad rapuh yang baru ia bangun runtuh. Pertama kalinya sejak setengah tahun yang lalu, ia kembali mengeluarkan airmata untuk seorang wanita yang menghancurkan harapannya dan setengah bagian dari hatinya.

 

2 tahun berlalu

 

Sehun selalu berhasil memakai topeng ia baik-baik saja. Ketika sendiri, topeng dilepasnya dan luka selalu mengisi orbs hitamnya. Kadang jika rasa sakit yang dirasanya tidak lagi sanggup ditanggungnya, akhir dari hal itu adalah ia yang tidak bisa merasakan apa-apa. Hampa.

Sehun kembali memimpin perusahaan keluarganya, tadinya Ayahnya yang memimpin sementara sesekali dibantu Arsen karena kondisi  Sehun.  Setelah satu minggu keluar dari rumah sakit ia datang ke rumahnya dan meminta maaf pada Adiknya.

Ia tidak merasa perlu untuk meminta maaf atas perbuatannya pada Choi  Siwon, karena ia pikir itu semua adalah hal yang tepat untuk ia lakukan. Orangtuanya juga tidak berusaha untuk meminta penjelasan akan siapa yang menyebabkan  Sehun seperti zombie.

Mereka tahu, Sehun tidak akan bisa dipaksa untuk memberitahu keduanya. Namun, satu nama melekat di otak mereka. Satu nama itulah yang membuat Sehun seperti itu, nama yang ia sebut di rumah sakit tempat Siwon dirawat.

Mengingat Siwon selalu berhasil membuat Taejon dan Yojin bersedih. Pria itu stroke, untungnya Minho dengan sabar merawat Ayahnya juga Sooyoung.  Choi Corp juga mulai bangkit kembali meski tidak sejaya dulu. Rasa bersalah masih menggayuti pasangan itu karenanya. Namun, Minho berhasil meyakinkan bahwa Ayahnya tidak menyalahkan mereka.

 

Perasaanku tidak pernah membaik. Luka yang dibuat olehnya masih menganga sampai saat ini. Perasaanku padanya sangat jelas dan aku tahu, ia juga tahu akan hal itu.

Pertanyaan apakah wanita itu juga pernah bahkan walau hanya sedetik merasakan perasaan yang sama denganku, selalu berputar dalam otakku.  Aku tidak berhenti mengutuk diriku karena dengan bodohnya jatuh pada wanita sepertinya.

Hari, bulan, dan tahun berganti.  Aku dan wanita itu berada di tempat juga kehidupan berbeda. Aku dengan luka dalam hidupku dan selalu memakai topeng baik-baik saja dan kadang aku berharap wanita itu juga menjalani kehidupan yang tidak lebih baik dariku. Jahat? Definisikan kata jahat menurutmu. Karena bagiku wanita itulah yang bersikap jahat bahkan kejam padaku.

Tiga tahun yang kulewati benar-benar siksaan. Semua tidak mudah bagiku.  Sialan! Bayangan wanita itu selalu muncul dan mematenkan eksistensinya dalam pikiranku. Kenangan akan hal terakhir yang kami lakukan berdua. Aku yang memeluknya saat ia bermimpi buruk.  Semua itu menyiksaku.

Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memainkan peran  ‘Aku baik-baik saja.’

 

Sehun memeriksa berkas-berkas di depannya dengan fokus yang sepenuhnya tanpa memedulikan sekitarnya. Ketukan bahkan kehadiran seorang pria dengan orbs abu-abu yang sekarang berdiri di depan pintu ruangan kantornya dalam keadaan terbuka tidak disadarinya.

Menghela nafas kasar,  Arsen melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di kursi depan meja kerja Sehun, memutuskan untuk menyadarkan sahabatnya. “Aku curiga kau memiliki alterego,  Sehun,” kata  Arsen dengan nada sinis yang kental.

Berhasil. Sehun mengalihkan atensinya dan menatap Arsen dengan satu alis melengkung naik. Melihatnya membuat Arsen jengkel. “Kau bekerja seperti robot dan di depan keluargamu serta yang lain kau selalu menampilkan ekspresi ‘Aku baik-baik saja’, kau terlihat memuakkan bagiku.”

“Kau tidak harus menemuiku, jika kau muak.”

“Dude… kau benar-benar tidak tertolong. Lebih baik kau keluar dari negara ini dan pergilah ke Paris. Temui Luca, sahabat kita itu bekerja di sana sebagai psikiater di salah satu rumah sakit besar. Kau bisa mengurus kantor cabang yang berada di sana. Kau mengancam kewarasanku dan keluargamu. Jadi, enyahlah sebelum aku membunuhmu.”

Sehun menatap Arsen, ia tahu sahabatnya itu peduli padanya. Perkataannya berhasil membuatnya terkejut. Menyadari bahwa Arsen benar, ia secara tidak langsung sudah menyusahkan orang-orang yang peduli padanya.

Dan perkataan terakhir Arsen. Ia sadar, sahabatnya akan melaksanakan apa yang ia katakan, mengingat seberapa gila Arsen Carter. “Luca? Luca Ratajkowski?”

“Ya.  Kau tidak lupa pada sahabat kita yang satu itu, bukan? Aku akan menghubunginya dan mendaftarkanmu sebagai pasien VVIP.”

“Kau secara tidak langsung mengatakan aku gila,  Arsen.”

“Kau tidak gila, tapi sakit. Sakit mental. Jadi, pergilah. Seminggu dari sekarang, aku harap kau sudah berada di Paris.”

Menatap Arsen cukup lama, sebelum menghela napas pasrah. “Terserah kau saja.”

Sehun keluar dari pintu kedatangan  Bandara Internasional Paris Charles de Gaulle yang juga dikenal sebagai bandara Roissy. Menyisir sekelilingnya dan melihat sosok pria yang dikenalnya sejak duduk di bangku kuliah.

Berjalan ke arah sosok yang dilihatnya dan langsung disambut dengan pelukan sesama sahabat lama. “Dude, kau lebih buruk dari yang diceritakan Arsen.”

Mendengar perkataan Luca, Sehun menggeram jengkel. “Sejak kapan Arsen berubah menjadi wanita penggosip, sialan.”

Luca tertawa keras karena ucapannya dan mengundang tatapan heran dari orang di dekat mereka. “Dia mengkhawatirkanmu, kau tahu itu. Kau akan memimpin perusahaan keluargamu yang berada di sini, bukan?”

“Ya.”

“Baguslah, aku juga akan sesekali memberi waktu konsultasi untukmu. Kau harus bersyukur karena mempunyai sahabat seorang psikiater sepertiku.”

“Enyahlah, Luca.”

“Ahahahaha….”

Keduanya berjalan keluar bandara dan masuk ke salah satu mobil yang diparkir.  Menuju ke apartemen yang akan ditempati Sehun selama berada di Paris.

Sehun kembali menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan selama sebulan ia berada di Paris. Semua itu sukses membuat Luca ikut geram. Minggu siang, ia berhasil menyeret Sehun dari ruang kerja apartemen pria itu.

Kebetulan siang itu ia akan bertemu seseorang yang dianggapnya sebagai wanita yang spesial. Ia ingin mengenalkan Sehun pada teman wanitanya. Rupanya Sehun membalas tindakan Luca dengan sengaja berlama-lama di kamar mandi.

Melihat angka yang ditunjuk jarum pendek di jam tangannya membuat Luca meledak. “Cepatlah, Sehun.  Atau aku akan memaksa masuk ke dalam sana dan percayalah, itu adalah hal terakhir yang kau inginkan,” teriak Luca.

“Sialan kau, Ratajkowski,” maki Sehun disusul benturan pintu yang dibanting.

Luca meledak dalam tawa karena reaksi yang diberikan sahabatnya. Setelah bisa mengendalikan dirinya, Luca menggeleng tidak percaya akan perubahan Sehun. Diantara mereka bertiga, Sehun adalah sosok yang paling tenang bahkan cenderung dingin.

Sekarang ia dihadapkan dengan Sehun yang pemarah dan tentu saja lifeless. Mengingat kembali apa yang diberitahukan  Arsen padanya.  Awalnya ia tidak percaya, tentu saja. Mengingat karakter pria itu, semua yang berhubungan dengan Sehun patah hati adalah hal mustahil.

Luca dipaksa menelan semua sanggahannya pada Arsen. Melihat Sehun yang keluar dari pintu kedatangan di bandara, Luca hampir membuat dirinya malu dengan membiarkan rahangnya yang terancam lepas. Mengendalikan ekspresinya ia menutupinya dengan mengejek Sehun.

Kantung mata yang menghias mata pria itu, sinar kosong di orbs hitamnya, dan badannya yang terlihat kurus jauh berbeda dengan Sehun yang ia kenal. Pria yang dilihatnya adalah pria yang tidak memiliki semangat hidup dan menunggu waktu untuk menghilang dari dunia.

Wanita yang membuat Sehun hancur, rasa penasaran menyusup masuk dalam dirinya. Namun,  Arsen hanya tertawa dengan tawa khas pasien sakit jiwa mendengar pertanyaannya. Mengatakan bahwa untuk kebaikannya Luca tidak perlu tahu.

Satu clue yang diberitahukan Arsen. Wanita itu adalah jenis wanita yang tidak ingin kau temui dalam hidupmu, jika kau memiliki kewarasan yang cukup. Dan jika seorang Arsen yang mengatakan sendiri bahwa wanita itu adalah jenis wanita yang mengerikan. Maka dia tidak akan ragu, karena Arsen Carter tidak pernah memuji bahkan menghormati seorang wanita selain keluarganya dan keluarga sahabatnya.

Meski pujian yang diberikan Arsen dalam bentuk hinaan yang tersimpan sebuah pujian. Khas Arsen Carter.

Sebuah gerakan di sampingnya menarik Luca dari pikirannya. Menoleh, Sehun berdiri di sampingnya dengan wajah kesal. “Angkat pantatmu sekarang juga dan selesaikan urusan yang membuatmu memaksaku keluar di akhir pekan.”

Sehun berjalan ke pintu, meninggalkan Luca di belakangnya yang berdecak jengkel. “Pria malang.”

 

Keduanya berhenti di depan sebuah cafe yang merupakan salah satu cafe yang menjadi favorit warga Kota Paris. Ponsel  Sehun berbunyi dan wajah Ibunya terlihat di layar ponsel, ia menyuruh Luca masuk lebih dulu.

Luca berjalan masuk dan mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang dikenalnya sejak tiga tahun lalu. Senyumnya mengembang melihat orang yang dicarinya duduk di bagian pojok dekat jendela. Wanita itu selalu memilih duduk di spot yang sama, batin Luca.

Berjalan menuju wanita yang menjadi teman makan siangnya. Dan mengambil tempat di depan pemilik orbs cokelat yang sekarang sudah tidak sedingin mereka pertama kali bertemu.

“Kau menunggu lama?”

“Ya. Aku menunggu cukup lama,”  jawab wanita itu yang kembali berhasil mengundang senyum di bibir Luca.

Senang dengan kejujuran yang diberikan wanita di depannya. Selanjutnya ia meminta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatannya. “Maaf. Aku harus membujuk, emm… lebih tepatnya memaksa temanku untuk ikut bersamaku,” Ia meringis sebelum melanjutkan ucapannya, “temanku seorang workaholic, aku harus memaksanya untuk keluar jika ingin membuatnya tetap sebagai manusia.” Ia terkekeh dan menular pada wanita di depannya, meski hanya sebuah senyum yang sedikit kaku. Namun Luca tahu, senyum yang muncul di bibirnya adalah senyum yang tulus, bukan sebuah topeng keramahan.

Bunyi pintu cafe yang dibuka mengalihkan atensi keduanya. Seorang pria dengan raut wajah datar melangkah masuk. Seperti biasa kehadirannya selalu berhasil menyita perhatian orang-orang di sekelilingnya.

“Itu dia,” ucap Luca semangat, detik selanjutnya ekspresi penuh tanya terlihat di wajahnya.

Ada apa dengan ekspresi menyedihkan di wajah Sehun?  pikirnya.

 

3 tahun yang lalu

 

Yoona naik ke pesawat yang akan membawanya jauh dari masa lalunya. Mengambil tempat duduk sesuai yang tertera di tiket miliknya. Pandangannya menatap kosong pada arakan awan yang berada di luar pesawat.

Setelah menunggu rasa yang diinginkannya muncul sejak ia membereskan dua wanita yang menjadi duri dalam hidupnya juga menghancurkan  Choi Siwon. Perasaan itu tidak kunjung datang.

Membuat amarah dalam dirinya semakin menjadi. Keinginan untuk melukai orang lain agar ia dapat merasakan sebuah perasaan ‘Puas’ , ‘Lega’, dan ‘Senang’  terus mendesaknya. Ia frustasi dan tahu jika ia tidak segera pergi, ia akan berakhir melukai orang lain.

Sekarang yang ada dalam dirinya setelah ia menolak keinginan gila iblis dalam pikirannya adalah perasaan hampa. Iblis sialan yang tidak berhenti dikutuk Yoona meninggalkannya dalam  keadaan yang sangat dibenci Yoona.

Tidak merasakan apapun adalah sebuah siksaan. Seakan ada lubang besar yang menghisap semua perasaan yang kau punya dan meninggalkanmu dengan kekosongan yang mengerikan.

Perkataan kasar Arsen yang menyuruhnya untuk menemui psikiater terdengar sebagai sebuah bisikan. Ia mengangguk, membenarkan apa yang disarankan dari pria gila yang sudah dianggapnya sebagai salah satu pria yang mempunyai tempat dalam hidupnya.

Yoona memang merencanakan untuk mencari seorang psikiater setelah sampai di kota tujuannya. Otaknya kemudian menyusun rencana yang akan dilakukannya untuk beberapa tahun ke depan.

Orbs hitam seorang pria yang menatap hangat padanya memenuhi mimpi Yoona selama perjalanan yang ia tempuh dan perasaan nyaman itu merilekskan ketegangan di tubuhnya dan membawanya dalam tidur yang lelap.

 

 

Apartemen yang disiapkan Arsen  membuatnya menyeringai senang. Bahkan lemari di kamar apartemennya sudah diisi dengan pakaian sehari-hari serta setelan kantor dan tentunya semua hanya terdiri dari dua jenis warna. Hitam dan abu-abu.

Dua hari setelahnya ia berangkat ke perusahaan rekan kerja Arsen, yang sehari sebelumnya Yoona sudah menelepon terlebih dahulu ke perusahaan tersebut untuk membuat janji.

Ia disambut dengan seorang wanita berusia akhir 30 tahun dengan senyum ramah di wajahnya. Wanita  itu adalah kepala bagian HRD perusahaan. Ia dibawa di salah satu ruangan dan 20 menit kemudian. Wanita itu tersenyum usai membaca berkas miliknya dan memberinya beberapa pertanyaan singkat. Menyuruhnya untuk masuk kerja esok hari.

Yoona hanya tersenyum sinis dan membenarkan perkataan  Arsen. Yoona mempunyai kualitas seorang karyawan yang dibutuhkan perusahaan itu.

Kembali ke apartemen, ia menyempatkan singgah di sebuah supermarket yang berada di lantai satu gedung apartemennya. Lepas mengganti setelan kantornya, ia duduk di sofa ruangan yang ia jadikan ruang tengah dan berhadapan dengan laptop miliknya.

Mengetikkan kata kunci pada mesin pencari yang sekarang memunculkan beberapa link yang ia cari. Matanya tertuju pada gambar seorang pria dengan mata hazel hangatnya. Pria itu seseorang yang ia butuhkan. Mencatat alamat tempat pria bermata hazel itu bekerja dengan seringai lebar menghiasi wajahnya.

Hari pertama bekerja Yoona disambut hangat oleh karyawan lain, sangat berbeda dengan tempat ia bekerja dulu. Yoona memutuskan datang ke tempat pria yang ia cari di jam makan siang kantornya.

Menunggu giliran untuk bertemu pria itu, Yoona duduk di bangku tunggu dan matanya menatap datar pada dinding di seberangnya. Namanya dipanggil dan ia bangkit dengan antisipasi berlebih.

Pikirannya berisik, satu pihak menginginkan agar ia meneruskan rencananya menemui pria di dalam ruangan yang sedang ia tuju, dan satu pihak mengutuknya dan menyuruhnya agar ia keluar dari gedung tersebut.

Menghiraukan kekacauan dalam pikirannya ia masuk ke dalam ruangan di depannya. Pria yang ia cari berdiri di belakang meja kerjanya dan tersenyum sopan padanya. Yoona menghiraukannya dan langsung mengambil tempat duduk di depan meja pria tersebut.

“Ms. Choi Yoona, benar?”

“Ya.”

Lagi, senyum yang ia lihat kembali muncul di bibir pria itu. Dan Yoona harus berjuang keras agar tidak melompati meja, lalu menancapkan ujung pena yang runcing pada leher pria dengan orbs hazel di depannya.

Melihat wajah keruh Yoona, kulit di sekitar dahi pria itu berkerut. “Ada yang ingin Anda katakan, Yoona?”

Tidak ada jawaban dari wanita yang duduk di hadapannya. Ia tidak menyerah. “Mungkin Anda bisa lebih terbuka pada saya dengan mengatakan apa yang ingin Anda katakan agar sesi terapi kita ke depannya berjalan dengan baik,” ucapnya.

Alis Yoona melengkung naik mendengarnya. Senyum sinis melunturkan ekspresi datarnya. “Anda yakin, Dokter?” ucapnya dengan suara rendah dan tenang.

Suara Yoona penuh teror dan janji akan sebuah hal gelap jika ia mengiyakan pertanyaan Yoona. Ia pernah menghadapi situasi yang hampir sama dengan saat ini. Meski begitu, tetap saja ia masih belum bisa menghilangkan sedikit perasaan takut yang menyusup tanpa ijin darinya.

Menatap langsung dalam orbs cokelat beku yang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. “Ya. Saya yakin.”

“Baguslah, seperti yang saya duga. Anda bukan seseorang yang akan lari jika berhadapan dengan diri saya yang sebenarnya.”

“Anda pasti sudah membaca berkas saya, bukan? Begitu juga dengan surat keterangan dari rumah sakit di negara saya. Kenalkan saya Choi Yoona, seorang penderita PTSD dan OCD, oh saya masih ragu tapi sepertinya saya mulai masuk dalam kategori seorang yang berkemungkinan besar menjadi seorang Psycopath.” Senyum ramah yang diberikan Yoona padanya membuatnya mengeluh dalam hati.

Wanita ini pintar memainkan peran, bagaimana bisa ia hidup dan masih berkeliaran di luar dan bukannya di rawat di salah satu rumah sakit karena kehilangan kewarasannya. Melihat dia yang bisa mengendalikan semua penyakit dalam dirinya, wanita menganggumkan, pikir pria itu.

“Saya Luca Ratajkowski, yang akan menjadi dokter Anda dan tentu saja membantu agar Anda bisa hidup tenang tanpa gangguan dalam diri  Anda.”

“Dokter bertanya apa ada yang ingin saya katakan? Well, sejujurnya saya ingin menancapkan pena yang ada di atas meja ke leher Dokter, jika Anda sekali lagi memberi saya senyum paten yang selalu Anda berikan pada pasien Anda.”

Luca tersenyum kaku dan secara perlahan mengambil pena yang dikatakan Yoona, meletakkannya sejauh mungkin dari jangkauan wanita itu.

Wanita yang mengerikan, batin Luca. Wanita itu mengingatkannya pada salah satu sahabatnya yang juga sama mengerikannya dengan Choi  Yoona.

Tahun pertama, Yoona belajar untuk menghilangkan traumanya. Semua itu dimulai dengan dia yang diminta untuk tidur lebih cepat dari yang selalu dilakukannya. Ia dianjurkan untuk menghadapi mimpi yang terus menghantuinya.

Buruk. Yoona hampir kehilangan kontrol dirinya. Untungnya Luca adalah orang yang sudah ahli dalam bidangnya. Membantunya mengendalikan emosi dalam dirinya.

Tahun kedua ia sudah mulai bisa bisa menghadapi traumanya, itu juga disadari Luca yang dengan kejamnya menyuruhnya untuk melangkah pada kasus OCDnya. Karena Yoona merupakan pasien yang cukup spesial, memiliki lebih dari satu penyakit mental. Maka Luca memutuskan untuk melangkah ke penyakit Yoona yang lain saat dirasanya wanita itu sudah bisa sedikit terlepas dari PTSDnya.

Yoona mungkin bisa menolerir untuk menggunakan pakaian berwarna putih karena warna itu tidak menimbulkan emosi berarti, namun tidak dengan memakai warna lain juga tidak melakukan  salah satu aktivitas yang selalu dilakukannya.

Rasa cemas yang berlebih menguasai Yoona dan ketika itu terjadi ketika ia berada di tempat umum, Yoona akan berakhir dengan menahan keinginannya untuk melakukan apa yang harus dilakukannya dan menenangkan dirinya, ia menjadikan ibu jari tangan kirinya sebagai sasaran. Hasil dari itu, kulit sekitar ibu jarinya penuh dengan bekas luka akibat tekanan kuku jarinya yang lain.

Tahun ketiga, ia belajar untuk berekspresi sesuai dengan yang ia rasakan. Tentu saja sangat sulit. Yoona seperti sedang telanjang di depan semua orang. Senyum yang meski terlihat kaku berhasil ia lakukan. Kata Luca, itu adalah sebuah kemajuan yang baik. Karena senyum itu adalah senyum tulus Yoona, bukan sebuah topeng yang selalu dipakainya.

Luca dan Yoona berhasil membawa hubungan mereka lebih dari seorang pasien dan dokter. Hal yang diterima Yoona dengan baik, ia sudah menganggap Luca bukan hanya sebagai seorang dokter yang membantunya menyembuhkan dirinya dari penyakit mental yang ia derita.

Luca Ratajkowski lebih dari itu. Lagi pula, Luca memiliki wajah yang tentunya masuk dalam jajaran pria yang diinginkan seorang wanita sebagai pangeran mereka.

Bagi Luca, Choi Yoona adalah wanita yang lebih dari seorang pasien. Wanita itu mengajarkan Luca banyak hal. Tentang sebab seseorang sepertinya bisa berakhir memiliki kegelapan dalam dirinya.

Yoona adalah wanita spesial bagi Luca Ratajkowski.

 

 

Sehun membeku di tempatnya. Mengerjapkan matanya beberapa kali hanya untuk meyakinkan bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan. Nyatanya orbs cokelat itu masih menatapnya. Meyakinkannya bahwa wanita itu nyata.

Hal yang menyakitkan, wanita itu menatapnya seolah ia tidak mengenalnya. Sehun tidak bisa lagi mempertahankan topeng yang ia pakai. Memperhatikan raut wajah datarnya masih sama. Namun, yang berbeda wanita itu memakai T-shir yang bukan dari dua warna yang selalu dipakainya.

Suara seorang pelayan menyadarkannya, ia meminta maaf  dan mengambil langkah menuju ke meja yang ditempati dua orang itu. Lalu dengan lancangnya suara Luca yang mengatakan bahwa ia ingin mengenalkan wanita yang spesial baginya menembus pikirannya.

Dengan mata terbelalak lebar ia menatap Luca lalu wanita itu. Tidak. Wanita itu tidak bisa melakukan ini padanya. Ia memacu langkahnya dan tiba di meja tujuannya. Duduk di samping Luca yang masih menatap bingung padanya dan dihiraukan Sehun.

Setelah bisa menguasai dirinya dari keanehan sahabatnya. Luca membuka mulutnya dan mengenalkan Yoona pada Sehun. “Yoona kenalkan Oh Sehun. Sehun kenalkan Choi Yoona.”

Yoona menatap Sehun. Melarikan tatapannya pada Sehun secara keseluhan sejak pria itu masuk dan berjalan ke arah mereka berdua. Tubuh Sehun lebih kurus dari yang ia ingat dan wajahnya meneriakkan kata hancur. Tidak ada lagi tatapan hangat dalam orbs hitam pria itu.

Sehun tidak baik-baik saja dan ia tahu siapa yang membuat pria itu seperti zombie. Masih memaku orbs cokelatnya pada orbs hitam Sehun. Ia berusaha menunjukkan apa yang ia rasakan lewat matanya.

“Choi Yoona, seorang penderita PTSD dan OCD. Luca adalah dokter sekaligus seseorang yang saya anggap sahabat.”

Luca terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan  Yoona. Wanita itu memberitahukan apa yang Yoona anggap sebagai kelemahan dirinya pada orang yang baru ia temui. Yoona benci jika dianggap lemah.

Jadi, apa yang terjadi saat ini? pikirnya.

Sehun tidak segera menyambut uluran tangan Yoona. Ia berusaha mengartikan dan mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi bahwa apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Dan Yoona memang menatapnya dengan tatapan yang selalu ia harapkan dari wanita itu.

Bukan tatapan cinta, tapi tatapan hangat yang membuat ia tahu, Yoona mulai membuka dirinya. Wanita itu mau memberinya kesempatan. Ia juga sadar, Yoona tahu apa yang ia sempat pikirkan saat melihat Luca dan dirinya.

Dengan senyum yang tidak pernah lagi muncul di wajahnya sejak tiga tahun lalu, ia menyambut uluran tangan Yoona. “Oh Sehun, seorang pria workaholic dan baru pindah ke Paris untuk mengurus kantor cabang perusahaan saya di sini satu bulan lalu. Luca adalah sahabat saya sejak kuliah.”

Melihat Sehun lalu Yoona. Luca berusaha memproses apa yang terjadi. Lalu perkataan Arsen tentang wanita yang menghancurkan hati Sehun terdengar dalam pikirannya. Menyambungkan dengan apa yang dilihatnya. Sebuah pemahaman terbentuk.

God, Yoona adalah wanita itu! pekik Luca dalam hati.

“Sehun, Yoona adalah wanita yang kuceritakan, seorang pasien yang kuanggap sebagai sahabatku. Dan Yoona, Sehun adalah sahabat yang juga kuceritakan tadi.” Seringai Luca muncul. Menatap keduanya dengan kilat jahil.

Sepertinya aku benar-benar akan menyembuhkan dua orang ini. Mungkin saja undangan akan segera muncul di depan pintuku, batin Luca.

 

Setelah semua kegelapan dalam hidupku berakhir,  aku berhasil mendapat ketenangan. Apakah aku menyesali apa yang pernah kulakukan? Jawabannya tidak. Aku tahu perbuatanku salah dan tidak ada yang bisa kulakukan selain membuat diriku untuk berubah.  Aku bertemu dengan pria bodoh yang masih memandangku seolah aku adalah pusat dunianya.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengannya. Namun, mungkin aku bisa belajar menerima kehadirannya. Dia yang selalu membuatku nyaman hanya dengan keberadaannya di sekitarku.

Aku dan Sehun mulai sering bertemu setelah pertemuan pertama kami.  Sifat Sehun yang selalu seenaknya kembali mengisi hari-hariku seperti tiga tahun lalu.

Dengan kehadiran Sehun, terapi yang aku jalani bersama Luca lebih mudah untukku. Entahlah, mungkin karena genggaman tangannya yang selalu menguatkanku.

Awalnya Sehun terkejut saat tahu aku pasien Luca, tapi setelahnya ia tersenyum dengan sangat lebar sampai pemikiran bahwa bibir Sehun bisa saja robek karenanya muncul dalam pikiranku.

Hal yang mengganggu adalah tatapan Luca yang seakan menunggu sesuatu yang luar biasa akan melompat keluar dari aku dan Sehun. Menyebalkan. Sangat menyebalkan hingga aku ingin mencungkil mata hazelnya. Saat aku mengatakannya, Luca terbelalak dan selalu menghindarkan jenis benda tajam apapun dariku.

Arsen. Pria gila itu langsung menghubungiku setelah dua bulan aku dan Sehun mulai sering menghabiskan waktu bersama. Aku tahu, pelaku yang memberi nomor ponselku dan menceritakan semua itu adalah Luca Ratajkowski sahabat dua pria yang memiliki tempat masing-masing dalam hidupku.

“Yoona….”

“Arsen.”

“Aku kecewa bahwa ternyata takdir  tidak mengizinkan kita bersama. Kau malah bersama dengan Sehun. Harusnya aku menahanmu dan membuatmu lebih mengenalku.”

“Tutup mulutmu, Arsen. “

“Ahahaha.. dari apa yang kudengar kau mulai membuka dirimu.  Aku yakin kau belum bisa merasakan perasaan yang sama pada Sehun.”

Aku terdiam sejenak. Arsen, pria itu selalu tahu apa yang aku rasakan. Menyebalkan. “Kau tahu jawabannya.”

“Oh, Yoona,, dan malangnya sahabatku juga tahu tapi dia dengan bodohnya senang dengan kau yang mencoba untuk belajar darinya seperti apa perasaan yang Sehun rasakan.”

“Hmmm….”

Well, selama kau mau mencoba. Aku akan mendukungmu. Jangan bermain-main dengan sahabatku kali ini, Yoona.”

“Ck, kalau kau takut aku hanya mempermainkan perasaan Sehun, kau tidak mungkin mengirimnya ke sini. Kau pikir aku tidak tahu siapa yang membuat dia berakhir di sini, huh.”

“Ahahaha… jenius, masih seperti dulu, Yoona. Take care. Ah, dan juga Sehun bukan Siwon karena dia tidak memiliki cinta masa lalu, ahahaha… aku  yakin kau bersama orang yang tepat. Kau juga bukan Ibumu. Kurasa aku akan mengunjungimu kapan-kapan. See u, Yoona.”

Senyumku mengembang. Arsen Carter adalah pria  yang mengerti diriku dengan baik. Dan ia juga masih seperti dulu. Menunjukkan kepeduliannya dengan caranya sendiri.

“See u,  Arsen.”

Aku memutus sambungan telepon dan berniat masuk ke dalam kamar, sebelum sebuah lengan menyusup masuk dan melingkar di perutku. Panas dari tubuhnya menyebar ke tubuhku, menepis dingin karena angin malam di balkon kamar apartemenku.

“Arsen?”

“Hmm…”

“Kau selalu lebih dekat dengannya.”

“Mungkin karena dia hampir sama sepertiku, harusnya aku juga menyuruhnya ke psikiater.”

Tawa terdengar dari pria yang saat ini memelukku. Aku bisa merasakan dadanya yang bergetar karena tawanya.  Dan pelukannya semakin mengerat.

“Arsen pasti membalasmu dengan perkataan sinisnya.”

“Ya, dan wajah menyebalkan miliknya.”

Tidak ada jawaban darinya. Hanya kepalanya yang ia surukkan ke leherku. Bibirnya tertarik ke atas dan aku tahu, ia tengah tersenyum.

“Sebaiknya kita masuk.”

“Hmm….”

Aku dan Sehun kembali ke dalam dan berbaring di ranjang milikku. Sehun mulai sering menginap, meski aku selalu mengusirnya untuk tidak menginap. Namun, keras kepala adalah nama tengah Sehun. Jadinya aku hanya bisa membiarkan dia berkeliaran di apartemenku, tentu saja masih dalam batas yang aku tentukan.

Jangan bayangkan aku dan dia sudah melakukan seks. Tidak. Aku hanya akan memberikan apa yang aku anggap berharga pada pria yang pantas untuk mendapatkannya.

Tentu saja seorang suami.  Apa Sehun bisa menjadi orang itu? Mungkin saja.

 

 

END

 

*Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain dari 1920 hingga 1939.

*selamat akhir pekan.

.

.

.

 

AN

 

HALO.. INI BAGIA EPILOG YANG AKU JANJIIN YA… MAAF LAGI” KELAMAAN POSTNYA. AKU LAGI FINAL SEMESTER JADI GG BSA UPDATE ..

 

SEMOGA PUAS YA. SILAHKAN TINGGALKAN JEJAK #KETJUPBASAH

Advertisements