Title : Douleur (Drame)

Cast : Im Yoona as Kim Yoon Ah || Oh Sehun/ Wu Shi Xun|| Kris Wu/ Wu Yi Fan

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Langkahnya membawa ia memasuki koridor yang menjadi tempat melanjutkan pendidikannya. Dagunya diangkat, membentuk kesan angkuh. Rambut hitam yang ia toning menjadi blue-black dibuat sedikit berantakan, membuatnya terlihat seperti seorang model yang tengah melakukan pemotretan.

Bukan tidak sadar dengan tatapan yang terus  ia terima sejak awal kuliah. Ia hanya terlalu peduli dengan kesan yang selalu dibentuknya di depan orang lain. Tubuh tegapnya dibalut dengan kemeja hitam juga jins dengan warna senada. Menjadikan ia layaknya tokoh anime, seorang pria antagonis dengan wajah rupawan.

Orbs hitamnya dibuat terlihat hangat saat membalas beberapa sapaan yang ditujukan padanya. Lengkungan senyum menyertai balasan sapaan yang ia terima.

Ya, sudah seharusnya kalian mengagumiku. Aku seseorang yang pantas untuk mendapatkan tatapan seperti itu. Satu pikiran muncul, dari salah seorang kumpulan manusia di koridor.

Wajahnya kembali menebar senyum ramah. Pujian dan tatapan kagum mengiringi langkah pria dengan orbs hitam itu hingga lenyap ditelan kelokan koridor.

Kau luar biasa, Kris, otaknya melayangkan pujian. Menyambung apa yang ia pikirkan di tengah koridor tadi.

Senyum angkuh kini menggantikan kesan ramah yang ia buat. Menoleh, ia menatap orang-orang yang menyapanya. Orbs hitamnya kini dipenuhi dengan hinaan.

 

Helaan napasnya kembali terdengar, kemudian dihembuskan dengan kasar. Diliriknya gadis dengan hobi menghabiskan waktu selama mungkin di pusat perbelanjaan.

“Kenapa?” Alisnya melengkung naik, melihat raut wajah gadis yang menatapnya seakan ia sudah kehilangan pikirannya.

“Kau yakin dengan ini?”

“Tentu, kenapa harus tidak yakin.”

“Masalahnya, Ara.” Kembali menghela napas dalam, “pria yang kau pilih sebagai pacarmu saat ini adalah….” Ditatapnya wanita yang mendeklarasikan diri sebagai sahabatnya. “Pria yang dua malam lalu menjadi teman tidurku, kau gadis gila!”  teriaknya histeris.

Tanggapan yang diberikan dari gadis yang sekarang mengubah posisi tubuhnya, sekarang berhadapan dengannya, membuatnya ingin melakukan sesuatu yang menyakitkan pada Ara.

“Lalu?”

“Oh, demi Tuhan. Aku masih memikirkan reputasiku, Ara. Satu kampus akan menatapku seakan aku gadis menyedihkan yang tidak bisa menjaga satu pria untuk tidak berpaling dariku.”

“Ahahaha… Oh Tuhan, kau membuatku merinding dengan apa yang baru saja kau katakan.”

“Ara, ada beberapa mahasiswa desain yang melihatku dua malam lalu, keluar klub dengan pria itu, bodoh.”

“Kau terlalu berlebihan.”

“Aku hanya tidak ingin dianggap menyedihkan. Gambaran seorang gadis mempesona harus terus aku dapatkan, sialan.”

“Oh astaga, hentikan omong kosongmu, Yoona.”

Keduanya tertawa keras, Yoona membanting tubuhnya di ranjang miliknya. Ara mengikutinya masih dengan sisa tawa. Yoona mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang menampilkan langit sore hari kota Paris.

“Pria bodoh, bertemu dengan gadis yang akan menguras tabungan miliknya.”

“Ahahaha… selama mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dari tubuh wanita, kurasa manusia dengan hormon testosteron tidak keberatan.” Ara memberinya seringai jahat, yang membuatnya tersenyum sinis.

 

Ara menatap sahabat dengan mata uniknya. Yoona adalah sebuah puzzle yang belum sempurna baginya. Di depan orang lain ia akan tersenyum dan bersikap baik, tidak pernah terlibat kegiatan membicarakan keburukan orang bersama gadis penggosip, berteman dengan siapapun, dan melakukan hal-hal baik lainnya. Membuat orang lain tertarik untuk mendekatinya.

Namun Yoona juga memiliki sisi liar, menghabiskan malam-malamnya dengan pria   yang akan berakhir di tempat tidur. Yoona juga kadang memunculkan senyum dengan kesan gelap.

Yoona seakan memakai topeng di setiap waktu dan Ara masih belum bisa menebak seperti apa Yoona yang sebenarnya.

“Katakan, apa kau pernah benar-benar menyukai seorang pria?”

Senyum sinis Yoona kembali menghiasi wajahnya. “Menyukai? Mungkin lebih tepat disebut sebagai kekacauan hormon remaja.”

“Kau benar-benar pernah menyukai pria? Beritahu padaku. Kau gadis sialan.”

Yoona terkekeh geli melihat tatapan menuduh yang dilayangkan padanya. Otaknya memulai perjalanan ke masa yang sampai sekarang masih membuatnya mengutuk otak dan hormon remajanya.

Yoona menatap punggung salah satu kakak kelasnya. Lelaki dengan orbs hijau itu baru saja menolongnya kembali. Yoona yang saat ini duduk di tingkat tiga Collège lagi-lagi menjadi kejahilan siswa sekolahnya.

Dengan orbs berbeda warna miliknya, membuatnya sangat berbeda dengan siswa lainnya.  Seragam sekolahnya kotor karena tumpahan minuman salah satu siswi kelasnya. Dan lelaki yang satu minggu ini mulai dekat dengannya, menolongnya dengan memberikan kaus olahraga miliknya.

Lengkungan bibirnya terus bertahan hingga ia kembali ke rumah. Dua minggu setelahnya Adrien–kakak kelas yang selalu menolongnya, memintanya menjadi kekasihnya. Yoona tidak membutuhkan lebih dari sedetik untuk menerima ajakan tersebut.

Hari-hari indahnya berlangsung hanya dua minggu lebih. Dan wajah asli Adrien terlihat olehnya. Yoona membenci perasaan yang ia rasakan. Mengutuk otak dan hormon yang membuatnya terlihat bodoh.

“Kau bercanda? Aku harus menjalani ini seminggu lagi?” Mendengus kasar, Adrien menatap tajam dua temannya yang tertawa.

“Ayolah, Adrien. Kau harus mengasihani gadis itu. Kau akan menghancurkan mimpi indahnya terlalu cepat.” Lagi keduanya kembali menertawainya.

“Heh, persetan dengannya. Aku sudah memenangkan taruhan, lagipula berada lama di sampingnya membuatku muak. Gadis itu selalu menatapku dengan sinar menggelikan di mata anehnya.”

Yoona menghela napas tajam, perkataan Adrien melukainya. Memaksa tubuhnya untuk meninggalkan kelas yang hanya menyisakan tiga orang itu. Jam pulang sudah lewat 15 menit yang lalu, dan ia dengan bodohnya melangkah ke kelas Adrien, mengajaknya untuk pulang bersama.

Kau menyedihkan, Yoona, rutuknya. Suara Adrien masih terus terdengar di pikirannya dan semua itu membuat air mata bodohnya keluar, menghalangi pandangannya. Dengan kasar dihapusnya cairan yang keluar.

Matanya tidak bisa terpejam dan hasil akhirnya. Ia tidak ke sekolah karena matanya bengkak. Masa bodoh, ia lebih tertarik untuk membalas perasaan terluka yang ia tanggung. Adrien akan merasakan luka yang lebih dalam darinya.

Tiga hari setelahnya, ia baru masuk sekolah. Sekarang ia tengah berperan sebagai gadis bodoh yang tidak tahu kebusukan pacarnya sendiri. Saat melihat Adrien yang datang di kelasnya pada jam istrahat. Iblis dalam jiwanya tersenyum keji.

“Adrien.” Yoona bangkit dari duduknya. Senyum yang selalu ia tujukan pada Adrien terkembang.

Tidak ada senyum balasan, Adrien hanya menatap Yoona dengan tatapan muak. Dan Yoona semakin melebarkan senyumnya. “Aku ingin kita putus.” Suasana kelas yang tadinya riuh seketika hening. Tatapan ditujukan ke arah keduanya.

Yoona sedang sangat bersemangat, melihat lampu sorot dalam pikirannya. Ia dan Adrien tengah berperan sebagai tokoh utama sebuah kisah cinta gadis bodoh yang berakhir tragis.

Yoona sangat suka bermain peran. Karena membuatnya bisa menjadi siapa saja. Tentu saja aktivitas menggoreskan pensil di buku sketsanya adalah kesukaannya yang berada di urutan teratas dalam list hal yang disukai Kim Yoon Ah.

Dihadapan teman-temannya dan Adrien, mendung membayangi wajah Yoona, bibirnya ditekuk ke bawah, orbs berbeda warnanya dipenuhi airmata palsu. “A-apa yang baru saja kau katakan? Adrien, kau tidak serius, bukan?” Diraihnya lengan kanan Adrien, dengan kasar tangannya ditepis.

“Aku muak denganmu. Kau hanyalah bahan taruhanku. Jangan bermimpi aku akan serius tertarik padamu, gadis aneh.”

Yoona menatapnya dengan wajah terluka, namun ia tertawa geli dalam pikirannya. Dan di sana. Tepat di depan pintu kelas yang baru saja dilalui Adrien. Kris menatapnya dengan tawa geli.

Yoona benar-benar akan memastikan Adrien menjadi tokoh yang akan menjalani nasib tragis dalam drama yang tengah mereka mainkan.

“Gadis aneh, ahahaha…, Aku sudah tahu akhirnya akan berakhir tragis untukmu. Kau terlalu banyak bermimpi Yoona.” Kris meliriknya dengan senyum geli, lalu mendahuluinya naik ke lantai dua.

Yoona mendengus, memilih mengabaikan hinaan Kris. Menambah kecepatan langkahnya menuju ke kamarnya.

Satu minggu, Yoona selalu mengawasi Adrien secara diam-diam. Batas waktu untuk Adrien berakhir. Malam ini, Adrien akan terus mengalami mimpi buruk. Hentakan musik rap yang diputarnya, menjadi teman bagi Yoona yang tengah melakukan sesuatu dengan laptop miliknya.

Halaman sebuah perkumpulan terlihat. Setelah usahanya satu minggu, mencari sukarelawan yang cukup gila untuk melakukan hal yang dipintanya. Akhirnya dia mendapatkannya.

Foto Adrien terlihat dalam percakapan yang dilakukan Yoona dengan teman chattingnya. Dengan berpura-pura menjadi pihak yang terluka karena pacar brengseknya yang berselingkuh, pacar yang menghinanya dengan lebih memilih tidur bersama seorang gay dibanding dengannya.

Satu pion berhasil didapatnya. Pria yang mengaku sebagai mahasiswa tingkat empat itu bersedia membantunya. Membalaskan sakit hati Yoona. Pria dengan kelainan seksual karena pacar pertamanya menyakitinya dengan melakukan hal yang sama persis dengan karangan Yoona. Kebetulan yang menyenangkan. Pria bodoh yang menjadi gay karena cinta, dengan sukarela membantunya.

Adrien menghentikan langkahnya saat hendak keluar dari kamar mandi, di tempat yang sering ia kunjungi dengan teman-temannya ketika ingin bermain futsal.  Seorang pria dewasa yang dilihatnya saat masuk, sekarang berdiri satu langkah darinya. Menatapnya dengan senyum yang membuatnya refleks menarik handle pintu di depannya.

Terlambat, tangan besar membengkapnya dari belakang dan Adrien merasakan ketakutan yang sangat besar.

Yoona tertawa histeris di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Pesan yang di terima dari teman barunya membuat merasakan indahnya pembalasan atas rasa jijik atas kebodohan dirinya sendiri, karena membiarkan Adrien menjadikannya badut dalam hidup lelaki itu.

Esok harinya. Kabar Adrien yang saat ini di rawat di rumah sakit akibat pencabulan, menjadi buah bibir siswa sekolahya. Dan ketika ia berkujung ke tempat Adrien dirawat. Raungan kesedihan Adrien yang didengarnya dari balik pintu, karena jijik dengan dirinya yang menjadi korban seorang pria gay, menjadi musik indah  penutup drama yang Yoona dan Adrien mainkan.

“Tidak, aku belum pernah menyukai seorang pria.”

“Jadi, kekacauan hormon remaja yang kau bicarakan tadi, apa, heh.” Ara mendengus  jengkel. Sebelum memilih menyibukkan diri dengan ponsel miliknya. Tahu dengan pasti Yoona tidak akan memberitahunya.

Kekehan Yoona, menimbukan respon Ara dengan memutar orbs hitam miliknya. Yoona masih menyimpan banyak rahasia  yang Ara yakin akan sangat lama untuk diketahuinya.

 

 

 

 

Advertisements