Title : Douleur (Figure)

Cast : Im Yoona as Kim Yoon Ah || Oh Sehun/ Wu Shi Xun|| Kris Wu/ Wu Yi Fan

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Gadis kecil dengan drees biru gelapnya menatap kedua orang tuanya yang masuk ke dalam rumah, menggandeng seorang bocah laki-laki. Orbs heteronomianya bertatapan dengan orbs hitam si bocah.

“Yoona, mulai saat ini Kris akan tinggal bersama kita.” Ayahnya yang tidak pernah melihatnya dengan senyum di bibir sekarang tersenyum padanya.

Kim Yoon Ah, gadis kecil di umur 2 tahun memiliki adik angkat. Sudut bibirnya terangkat ke atas, berpikir akan sangat menyenangkan,  dengan adanya bocah yang ia kenali sebagai sepupu tinggal bersama dengannya.

“Jaga Kris baik-baik, Yoona,” ujar ibunya. Wanita yang sampai saat ini masih diinginkan pelukan hangatnya oleh Yoona.

“Ya, Ibu.” Mengangguk dengan  semangat dan menatap Kris yang masih menatapnya dengan wajah datar.

Ia mendekat ke arah Kris berniat menggandeng tangannya, seingatnya bocah itu sangat sulit untuk diajak bermain bersama. Setiap kali kedua orang tuanya datang ke rumah paman dan bibinya, Kris selalu bermain dengan mainannya sendiri tanpa berniat mengajaknya.

Kris melangkah ke belakang tubuh ayah Yoona, wajahnya merenggut dan memegang kaki pria dewasa di depannya.

“Bermainlah dengan Yoona, Kris. Ayah dan Ibu harus mengurus sesuatu,” bujuk  Do jin sembari melepas cengkeraman Kris.

“Ya, bermainlah denganku.” Yoona meyakinkan Kris dengan senyum miliknya, seperti teringat sesuatu, Yoona menatap Ibunya. “Ibu, bagaimana dengan Paman dan Bibi? Apa mereka tidak kesepian?”

Senyum ibunya semakin lebar dan Yoona terpana akan hal itu.  Selama ini, kedua orang tuanya tidak pernah tersenyum kepadanya. Hanya pengasuhnya yang selalu mengurusnya, wanita dengan umur yang tidak terlalu berbeda jauh dari kedua orangtuanya, menjaganya selama satu hari dan akan kembali ke rumahnya ketika ayah dan ibunya pulang kerja.

Yoona kecil tidak pernah tahu alasan ayah dan ibunya bersikap berbeda dengan orangtua teman-temannya. Dia menginginkan perhatian kedua orang dewasa yang selalu bersikap dingin padanya.

“Adik sepupumu yang baru sudah lahir, jadi Ayahmu meminta Paman Yin untuk membawa Kris ke rumah. Ayah dan Ibu sangat menginginkan seorang putra.” Menatap Kris dengan pandangan yang tidak pernah didapatnya. Yoona kecil bingung dengan perasaan yang ia rasakan. Yoona iri pada Kris.

“Kalau begitu Kris ikut Ayah dan Ibu saja.  Kris mau?” Pertanyaannya dijawab dengan anggukan kuat. Dan hanya dengan itu kedua orangtuanya tertawa bahagia. Selalu seperti itu, ayah dan ibunya selalu senang setiap bertemu Kris baik di rumahnya maupun di rumah paman dan bibinya.

Melihat ketiganya berbalik, Yoona menahan salah satu tangan ayahnya. Do jin menoleh dan tatapan yang selama ini dilihatnya membuat Yoona melepas pegangan tangannya. “Yoona boleh ikut?” Kepala ditundukan, jari tangannya diremas, dan nada suara melemah.

“Kau harus tinggal. Ayah tidak bisa membawa dua anak, kau akan merepotkan Ibumu.” Setelahnya Do jin berbalik dan mengajak Yena juga Kris ke luar rumah.

Orbs cokelat-birunya kini diselimuti dengan cairan, bibirnya bergetar  disusul tubuhnya. Tangis sedih Yoona mengisi keheningan ruang tamu keluarga Kim. Sosok yang tidak asing baginya berlari terburu-buru ke arahnya, mendekap tubuh kecil Yoona, dan mengulang kata-kata yang lambat laun membuatnya tertidur.

“Tenanglah, Yoona. Kau anak yang kuat. Semua baik-baik saja.”

“Aku akan mengikuti ujian di ESMOD.” Suara datar yang sama dengan ekspresi wajahnya, mengundang perhatian tiga orang lain di meja makan.

“Jangan membuatku lebih malu lagi, Kim Yoon Ah. Kau akan ikut ujian lalu apa? Gagal dan menambah aibmu sebagai putriku?” Do jin menatap tajam putri yang selama ini dianggap sebagai kesalahan dalam hidupnya.

“Kenapa tidak mendaftar di universitas lain?” Yena menimpali ucapan suaminya dengan tatapan cemas.

“Kenapa? Kris bahkan bisa masuk di universitas yang dia inginkan.”

“Sudah jelas karena dia mampu, kau bahkan memperoleh nilai paling rendah diangkatanmu. Fokuslah untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kemampuanmu.” Perkataan Do jin mengundang reaksi berbeda pada tiga orang lainnya.

Kris yang duduk berhadapan dengan Yoona tersenyum geli, Yena dengan helaan napas dalam memilih menutup mata saat melihat ekspresi Yoona, gadis itu mengukir senyum sinis yang menjadi kebiasaan ketika bersama keluarganya.

“Omong kosong, Ayah bahkan tidak tahu seperti apa kemampuanku. Mengukur tingkat kepintaraan seseorang berdasarkan nilai akademik. Ayahlah yang membuat kesalahan dengan memaksaku mengambil jurusan sains, dan sekarang melempar tanggungjawab itu padaku.” Ditatapnya Do jin dengan berani, “Jangan bertindak seperti orangtua yang menjadi korban atas kebodohan putrimu. Ayah bukan korbannya,” tandas Yoona. Kursinya dimundurkan dan mengambil langkah keluar dari ruangan yang menyesakkan baginya.

Tiga langkah dari pintu ruang makan, ia berhenti. Memberi punggungnya pada tiga sosok yang ia yakin tengah menatapnya. “Ahh, aku lupa. Aku tidak membutuhkan izinmu, Ayah.” Pintu dibuka dan teriakan ayahnya mengiringi langkah Yoona ke luar.

 

Langkahnya terhenti saat melihat Kris, bersandar di depan pintu kamar Yoona dengan senyum lebar. “Berani taruhan, kau baru saja mengantar formulir pendaftaran ke ESMOD,” menggeleng seakan menyayangkan tindakan Yoona.

“Kau itu bodoh atau apa? Kemampuan otakmu bahkan sudah terbukti menyedihkan. Dan kata-kata omong kosong yang kau ucapkan di meja makan pagi tadi, ckckck….”

Melanjutkan langkahnya, memilih menghiraukan Kris. “Menyingkir dari depan pintuku.”

“Ayolah… sikapmu yang seperti ini sangat menggangguku. Kau tahu, orang seperti kaulah yang membuatku jijik. Sadari di mana tempatmu,” desis Kris, dengan bibir yang didekatkan ke telinga Yoona.

Kris bergeser dari posisinya dan menikmati wajah pias Yoona. Membuat gadis itu terluka adalah kesenangannya. Ia berjalan menuju tangga rumah, sebelum suara Yoona menghentikan langkahnya.

“Kau akan menatapku dengan pandangan berbeda.  Saat itu tiba, aku akan sangat menikmatinya.”

“Ahahahaha…,” tawa lelaki muda yang mengenakan kaus hitam , menggema di lantai dua rumah.  Kepalanya ditolehkan dan menatap Yoona dengan hinaan yang sarat di orbs hitamnya.

Tumpukan dos terlihat di ruangan yang di cat cokelat. Suara berisik beberapa remaja 18 tahun terdengar dari ruangan yang menjadi ruang tamu salah satu apartemen. Kaleng bir dan tiga dos pizza diletakkan di atas meja marmer putih. Yoona berbaring di sleepersofa, menatap langit-langit apartemen.

“Kalian akan kuliah di luar Paris?”

“Ya, Yoona. Waktu bermain kita sudah habis.” Yoona melarikan orbs cokelat-birunya ke wajah teman-temannya. Mengangguk dan bergumam pelan, “Kau benar.”

“Aku masih penasaran dengan cara membujuk Ayahmu untuk memberikanmu apartemen.”

Yoona tidak menjawab pertanyaan temannya,  tapi dengan seringai licik yang terlihat di wajahnya, menunjukan ia tidak memintanya dengan baik.

 

Yoona melihat salah satu senior pria yang cukup dikenalnya sejak duduk di bangku Lycées, memegang lengan gadis yang selalu melempar tatapan tidak suka padanya. Mengangkat bahu ia berniat melanjutkan langkahnya saat mendengar bentakan dari gadis tadi.

Napasnya dihembuskan dengan kasar, sebelum memutar arah menuju ke tempat dua orang berbeda jenis kelamin. “Hai, Jacq. Kau sibuk?” Senyumnya melebar melihat respon yang diberikan pria yang disapanya.

“Menurutmu terlihat seperti apa, Yoona.” Tangannya masih memegang lengan gadis dengan rambut light blonde tadi,

“Entah, aku hanya mengira kau akan senang mendengar kabar tentang mantanmu, yang juga temanku.”

“Sial, apa dia mengatakan sesuatu tentangku?” Dilepasnya gadis itu dan berjalan ke arah Yoona.

“Kau menyedihkan, masih menyukai Lizette, tapi terus mengganggu gadis lain.”

“Mereka hanya mengisi rasa bosanku.”

Orbs heteronomianya diputar sebelum memberikan apa yang sangat diinginkan pria di depannya. Jacq meninggalkannya dengan senyum kemenangan, mendengar mantan yang masih mengisi pikirannya, menanyakan kabar dirinya.

“Terimakasih.” Suara dengan nada tulus membuat Yoona mengarahkan tatapannya tepat di orbs biru safir gadis itu.

“Hmm… kau terlihat tidak menyukai Jacq.”

“Tentu saja, aku tidak suka dijadikan mainan pria. Harus aku, bukan mereka.” Seakan menyadari kesalahannya, orbs biru safir itu di arahkan ke tempat lain.

“Ahh… kau seorang pemain,” Alisnya melengkung diiringi senyuman geli, “Aku, Yoona, kurasa kita bisa berteman.” Lengan kanannya dijulurkan menunggu sambutan dari gadis di depannya.

Mendengus, gadis itu membalas uluran tangan Yoona. “Louis Blanch, kau bisa memanggilku Lou.” Tanpa menanyakan nama lengkap Yoona. Louis tahu, Yoona adalah gadis pemilik nilai tertinggi di ujian masuk kampusnya, l’ École supérieure des arts et techniques de la mode (ESMOD). Kim Yoon Ah.

 

“Kau lihat dia?” Gadis yang ditanya menoleh ke arah yang seorang pria yang melangkah menuju parkiran Paris Descartes University, salah satu kampus kesehatan kesehatan terkenal di Eropa dan di seluruh dunia untuk kualitas tinggi pelatihan dan keunggulan penelitian.

“Ya, dia tampan sekali….” Orbsnya masih mengikuti mobil yang dilajukan ke luar kampus.

“Dia peraih nilai tertinggi di ujian masuk, Kris Wu. Sialan, aku bisa membayangkan dia dengan balutan jas dokter. Kyaa!!!”

“Kau benar, dan saat itu aku akan menjadi partnernya….”

“Mimpi saja kau.”

“Yak!”

 

“Hey, hentikan tingkah memalukan kalian,” tegur gadis dengan blazer hitam, menggeleng sebelum melanjutkan ucapannya, “Pria itu tidak terlalu memiliki banyak teman di sekolahnya dulu.”

“Kau pasti bercanda.”

“Hey! Aku serius. Sepupuku satu sekolah dengannya. Dia ramah, tapi tidak memiliki banyak teman.”

Dilihatnya tatapan tidak percaya dari dua temannya, “Ahh… aku tidak percaya.”

“Sehun!”

Pria dengan kemeja abu-abu menoleh dan tersenyum melihat siapa pemanggilnya. Menunggu temannya sampai di tempatnya berdiri. “Ada apa?”

“Kau tidak ingin ikut bersama kami?”

“Ke mana?”

“Klub.” Dengan  gerakan tangan sedang meneguk minuman.

Tersenyum geli, “Tidak. Malam ini aku ada acara keluarga.” Menepuk bahu temannya, ia melangkah masuk ke mobil miliknya. Membawa mobilnya keluar dari area EICAR, International Film dan Televisi School of Paris. EICAR dikembangkan selama bertahun-tahun untuk menjadi sebuah universitas film dan televisi besar di Eropa, menawarkan siswa dari seluruh dunia dalam pembuatan film baik dalam bahasa Inggris atau Perancis.

Langkahnya dihentikan tepat beberapa langkah di depan sofa yang ditempati ayahnya. Alis Do jin melengkung naik, dahinya mengerut.

“Berikan aku sebuah apartemen, Ayah.”

Wajah Do jin seketika mengeras, ditariknya napas dalam, “Kau sudah kehilangan kewarasanmu, huh.”

“Aku menyelamatkan kewarasan  Ayah. Dengan aku yang berada di rumah ini, setelah membuktikan aku bisa masuk di universitas yang kata Ayah terlalu tinggi untukku. Ayah sangat malu, bukan.”

“Kau!” Do jin baru saja akan bangkit dari duduknya, ditahan oleh suara laki-laki muda di kursi sampingnya.

“Berikan saja, Ayah. Kita tidak tahu kekacauan apa lagi yang akan dia buat di kampusnya.”

Mendengar perkataan Kris, membuat Do jin membenarkan perkataan putranya. Yoona akan terus membuat masalah. Dan semua itu adalah aib bagi dirinya.

3 hari kemudian.

 

“Ini card apartemen milikmu.”

Yoona mengambil  benda yang akan menjadi kunci kebebasannya. Menatap Do jin, ia tersenyum licik. “Keputusan yang bijak, Ayah.” Nada suaranya mencemooh saat menyebut pria paruh baya yang menyesali dirinya terlahir sebagai perempuan.

 

 

 

 

Advertisements