Title : Douleur (Perte)

Cast : Im Yoona as Kim Yoon Ah || Oh Sehun/ Wu Shi Xun|| Kris Wu/ Wu Yi Fan

OC : Find By Your Self

Genre : Dark || Family || Minor Romance

NOTE: THIS IS JUST FICTION. DONT TAKE IT SERIOUS AND IF U FIND GOOD VALUE TAKE IT, BUT DONT TAKE IT IF ITS BAD.

Tubuhnya disandarkan di kursi kerja, iris cokelat-biru miliknya disembunyikan oleh tirai kelopak matanya. Alunan musik klasik gubahan Mozart, Turkish March,  menguasai seluruh ruang kantor Yoona.

Ketenangan itu dirusak dengan munculnya sosok pria dengan iris hitam. Musik di matikan, dan segera kelopak mata  Yoona terbuka  dan matanya menatap tajam pengganggu rasa damai yang ia rasakan.

Mengikuti sosok Sehun yang dengan santai menuju ke salah satu  sofa putih di sudut ruangan. Sadar akan pandangan tajam Yoona, ia mengarahkan tatapannya hingga kedua iris berbeda warna itu bertemu.

“Malam ini paman Do jin mengajak ibu dan ayahku ke Le Chateaubriand.”

“Jadi?”

Apalagi? Kau akan juga akan datang kan?”

Mendengus, Yoona lalu kembali menutup matanya. “Tidak tertarik.”

“Orang tuamu merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Setidaknya kau menghargai mereka dengan kedatanganmu.” Sehun menghela napas lelah.

Ucapan Sehun mengundang  tatapan dingin dari Yoona. “Berhenti ikut campur dalam urusanku.”

Tawa Do jin terhenti kala seorang pelayan memberinya sebuah bingkisan.  Yena yang melihatnya segera mengambil bingkisan dari tangan pelayan. Jantungnya berdebar kencang,  Yena tahu.  Putri yang selalu ia abaikan adalah orang yang mengirim hadiah itu.

Senyum lebar muncul di wajah Yin Cho juga Sehun  dan Nayong melihat Do jin dan Yena yang menatap tidak percaya pada bingkisan yang diberikan pelayan tadi. Berbeda dengan Kris yang menatap marah. Yoona terseyum sinis melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Kris.

Beranjak dari meja yang ia tempati, di pojok ruangan Le Chateaubriand. Untuk kedua kali, ia menatap wajah Do jin dan Yena sebelum melangkah keluar. Tanpa alasan jelas, Yoona memiliki keinginan kuat untuk melihat kedua orang tuanya.

Mobil keluarga Kim dan Wu meluncur keluar halaman Le Chateaubriand. Sedang Kris mengemudikan mobilnya ke menuju  Assistance Publique Hôpitaux de Paris, rumah sakit tempatnya bekerja.

Dering ponsel yang berbunyi untuk ke sepuluh kali, akhirnya berhasil menarik Yoona dari alam mimpi. Dengan gusar ia mengambil ponsel yang ia taruh di nakas ranjang.

“Yoona,  akhirnya. Datang ke rumah orang tuamu sekarang juga!”

Area sekitar dahinya berkerut,  berhasil mengumpulkan kesadarannya, Yoona mengenali suara penelpon. “Sehun?”

“Ya, Yoona.  Demi Tuhan, cepatlah ke sini.”

“Kau mengganggu tidurku hanya untuk omong kosong, kau tahu aku tidak akan pernah lagi menginjak rumah itu.”

“Sialan, Yoona. Do jin dan Yena meninggal!”

Yoona menatap kosong dinding putih polos kamarnya.  Baru setelah mendengar teriakan Sehun yang terus memanggil namanya, ia mendapatkan pikirannya kembali.  Menghiraukan Sehun, ia memutus sambungan dan menuju kamar mandi.

 

Yoona menatap nisan kedua orang tuanya dengan tatapan tanpa emosi. Tidak ada yang bisa menebak apa yang tengah dirasakan Yoona.  Kecelakaan. Suara penuh kesedihan Nayong untuk yang pertama kalinya, kembali terdengar di pikirannya. Do jin dan Yena mendapat kecelakaan di perjalanan kembali ke rumah.  Mobil yang dikemudikan oleh Do jin ditabrak dari arah samping oleh seorang pengemudi mobil lain yang dalam keadaan mabuk.

Mengalihkan pandangannya, ia melihat Kris dan apa yang dilihatnya dari wajah Kris menghasilkan senyum dingin Yoona.  Merasakan tatapan seseorang padanya, Kris mengarahkan matanya pada pelaku, dan mengetahui bahwa Yoona menatapnya disertai senyum di wajahnya.

Amarah Kris muncul, menghiraukan orang lain di pemakaman, ia melangkah ke arah Yoona dengan mata yang tidak menyembunyikan kebenciannya.

“Senang karena dua orang yang kau benci mati, heh,” ucapnya sinis.

Mendengarnya, Yoona tersenyum lebar dan menyuarakan ejekannya. “Apa perasaan sedih yang kau tunjukkan adalah yang sebenarnya, Kris? Jika kau mengatakan ya, aku akan tertawa karenanya,” Mengambil langkah hingga cukup dekat dengan tubuh Kris, di depannya, “Akuilah, Kris. Kau  hanya sedih karena kehilangan dua orang yang sangat memanjakan rasa haus akan pujian dalam dirimu.”

Mata Kris menggelap, kehilangan kontrol dirinya dan mendorong Yoona ke tanah pemakaman. “Kau bukan manusia. Hanya monster yang tidak peduli bahkan senang  dengan kematian orang tuanya.” Segera, kolega Do jin dan Yena menatap sinis pada Yoona.

Melihat tindakan Kris, membuat Nayong menatap marah pada pria itu. “Jangan menuduh Yoona seperti itu, Kris. Kau tahu Yoona sedang terpukul dengan saat ini. Jaga sikapmu. Sebaiknya kau kembali ke rumah sekarang”.

Yin Cho membantu Yoona berdri. “Maafkan, Kris. Anak itu juga terpukul dengan kematian Do jin dan Yena.” Tatapan Yin Cho dipenuhi dengan penyesalan, Yoona hanya tersenyum tipis sebagai respon

 

Sehun mengantar Yoona kembali ke apartemennya. Dan sepanjang perjalanan Yoona tetap menutup mulutnya.

Menghabiskan malamnya dengan menghabiskan beberapa botol vodka koleksinya . Sehun duduk di samping Yoona sampai wanita itu kehilangan kesadaran. Pandangan matanya terus tertuju pada Yoona yang setia dengan wajah tanpa emosi.

Hari pelulusan Yoona sebagai salah satu siswa Collège tiba. Yoona duduk di bangku paling belakang auditorium. Bisikan penuh ejekan dihiraukannya. Dia hanya berharap acara menyebalkan ini cepat berakhir.

“Lihat bahkan di hari pelulusan orang tuanya lebih memilih menemani Kris dibanding dia.”

“Tentu saja, Kris tidak bisa dibandingkan dengan  anak aneh itu.”

“Aku selalu percaya kebodohannya merupakan salah satu kutukan mata anehnya.”

“Akhirnya aku terbebas darinya. Aku selalu merinding jika berada satu tempat darinya.”

“Ada apa dengan wajah datarmu, Yoona.” Suara itu mengalihkan  fokus Yoona ke sumber suara. Yin Cho mengambil tempat duduk di sebelah kursinya dan menatapnya dengan senyum menenangkan.

“Paman?”

“Hmm…. selamat hari pelulusan, putri kesayangan.”

Menutupi perasaan hangat karena kehadiran pamannya. Ia memalingkah wajahnya ke depan. “Paman seharusnya berada di samping Sehun.”

Mendung menutupi perasaan senang Yin Cho. Gadis kecil di depannya, terlalu menyedihkan. “Ada bibimu yang menjaga anak nakal itu, paman ingin bersama putri kesayangan paman.”

Yoona hanya bisa merasakan perasaan senang karena kehadiran Yin Cho beberapa menit, sosok Do jin dan Yena yang mengapit Kris menuju kursi barisan depan auditorium berhasil mengikis kesenangannya.

 

“Hahahaha… bahkan sampai saat ini perasaan kehilangan itu tidak muncul dalam diriku.” Yoona tertawa karena perasaan kosong yang ia rasakan. Tidak merasa sedih akan kematian orang tuanya. Dan Sehun memandang Yoona dengan perasaan sedih yang semakin menebal.

Ketukan pintu depan mengacaukan kegiatan Sehun yang mengelus punggung Yoona. Wanita dengan rambut jet black sepunggung itu tidur dengan lelap di pelukan Sehun.

Mengutuk siapa pun yang bertamu di waktu dini hari. Sehun melepas pelukannya dan bergegas menuju ruang depan. Pintu dibuka dan Lou muncul  dalam pandangannya.

“Lou seharusnya kau menunggu hingga pagi hari untuk menemui Yoona,” geram Sehun.

“Oups, aku minta maaf, Sehun. Kupikir wanita malang itu sendirian saat ini. Aku  langsung mengambil penerbangan ke Paris, saat mendengar kabar itu.”

Melihat  koper di samping tubuh Lou, ingatan Sehun muncul tentang Lou yang mendapatkan tawaran pemotretan di luar Prancis.

“Masuklah. Yoona saat ini sedangtidur.”

Mengangguk Lou dengan cepat menyeret kopernya dan masuk ke dalam. Melihat Yoona yang  terbaring di ranjang kamarnya. Membuat perasaan iba Lou bertambah,

“Apa Yoona menghabiskan koleksi vodkanya?” Berdiri di samping Lou, Sehun hanya bisa mengangguk

“Istrahatlah. Aku akan kembali ke apartemenku.”

“Terima kasih sudah menjaganya, Sehun.”

“Sudah tugasku untuk menjaganya.”

Yoona bangun dan langsung ke kamar mandi, mengeluarkan seluruh isi perutnya. Selesai membersihkan diri dari kekacauan mabuknya. Ia keluar kamar dan mencium harum masakan.

“Yoona? Kemari dan makan sarapanmu.” Lou melihat Yoona dengan wajah segar, namun matanya kosong tanpa emosi.

“Hmm…”

Keduanya sarapan dan Lou memutuskan untuk membersihkan meja. “Aku turut berduka cita atas kematian Do jin dan Yena, Yoona,” ujar Lou dengan sebisa mungkin mempertahankan wajah tanpa rasa iba. Ia tahu, Yoona tidak membutuhkan pandangan iba dari orang lain saat ini.Yoona mengabaikan Lou, memilih meninggalkan ruang makan.

“Mau kemana?”

“Tempat Chadwick.” Melihat punggung Yoona menjauh, Lou hanya bisa menghela napas.

 

 

Yoona trus berlatih menyebabkan buku jarinya berdarah. Hingga suara seorang serak seorang pria menganggu konsentrasinya.

“Mau menghancurkan jari-jarimu, Nona?”

“Chadwick.”

“Kau lemah.”

Menghentikan gerakannya, ia berbalik dan melihat Chadwick berdiri lima langkah darinya. “Kapan kau kembali?”

“Pagi ini. aku minta maaf tidak berada di sampingmu kemarin.” Melihat kesedihan samar di mata Chadwick namun berhasil pria itu tutupi dengan rasa menyesal. Yoona tidak menanggapi dan malah menatap dingin.

Sadar bahwa Yoona tidak dalam keadaan baik. Chadwick mengobati tangan Yoona dan membungkusnya dalam pelukan. “Bagaimana dengan pertandinganmu?”

“Tenang saja, kakakmu ini selalu menang. Kau tidak lupa aku seorang petarung yang hebat, bukan?” Merasakan cibiran Yoona, ia hanya tersenyum tipis. “Aku benar-benar menyesal tidak menemanimu kemarin.”

“Aku baik-baik saja.” Dan Chadwick semakin mengeratkan pelukannya.

 

 

Glosarium :

*Perte : Kehilangan

.

.

.

 

AN/ LANJUTAN DOULEUR MOGA SUKA YA^^. JANGAN LUPA COMMENT AND LIKENYA.

Advertisements