Title : Douleur (Volonté (2/2)

Cast : Im Yoona as Kim Yoon Ah || Oh Sehun/ Wu Shi Xun|| Kris Wu/ Wu Yi Fan

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Tawa gadis dengan mata berbeda warna terdengar, bergabung bersama tawa orang-orang yang menjadi bagian hidupnya di tingkat Lycées. Matanya tidak sengaja menangkap pemandangan yang membuatnya menyumpah dalam hati.

Berseberangan dari tempatnya berdiri. Dua keluarga tampak bahagia, rombongan gadis pemuja siswa laki-laki dengan orbs hitam yang menjadi peraih nilai tertinggi dalam ujian akhir, silih berganti mengucapkan selamat. Begitu juga dengan orang tua siswa serta guru-guru sekolahnya.

Raut bangga terlihat di wajah empat orang dewasa yang mengapit siswa laki-laki itu. Hal yang memuakkan baginya adalah wajah sombong sosok yang menjadi bintang di hari pelulusan angkatannya.

Gadis itu tahu, di balik senyum ramah dan sikap sopan lelaki muda itu, terdapat ribuan pujian untuk dirinya sendiri dan sifat merendahkan bagi mereka yang dianggapnya tidak pantas untuk bergaul dengannya.

Lelaki yang lebih suka menghabiskan waktunya sendiri, hanya memiliki beberapa teman yang tidak bisa dikatakan sebagai sahabat, anehnya siswa-siswa di sekolahnya dengan bodoh masih mengidolakannya, menghujat namun mengagumi kesempurnaan yang dimiliki lelaki dengan orbs hitam itu.

Orbs berbeda warna miliknya bertemu dengan orbs hitam lelaki tersebut. Ia menerima tatapan itu lagi, tatapan penuh hinaan dan juga seringai yang menunjukkan maksud pemiliknya dengan baik.

Lelaki yang selalu bersikap merendahkannya, mengata-ngatainya dengan racun di setiap kata yang keluar dari bibirnya. Menikmati kesusahan yang gadis itu alami, mencuri semua yang harusnya menjadi miliknya dan membuang dirinya dalam penderitaan, lelaki itu dan salah satu pasangan dewasa yang berdiri mengapitnya adalah orang-orang yang dibenci gadis pemilik mata heteronomia.

 

 

Dua keluarga duduk berhadapan, menempati salah satu meja restoran yang terkenal di Paris. Maison Baccara yang berlokasi di hotel megah Marie-Laure de Noailles, di arrondissement ke-16 Paris. Restoran yang juga dikenal dengan nama Restoran Cristal Room Baccarat  berada di lantai pertama itu, memiliki gaya barok chic dengan lampu-lampu kristal gantung, marmer, cermin berpigura emas, kayu, batu bata, panel-panel membentuk kesatuan yang harmonis. Restoran yang dipilih oleh dua keluarga itu untuk merayakan kelulusan salah satu dari dua remaja lelaki yang mengambil tempat di samping dua pasangan dewasa di meja itu.

Kris dengan navy blue suitnyamenghentikan tawa saat melihat aura berbeda dari remaja dengan umur  dua tahun di bawahnya. Merasa diperhatikan, Sehun yang malam ini menggunakan jas hijau gelap dengan kaus warna sama di dalamnya, kedua orbs hitam itu bertemu.

“Kau tampak tidak terlalu senang  dengan makan malam ini.” Suara bariton Kris menarik perhatian empat orang dewasa di meja tersebut.

Senyum tipis terlihat di wajah Sehun. “Aku hanya ingin tahu alasan Yoona tidak ikut makan malam bersama kita, bukankah hari ini adalah kelulusannya juga?” Suasana bahagia berganti, perkataan lelaki itu membawa suasana kaku.

Decakan jengkel dari Kris terdengar sebagai balasan pertanyaan Sehun yang duduk  di depannya. “Gadis itu memiliki rencana sendiri. Kau masih menginginkan saudara lain selain kakakmu ini, heh,” nada suaranya dibuat ringan, menyembunyikan rasa tidak suka dari dirinya.

Sehun hanya mengangkat bahu dan mengulas senyum lebar, setelahnya suasana di meja itu kembali dikelilingi dengan kebahagiaan, berbalut rasa bangga atas prestasi yang dicapai oleh Kris–remaja berusia 18 tahun itu.

 

 

Yoona duduk di depan meja riasnya. Memberikan polesan maskara pada bulu matanya disusul memberikan sentuhan lipstik pada bibir, make up yang dibuatnya terkesan natural yang menjadi ciri khas wanita kota Paris.  Rambut hitam bergelombang miliknya ditata sedikit berantakan.

Merasa cukup, ia bangkit dan berjalan menuju pintu kamarnya.  Gumaman potongan lagu yang disukainya menemani langkahnya ke garasi mobil. Audi miliknya dilajukan menuju salah satu klub malam yang menjadi tempat janjian dengan teman-temannya untuk merayakan kelulusan mereka. The Wagg Club yang berada di distrik Saint-Germain-des-pres.

Suara hentakan musik menyambutnya, seringai melebar dengan antusias yang membuncah terlihat darinya. Menemukan teman-temannya, ia mulai larut dalam suasana yang ditawarkan setiap klub malam. Kepalanya diletakkan pada salah satu bahu teman lelakinya.

“Ahh,,, menyebalkan. Orang-orang itu benar-benar menganggapku seperti sampah,” racaunya. Empat temannya yang tidak ikut turun di lantai dansa, menoleh ke arahnya.

“Kenapa?” Gadis dengan rambut platinum blondenya menatapnya dengan mata tidak fokus.

“Cih, hanya karena aku mendapat nilai terburuk di ujian akhir dan lelaki brengsek itu menjadi yang terbaik, aku membencinya, sangat membencinya.”

 

Dilihatnya tiga orang itu keluar, wajah bahagia yang ditunjukan ketiganya membuat Yoona merasakan perasaan marah dan juga terluka di saat bersamaan. Tubuhnya terpaku di koridor lantai dua rumahnya. Tangannya mencengkeram pembatas balkon di depannya.

Selalu seperti itu, ketiga sosok itu akan merayakan hari-hari terbaik mereka bersama paman, bibi, serta sepupu yang berada dua tahun di bawahnya. Meninggalkannya sendiri di rumah besar yang menjadi neraka baginya.

Bodohnya, gadis dengan mata unik itu masih berharap secuil perhatian dari pasangan yang baru saja meninggalkan dirinya bersama lelaki yang merebut tempatnya. Selalu melupakan ratusan luka dan rasa sakit yang di dapatnya ketika setiap harapan kecilnya hanya menjadi angan-angan yang terlalu mewah baginya.

Tubuhnya tersentak bangun dengan keringat yang membasahi gaun tidur hitamnya. Matanya menyisir area kamarnya, dan decakan jengkel keluar dari bibirnya. Diraihnya gelas yang berada di nakas.

Setelahnya ia mengusap peluh di dahi, “Gadis bodoh, masih terus berharap pada sosok yang tidak menginginkanmu,” rutuknya, kemudian mengangkat tubuhnya dari tempat tidur dan mencari buku sketsa miliknya, setelah menyalakan lampu kamar. Sepertinya ia akan menghabiskan waktu menunggu pagi dengan membuat beberapa sketsa pakaian, kegiatan yang disukainya sejak duduk di bangku kelas 2 Collège.

 

..

* Lycées, sebutan untuk sekolah tingkat SMA di Perancis.

* Collège, sebutan untuk sekolah tingkat SMP di Perancis.

 

Advertisements