HATRED : Ekstra Part

Title : Hatred (Ekstra part)

Cast : Im Yoona as Choi Yoona || Oh Sehun || Choi Siwon

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

“Aku tidak akan mau kau duakan, Siwon!”

“Terserah! Aku tidak butuh izinmu, aku hanya memberitahumu bahwa aku akan menikah dengannya.”

Taeyeon menatap suaminya yang sudah tidak dikenalnya. Pria di depannya bukan lagi suami yang mencintai dan selalu berusaha membahagiakannya. Orang itu sudah pergi dan digantikan dengan sosok yang tergila-gila dengan cinta masa lalunya.

Semua kecurigaannya berkumpul dan mendesaknya agar mengeluarkan semuanya. Maka ia melakukannya. Menanyakan semua hal yang terus menghantuinya selama beberapa bulan ini saat Siwon perlahan menjauh darinya dan juga kedua anak mereka.

“Katakan, apa wanita itu yang membuatmu menghilang dari hidupku dan anak-anak selama beberapa bulan ini? Bahkan untuk merayakan  ulang tahun putrimu kau tidak melakukannya.”

Siwon tidak menjawab, hanya memalingkan pandangannya ke jendela kamar. Taeyeon tidak butuh jawaban dari mulut Siwon karena ia mendapatkannya dari bahasa tubuh pria di depannya. Tersenyum miris, ia berusaha keras menahan airmatanya yang sebentar lagi akan keluar.

Kebisuaan menguasai keadaan. Baik Taeyeon dan Siwon hanya saling berdiam diri. Taeyeon menghela napas dalam. Menguatkan tekadnya, ia sudah membuat keputusan dan ia akan melakukannya. Meski itu artinya ia harus merelakan suaminya. Ia tidak bisa hidup bersama wanita lain dan membiarkan dirinya perlahan hancur karenanya.

“Baiklah. Kau boleh menikahinya,” ucap Taeyeon, dan berhasil menarik perhatian Siwon kembali padanya. “Kau boleh menikahinya, tapi ceraikan aku.”

Siwon menatapnya dengan pandangan tidak percaya dan setelahnya berganti menjadi tatapan tajam. “Aku tidak akan  menceraikanmu, Taeyeon,” ucapnya tajam.

“Aku tidak butuh izinmu, sama sepertimu. Aku hanya memberitahumu. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan karenamu.”

Siwon masih menatapnya tajam, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia memang berniat menikahi Tiffany, tapi tidak dengan menceraikan Taeyeon. Tidak. Ia masih mencintai wanita yang berdiri berhadapan dengannya. Namun, ia juga mencintai Tiffany yang merupakan cinta pertamanya.

Siwon menggeram frustasi. Dua sisi dirinya saling berperang. Satu mengutuk dirinya yang terlalu lemah dan akhirnya membiarkan ia kembali mencintai Tiffany. Pertemuan mereka yang terjadi beberapa bulan lalu di restoran Tiffany bekerja, berhasil membangkitkan kenangan dan juga perasaannya pada wanita itu.

Satu sisi lainnya mendukung niatnya. Mengatakan ia tidak salah jika ingin memiliki dua wanita dalam hidupnya. Sisi serakah dalam dirinya menang. Dengan keputusan bahwa ia tidak akan melepaskan Taeyeon. Ia menatap wanita itu. “Kau tidak akan bisa lepas dariku, Taeyeon. Tidak akan pernah.”

Mendengar apa yang baru saja dikatakan Siwon membuatnya hampir kehilangan kontrol dirinya.  “Kau terlalu serakah. Sekarang buat keputusanmu. Jika kau tetap dengan niatmu, kau tidak akan melihatku lagi.”

Siwon benci dengan kekeraskepalaan Taeyeon. Ia menggeram, lalu tanpa mengatakan apapun ia berlalu pergi. Meninggalkan Taeyeon sendiri dalam kamar mereka.

 

Taeyeon menatap pintu yang dilalui Siwon lima menit yang lalu. Berpikir apa yang ia harapkan dengan menatap pintu itu. Suaminya tidak akan kembali. Pria itu akan melaksanakan niatnya menikahi Tiffany hari ini juga.

Menyadari itu semua membuatnya mengeluarkan tawa histeris. Semua yang ia miliki hancur karena wanita masa lalu suaminya. Dengan semua kesedihan yang ia rasakan, kenangan akan orangtuanya yang tidak menyetujui pilihannya menikahi Siwon menghantam benaknya.

Lututnya goyah dan ia jatuh terduduk di lantai kamarnya. Apa ini hukuman karena aku tidak mendengar apa yang kalian katakan Ayah, Ibu. Jika benar, semua ini sangat menyakitkan, batinnya.

Ia tergugu dan memeluk tubuhnya sendiri. Merasa benar-benar hancur atas apa yang dilakukan suaminya. Bayangan kedua anaknya membuat kesedihannya semakin bertambah. Wajah sedih Yoona yang tidak melihat sosok Ayahnya saat ulang tahunnya, dengan itu airmatanya tidak bisa berhenti keluar hingga beberapa jam kedepan.

Dering ponsel mengusik tidur Taeyeon. Ia mengerjap dengan salah satu tangan dijulurkan ke atas nakas. Dibukanya kunci layar ponsel dan keningnya berkerut melihat ia mendapat satu pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.

Tanpa prasangka ia membuka pesan yang dikirim, detik berikutnya ia menyesali tindakannya. Dadanya sesak dan ia hanya mampu menatap ponselnya selama setengah jam. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua yang ia lihat hanya ilusi.

Gambar Siwon yang tidur dan tengah memeluk wanita di sebelahnya. Keduanya tidak memakai atasan dan hanya ditutupi selimut. Gambar kedua, Siwon bersama wanita tadi dan seorang gadis yang seumur dengan putrinya tengah tertawa di salah satu restoran.

Taeyeon tidak harus menjadi jenius untuk tahu bahwa Siwon tengah bersama keluarga barunya. Pria itu benar-benar melaksanakan apa yang ia katakan. Dan Taeyeon hancur karenanya.

Ia melempar ponselnya ke dinding kamar dan beranjak bangun. Tatapan matanya kosong, ia tidak memiliki alasan apapun untuk bertahan. Berjalan ke arah laci nakas. Ia mengambil pisau cutter dan duduk di samping ranjangnya.

Mengiris pergelangan tangannya dan setiap rasa sakit yang timbul karena sayatan dalam yang ia lakukan mengangkat beban di hatinya. Ia tidak merasakan sakit lagi atas apa yang beberapa menit lalu dilihatnya.

 

Yoona terbangun. Tenggorokannya kering meminta air dan karenanya ia beranjak bangkit dari ranjang, menuju dapur. Samar, ia mendengar isak tangis. Perasaan takut perlahan merayap masuk dalam dirinya.

Menggeleng, ia menepis pikiran negatif dan mencari sumber suara. Ia berhenti di depan pintu kamar orangtuanya. Dahinya mengerut, tidak yakin bahwa apa yang didengarnya berasal dari ruangan di depannya.

Perlahan ia memutar handel pintu, terbuka. Kerutan di dahinya semakin dalam ditambah dengan tangisan yang semakin jelas didengarnya. Daun pintu dibuka lebih lebar dan di sana. Tepat beberapa langkah di depannya Ibunya duduk dengan pergelangan tangan kiri terus mengeluarkan darah. Yoona tidak mengerti dengan apa yang ia lihat.

Ia bisa melihat Ibunya yang menatapnya dengan senyum rapuh dan memanggil namanya. “Yoona. Putri Ibu yang manis.”

Menghiraukan perkataan Ibunya, Yoona  mengalihkan matanya ke arah tangan Ibunya yang terus mengeluarkan darah.

Ibunya sadar dengan tatapannya. Ia masih tetap tersenyum. “Tidak apa. Ibu baik-baik saja. Dengan ini Ibu tidak akan merasakan sakit lagi. Yoona tidak ingin Ibu sakit, bukan?”

Yoona refleks menggelengkan kepalanya dengan kuat. Mengundang senyum lebar Ibunya. Namun, semakin lama darah mulai surut dari wajah Ibunya. Ia meringis, dan memancing Yoona melangkah masuk , berniat menghampiri Ibunya.

“Jangan mendekat, Yoona. Ibu tidak ingin kau ikut berdarah. Ingat ini Yoona, jangan pernah membenci Ayahmu, hmm. Dia tidak jahat, Ayahmu hanya sedang terperangkap dalam cinta masa lalunya.”

“Ibu.” Suara Yoona bergetar, ia menghiraukan larangan Ibunya. Mendengar Ibunya menyebut Ayahnya, ia tahu ada yang salah.

“Ibu menyayangimu dan Minho. Jadi anak yang kuat dan jangan lupa untuk tidak membenci Ayahmu. Ahh, Ibu mulai mengantuk.” Mata cokelat Ibunya perlahan menutup.

“Jangan…” Mendengar suara Yoona, Ibunya berusaha keras membuka matanya hanya untuk melihat Yoona tinggal selangkah lagi ke arahnya.

“Ibu.. Jangan pergi…,” ucap Yoona. Selanjutnya ia melihat mata Ibunya menutup sepenuhnya.

Yoona berlari cepat menghampiri Ibunya. Memeluk tubuh Ibunya dan mengguncangnya. “Ibu… Ibu buka matamu, Ibu jangan seperti ini.”

Tidak mendapat jawaban dari Ibunya, tangis Yoona pecah. Beberapa saat setelahnya ia bisa melihat pengurus rumahnya datang ke kamar Ibunya. Mereka terkesiap, kemudian setelah mendapat kesadarannya. Mereka berpencar, beberapa orang menghampiri Yoona dan Ibunya.

Yang lain membangunkan Minho dan juga menghubungi rumah sakit, lalu kepala keluarga Choi yang ponselnya tidak dalam keadaan aktif. Pengurus rumah yang berada di kamar Ibunya berusaha melepas tubuh Ibunya dari pelukan Yoona.

Seperti patung, Yoona memeluk erat tubuh Ibunya, menolak  melepasnya. Matanya kosong.  Mulutnya terus mengulang ucapan yang sama. Menyuruh Ibunya bangun. Dihiraukannya teriakan panik Minho yang sekarang berada di depannya.

Ia memaksa melepas pelukan Yoona dan menyuruh pelayannya mengangkat tubuh Ibunya untuk dibawa keluar menunggu ambulans tiba.

Minho memeluk Yoona dan salah seorang pengurus rumah tangganya tidak hentinya menghubungi seseorang.

Tubuh Ibunya diletakkan di atas brankar rumah sakit dan di dorong masuk ke dalam sebuah ruangan. Tidak menunggu lama, seorang dokter keluar dengan wajah iba menatap ke arah mereka.

Mengatakan bahwa Ibunya tidak bisa diselamatkan karena darah yang keluar sudah terlalu banyak. Tampaknya mereka  terlambat menemukan dan membawa Ibunya.

Minho jatuh terduduk di lantai. Tadinya  ia dalam posisi berdiri menggendong Yoona.  Tangisnya terdengar namun kalah dengan teriakan histeris Yoona. Ia meloncat turun dari gendongan kakaknya dan berlari masuk dalam ruangan di depannya.

Melihat Ibunya ditutupi kain, ia histeris. Mendorong perawat yang berada di sampingnya dan memeluk Ibunya. Menyuruh Ibunya agar bangun dan berjanji tidak akan nakal lagi. Tapi, Ibunya tidak meresponnya.

Yoona pingsan dan baru membuka matanya dua hari kemudian. Awalnya ia berusaha mengingat di mana ia berada sebelum ingatan Ibunya yang meninggalkannya membuatnya menangis histeris. Pintu dibuka dengan kasar dan ia menoleh. Di sana tidak jauh darinya dilihatnya Ayahnya dalam keadaan berantakan.

Perkataan Ibunya kembali terdengar dan bukannya menuruti permintaan Ibunya. Ia menatap benci pada Ayahnya dan setelah itu teriakan penuh kebencian keluar darinya. Mengatakan Ayahnya adalah pembunuh Ibunya dan ia membencinya.

Ayahnya maju dan memeluknya namun ia berontak. Kuku jarinya menggores pipi Ayahnya dan keributan itu mengundang perawat masuk. Ia berusaha ditenangkan dan Yoona baru bisa tenang saat disuntikkan cairan yang membuatnya terlelap.

 

Siwon bangun dengan senyum di wajah. Mengingat kemarin adalah salah satu hari terbaik di hidupnya. Meraba tempat di sampingnya dan ia tidak menemukan wanita yang telah resmi menjadi isterinya.

Harum masakan menusuk indera penciumannya, satu pikiran terbentuk. Wanita yang ia cari tengah memasak sarapan untuk mereka. Ia bangkit dari posisinya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di nakas. Ponselnya dalam keadaan non aktif.

Ia menghela napas dalam, mengingat alasan ia mengnonaktifkan ponselnya. Detik ia mengaktifkan ponselnya, panggilan tak terjawab dari nomor telepon rumahnya memenuhi ponselnya.

Dahinya berkerut. Memutuskan untuk menelepon balik. Percobaan ketiga, panggilannya diangkat dan suara salah satu pelayannya menyapa gendang telinga Siwon.

Satu kalimat dari pelayan itu. Siwon langsung bergegas mencari pakaiannya dan memacu mobilnya ke rumah sakit, menghiraukan teriakan Tiffany. Kecemasan membelit kuat dirinya dan pikiran akan perkataan Taeyeon menambah kekalutan yang ia rasa.

“Kumohon jangan berbuat bodoh, Taeyeon,” gumamnya.

Ia memarkir mobilnya dan berlari masuk gedung di depannya. Ia melihat sosok yang dikenalnya. Dipanggilnya pria setengah baya yang merupakan kepala pelayan di rumahnya. Sosok itu menoleh, ada rasa terkejut yang kemudian berganti dengan tatapan iba.

“Bagaimana keadaan Taeyeon?”

Pria tua itu menunduk dan menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaannya. “Nyonya tidak bisa diselamatkan, Tuan.”

Otaknya kesulitan memproses apa yang ia dengar. Lalu rasa tidak percaya menguasainya. “Apa maksudmu? Apa yang dilakukan Taeyeon sampai ia dibawa ke rumah sakit, huh!”

“Sebaiknya Tuan ikut saya. Juga Nona Yoona tidak sadarkan diri sejak dini hari.”

Seperti robot ia mengikuti langkah pria di depannya. Mereka bertemu salah satu perawat dan wanita itu ikut berjalan bersama keduanya. Ia berhenti di salah satu ruangan yang membuat ketakutan dalam dirinya bertambah.

Pintu dibuka dan ia digiring menuju salah satu brankar. Kain yang menutupi tubuh di bawahnya disibak dan ia bisa melihat wanita dengan warna rambut yang sama dengan Taeyeon terbaring kaku di depannya.

Ia tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan perawat tersebut.  Ia hanya melihat kain yang menutupi tubuh wanita itu digeser untuk menunjukkan lengan kirinya. Luka sayatan dalam terlihat menodai keindahan tubuh wanita yang sekarang kehilangan kehidupannya.

Airmata mendesak keluar, lalu tumpah membasahi pipinya disusul teriakan histeris Siwon. Meneriakkan nama wanita yang masih ia cintai. Kepedihan mengisi jiwanya dan bayangan wajah terluka isterinya menghukum Siwon.

“Bangun Taeyeon, kumohon. Apa yang kau lakukan berbaring di brankar ini, kau tidak kedinginan, huh?”

Dan selama beberapa jam kedepan ia larut dalam perasaan kehilangan salah satu wanita yang ia cintai.

Setelah menguatkan dirinya, Siwon mengurus jenazah Taeyeon untuk dimakamkan. Pemakaman diisi dengan tangis putranya, Yong Jae dan istrinya  juga beberapa kerabat yang menghadiri pemakaman.

Siwon tidak memiliki muka untuk menunjukkan pada orang luar bahwa ia berperan besar dalam kematian istrinya. Karena itulah pada Yong Jae dan kerabat lainnya, Siwon mengatakan bahwa Taeyeon meninggal karena sakit.

Minho menghindarinya. Ia sadar akan hal itu. Namun egonya terlalu besar untuk mengemis perhatian anaknya. Ia memutuskan untuk menunggui putrinya yang masih belum sadar di rumah sakit.

Hari kedua, Yoona sadar. Ia mendengar jerit tangis Yoona dan berlari membuka pintu kamar rawat putrinya. Orbs keduanya bertemu dan hal yang ia kira tidak akan didapatkan dari Yoona terjadi.

Yoona menatapnya dengan mata penuh kebencian dan Siwon tidak lagi menemukan putri yang selalu ia pangku dalam diri Yoona.

“Pembunuh. Ayah membunuh Ibuku! Aku benci Ayah!”

Telak. Teriakan penuh kebencian Yoona melukai Siwon.

Siwon berbicara dengan seorang dokter. Dokter itu mengatakan Yoona mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan agar ia tidak mendapat tekanan lebih berat. Semua itu menambah beban perasaan bersalah dalam diri Siwon.

Ia membutuhkan seseorang dan bayangan wanita lain muncul dipikirannya. Ia memilih melarikan diri dari rasa sakit yang ia tanggung. Mengabaikan Yoona dan Minho, mencari kebahagiaan dirinya sendiri.

Minho putranya, nyatanya sama sepertinya. Ia tidak bisa menanggung rasa sakit yang ditimbulkan atas kematian Taeyeon. Putranya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Tanpa sadar mereka berdua meninggalkan satu sosok yang sangat membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya.

Ketika Yoona muncul di depan pintu rumah setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit, Siwon terlalu terkejut dan malu. Ujungnya ia mengabaikan Yoona sampai putrinya beranjak dewasa karena tidak sanggup untuk menatapnya.

 

Hal yang akan ia sesali nantinya. Siwon hanya tahu bahwa trauma Yoona memaksa otaknya untuk melupakan apa yang telah dialaminya. Melupakan seluruh masa lalunya karena dianggap terlalu menyakitkan untuknya.

Sayangnya  ia tidak tahu bahwa apa yang dilihat Yoona pada Ibunya meninggalkan bekas diingatannya dan melekat kuat. Membuatnya hidup dengan kenangan yang selalu menghantui tidurnya selama sembilan tahun. Dan menimbulkan kebencian yang mengakar kuat juga dendam yang menuntut pembalasan.

Yoona berdiri di depan makam yang baru ia kunjungi kembali setelah 13 tahun. Makam itu masih tetap bersih dari rumput liar dan ia tahu siapa yang bertanggung  jawab menjaga makam tersebut.

Ditatapnya nisan yang menuliskan nama wanita yang ia sayangi dan juga dibencinya. “Apa kabar, Ibu.”

Keheningan menjawab sapaannya dan ia melanjutkan perkataannya. “Ibu baik-baik saja? Kuharap Ibu menemukan ketenanganmu. Aku sudah menemukannya.”

“Ketiga orang yang aku benci sudah membayar atas perbuatan mereka padaku. Sedang Minho… yah, aku tidak bisa berada satu tempat dengannya tanpa mengingat betapa pengecut dirinya. Karena itulah aku memutuskan untuk keluar dari negara ini.”

Angin menyapa dan memainkan rambutnya yang sekarang mencapai punggung. Ia menyelipkan helai rambut yang menutupi pandangannya dan kembali bermonolog. “Kenapa  aku kembali? Karena pria bodoh yang menjadi salah satu duniaku merindukan Adik kecilnya setelah satu tahun berpisah. Ck, aku masih tidak menyukai keputusanku untuk ikut dengannya.”

“Ahh… aku kembali bertemu dengan Paman dan Bibi, Devon, serta Arsen. Yah, asal Ibu tahu, pria itu sepertinya bertambah tidak waras. Dia dengan beraninya mengecup sudut bibirku dan memelukku erat di depan Sehun. Ugh… jangan  salahkan aku yang menarik kasar rambutnya dan meninju rahangnya.”

“Oh,,, Seohyun sahabatku akan menikah bulan depan tentunya dengan soulmatenya Ethan.  Luca,,, dia sepertinya mulai tertular virus gila Arsen. Kadang aku prihatin dengan dua orang itu, aku tidak yakin ada wanita yang mau dengan mereka.”

Dering ponselnya mengakhiri monolognya. Ia melihat ke layar ponsel dan pesan dari Sehun berhasil menarik sudut bibirnya ke atas.

 

Aku merindukanmu. Kuharap kau akan mengajakku bertemu Ibumu. Cepatlah pulang.

 

Menunggumu di apartemenku. Minggu depan kita akan kembali ke Paris dan melaksanakan pernikahan kita.

 

xoxo

Sehun.

 

 

“Aku harus kembali. Sampai jumpa, Ibu.”

Yoona melangkah menuju gerbang pemakaman dan masuk ke dalam mobilnya. Memacunya menuju ke tempat pria yang terus berada di sisinya dalam kondisi apapun itu.

 

 

 

END

.

.

.

.

 

 

AN. EKSTRA PART BUAT PEMBACA HATRED ^^.. AKU UDAH JANJI YA… JADI AKU BUAT EKTRA PART. MAAF KLAU GG SESUAI EKPETASI ,, AHAHAHA

 

HAPPY READING^^

 

JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YA^^

Advertisements

14 thoughts on “HATRED : Ekstra Part

  1. Uuughh,Siwon terlalu serakah mencintai istrinya Taeyeon dan masa lalunya.Jadi…Siwon selama itu merasa malu dengan Yoona,dan memilih mengabaikannya dengan lari kepada keluarga barunya.Yoonhun akan menikah di Paris?apa mereka memutuskan tinggal di Paris setelah menikah?Arsen dan Luca?Apa Arsen yang mencium Yoona disudut bibirnya???Dan dilakukan dihadapan Sehun..😂..reaksi Sehun?Kali ini apa tidak ada part tambahan lg thor?

    • Iy… alasan Siwon menjauh dr anak”.a karena malu sm perasaan brslh y😅😅….

      Yg nyium Yoona it ArArsen

      Ekstra part lagi? 😅😅😅.. udah y…. nnt hatred gg slesai”😂😂

      Gomawo dh rc😄😄

  2. Waaaaahhh kereeeeennn, ini asal muasal keretakan rumah tangga siwon-taeyeon wkwkw duuhh sehun diaaaa waaaahh pokoknyaa wkwkw
    Yoona udh mulai sembuh dan cinta sama sehun huhuh

  3. Keren banget jd yoona beneran sama sehun??mereka mau nikah minggu depan ah jd penasaran gmna pernikahan mereka,keluarga mereka nanti??gpp eonni hatred ga kelar2 soalnya ceritanya bener2 seru dan buat orang penasaran nunggu dan nebak kelanjutannya semogaasih ada lanjutannya ya eonni😄😊 dan ditunggu karya2 yg lainnya atau sequel hatred keluarga yoonhun,gomawo eonni

  4. Omoooookk… Eoniiiii,,, janjimu tertepati… Uwaaaa,, keren eoni…. Pertanyaannya adalah, apakah setelah ini ada ff baru😂😂😂… Ini sedikit mengurangi penasaranku eoni tentang kelanjutan yonhun.. Hreheheh✌.. Dtunggu ff berikutnya. Oh ya eoni, apakah eoni juga punya akun wattpatd?.?

    • Ahaha.. iy kan udh janji😆

      Senang kl km suka saeng😗

      Ff br?? Insya Allah y… mau libur dlu .. kn mau lbran😆😆😅

      Dtngg y😆😄

      Aku pu.a akun wattpad… @TiwiWhielfElf

      It akun wattpad aku😄😄

      Gomawo dh rc saeng😗

  5. Ikhh seneng deh pas bacanya ,,kan jadi tau penyebab siwon selalu mengabaikan yoona ,,sebel juga sih pas siwon memutuskan menikahi tiffany cinta pertamanya,jahat banget dan serakah pula,,wanita mna coba yng mau d duakan,,kasihan taeyeon
    Alhamdulillah ternyata yoona sama sehun dan mau nikah yeeee,,,
    D tunggu ya ff barunya,,,

  6. karma buat siwon 😒 egonya terlalu tinggi, terlalu serakah jd ya jgn salahin kalo anaknya yg manis brubah jd monster 😅 monster cantik 😆
    mrk mau nikahhh 😆😆 author.. bikin ekstra part lg yaaa 😁😁

  7. Sumpah ya thor biasanya ff klo kepanjangan itu ngebosenin tp ini ngga sama sekali.. seruuu bangettt ky lg nonton drama koreaa 😁😁 tp sebenernya sihh sedih bngt knp disini karakter yoona jahat bin sadis bangett yakkk 😢😢 ngga sesuai ame mukanyee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s